
"Eum, gimana kalau kamu ikut aku kali ini?" tanya Radit, serius. Aretha mengerutkan kening, menanggapi perkataan suaminya.
"Ikut?"
"Iya, ikut. Aku pikir nggak ada salahnya kamu ikut aku, Aretha. Apalagi proyek ini termasuk proyek besar dan lama. Aku nggak mungkin bolak balik ke rumah, dan ke sana, karena jaraknya lumayan. Terus aku juga nggak bisa ninggalin kamu terlalu lama di rumah. Jadi sepertinya ini jalan terbaik."
"...."
"Nanti di sana, udah disediakan rumah mes buat kita."
"Di mana sih, Dit? Daerahnya? Kamu bilang tempatnya terpencil gitu, kan?"
"Iya, pedesaan sih, Sayang. Dekat perkebunan teh. Hawanya sejuk, dingin. Gimana? Kamu mau ikut aku nggak? Kalau kamu setuju, nanti aku bilang sama Pak Irwan, buat beresin rumah untuk kita tinggali sementara. Kalau kamu nggak mau ikut, aku tidur di mes bareng karyawan lain aja. Gimana?" tanya Radit perlahan tanpa berusaha memaksa keputusan Aretha.
Wanita di depannya memang tampak banyak diam sambil menimbang banyak hal sebelum dia benar - benar membuat keputusan. Sampai akhirnya Aretha menatap Radit dengan sorot mata tajam. "Ada kebun tehnya?"
"Iya, sayang."
"Ikut!" jeritnya dengan ekspresi bersemangat.
Radit sendiri tidak menyangka jika Aretha justru menyetujui idenya tersebut. Tentu saja Radit sangat senang. Dia tidak perlu lagi memikirkan Aretha yang harus dia tinggalkan di rumah, karena mereka berdua akan pergi bersama.
______
Aretha sudah mengemas beberapa potong pakaian. Kali ini dia sengaja membawa pakaian agak banyak, karena mereka tidak hanya menginap satu atau dua hari saja, tapi kemungkinan beberapa bulan lamanya. Alhasil dia membawa dua koper besar untuk pakaian mereka berdua. Belum lagi, beberapa tas lainnya yang berisi barang penting yang akan digunakan selama berada di sana.
Tak lupa mereka berbelanja makanan untuk persediaan selama di sana. Aretha sendiri tidak tau, di mana letak rumah tersebut, serta kondisi sekitarnya. Radit sendiri belum paham betul lokasinya, dia hanya diberitahu kalau ada rumah yang bisa dipakai untuknya jika dia membawa istri ikut serta. Karena dari awal, Radit tampak ragu saat ada proyek di tempat tersebut. Padahal biasanya dia tidak pernah ragu - ragu dalam mengelola proyek yang datang. Selalu profesional dan semangat dalam bekerja. Hanya saja kali ini pengecualian.
"Sayang, kamu yakin di sana ada peralatan dapur? Katanya itu rumah kosong."
"Katanya sih ada, Sayang. Pak Irwan bilang, rumah itu ditinggalkan pemiliknya sekitar satu tahun. Tapi barang - barang mereka masih ada di sana."
"Memangnya pemilik rumah itu ke mana?"
"Aku nggak paham, katanya liburan di luar negeri. Terus nggak mau balik, jadi rumahnya ditinggalkan begitu saja. Mungkin mereka memutuskan menetap di sana barangkali."
"Kok aneh sih, liburan ke mana? Sampai - sampai nggak pengen pulang lagi."
"Kapan - kapan kita liburan ke luar negeri, ya. Biar kamu bisa tau, gimana suasana di negara - negara lain. Siapa tau, kamu berminat menetap di Jepang, misalnya, atau Korea, Itali, Amerika ...."
"Tetep aja, Dit, aku bakal balik ke Indonesia. Seindah apa pun suasana di luar negeri sana."
Radit hanya tersenyum menanggapi reaksi Aretha. Karena perkataannya tadi juga sekedar bercanda. Mana mungkin Aretha mau pergi dari negara ini, jangankan keluar negeri, luar pulau pun dia tidak akan betah. Mereka sempat berlibur di kepulauan seribu, lalu Raja Ampat, dan Aretha tetap merengek minta pulang jika terlalu lama pergi dan jauh dari rumah. Maka dari itu, Radit sempat ragu kalau mereka akan tinggal di tempat tersebut nanti. Karena Aretha memang sangat betah di rumah sendiri.
Tapi Radit cukup terkejut saat Aretha justru antusias pada idenya kemarin. Kini mereka pun sudah siap akan pergi. Di rumah sudah ada keluarga besar mereka. Orang tua Aretha juga Kakak dan Kakak ipar nya. Orang tua Radit yang cukup sibuk dengan bisnis mereka, memang membuat keluarga jarang bisa berkumpul dengan anggota yang lengkap. Tapi komunikasi lewat panggilan video pasti sering dilakukan. Entah dua hari sekali, atau mengobrol santai di akhir pekan bersama - sama.
"Di tas yang hijau, Bunda sudah siapkan kalian makanan, nanti bisa kalian hangatkan lagi begitu sampai di sana, ya. Jangan telat makan." Nisa begitu perhatian pada anak - anaknya. Walau mereka semua sudah besar, tapi tidak menghalangi perhatiannya sebagai seorang Ibu yang baik.
"Iya, Bund. Nanti kami makan kok."
"Kabari Bunda begitu sampai. Terus jangan lupa, kamu nggak boleh terlalu capek, Aretha. Kamu ... Radit, jagain istri kamu. Kalian ada di tempat baru. Hati - hati di sana."
"Iya, Bunda. Nanti Radit telepon bunda begitu sampai. Bunda jangan khawatir, ya. Pasti Radit akan jaga Aretha."
"Sayang, udah ah. Mereka udah besar. Jangan diperlakukan kayak anak kecil terus. Radit pasti tau, apa yang harus dia lakukan sebagai suami," bisik Indra, sang suami, menanggapi kalimat Nisa yang terkesan tidak merelakan putrinya pergi jauh darinya.
Radit hanya tersenyum. Karena dia paham bagaimana watak mertuanya. Mereka bersikap demikian karena sayang pada Aretha. Radit pun demikian. Sayang menyayangi istrinya.
"Bunda sama Ayah, kapan - kapan ke sana, ya. Soalnya Reta pasti kangen banget sama Ayah, sama Bunda, juga Kak Arden dan Kak Alya." Aretha lantas memeluk kedua orang tuanya yang disambut hangat oleh mereka. Tak lupa Alya juga ia tarik dalam pusaran bahagia mereka. Sementara Arden yang memang sosok pria cuek, hanya tersenyum melihat keluarganya harmonis dan rukun. Radit sendiri masih sibuk berkutat pada kardus berisi beberapa camilan serta makanan ringan kesukaan Aretha.
Setelah azan dhuhur, mereka berdua lantas pergi meninggalkan rumah. Sementara itu, Nisa masih berada di sana untuk sekedar membereskan piring bekas makan keluarga mereka. Dia bersama Alya justru terlihat kompak walau tidak ada lagi Aretha yang biasanya ramai.
Radit dan Aretha sudah keluar dari komplek perumahan mereka. Keduanya tampak senang, walau ada sedikit rasa rindu pada keluarga mereka, padahal baru beberapa saat mereka berpisah, tapi terasa sudah lama sekali rasanya.
Aretha sudah mengantungi beberapa camilan yang sengaja ia bawa untuk mengisi perjalanan mereka berdua. Perjalanan kali ini memang memakan waktu yang cukup lama. Mereka bisa saja naik kereta api untuk menyingkat waktu, tapi berhubung banyak barang yang harus mereka bawa, maka mereka memutuskan mengendarai mobil pribadi. Apalagi kendaraan pribadi memang diperlukan untuk sarana transportasi di tempat baru nanti.
Waktu tempuh yang akan dilalui sekitar 6-7 jam. Cukup lama untuk sebuah perjalanan yang mereka lakukan berdua. Rasa sepi pun kerap melanda begitu beberapa jam dilalui. Camilan sudah hampir habis. Radit mulai menguap menahan kantuk. Sementara Aretha justru sudah terlelap tanpa rencana. Dia tertidur begitu saja setelah dua jam perjalanan berlalu.
Kini matahari sudah bergeser ke arah barat. Aretha mulai menggeliat karena mobil yang bergoyang cukup hebat. Jalanan aspal mulai habis, berganti jalan berlumpur yang ditimbun batu kerikil.
"Bangun, sayang?" tanya Radit sambil mengelus kepala istrinya.
"Kita udah sampai mana?"
"Kita udah masuk desa. Alas Purwo. Nanti sekitar tiga kilo lagi, sampai rumah. Sabar, ya."
Aretha tidak menanggapi perkataan sang suami. Dia hanya memperhatikan kanan kiri jalan yang memang sudah di dominasi dengan perkebunan teh yang membentang luas. Ac mobil makin dingin, apalagi karena mereka sudah sampai di tempat tujuan yang memang berada di dataran tinggi.
Hamparan daun teh tampak di samping kiri Aretha. Hanya saja, dia melihat seseorang yang berdiri di tengah barisan daun teh hijau tersebut. Seorang wanita, berpakaian kebaya sederhana berwarna merah dan hanya berdiri menatapnya. Tiba- tiba petir terdengar di langit, hujan segera turun begitu kilat menyambar nyambar. Tapi wanita tadi tetap berdiri di tempatnya, tanpa berniat pergi dari sana. Aretha menatapnya curiga. Tapi mobil Radit mulai berjalan menjauhi tempat itu, dan sosok wanita tadi pun mulai tidak terlihat lagi.