Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
12. teror di posko


Aku hanya berdiam diri di kamar. Aku sudah berjanji ke Indra tidak akan ke mana mana. Pikiranku masih berputar tentang sosok eyangku yang tadi kutemui.


Sepertinya memang benar itu adalah eyang uyutku. Karena papah pernah bercerita tentang eyang uyut yang kadang suka menjenguk cucu cucu nya dalam bentuk seperti tadi. Namun tidak bisa sembarangan orang melihat.


Aku masih tidak habis pikir, apakah hal seperti itu benar benar terjadi?


Kufikir, setiap orang yg sudah meninggal ruh nya akan kembali ke Allah. lalu tadi apa?


Sampai sekarang pun aku masih belum mengerti. Kata papah, 'biarlah misteri tetap menjadi misteri'


Dan sekarang aku mencemaskan Indra. Dia pasti ikut warga untuk mencari teman temanku yang lain.


Kenapa kakiku harus seperti ini sih? Jika kakiku bisa berjalan, pasti aku juga ikut mereka. Aku tidak tenang membiarkan Indra ada di desa itu, walau banyak orang yang menemaninya.


Kalau untuk menghadapi manusia, aku tidak begitu khawatir. Karena Indra jago bela diri. Tidak hanya satu cabang bela diri saja yang dia tekuni. Namun ada beberapa lagi. Hanya saja yang dihadapi kali ini adalah makhluk astral, yang tidak bisa tumbang karena tendangan dan pukulan.


Pikiranku terus ke Indra. Aku tidak tenang. Kuputuskan keluar kamar dan berkumpul dengan yang lain.


Di rumah masih ada Faizal, Indah, Ferli dan Nindi. Tetapi Nindi masih tertidur.


Aku berjalan dengan kepayahan karena kakiku masih nyeri.


"Lho! Kok keluar?" tanya Faizal lalu menghampiriku dan membantuku berjalan.


"Bosen di kamar."


"Ya udah, kita di sini aja. Sambil nunggu yang lain balik. Mudah mudahan mereka cepat ketemu."


Aku duduk di samping Ferli yang sedang memeluk boneka kesayangannya.


"Kamu kok disini, Zal? Nggak ikut Indra tadi?"


"Tadinya aku mau ikut, tapi gak boleh sama Indra. Katanya aku suruh di sini aja, jagain kalian. Takut ada apa apa di rumah. Masa gak ada cowok yg jagain rumah," jelas Faizal.


"Nis, kaki kamu gimana ?" tanya Indah.


"Tadi sih udah diurut Indra, agak mendingan sih. Cuma masih agak nyeri dikit," kataku sambil ku lihat kaki ku.


"Eh... Mau teh gak nih? Hawa nya dingin gini. Biar badan anget," tawar Ferli.


"Boleh."


"Yuk, Zal, temenin ke dapur," ajak Ferli. Mereka berdua pergi ke dapur untuk membuat teh untuk kami.


"Nindi lagi ngapain?"


"Masih tidur. Kecapean kayaknya," sahut Indah sambil menoleh ke pintu kamar Nindi.


"Sering sering ditengok, Ndah. Jangan sampai kecolongan lagi kayak si Yola."


"Mm ... Iya juga, ya. Ya udah aku liat dulu deh di kamar.


Bunyi detik jam dinding bagai alunan musik malam yang cukup menghibur. Ini lebih baik daripada aku harus mendengar suara suara aneh seperti biasanya.


Namun, semua seakan sirna hanya dalam beberapa detik kemudian. Suara orang yang sedang mencakar cakar jendela mulai mengusik telingaku. Bunyinya memekik tajam.


Aku mencoba berdiri untuk dapat melihat siapa sumber suara ini.k


Karena aku yakin, ini berasal dari teras depan.


Dengan langkah kaki yang sedikit kuseret, aku terus berusaha mencapai jendela yang tertutup korden. Aku menyingkap korden, lalu menutupnya lagi dengan cepat. Seorang wanita dengan pakaian putih lusuh, dengan kuku tajam sedang mencakar cakar jendela. Kepalanya retak sedikit remuk dan dari tempatku berdiri tercium bau busuk yang menyengat. Bola matanya hampir keluar dengan wajah penuh darah.


Aku lalu mundur perlahan. Mencoba tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Namun langkahku terhenti karena merasakan ada seseorang di belakangku.


"Nis!!m Ngapain sih?" tanya Ferli yang sedang membawa nampan berisi beberapa cangkir teh yang sudah dibuatnya.


Aku menunjuk ke teras dengan kalimat tergagap.


"Iii... Ittt... itttuuuu ... Diii depan," kataku lalu bersembunyi dibalik badan Ferli.


Faizal dan Ferli diam sambil mendengarkan suara yang sedari tadi menggangguku.


"Apa itu?" tanya Ferli.


"Gak usah dilihat! Aku yakin kalian bakal muntah kalau lihat wujudnya."


"Heh! Pada ngapain sih di sini!!" kali ini Indah muncul setelah mengecek Nindi di kamar.


"Ssstttt ..." desis Faizal, mengisyaratkan Indah untuk  diam.


Indah langsung paham dan ikut bersembunyi di belakang Faizal.


Faizal yang hendak maju, ditahan Indah. Karena kami semua ketakutan.


"Terus kita harus gimana dong?" Bisik Faizal dengan pertanyaan pada kami. Semua saling tatap, tidak ada yang berani berkomentar.


"Eh, tunggu! Berhenti nggak sih suaranya?" Ferli heran sambil meletakan nampan yang ada di tangannya.


"Cek coba, Zal," pinta ku.


"Temenin dong."


Akhirnya dengan ditemani Indah, Faizal melongok ke jendela.


"Ilang sist," ucap Faizal heran.


"Ke mana, ya?" tanyaku.


Saat Indah menoleh ke arahku, dia mematung. Badannya bergetar, lalu di raihnya Faizal yang masih sibuk mengecek keluar.


"Apaan, Ndah! Aku pastiin dulu, itu setan udah pergi atau belum!!" katanya tanpa melepaskan pandangan dari teras.


"Nis... Sini deh," panggil Indah lirih dengan mata melotot ke belakangku.


"Di belakangku, ya?"


Mendengar aku berkata demikian, Faizal menoleh cepat melihat ke belakangku. Reaksinya sama seperti I dah tadi.


Aku tidak berani menoleh sedikit pun. Aku yakin sekarang dia ada di belakangku.


Aku ingin berjalan ke Indah dan Faizal. Namun seakan akan badanku ini kaku, tidak bisa digerakkan. Ferli yang melihat ke belakangku pun ikut diam dengan keringat dingin yang bercucuran diwajahnya.


Aku terus mencoba untuk dapat menggerakkan kaki ku, namun sia sia.


Kaki ku seolah sudah terpaku di tempatku berdiri sekarang.


Entah kenapa semua doa doa yang sudah kuhafal sejak kecil pun rasanya benar benar tidak dapat kuingat. Aku benar benar blank sekarang.


"Nisa!" jerit Ferli tambah panik.


Entah apa yang dia lihat. Namun perlahan ku paksakan untuk menoleh ke belakangku. Rasa takut kini kalah oleh rasa penasaran yg sejak tadi ku bendung.


Perlahan aku dapat melihat ke belakang. Dan benar saja, yang ada di belakangku adalah sosok yang tadi ada di teras.


Dia menyeringai sambil perlahan mendekatiku. Namun rasanya aku kembali membeku. Aku tidak bisa bergerak lagi walau hanya se centi sekali pun.


Bulir bulir air hangat mengalir dari kedua mataku.


Dia makin mendekat, tangannya terulur seperti ingin meraihku.


Aku pasrah.


Mending bunuh sekalian aja deh. aku benar benar tersiksa. Aku capek.


Tangan nya kian dekat, dan mulai tercium bau busuk dan menyengat. Tangannya penuh luka, darah dan kotor. Seperti lengket entah berasal dari mana dan sangat menjijikan.


Saat tangannya menempel pada leherku, ia tiba tiba kembali beringsut mundur sambil memegang tangannya sendiri. Tercium bau gosong beberapa saat kemudian.


Aku kaget dan heran. Lalu  meraba sekitar leher. Apa yg membuatnya kesakitan?


Kalung??!


Sepertinya benar karena kalung dari Indra yang sedang ku pakai. Ini sudah beberapa kali terjadi.


Subhanallah. Terimakasih ya Allah.


Aku kembali menangis, namun bukan karena takut. Tapi karena haru.


Aku masih dilindungi oleh Allah.


"Nis... Nisa!" ku rasakan sebuah tangan merangkul ku dari belakang hingga ke bawah leherku.


"Kamu nggak apa apa?" tanyanya lembut di telingaku.


Aku menoleh untuk memastikan siapa yang memelukku sekarang. Dan saat tau kalau Indra yang memelukku, tubuhku langsung lemas. Dan jatuh ke dalam pelukannya.


"Kamu gak apa apa, kan?"tanyanya. Aku hanya mengangguk menanggapinya. Rasanya kerongkonganku kering sehingga membuat suara ku tidak bisa keluar.


"Yang lain mana? Udah ketemu?" tanyaku saat kulepaskan pelukan kami.


"Ketemu. Mereka baik baik aja," jawabnya sambil menghapus sisa sisa air mata ku.


Alhamdulillah