
"Minum dulu," kata Nisa sambil menyodorkan segelas air putih ke Hendra. Mereka semua kini tengah berkumpul di ruang tamu setelah insiden Hendra menangis tadi.
"Jadi gitu ceritanya," kata Arden setelah Radit menceritakan semua yang ia tahu, di tambah penjelasan dari Hendra juga.
"Tapi apa bener, kalau teteh mengikuti kami sejak tadi, bahkan sampai ke depan rumah ini?" tanya Radit berbisik sambil memperhatikan kondisi di luar halaman yang memang tampak dari korden.
"Iya, emang," sahut Arden.
"Terus, saya harus gimana, Tante. Saya takut kalau harus kembali ke ruma itu," rengek Hendra.
"Ya udah, pindah aja sih kalau gitu. Kenapa repot?" tanya Aretha.
"Nggak segampang itu, Tha."
"Loh, kenapa?" tanya Aretha bingung sambil menatap Hendra dan Radit bergantian.
"Si Hendra ini nggak punya uang buat bayar kost baru. Dia udah bayar ke Tante Melan dua bulan langsung. Padahal mah aku tawarin nginep di rumahku dulu sementara waktu, tapi dia nggak mau. Emang cari penyakit aja ni bocah!" umpat Radit sambil menoyor kepala Hendra.
Nisa terkekeh, walau belum memberikan komentar apa pun setelah mendengar cerita mereka. Tetapi dia tetap memperhatikan sosok yang kini masih berdiri di pintu gerbang rumahnya.
"Terus maksud kedatangan lo ke rumah gue apa dong?" tanya Aretha.
"Gini, Tha. Gue denger dari temen-temen kuliah dulu, kalau lo itu cenayang. Jadi gue mau minta tolong lo, buat ngusir teteh dari rumah," jelas Hendra dengan ragu-ragu.
"Busyet, cenayang. Hahaha." Tawa Arden lepas begitu saja setelah adiknya disebut cenayang. Walau itu artinya dia pun juga mendapat sebutan yang serupa, karena mereka saudara kembar dengan kemampuan yang sama pula.
"Heh, nggak bisa gitu dong. Main usir-usir aja! Lo kan, tahu, kalau dia itu udah ada di sana sejak dulu. Kenapa malah dia yang harus kita usir?" tanya Aretha yang sepertinya tidak setuju dengan permintaan Hendra.
"Please, Aretha, tolonglah. Kali ini aja, bantuin gue," rengek Hendra.
Aretha menarik nafas panjang, lalu menoleh ke sang Ibunda yang sejak tadi menyimak pembicaraan ini.
"Nak Hendra, kami nggak pernah mengusir makhluk karena alasan seperti itu. Apalagi Tante lihat, kalau wanita itu sepertinya tidak jahat. Coba Tante mau tanya, apa selama kamu menginap di sana, dia pernah melakukan hal buruk ke kamu. Misal mencelakakan kamu, atau mengancam nyawa kamu?" tanya Nisa.
Hendra menggeleng pelan.
"Lagipula, ya, Hen, nggak segampang itu mengusir makhluk halus yang sudah mendiami suatu tempat dalam waktu yang cukup lama. Terlebih lagi kalau dia adalah pemilik rumah itu sebelumnya."
"Terus gimana, Tha? Tante?"
Aretha, Nisa, dan Arden saling tatap, lalu tak lama mereka bertiga mengangguk.
"Kita panggil saja dia ke sini dan tanya apa maunya. Mungkin saja ada yang ingin dia sampaikan ke kamu atau ada hal lain yang harus kita ketahui, misalkan," kata Nisa.
"Caranya gimana, tante?"
Akhirnya mereka pun mengundang sosok teteh untuk masuk ke dalam rumah, dan melakukan mediasi. "Masuk ke siapa nih?" tanya Arden.
"Kakaklah!" tukas Aretha.
Akhirnya Aretha terpaksa menyetujui kalau tubuhnya dijadikan media untuk mediasi. Nisa membuka pintu gerbang gaib yang memang selalu terpasang di sekitar rumahnya. Lalu teteh pun masuk ke dalam dan segera masuk ke tubuh Aretha. Hal seperti ini lumrah terjadi, dan mereka pun kerap melakukannya dalam kondisi tertentu yang memang membutuhkan komunikasi dengan makhluk halus. Aretha menjadi mediator.
Biasanya seorang mediator memiliki kemampuan untuk dimasuki makhluk gaib ke dalam tubuhnya secara sengaja. Seorang mediator akan mampu mengendalikan apa yang terjadi terhadap dirinya (setengah sadar).
Ketika makhluk gaib mulai dimasukkan ke tubuh mediator, mediator tersebut harus mampu menahan energi yang terpancar dari makhluk gaib yang masuk ke dalam tubuhnya. Bagi seseorang yang pertama kali mencobanya, pasti akan merasa sedikit kesakitan. Namun, setiap energi yang terpancar dari masing-masing makhluk gaib tentunya memberikan dampak yang berbeda pula bagi tubuh si mediator. Misalnya, ketika yang dimasukkan ke dalam tubuh adalah jin yang berenergi "positif", maka tidak akan terasa sakit sama sekali. Lain halnya jika yang masuk ke tubuh adalah jin yang berenergi "negatif", maka badan akan terasa sakit, kepala pusing, dan perut terasa mual setelah proses mediasi selesai. Saat jin merasuk ke tubuh mediator, si mediator akan merasakan bahwa tubuhnya bergerak dan mulutnya berbicara bukan atas dasar keinginannya, melainkan karena jin yang masuk ke dalam tubuhnya. Meskipun anggota tubuh dikendalikan oleh jin, tetapi mediator akan mengingat jelas apa saja yang terjadi saat proses mediasi. Setelah proses mediasi selesai, seorang mediator harus menetralisir energi makhluk gaib yang tersisa dalam tubuhnya. Proses netralisir dapat dilakukan oleh diri sendiri atau dengan bantuan orang lain. Perlu diingat, semakin sering seseorang menjadi mediator, maka akan semakin lancar proses mediasi yang dilakukan.
"Saya tidak berniat buruk. Itu rumah saya, dan saya tidak akan pergi dari sana!"
"Iya, Teh. Maaf, kalau Teteh mendengar percakapan kami sebelumnya. Tapi kami tidak akan mengusir teteh. Tidak. Kami hanya ingin tahu, apakah mungkin ada pesan yang ingin teteh sampaikan?" tanya Nisa.
"Saya tidak bermaksud buruk. Justru saya senang kalau rumah itu menjadi ramai. Selama ini saya kesepian di rumah. Maaf kalau Hendra terganggu dengan kehadiran saya karena saya hanya ingin membantu saja," ucap Teteh.
Hendra memang mengakui kalau selama ini teteh tidak pernah bersikap buruk kepadanya. Justru teteh selama ini banyak membantu Hendra. Entah membangunkannya saat pagi hari, atau membantu menemui Radit dan meletakkan barang Hendra ke kamarnya.
"Jadi begitu rupanya," kata Hendra setelah mendengar penjelasan teteh.
"Kalau gitu Teteh bisa pulang sekarang," ucap Nisa.
Kalau Sekejap sosok Teteh yang masuk ke dalam tubuh wanita pun keluar dan kembali ke rumah.
"Gimana? Setelah tahu?" tanya Aretha.
"Ya bener sih, Tha. Selama ini teteh memang nggak pernah bersikap Atau melakukan sesuatu yang buruk ke gue."
"Ya lu itu cuman kaget aja. Wajar," sahut Arden.
"Jadi, lo bakal balik ke rumah itu apa jadi nginep di rumah gue?" tanya Radit.
"Nginep di rumah lo aja deh, Dit!"
"Loh kenapa? Kirain setelah tahu, lo bakal biasa aja?"
"Tetep aja gue tahu kalau di rumah itu ada setannya! Mau baik mau enggak. Gue tetep takut!"
"Hahahahaha!" tawa Radit dan Arden serempak. Aretha dan Nisa hanya terkekeh mendengar hal itu.
Flashback end.
_________
"Ini? Lo yakin suara tadi dari sini?" tanya Hendra saat mereka berdua berdiri di depan pintu kamar utama.
"Entahlah, gue cuma merasa suara tadi berasal dari sini," kata Radit sambil tengak tengok sekitar.
"Tapi pintu ini tertutup." Hendra justru memegang gagang pintu, dan perlahan membukanya.