Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
21. Rasa Penasaran Aretha


Bu Jum sedang membersihkan ikan gurame dan hendak segera memasaknya. Dia memang pandai memasak dan selalu menghasilkan makanan yang enak. Aretha dan Radit cukup puas dengan pekerjaan nya selama ini. Sambil bersenandung, Bu Jum membersihkan sisik ikan. Namun di tengah pekerjaannya itu, dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Padahal suaminya dan Ratno sedang berada di lantai dua dan memulai pekerjaan mereka sejak 30 menit lalu di atas. Mereka tidak turun lagi ke bawah dan itu membuat Bu Jum merasa tidak nyaman.


Buku kuduknya meremang. Dia menekan tengkuknya dan meletakkan pisau dapur di wastafel. Tangannya yang masih berbau ikan tidak ia hiraukan. Perlahan dia menoleh ke belakang.


"Ya Tuhan! Astaga! Ya ampun, Mbak Aretha! Bikin kaget saja!" pekik Bu Jum.


Rupanya Aretha sedang berdiri di belakangnya tanpa bergerak sama sekali.


"Maaf, Bu. Kalau saya bikin kaget. Hehe."


"Nggak apa apa kok, Mbak. Saya pikir Mbak Aretha ada di kamar, tapi tiba tiba muncul di sini jadi saya kaget."


"Iya, saya bosan di kamar. Jadi saya mau bantu Bu Jum masak aja deh," cetus Aretha lalu mendekat dan mengambil alih pisau tadi.


"Eh, jangan, Mbak. Biar saya saja yang membersihkan ikan itu. Nanti bau amis."


"Nggak apa apa, Bu. Saya mau bantu. Bu Jum siapkan saya bumbunya. Jadi biar cepat matang," tegas Aretha.


"Oh begitu. Eum, baiklah. Saya siapkan bumbunya. Tapi kalau Mbak Aretha capek, istirahat saja. Biar saya saja yang masak."


"Iya, Bu. Saya baik baik saja."


Walau Bu Jum merasa tidak enak saat mendapatkan bantuan Aretha, tapi dia tidak bisa menolak. Apalagi kalau itu adalah permintaan majikannya sendiri.


Akhirnya mereka memasak bersama di dapur.


"Eum, Bu Jum ... Anaknya berapa? Apa cuma Ridho saja?" tanya Aretha basa basi.


Bu Jum tiba tiba diam. Dia tidak langsung menjawab dan malah terkesan melamun. Aretha menyadari itu karena dia melihatnya secara langsung.


"Saya punya anak lain selain Ridho, Mbak. Karena Ridho itu anak bungsu saya. Anak sulung saya perempuan, namanya Kinanti. Tapi dia sudah tidak di sini lagi," jelas Bu Jum.


"Oh ya? Memangnya dia ke mana, Bu?" tanya Aretha berusaha hati hati dalam segala pertanyaannya. walau dia sudah mengetahui sedikit tentang anak Bu Jum itu, tetapi Aretha tidak ingin terlihat kalau dia sudah mengetahuinya. Dia ingin mendengar sendiri dari mulut Bu Jum selalu orang tuanya.


"Dia pergi."


"Pergi? Pergi ke mana, Bu?"


"Maaf, ya, Bu. Kalau saya malah mengingatkan Ibu dengan kejadian itu. Saya hanya penasaran saja," kata Areta sambil mengelus punggung Bu Jun


"Tidak apa-apa, Mbak Areta. Saya baik-baik saja kok. Saya berharap semoga Kinanti juga baik-baik saja di manapun dia berada." Tangis Bu Jum akhirnya pecah. Bukan lagi tetesan air mata dan isak tangis belaka tetapi sudah menjadi tangisan yang menyayat hati. Areta sontak memeluk Bu Jum untuk menenangkannya.


"Sabar ya Bu. Bu Jum harus kuat. Apapun yang terjadi kepada Kinanti semoga segera ditemukan jawabannya."


"Iya, Mbak. Saya dan suami saya sudah menghubungi polisi tetapi polisi sampai sekarang belum juga menemukan keberadaan Kinanti. Dan sekarang kami sudah menyerah dengan semuanya. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa untuk kebaikan Kinanti."


"Iya. Saya juga bantu doa semoga Kinanti secepatnya segera ditemukan. Kalau Bu Jum butuh apa-apa silakan bilang saja sama saya."


"Terima kasih Mbak Areta. Mbak Areta dan Mas Radit sudah sangat baik sekali kepada saya dan keluarga saya. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Tuhan."


Kedua wanita itu masih saling berpelukan. Areta merasa sedih dengan kondisi yang Bu Jum alami. Tanpa Aretha sadari wanita yang sedang dia peluk justru menyeringai di belakangnya.


***


Pencarian Gibran masih berlangsung bahkan saat siang hari. Warga desa masih berusaha untuk mencari keberadaan Gibran di sepanjang penjuru desa. Mereka masih berharap agar bisa segera menemukan Gibran di manapun dia berada. Bahkan bantuan juga dikerahkan Karena kini polisi sudah ada di beberapa sudut desa untuk membantu melakukan pencarian.


Setelah mendengar cerita mengenai Kinanti Areta kini justru sedang berdiri di depan halaman rumahnya. Dia menetap ke kebun teh yang ada di seberang rumah. Namun sosok Kinanti tidak terlihat di sana. Karena penasaran Areta pun berjalan mendekati kebun teh tersebut. Sambil menghirup udara segar di desa tersebut Areta memutuskan untuk melihat-lihat area sekitar kebun teh. Hingga dia pun berhenti tepat di tempat Kinanti terlihat olehnya sebelumnya. Karena beberapa kali Areta lihat Kinanti hanya berdiri tepat di tempat tersebut.


Kini Areta berdiri dengan posisi sama seperti yang Kinanti lakukan. Dia menatap ke arah rumah yang ia tinggali selama beberapa hari terakhir. Rumah tersebut memang tampak megah di tempat ia berdiri sekarang. Sangat kontras rasanya dengan rumah-rumah lain yang ada di desa itu. Dia pun menjadi penasaran dengan sosok pemilik rumah asli yang biasa warga desa sebut dengan nama pak Ibrahim.


Tiba-tiba Areta teringat sesuatu dan langsung meraih gawai yang selalu ia simpan di saku celana saat dirinya keluar dari kamar. Areta mulai mencari nama seseorang yang ada di ponselnya. Begitu menemukan nomor yang dimaksud, Aretha segera melakukan panggilan. Hanya butuh tiga kali nada dering saja, akhirnya telepon itu pun tersambung.


"Kenapa lagi, Tha?" tanya seorang pria di seberang.


"Dan, lo bisa cari tahu tentang pemilik rumah ini? Nama, silsilah keluarga, pekerjaan, pendidikan, teman dekat tiap anggota keluarga, makanan kesukaan, pokoknya semua hal tentang keluarga ini. Gue juga pengen tahu, apa alasan sesungguhnya mereka nggak mau kembali lagi ke rumah ini. Padahal mereka keluarga yang terpandang di desa. Bahkan semua warga mengenal mereka sebagai keluarga yang dermawan dan baik hati. Rasanya ada yang janggal!" tutur Aretha.


"Gitu, ya? Hem, oke. Nanti gue cari tahu. Kalau udah ada informasi, gue langsung kabari lo!"


"Thanks, ya, Dan. Gue tunggu kabar lo secepatnya."


"Siap, non."


Tanpa Aretha sadari, ada seseorang yang sedang memperhatikannya sejak tadi di rumah tersebut. Dia hanya terus menatap Aretha tanpa ekspresi.