
"Serius kamu, Man, udah pernah ke rumah Pak Sobri?" tanya Khusnul. Seakan akan tidak mempercayai apa yang Armand katakan.
"Iya, pernah! Memang belum pernah masuk ke rumahnya, tapi pernah lihat rumahnya."
Mereka bertiga berjalan menuju arah hutan sesuai yang diinstruksikan oleh Pak Kades. Mereka sengaja tidak lewat jalan yang biasa dipakai oleh warga desa beraktifitas, karena jalur itu akan lebih panjang dan lama nantinya. Menurut Pak Kades memotong jalur lewat hutan yang berada di samping pemukiman penduduk adalah trik terbaik agar lekas sampai ke tempat tujuan.
"Ya udah sih, Nul. Ngga papa, kita coba aja lewat sini," ucap Mey membela Armand.
Hutan hutan sekitar ditumbuhi dengan pohon jati, pohon damar, dan pohon besar dan tinggi lainnya. Bisa diperkirakan umur pohon pohon di sekitar sudah cukup lama, mengingat ukuran pohonnya yang tinggi tinggi.
Jalur ini otomatis membuat mereka juga harus melewati kuburan yang sebelumnya pernah dilihat oleh Armand saat bersama Ike dan Derry. Khusnul dan Mey terkejut begitu mengetahui ada kuburan di tengah hutan.
"Hih! Kok kuburan ada di tengah hutan sih? Serem banget!" pekik Mey sambil bergidik ngeri.
"Terus seharusnya ni kuburan ditaruh mana? Masa deket pemukiman penduduk. Nanti lebih ngeri dong, " tanya Armand.
"Iya bener. Pantes aja kita nggak boleh datang ke hutan, ya. Ternyata ada kuburannya. Tapi kenapa Pak Kades nggak bilang, ya?" tanya Khusnul.
"Heh, kalian ini aneh deh. Yang namanya tiap pemukiman penduduk, ya pasti punya lahan buat tempat pemakaman umum. Jadi ini bukan hal aneh dong," tutur Armand.
Khusnul dan Mey lantas saling tatap dan diam mendengar perkataan Armand yang sebenarnya logis dan masuk akal. Hanya saja dua gadis itu lebih suka jawaban yang berbau supranatural ketimbang jawaban yang masuk nalar manusia. Lagi lagi Armand melihat sesaji yang diletakkan di makam tersebut, dan semua masih baru. Hanya saja kali ini makanannya tidak sama dengan kemarin. Tapi dupa tetap selalu ada dan aromanya pun tercium cukup kuat saat mereka memasuki kawasan makam itu.
Mereka bergegas berjalan keluar makam, sambil sesekali menoleh ke belakang. Karena Khusnul dan Mey tampaknya masih merasa ketakutan saat memasuki makam tersebut. Padahal ini masih pagi. Seolah olah dari makam itu mereka bisa diikuti oleh penghuni di sekitar. Penghuni tak kasat mata tentunya.
Tak lama setelah keluar dari Makam, rupanya mereka segera menemukan rumah yang dimaksud. Rumah Pak Sobri.
"Itu rumahnya," bisik Armand saat melihat pemilik rumah sedang menata kayu bakar di halaman.
"Yakin?" tanya Khusnul.
"Udah, kita tanya aja langsung," sahut Armand.
Langkah kaki mereka langsung dirasakan oleh pria tua itu. Dia yang awalnya menundukkan kepala, lantas mendongak dengan dahulu berkerut. Posisi nya yang kini sedang membungkukkan tubuh berganti menjadi berdiri dengan sempurna untuk bisa melihat tamu yang tidak ia kenali itu. Dahi pria itu berkerut, tiba tiba dia melambaikan tangan dan menyuruh mereka segera mendekat. Mereka yang memang sedang berjalan ke arahnya lantas semakin mempercepat langkah.
"Nak, kamu itu dari mana saja? Sampai sampai diikuti seperti itu," kata Pak Sobri.
"Maaf, Bapak yang bernama Pak Sobri?" tanya Armand.
"Iya, benar. Itu saya. Kenapa, Mas?"
"Oh, kebetulan sekali. Kami tadi dari rumah Pak Kades dan beliau menyuruh kami mencari bapak."
"Iya, saya paham. Mari masuk, itu yang ngikutin temen kalian banyak!" katanya lalu berjalan masuk ke dalam rumah lebih dulu.
Khusnul, Mey, dan Armand saling tatap mendengar perkataan Pak Sobri. Padahal mereka sama sekali belum mengatakan maksud dan tujuan kedatangan ke rumah itu.
Rumah kayu itu tampak sangat sederhana itu justru terkesan nyaman. Karena kondisinya rapi dan bersih. Tidak ada hiasan dinding apa pun. Bahkan foto keluarga pun tidak ada.
"Tunggu di sini, saya mau ambil sesuatu," kata Pak Sobri. Dia berjalan masuk ke dalam namun tak berapa lama kemudian, pria tua itu segera keluar dengan dua buah benda di tangannya. Potongan ranting pohon dan gelas yang berisi air. "Lho, kok cuma berdiri saja? Duduk, ayo, duduk!" ajak Pak Sobri.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada saya, Pak?" tanya Mey.
"Jadi Mbak diikuti. Ada lebih dari satu sosok. Pasti semalam terjadi sesuatu, kan?" tanya Pak Sobri lagi.
"Betul, Pak. Semalam dia kesurupan! Sampai sampai kami nggak bisa tidur. Tapi paginya tiba tiba dia sudah sadar, dan lupa tentang kejadian semalam," jelas Khusnul.
Pak Sobri tersenyum kembali. Dia mengangguk angguk seolah mengerti mengenai kondisi tersebut.
"Ya begitulah eksistensi mereka, Mbak. Mereka akan kuat saat tengah malam hingga subuh, setelah itu kekuatan mereka akan melemah. Tapi itu berlaku hanya untuk makhluk rendahan. Berbeda dengan makhluk yang memiliki kekuatan besar. Saat pagi, siang, sore, malam, tidak ada bedanya. Mereka bisa muncul kapan saja, dan mengganggu siapa saja."
"Oh jadi yang mengganggu Mey adalah makhluk rendahan, yang dalam artian mereka makhluk yang kekuatannya biasa saja. Begitu, kah?" tanya Khusnul.
Tapi Armand justru tampak tidak perduli dengan obrolan itu. Hanya dia satu satunya yang tidak antusias dengan apa yang terjadi pada Mey, dan makhluk apa yang mengincar Mey.
"Iya. Jadi di desa ini ada beberapa tempat yang sebenarnya keramat, dan sebaiknya tidak dikunjungi oleh manusia, seperti kita."
"Di mana saja, Pak?"
"Di kuburan. Saya yakin, kalian tadi dari sana, kan? Karena ada yang sedang mengintai kalian sejak tadi, dan hanya bersembunyi saja di luar sekarang."
"Oh ya? Tapi kami nggak sengaja, Pak. Itu pun karena Armand yang ajak lewat sana tadi!" sindir Khusnul.
"Kan lewat jalan yang cepet, Nul. Pak Kades juga tadi nyuruh kita lewat hutan, kan? Ya cuma lewat kuburan tadi aja kita bisa sampai ke sini!" kata Armand protes.
"Tidak apa apa kok. Asal kalian jangan mendekati tempat tempat yang ditaruh sesaji. Bahkan sebisa mungkin jangan menyentuhnya."
"Oh jadi maksud bapak, tempat yang tidak boleh kami datangi itu adalah tempat yang ada sesajen nya?" tanya Armand.
"Yah, benar. Karena gunanya sesajen itu diletakkan di sana itu ada maksud dan tujuannya, kan?"
"Karena di tempat sesajen itu berada itu artinya ada penunggunya. Jadi kami sebaiknya tidak berada di sana. Begitu, kan, Pak?" tanya Armand.
Tetapi Khusnul dan Mey justru tampak melotot saat Arman menanyakan hal tersebut. Seakan-akan pertanyaan yang Arman lontarkan itu Tidak sepantasnya diucapkan. Sebenarnya bukan pertanyaan itu yang salah tetapi cara penyampaian yang aman berikan terdengar seperti meledek atau menyepelekan hal tersebut. Ditambah dengan raut wajah Arman yang tampak menyebalkan saat dipandang sejak tadi. Terutama saat Pak Sobri mulai membahas mengenai penghuni yang ada di desa itu.
" kalian boleh percaya boleh tidak tetapi Saran saya sebaiknya kalian menjauhi tempat-tempat yang ada sesajen nya. Sosok yang menempel pada Mbak ini bukan berasal dari tempat di mana sesaji itu berasal. Tetapi dari sungai. Mbak pernah ke sungai sebelumnya kan?"
"Iya, Pak."
"Saya bersihkan dulu, ya. Silakan duduk di sini," kata Pak Sobri menyuruh Mey duduk di kursi yang sedang ia duduki. Sementara Pak Sobri segera beranjak agar Mey bisa duduk di sana. Setelah Mey duduk, Pak Sobri segera mencelupkan batang daun yang tadi ke dalam air. Tidak lupa mulutnya komat kamit dengan bacaan yang tidak terdengar sama sekali oleh mereka. Lalu batang daun tadi diciprat cipratkan ke kepala, bahu, punggung, dan bagian depan tubuh Mey. Di saat itulah, Armand beranjak dari duduk.
"Nul, gue tunggu di luar, ya."
"Hm? Iya deh. Jangan jauh jauh lo ya!"
"Iye, bawel!"
Armand menunggu di halaman rumah Pak Sobri. Dia mengeluarkan rokok miliknya dan menyalakan api sambil menikmati pemandangan di sekitar. Tak lama dari kejauhan ada seorang wanita paruh baya berjalan ke arahnya sambil membawa rinjing. Armand yang terus memperhatikan wanita itu, lalu mematikan rokok yang baru setengah ia hisap. Karena wanita tadi terus berjalan ke arahnya.
"Loh, ada tamu. Sudah lama, Mas? Suami saya di rumah, kan?" tanya wanita tersebut.
Di saat itulah Armand baru tahu kalau wanita tadi adalah istri dari Pak Sobri.
"Iya, Bu. Kami disuruh Pak Kades ke sini," ucap Armand berusaha sopan.
"Oh iya, nggak apa apa kok, Mas. Sudah biasa. Kalian mahasiswa yang mau tinggal di sini 3 bulan itu, kan?"
"Betul, Bu. Kami yang mau kkn di desa ini."
"Oh ya sudah. Saya masuk dulu, sampean kenapa di luar saja? Ayo, masuk," ajak Istri Pak Sobri.
"Nanti saja, Bu. Saya ingin di luar dulu sebentar. Nanti saya menyusul. Di dalam sudah ada dua teman saya."
"Oh begitu, ya. Ya sudah, saya masuk duluan, ya."
"Iya, silakan, Bu."
Armand kembali menikmati kesunyian. Lama kelamaan dia cukup betah menunggu di halaman rumah Pak Sobri. Hingga tiba tiba ada seorang pria yang muncul di ujung jalan sedang membawa nampan. Arman terus memperhatikan orang itu. Penasaran dengan apa yang sedang dibawanya. Hingga saat orang tadi sudah berada dekat dengan Armand, di situlah dia tahu kalau benda yang dibawa orang itu adalah sesaji.
"Mari, Mas," sapa warga desa itu saat melewati Armand.
"Nggih, Pak. Monggo," balas Armand.
Armand terus memperhatikan ke mana orang tadi pergi, hingga akhirnya dia melihat kalau pria tadi berhenti tak jauh dari rumah Pak Sobri. Armand yang penasaran lantas berjalan sedikit mendekat ke tempat orang tadi berhenti.
"Ternyata ada rumah lagi di sana. Wah, gue baru tahu. Tapi kenapa dikasih sesajen, ya?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
"Man! Ayo, pulang. Ngapain lo di situ?" tanya Khusnul agak mengeraskan suaranya. Karena posisi Armand yang cukup jauh dari rumah Pak Sobri.
Karena kepergok, Armand pun segera kembali dan melupakan apa yang ia saksikan tadi. Ia anggap hal itu adalah sesuatu yang biasa, karena dia harus terbiasa dengan kebiasaan warga desa itu.
"Gimana? Udah enakan lo?" tanya Armand.
"Udah. Emang bener. Rasanya beda deh. Tadi rasanya tuh berat banget badan gue. Eh, sekarang udah enteng. Huft, semoga itu makhluk nggak datang lagi deh."
"Emangnya kenapa sih kok lo bisa ketempelan setan gitu? Habis ngapain coba lo?" tanya Armand sedikit meledek Mey.
"Nggak ngapa ngapain gue. Kata Pak Sobri gue bisa kayak kemarin itu karena pas di sungai kita berisik. Jadi penunggunya marah. Makanya dia ngikutin gue sampai ke rumah. Ih, tapi nggak adil deh rasanya. Kan yang berisik bukan cuma gue, Indy juga berisik. Tapi kenapa gue yang kena!"
"Karena pian itu yang paling lemah. Kalau kata orang kalimantan itu lemah bulu," tukas Khusnul.
"Lemah bulu? Bahasa apa pula itu, Nul?" tanya Armand.
"Oh orang yang sensitif gitu, ya?" tanya Armand lagi.
"Iya, seperti itulah."
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah. Begitu sampai rupanya teman teman yang lain sudah rapi dan siap untuk melakukan aktifitas hari ini.
"Gimana? Apa kata Pak Kades?" tanya Indy yang langsung menghampiri mereka begitu sampai di teras.
"Udah aman. Mey kesambet setan di sungai. Makanya kalian itu kalau ke mana mana jangan berisik! Bikin setannya nggak suka!" jelas Khusnul.
"Eh, serius? Setan yang di sungai?" tanya Rahma lagi.
"Iya. Udah ah, aku mau siap siap juga. Kita harus proker hari ini, kan?" tanya Mey.
"Mandi nggak?" tanya Dolmen.
"Enggak ah. Takut ke sungai."
"Ya gue temenin, Mey."
"Dih, lo lebih menakutkan daripada setan!" hardik Mey.
Hari pertama proker mereka sudah menyiapkan segala hal mengenai rencana yang akan dilakukan selama berasal di sana. Mereka sudah menyiapkan secara matang proker masing masing dan kini tinggal melaksanakannya saja.
Sesuai dengan rapat saat mereka baru saja datang kemarin, mereka akan melakukan beberapa hal untuk kegiatan kkn.
Daniel akan Berpartisipasi dalam acara keagamaan. Karena dia mahasiswa fakultas pendidikan Agama Islam. Kegiatan yang akan dia buat salah satunya membuat program isra miraj untuk warga terutama anak anak. Dia juga akan membuat program pengajian untuk warga yang sudah dewasa tiap malam jumat, juga pengajian anak anak yang dilaksanakan setiap satu minggu dua kali pada hari selasa dan kamis.
Indy sebagai mahasiswa jurusan komunikasi memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya makan hidup sehat, dan cara membuat atau mengolah makanan yang biasa ditemukan di sekitar sebagai makanan sehat dengan variasi yang menggugah selera.
Rahma yang juga merupakan Mahasiswa jurusan pendidikan memberikan keterampilan bagi anak-anak sekolah. Misalnya memberi keterampilan menulis, memberikan keterampilan menari, melukis atau keterampilan dalam bentuk lain. Bersama Ike.
Sementara Derry dan Armand Menjadi guru bagi masyarakat desa yang buta huruf. Karena ternyata masih banyak warga desa yang buta huruf. Semua berawal dari adat istiadat yang sudah turun temurun. Bagi mereka, sekolah bukan tujuan utama untuk hidup. Karena mereka memiliki ladang dan kebun yang bisa mencukupi pangan bagi mereka semua.
Sementara Indy mengadakan senam sehat untuk masyarakat. Terutama buat ibu-ibu lansia.
Lalu Mey mengajar calistung anak PAUD. Dia juga mendorong pemerintah setempat untuk terbentuknya perpustakaan desa bagi anak agar
Meningkatkan literasi masyarakat.
Dolmen Memberikan sosialisasi tentang budidaya tanaman obat di halaman rumah masing-masing warga. Agar warga bisa mengkonsumsi obat dari hasil tanam sendiri.
Cendol Membuat kegiatan bebas dari jentik-jentik. Misal mengajak warga untuk selalu kontrol bak kamar mandi, atau kubangan disekitar rumah. Tunjuk salah satu warga secara bergilir, untuk melakukan pengecekan.
Memberikan sosialisasi tentang materi kesehatan untuk warga masyarakat, agar lebih sadar akan pentingnya kesehatan.
Fendi Memberikan pelatihan hidroponik yang belum warga ketahui. Termasuk memberikan ilmu bagaimana cara membuat instalasi, bagaimana cara melakukan perawatan, bagaimana cara membuat pembibitan, panen dan cara menjual produk ke pasar. Sehingga masyarakat pun lebih produktif dan bisa mendapatkan uang tambahan dari program ini.
Dan Sule Memberikan penyuluhan tentang dunia bisnis dan industri.
Pengurusan PIRT dan Izin lainnya jika banyak UMKM. Karena banyaknya warga yang memang berniaga dan cukup kesulitan dalam memasarkan dagangan mereka. Karena hanya pasar tradisional terdekat saja yang menjadi tujuan mereka.
Mereka lantas memulai kegiatan tersebut. Walau Daniel, Fendi dan Sule belum juga nampak batang hidungnya, tetapi teman teman yang lain segera bergerak sesuai tugas masing masing. Hari pertama semua lancar dan mereka cukup mudah bersosialisasi dengan warga desa. Tidak banyak kendala yang dirasakan sejauh ini.
"Huft, capek banget. Tapi seneng lihat antusias warga desa. Gue pikir mereka agak kolot dan susah buat diajak berkembang. Tapi ternyata gue salah!" ucap Indy.
"Baguslah. Semua lancar aja, kan?" tanya Armand menatap teman temannya satu persatu. Mereka baru saja pulang dari proker dan kini hanya duduk duduk saja di teras sambil menikmati udara sore yang sejuk dan dingin.
"Lancar, Man. Aman terkendali. Tapi ngomong omong Daniel sama yang lain kapan balik ke sini, ya? Kok sampai sekarang belum juga muncul," tukas Dolmen.
"Mungkin urusan mereka belum selesai. Tunggu saja, mereka pasti balik ke sini kok," timpal Armand
"Ini nggak ada yang mau ke sungai buat mandi?" tanya Ike.
"Mandi lah. Gerah banget gue," sahut Cendol.
"Iya, sama. Gue juga udah pengen keramas. Rambut udah lepek!" tambah Indy.
"Kalian aja deh. Gue masih takut."
"Takut kenapa? Kan kita nggak akan ganggu, kita nggak berisik lagi. Doa dulu jangan lupa nanti."
"Kalau gitu kita ke sungai bareng bareng aja. Setidaknya bisa saling menjaga. Toh, gue lihat sungai itu ada dua tempat pemandian yang setengah tertutup kan. Jadi bisa kita pakai, dan nggak usah takut ada yang ngintip," tutur Armand.
"Iya bener. Mending kita rame rame aja ke sana."
Walau Mey awalnya terus menolak ajakan teman temannya, tapi akhirnya dia pun menyetujui untuk ikut pergi ke sungai.
Sungai di desa itu memiliki dua tempat yang tertutup batu batu yang ditumpuk hingga tingginya setengah tubuh manusia dewasa. Jadi dibalik batu batu itu, orang yang hendak mandi bisa melakukan aktifitasnya dengan tenang tanpa takut ada yang mengintip nya. Tentu saja dengan catatan mereka yang mandi tidak akan melepas semua pakaian mereka. Bahkan para wanita memutuskan memakai jarik untuk menutupi tubuh mereka. Mereka berendam sambil membersihkan tubuh dari keringat dan kotoran.
"Seger banget, ya. Asli ini mah pengalaman pertama gue mandi kayak gini di sungai. Berasa gue gadis desa aja. Hahahaa," kata Indy tertawa riang. Kali ini mereka memang mampu menahan kehebohan karena takut akan mengganggu penunggu di sungai itu. Walau demikian tidak membuat mereka stres dan hanya diam saja sepanjang mandi di sungai. Mereka masih melakukan hal hal yang biasanya dilakukan namun kini jauh lebih pelan agar meminimalisir kebisingan yang bisa saja mereka ciptakan.
Tiba tiba kepala Indy seperti dilempar sesuatu. Dia bahkan sampai menjerit karena merasa sakit di bagian dahi.
"Ih siapa sih yang jahil! Heh! Kalian lempar batu ke sini?" tanya lndy, tapi ternyata teman teman pria yang ada di seberang sungai justru sudah berjalan meninggalkan tempat itu dengan baju yang sudah mereka cuci.
"Eh siapa ya yang lempar batu ke gue?" tanya Indy.
"Bukan batu kali. Ranting atau apa gitu," ungkap Khusnul.
Otomatis semua orang mendongak ke atas di mana tidak ada pohon apapun di atas mereka saat ini. Jadi kemungkinan ranting jatuh adalah kemungkinan yang mustahil.
"Apa mereka, ya?" tanya lndy menunjuk teman temannya yang sudah berjalan menjauh.
"Nggak mungkin. Pas lo teriak, kan mereka udah jalan pergi, Ndy," tukas Mey.
"Jadi siapa dong?" tanya Indy mulai panik.
"Ih udahan yuk. Udah sore nih. Yang lain aja udah balik!" pekik Ike.
Kalimat Ike merupakan sebuah isyarat kalau situasi saat ini sudah tidak kondusif dan mereka harus meninggalkan sungai itu agar tidak terjadi sesuatu lagi nanti. Mereka bergegas memakai pakaian ganti dan pergi dari sungai menyusul yang lain.
***
Menu makan malam kali ini adalah tempe bakar buatan Rahma. Dia sama sekali tidak keberatan dengan tugas memasaknya. Karena memasak adalah salah satu hobi Rahma. Yang membuatnya menjadi seorang wanita yang terkenal pandai memasak makanan.
Seperti biasa, setelah makan mereka duduk di teras dan memeriksa laporan serta tugas masing masing. Ditemani secangkir kopi panas dan pisang goreng mereka terlihat sibuk dengan tumpukan kertas di hadapan. Tiba tiba suara dering telepon terdengar nyaring. Ini kali pertama Armand mendengar hapenya berdering.
"Siapa ini, ya?" tanyanya sambil, menatap layar kecil itu. Hanya ada keterangan nomor baru yang artinya dia tidak menyimpan nomor tersebut di hapenya.
"Angkat aja, siapa tahu penting," tukas Derry.
"Ya? Siapa, ya?" tanya Armand begitu benda itu berada di telinganya.
"Man, maaf saya belum bisa balik hari ini. Bu Melati seharian nggak bisa dihubungi. Jadi kami mau di sini dulu mungkin sampai besok. Kalian baik baik saja, kan?"
"Oh lo, Nil! Oke deh. Nggak apa apa kok. Nggak usah khawatirin kita. Lo urus dulu urusan di sana. Kalau udah selesai baru balik ke sini."
"Oke. Ya sudah sampai ketemu besok. Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Ya Allah! Itu apa?" tanya Derry sambil menunjuk ke langit di depan mereka.
Semua orang menatap ke arah itu dan semua sontak bergerak masuk ke dalam rumah.
"Astaga! Itu kuntilanak!"
"Kok merah?"
"Kan bebas mau pake baju apa sih. Kenapa lo larang!"
"Tapi bener kan tadi kuntilanak?"
"Iya, walah dari jauh tapi udah jelas itu kuntilanak. Serem banget. Sebaiknya kita nggak usah duduk di teras lagi kalau malem deh!"
"Iya bener. Besok kita duduk di dalam rumah aja!"