Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
11. Fakta Baru


Radit dan Aretha sama sama terkejut mendengar informasi terbaru yang baru saja mereka dengar. Bahkan mereka tidak sadar kalau desa ini memang berada di wilayah yang berdekatan dengan Alas Ketonggo.


Ingatan tentang semua hal yang pernah Aretha dan Radit alami dulu, kini kembali muncul. Bagai sebuah kaset film yang diputar ulang.


"Maaf, Pak. Desa itu yang dekat dengan dusun Kalimati, bukan?"


"Eh iya, betul. Mas Radit kok tau?" Pak RT menatap Radit dan Aretha bergantian.


"Iya, Pak. Kami pernah ke sana sebelumnya. Kebetulan saya pernah ikut jadi guru bantu di sana."


"Di Alas ketonggo atau dusun Kalimati, Mba?"


"Dusun Kalimati."


"Hah? Apa Mba Aretha yang dimaksud berita berita waktu itu?"


"Berita? Berita yang mana, Pak?"


"Saya dengar ada tragedi di sana, terus memakan korban dari kota. Pas berita itu muncul, gempar, Mba. Bahkan warga di desa ini juga ikut membahas masalah itu. Padahal ada loh, warga desa sini yang sesekali mencari rumput ke sana. Tapi katanya semua normal normal saja. Tidak ada yang aneh. Kami semua tidak sangka, kalau hal mengerikan seperti itu bisa terjadi di sana."


"Tapi katanya dusun Kalimati mau dibangun tempat wisata? Apa sudah jadi, Pak?"


"Tempat wisata? Sepertinya tidak. Karena kalau ada tempat wisata di sana, pasti warga desa lain akan berdatangan. Sampai sekarang tidak ada informasi apa pun."


"Assalamualaikum. Pak RT? Wah, ada tamu rupanya." Tiba tiba ada salah satu warga lain yang datang. Dia adalah Ratno.


"Eh, No? Masuk. Tumben, ada apa?"


"Maaf, ganggu, Pak RT. Saya mau minta surat pengantar untuk ke kelurahan." Ratno pun ikut duduk bersama mereka. Ruang tamu di rumah Pak RT memang cukup luas. Dengan sebuah sofa panjang yang cukup mampu menampung tamu tamunya, yang memang kebanyakan adalah warga nya sendiri. Hampir setiap hari akan ada tamu yang datang ke rumah Pak RT, entah untuk meminta tanda tangan, surat pengantar, atau urusan domestik rukun tetangga wilayah mereka. Apalagi Pak RT termasuk sosok orang yang ramah dan menyenangkan.


"Oh iya, mau ngurus apa, No?" Pria berumur 50 tahun itu lantas mengambil lembar kertas putih yang diminta Ratno. Dia mengisi formulir itu sesuai dengan urusan yang hendak Ratno lakukan.


"Oh iya, ini ... Bapak dan Ibu yang menempati rumah Pak Ibrahim, ya?" tanya Ratno basa basi. Radit dan Aretha lantas mengangguk diiringi senyum tipis.


"Betul, Mas. Eh, tapi jangan panggil Bapak dan Ibu, kami masih muda. Hehe." Radit sepertinya termasuk pria yang menolak tua. Tapi kenyataannya dia memang masih muda. Apalagi dengan status mereka yang belum memiliki anak. Maka panggilan Bapak dan Ibu rasanya bisa diganti dengan Mas atau Mba.


Selesai dengan urusan tentang surat pengantar yang dibuat Pak RT, Ratno justru malah asyik mengobrol dengan warga baru di tempat tinggalnya itu. Basa basi tentang asal usul Radit dan Aretha sudah dia dengar. Rupanya Ratno juga pernah merantau ke Ibukota. Hal itu saja bisa menjadi obrolan yang panjang di antara mereka bertiga. Sampai akhirnya Pak RT membahas mengenai dusun yang sebelumnya dibahas oleh mereka.


"Oh iya, betul. Saya sering ke sana. Biasanya dua hari sekali. Rumput di sana banyak sekali, tumbuh subur," jelasnya tanpa beban.


"Mas, bukannya di sana mau dibangun tempat wisata?" tanya Aretha penasaran.


Ratno diam sejenak seperti sedang berusaha mengingat sesuatu. "Oh iya. Tapi nggak jadi, Mba."


"Nggak jadi? Kenapa?"


"Saya nggak paham alasannya. Memang beberapa bulan yang lalu, saya melihat banyak tukang bangunan yang sedang membawa alat berat dan bahan material. Mereka bilang akan membuat tempat wisata kolam renang juga outbond. Bahkan beberapa sudah mulai dibangun. Tapi satu bulan setelahnya, mereka sudah tidak bekerja lagi di sana. Bahkan alat berat dan bahan material yang tersisa ditinggalkan di sana." 


"Kenapa gitu, ya? Mas Ratno nggak tau alasannya? Mungkin ketemu salah satu pegawainya?"


"Enggak, Mba. Pas saya ke sana lagi, saya juga heran itu. Kenapa sepi? Pada ke mana. Saya pikir mereka libur. Karena buldosernya saja masih ada di sana. Kalau proyek dihentikan, otomatis semua alat berat kan, di bawa pulang? Ini enggak!" Ratno tampak antusias membicarakan hal ini dengan Radit dan Aretha. Dia tidak sangka kalau warga baru di daerahnya justru mengetahui perihal dusun yang konon katanya angker itu.


"Tapi saat kamu nyari rumput di sana, apa kamu pernah melihat hal aneh, To?"


"Yang betul kamu? Kenapa kamu nggak pernah bilang saya?"


"Ih! Pak RT ini! Hal menyeramkan seperti itu, kenapa saya harus cerita cerita! Membayangkan saja saya masih takut sampai sekarang!"


"Gimana ceritanya, To?"


"Saya nggak mau bahas, Pak. Serius! Saya masih takut. Yang jelas, rumor tentang dusun Kalimati yang angker itu, memang benar. Mungkin pegawai yang bekerja di sana diteror makhluk halus seperti saya!"


"Mas Ratno yakin?" tanya Radit ikut menatapnya serius.


"Yakin, Mas. Soalnya aneh saja. Bayangkan saja kalau Mas Radit ada di posisi itu. Toh, Mas Radit ini juga paham kan, tentang kontruksi bangunan? Masa alat berat sebanyak itu ditinggalkan begitu saja di sana. Kan aneh. Rugi berapa ratus juta itu mereka."


"Tapi kalau kamu pernah diganggu, kenapa kamu masih cari rumput di sana, To?"


"Saya sudah nggak pernah ke sana, Pak RT. Paling cuma sampai di Desa Alas Ketonggo saja. Itupun saya mencari teman yang mau ikut cari rumput. Jadi saya tidak sendirian. Saya sudah lama nggak masuk dusun itu. Saya takut."


"Wah, saya malah baru tau kalau ternyata tempat itu masih menyeramkan. Mungkin harus mengundang kyai untuk menetralkan tempat itu, ya?"


"Tapi hantu yang ada di sana, nggak akan  berkeliaran ke luar dari sana, kan?"


"Maksudmu?"


"Jangan sampai hantu yang ada di sana juga datang ke sini. Hantu di sini saja sudah menyeramkan!"


"Hantu di sini? Memangnya hantu apa, Mas?" tanya Aretha penasaran. Dia ingin sekali ada satu orang yang menyebutkan atau pernah melihat sosok wanita berbaju merah, yang pernah ia lihat sebelumnya.


Pak RT berdeham, dia melirik ke arah Ratno yang tampak salah tingkah. Ratno lupa kalau hal ini tidaklah boleh dibahas secara gamblang. Apalagi di depan warga baru.


Ratno garuk-garuk kepala, sambil mencari jawaban dari pertanyaan Aretha. "Eum ... Itu, Mba ...."


"Itu loh, Mba Aretha. Jin yang saya bicarakan tadi. Ummu sibyan."


"Oh. Itu. Memangnya sudah pernah ada yang diteror selama ini?" tanya Aretha lagi.


"Ada, Mba. Bahkan dia jadi gila sampai sekarang."


"Oh ya? Kok bisa gitu? Gimana ceritanya?"


Ratno menatap Pak RT, meminta agar sesepuh desa itu memberikan pernyataan lebih pada tamu mereka. Karena sejak tadi Pak RT lebih banyak diam.


"Yah, pokoknya saya cuma kasih peringatan sama Mas Radit dan Mba Aretha. Jangan keluar saat malam selasa kliwon dan jumat kliwon. Pokoknya setelah azan magrib, langsung masuk rumah. Tutup pintu dan jendela. Jangan sampai kalian bisa melihat ke luar rumah malam itu sampai subuh. Karena kalau sampai jin itu melihat kalian, atau kalian yang melihat dia, bahkan parahnya saling bertatapan, maka dia akan meneror rumah kalian. Mencari celah untuk bisa masuk ke dalam. Makanya, setiap jalan masuk, baik pintu dan jendela juga ditaburi garam kasar. Sebar saja sekitar bada asar. Insya Allah dia tidak akan bisa masuk. Tolong taati peraturan desa kami, ya, Mas, Mba."


"Oh begitu. Baik, Pak. Kami paham. Kalau gitu kami permisi dulu. Jangan lupa,Pak RT besok hadir ke rumah kami. Kami sangat tunggu kehadirannya."


"Oh iya, saya sampai lupa. Kalau untuk pemimpin doanya, bagaimana? Mas Radit mau sekalian saya carikan?"


"Oh boleh, Pak. Boleh. Terima kasih banyak sebelum dan sesudahnya. Maaf, kalau kami merepotkan."


"Ah, tidak usah sungkan. Kita ini kan keluarga. Hidup bertetangga itu artinya kita adalah keluarga terdekat, kan?"


"Kalau begitu kami permisi dulu, Pak RT, Mas Ratno," ucap Aretha. Ia melebarkan bibirnya dan beranjak dari duduk. Mereka semua saling berjabat tangan, dan akhirnya pertemuan di rumah Pak RT pun diakhiri.