Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
21. Flashback perjalanan Daniel ke kota


Kyai Ghofar adalah ustad yang mengajar di pondok pesantren di mana Daniel dulu pernah menimba ilmu di sana. Perjalanan Daniel dari Desa Kalimati menuju ke tanah kelahirannya cukup mendapatkan banyak hambatan dan rintangan. Sekalipun dia naik mobil pribadi di mana sopir Arman yang mengendarai tetapi ada saja hal yang membuat perjalanan mereka terhambat.


Saat itu Daniel sudah sampai di kota dan Hal pertama yang dia lakukan adalah menemui dosen pembimbing KKN mereka. Setelah berbincang beberapa saat serta menjelaskan Bagaimana kondisi di desa tersebut dosen yang awalnya hendak ikut Arman ke tempat KKN mereka mendadak membatalkan rencananya.


"Saya ke sana minggu depan saja, ya. Sekarang ini saya sedang sibuk sekali. Kamu tidak perlu repot-repot lagi untuk menjemput saya nanti. Karena saya akan naik mobil sendiri bersama dosen yang lain. Kami akan mensurvei tempat KKN mahasiswa. Semua akan disurvei Jadi kalian tunggu saja di sana, sambil terus meneruskan kegiatan proker kalian."


" Baiklah kalau begitu, Pak. Saya permisi dulu karena masih ada urusan sebelum kembali ke desa Kalimati."


"Tunggu! Kamu mau ke mana lagi memangnya? Jangan terlalu lama meninggalkan teman-temanmu Apalagi kamu itu adalah ketua kelompok."


"Tidak lama kok, Pak. Saya hanya pergi sebentar untuk bertemu salah satu teman saya. Jadi nanti kami akan ke desa Kalimati bersama-sama, bahkan malam ini juga kami akan langsung kembali ke desa itu."


Dosen itu menatap Daniel dengan dahi yang berkerut. " Memangnya kenapa sampai-sampai kamu mau membawa temanmu ke desa itu?"


"Eum, ada beberapa hal yang harus diurus di sana tetapi kami tidak bisa menyelesaikan hal itu. Jadi kami akan meminta bantuan orang lain."


"Maksud kamu apa, Nil? Ada masalah apa?"


"Kalau saya ceritakan, saya takut kalau bapak tidak percaya dengan cerita ini. Tapi jujur saja kami memiliki banyak sekali permasalahan di desa tersebut, tapi bukan permasalahan dengan warga desa atau proker kami karena semua itu berjalan dengan lancar tidak ada kendala sama sekali sampai sejauh ini."


"Jadi ini ada masalah apa? Sampai-sampai kamu rela pergi ke kota untuk menjemput temanmu itu? Soalnya kemarin saya kan tidak minta untuk dijemput karena saya akan datang ke sana dengan kendaraan saya sendiri tetapi kamu malah ngotot akan menjemput saya. Sebenarnya saya juga agak bingung. Mumpung kamu di sini jadi sebaiknya kamu ceritakan saja. Apapun masalah yang kalian hadapi di sana tetap saja harus kalian laporkan kepada saya karena saya adalah penanggung jawab kelompok kalian."


Daniel diam sejenak dia ingin menceritakan semua itu hanya saja masih ada keraguan di dalam hatinya. Karena ada beberapa orang yang memang tidak mempercayai mengenai hal-hal mistis yang dianggap tidak masuk logika.


"Jadi begini, saat kami ada di desa itu beberapa kali anggota kelompok saya mengalami kesurupan. Tidak hanya satu saja tetapi ada dua bahkan kejadian itu bisa terulang lagi keesokan harinya."


Saat Daniel menceritakan hal itu ada salah satu dosen lain yang masuk ke dalam. Namun Pak Iwan selaku dosen pembimbing kelompok KKN Daniel, tidak menggubris kedatangan dosen tersebut. Karena apa yang baru saja diucapkan oleh Daniel sedikit membuat dia terkejut.


"Oh ya? Kesurupan? Memangnya apa yang sudah kalian lakukan sampai-sampai ada yang kesurupan seperti itu? Biasanya kalau ada kesurupan Pasti kalian melanggar sesuatu yang tidak dibolehkan di desa tersebut."


"Yah, memang salah kami, Pak. Kalau kesurupan pertama itu terjadi hanya karena salah paham saja mungkin. Kami belum mengerti Kalau kami tidak boleh terlalu berisik di sana tapi setelah kami berusaha untuk diam dan tenang hal itu tidak terjadi lagi. Hanya saja kesurupan kedua justru terjadi karena kelakuan salah satu anggota kelompok saya yang Memang agak sedikit kurang ajar."


"Siapa dia?"


"Fendi, Pak. Katanya dia menendang salah satu patung yang ada di desa itu yang konon kabarnya merupakan benda keramat. Tapi tidak hanya itu saja karena dia juga memakan sesajen yang disediakan di sekitar tempat itu."


"Dia makan sesajen? Astaga!" pekik Pak Iwan sampai menarik nafas panjang lalu menatap rekan kerjanya yang ternyata juga sedang menyimak pembicaraan mereka. "Lihat, Ji. Anak zaman sekarang ada-ada saja tingkahnya. Nggak ada takut-takutnya sampai makan sesajen!" sambung Pak Iwan sambil geleng-geleng kepala.


" Memangnya Kalian Kkn di mana sih?" tanya Pak Aji penasaran.


"Di desa Kalimat, Pak."


"Hah! Serius kalian KKn di sana? Loh bukannya kita udah nggak boleh ya KKN di desa itu? Pihak kampus kan udah nggak setuju Kalau ada mahasiswa yang KKN di sana lagi? Lo gimana sih, Wan? Masa mahasiswa lo KKN di sana lo biarin aja!" cetus Pak Aji yang seolah-olah mengetahui hal lain yang terjadi di desa tersebut.


"Loh, kenapa sih? Emangnya kenapa sama tempat itu?"


"Lah, lo lupa? Sama kejadian KKN 10 tahun lalu?"


"KKn 10 tahun lalu?" tanya Pak Iwan sambil tampak berpikir sejenak.


"Astaga! Iwan Iwan! Yang mahasiswanya pada kesurupan terus pada bunuh diri! Masa lo lupa sih?"


"Astaga! Oh iya! Tunggu! Memangnya kejadian itu terjadi di Desa Kalimati?" tanya Pak Iwan lagi. Mereka berdua justru berdiskusi sendiri seolah-olah melupakan kalau ada Daniel yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka.


"Iya! Dusun Kalimati, kan? Yang tempatnya dikelilingi sama hutan?"


"Iya, Pak. Betul. Desa atau Dusun Kalimati biasa disebutnya."


"Ya bener! Itu tempatnya! Bisa bisanya lo acc sih, Wan? Duh, parah banget!"


Pak Iwan tampak diam. Ada gurat kecemasan di wajahnya.


"Pak, Memangnya itu kejadiannya gimana sih, Pak? Bisa ceritakan pada saya?" tanya Daniel makin panik.


"Jadi 10 tahun lalu pernah ada mahasiswa kampus kita yang KKN di tempat itu. Saya bisa tahu karena sayalah dosen pembimbing mereka. Bahkan saya sangat hafal semua cerita dan tragedi yang terjadi. Waktu itu kejadiannya sama kayak kamu nih. Salah satu anggota kelompok mereka balik lagi ke kampus buat laporan ke saya kalau di desa itu banyak hal yang di luar nalar. Sampai-sampai beberapa kali mereka mengalami kesurupan dan itu terjadi hampir merata ke semua anggota kelompok. Awalnya saya juga ngerasa sedikit aneh tapi saya tetap berusaha untuk memberikan solusi ke mereka. Waktu itu saya menyuruh mereka mencari ustad atau kyai setempat yang bisa melakukan pengusiran setan. Dan waktu itu katanya Mereka sudah mendapatkan orang tersebut. Kalau nggak salah orang itu justru berasal dari dusun Kalimati."


"Maksud Bapak orang yang melakukan pengusiran setan berasal dari Dusun Kalimati?"


"Iya. Karena waktu dia datang ke sini Saya sudah menyuruh dia untuk mencari orang yang bisa melakukan hal tersebut. Lalu minggu depan nya, dia kembali lagi ke sini untuk melaporkan hal itu kepada saya. Dan dia mengatakan kalau orang yang melakukan pengusiran arwah berasal dari desa tersebut. Tunggu sebentar sepertinya saya masih ingat namanya. Sebentar saya ingat-ingat lagi. So ... So ... "


"Sobri??" tanya Daniel.


"Nah iya benar! Sobri! Oh jadi orang itu masih ada di desa Kalimati?"


"Masih, Pak. Lalu apa yang terjadi setelah Pak Sobri melakukan pengusiran setan?"


"Berhasil kok. Mahasiswa yang datang ke sini bilang kalau usaha itu berhasil dilakukan dan mereka sudah satu minggu setelahnya tidak pernah mengalami yang namanya kesurupan lagi. Tapi anehnya Setelah dia datang ke sini lalu kembali lagi ke desa itu dua minggu setelahnya Saya dengar kabar Kalau mereka semua gantung diri di bawah pohon yang ada di area pemakaman."


Deg! Jantung Daniel berdesir saat mendengar cerita tersebut. Tentu saja yang dia khawatirkan adalah teman-temannya yang saat ini sedang ia tinggalkan di desa tersebut.


" Kok bisa sih, Pak? Lalu Apa tanggapan dari warga desa yang lain tentang kejadian tersebut. Apa nggak ada kejadian mencurigakan sebelum hal itu terjadi? Karena rasanya aneh jika mereka dibilang bunuh diri apalagi mengingat latar belakang tempat itu yang sedikit menyeramkan."


"Saya pun berpikir demikian. Karena saya yakin mereka tidak bunuh diri atas kesadaran sendiri. Pasti ada pengaruh lain yang membuat mereka semua melakukan hal itu secara bersama-sama. Hanya saja sampai detik ini saya tidak tahu alasannya. Warga desa yang ada di sana pun tidak mengetahui apapun. Bahkan kejadian itu sempat menggemparkan seluruh kampus di pulau Jawa. Polisi yang mendatangi TKP pun tidak menemukan hal-hal aneh dan janggal lainnya. Huft, maka dari itu, pihak kampus tidak akan pernah mengizinkan lagi mahasiswanya untuk KKN di tempat itu. Kami tidak ingin kejadian tersebut terulang lagi."


"Tunggu! Rasanya ada yang aneh deh. Sebentar biar saya periksa dulu," kata Pak Iwan.


Pria paruh baya itu lantas mencari berkas-berkas yang ada di lemari kerjanya. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah map biru yang bertuliskan KKN di sampulnya.


"Saya juga merasa aneh karena pertama kali saat kalian mengajukan KKN dulu rasanya bukan tempat itu yang kalian ajukan kepada saya."


Pak Iwan membolak-balik kertas tersebut dan mencari sesuatu. Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Pak Iwan tentu membuat Daniel makin terkejut. Karena setahu Daniel, saat KKN dimulai pihak kampus lah yang memberikan lokasi kkn yang akan mereka jalani. Mereka tidak mencari tempat kkn sendiri. Jadi sangat aneh jika tiba tiba lokasi yang diberikan pihak kampus berbeda dengan yang mereka terima.


"Nah, ini dia! Loh. Kenapa bisa berubah!" pekik Pak Iwan.


Dia lantas bergegas menuju ke komputer yang ada di ruangan itu. Pak Aji pun ikut mendekat. Mereka mencocokkan laporan kkn yang ada pada berkas dengan yang ada pada komputer. Rupanya semua berbeda.


"Kok bisa! Siapa yang ganti??!" pekik Pak Iwan.


"Apanya, Pak?" tanya Daniel yang akhirnya ikut mendekat karena penasaran.


"Lihat, jelas jelas kalau di komputer lokasi kalian bukan di sana. Tapi kenapa di dokumen ini malah berbeda. Ini aneh!"


Daniel pun melihatnya dengan jelas. Kalau lokasi kkn di komputer dan dokumen yang dibagikan pada mereka berbeda. Dia komputer, lokasi mereka adalah desa Alas Ketonggo, tetapi di dokumen yang disebarkan justru di dusun kalimati.