Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
10. rumah sakit


Karena kondisi aku belum begitu baik aku tidak diperbolehkan sekolah oleh bunda. Sebagai gantinya, bunda memasakkan banyak makanan untukku. Apalagi kata dokter, aku harus banyak mendapat asupan nutrisi untuk memulihkan stamina. Sekalipun aku masih belum fit, tetapi aku bukanlah seorang pasien di rumah sakit yang harus tiduran saja di kamar. Untuk menikmati masa istirahat, aku bersantai di gazebo depan rumah, sambil bermain game di gawai milikku.


Tak lama mobil Radit dan Doni masuk ke halaman rumah. Pasukan Radit dan kawan-kawan turun dari mobil. Hanya Danu saja yang tidak tampak. Karena memang kondisinya belum pulih.


"Wuiiih! Santai ya, Bro. Kaya di pantai," kata Dedi lalu berjalan mendekat padaku diikuti yang lain.


"Iya dong, mau ngapain lagi coba? Kan aku lagi sakit, nggak boleh capek-capek," jawabku dengan nada manja sambil tetap menyantap kudapan di hadapanku.


"Bagi, Tha ...." Ari ikut menyambar camilan, bersama Dedi yang kompak merusuh waktu santai juga makanan ku. Doni malah berbaring di lantai kayu itu sambil membalas pesan di gawainya. Tak peduli suara berisik yang diciptakan oleh kami. Justru ia malah ketawa-ketiwi dengan jari yang sibuk mengetik pesan. Sementara Kak Arden melenggang masuk ke dalam rumah, diikuti Kiki sambil berlari kecil karena menahan kencing katanya.


"Kamu gimana? Udah mendingan belum?" tanya Radit yang kini duduk di hadapanku.


"Udah mendingan. Masih pegel-pegel, tapi nggak kaya kemarin."


"Kamu udah makan?"


Radit memang semakin protektif terhadapku. Tidak ada komitmen di antara kami, namun perhatian Radit dari hari ke hari makin terlihat jelas. Dan aku pun merasakan perasaan dan sikap tulusnya. Dia bahkan rela terluka demi diriku. Itu tidak hanya sekali dia lakukan.


"Uhuk ...." Doni berdeham sambil menatap langit-langit. Lalu bersiul tak jelas. Aku meliriknya tajam. Paham akan keisengan Doni yang memang sengaja ditujukan padaku.


"Aku belum makan, nanti aja. Belum lapar. Kamu?" Pertanyaan itu berbalik ke Radit. Aku tidak peduli akan sindiran teman-teman yang lain.


"Nanti aja. Bareng kamu," ucap Radit sambil senyum-senyum.


"Oh iya, Danu gimana kabarnya?" tanyaku sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Udah mendingan kok. Tiga hari lagi juga udah boleh pulang," jawab Dion santai. Rupanya dia hanya menyisakan dua potong klapertart dan seiris brownies kukus buatan Bunda. Aku yang menyadarinya, menatap sinis perusuh di depan. Ah, makananku bakal habis beberapa menit lagi.


"Kalian jenguk orang sakit bukannya bawa buah tangan apa gitu, malah ngabisin makananku!" omelku kesal sambil melirik ketiga orang yang telah berhasil menyapu bersih makananku.


"Laper, Tha. Lagian kemarin, Radit udah bawain brownies. Iya, kan?" cerocos Ari dengan mulut penuh makanan.


"Ya beda lah. Itu kan kemarin," ujar ku dengan mengerucutkan bibir.


Radit tertawa melihat tingkahku dan yang lain. Entah apa yang ada di pikirannya. "Ya udah, nanti aku bawain brownies lagi ya," kata Radit sambil membelai pucuk kepalaku lembut.


"Ih, so sweet!" teriak Kiki yang tiba-tiba saja muncul dan kini bergelayut manja pada Doni. Aku melemparnya dengan stoples kosong bekas camilan tadi. Begitulah keintiman kami sebagai sahabat karib. Terkadang saling ejek, saling hina, tetapi tetap saling melindungi satu sama lain.


Sorenya kami berencana menjenguk Danu ke rumah sakit. Danu dirawat di rumah sakit yang cukup besar. Kami berbondong-bondong masuk ke lift karena kamar Danu ada di lantai empat. Walau awalnya Bunda melarang aku ikut, tapi atas bujukan yang lain, aku berhasil ke rumah sakit ini bersama mereka.


Setelah semua masuk, pintu lift tidak juga menutup. Aneh. Padahal tombol penutup sudah beberapa kali ditekan oleh Dedi. Aku menatap tajam ke salah satu sisi pintu. Ada sebuah tangan hitam yang menahan lift itu.


"Ini pintu kenapa nggak ketutup sih? Apa rusak, ya?" tanya Dedi menggumam, sambil terus menekan tombol memperhatikan sekitar pintu. Aku yang berdiri di samping Radit lalu menenggelamkan kepala di belakang bahu Radit. Aku sedang tidak ingin melihat hal yang aneh.


"Kenapa, Tha?" tanya Radit yang menyadari kegelisahanku. Cengkeraman tangan ku di lengannya, membuat Radit paham bahwa aku sedang gusar. Kak Arden sekilas melirik ke arahku. Entah apa yang telah terjadi, sosok tadi lenyap dan pintu lift berhasil menutup. Pasti Kak Arden yang sudah membuat makhluk tadi pergi.


Kami langsung menuju kamar rawat inap Danu. Kebetulan Mama Danu yang sedang menemani anak semata wayangnya itu di rumah sakit.


"Assalamualaikum, Tante ...," sapa Ari, lalu menjabat tangan Mamanya Danu bergantian dengan yang lain. Danu dirawat di ruangan kelas satu, jadi hanya ada dirinya saja di sini. Tidak hanya itu, ada fasilitas lain seperti televisi dan AC. Lalu kasur untuk keluarga yang menunggu pasien juga tersedia di ruangan ini.


"Tante sendirian saja?" tanya Kak Arden basa-basi lalu menempatkan diri duduk tak jauh dari Mama Danu. Sementara yang lain malah mengerubungi Danu karena ingin melepas rindu.


"Iya, Arden. Papanya Danu masih kerja. Paling ke sini kalau sudah malam," sahut Wanita paruh baya berjilbab lebar itu.


"Kamu gimana, Dan?" tanya ku sambil meletakkan bungkusan yang sudah kami beli di nakas sampingnya. "Mendingan kok, Tha, tapi jahitannya belum kering," ucapnya masih terlihat lemas.


"Kamu belum makan, Dan?" tanya ku menyelidik. Mataku menyipit seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi penjahat.


"Belum. Nantilah, belum lapar," katanya malas-malasan. Bukannya bangkit dari tidur, dia malah mengubah posisi dengan membelakangi nasi beserta lauk pauk yang tidak menggugah selera itu. Semua orang tahu, makanan rumah sakit terkenal tanpa rasa. Bahkan asin pun tidak.


"Sini, aku suapin. Kamu itu harus makan, biar bisa minum obat, jadi cepat sembuh!" tukas ku menyambar nampan itu. Melihat itu, Radit tiba-tiba segera berdiri di samping ku.


"Mau ngapain?" tanyanya datar sambil merebut nampan di tangan ku.


"Nyuapin Danu. Kasian dia, masih susah gerak, kan?" tanyaku cuek dengan kembali merebut nampan dari tangan Radit.


"Ya udah, sini aku aja. Kamu duduk aja di sana, tuh! Sama Kiki," tunjuk Radit ke ranjang kosong yang diduduki Kiki dan Mama Danu.


"Uhuukkk! Ada yang cemburu," sindir Dedi menggumam, "keluar ah." lalu berjalan keluar ruangan diikuti Ari.


"Mau ke mana, woi!" teriak Kak Arden menanggapi.


"Kantin. Haus," sahut Dedi, sedangkan Ari hanya terkekeh lalu merangkul Dedi yang berjalan di sampingnya.


Nampan sudah ada di tangan Radit. Ia mengisyaratkan aku duduk di samping Kiki. Aku mendengus sambil memutar bola mata. Kadang Radit terlalu mengatur. Danu tersenyum melihat tingkah Radit yang sangat pencemburu. Apalagi jika aku didekati pria lain. Padahal kami tidak berpacaran. Walau semua orang tahu, kalau kami berdua memiliki perasaan yang sama.


Mama Danu pamit akan pulang ke rumah. Karena itu, untuk sementara kami menemani Danu sampai mamanya kembali. Seketika kamar Danu sedikit bising karena ulah kami. Segala ocehan mulai dari A sampai Z terlontar dari mulut satu dan yang lainnya. Ternyata hobi menggosip tidak hanya dilakukan oleh kaum wanita saja, tetapi juga kaum pria. Pukul sembilan malam mama Danu kembali bersama papanya. Alhasil, kami pun pamit.


Jam besuk sudah habis. Sepanjang koridor rumah sakit terlihat tampak sepi. Hawa dingin mulai terasa di sekujur tubuh. Saat akan masuk ke lift, ada petugas cleaning service yang sedang mengepel lantai, tepat di depan pintu lift.


"Permisi, Mas," ucap Kiki sambil berusaha masuk ke dalam lift, anehnya selalu dihalangi oleh orang itu. Aku memperhatikan pria itu dengan penuh curiga. Lantai terlihat bersih, jadi apa yang dia lakukan itu aneh. Aku menahan tangan Kiki dan menggeleng pelan. Rasanya ini tidak beres. Apalagi koridor ini terasa sangat sepi sekali. Ponsel Kak Arden berdering. Ia memperlambat langkahnya.


"Kak ...," panggil ku dengan melirik kak ArdenĀ  yang sedang menerima panggilan telepon. Cleaning service itu menghentikan pekerjaannya diikuti batuk-batuk yang tak kunjung reda. Ia seperti tersedak, merogoh ke dalam mulut. Kami diam, lalu mundur selangkah, memperhatikan apa yang dilakukan oleh pria di hadapan kami itu dengan sedikit ngeri. Tangannya menarik sesuatu dari dalam mulutnya. Suara yang ditimbulkan, bagai tenggorokan yang digorok. Tak lama cairan kental keluar dari mulutnya, disertai gumpalan benda berwarna hitam, yang makin ditarik makin lama makin panjang. Seperti tidak ada ujungnya. Benda itu terlihat basah dan lengket. Mirip segulung rambut. Kami makin mundur perlahan karena merasa hal ini tidak wajar. Tapi aku yakin kalau mereka semua lihat makhluk di depan kami ini.


"Apaan tuh?" tanya Doni setengah berbisik ke Kiki yang ada di depannya berdiri bersamaku. Kiki menggeleng pelan sambil terus menatap orang itu. Aku pun tidak mau banyak bicara. Dan tentu rasa penasaran membuatku ingin tau, siapa dan apa yang sedang dia lakukan.


"Kok mirip rambut, ya," ucap Dedi menanggapi dengan bergidik ngeri. Sementara Ari langsung menutup mulutnya, dan menjauh sambil muntah-muntah.


"Dia makan rambut?" tanya Doni menanggapi ucapan sahabatnya barusan. Dia segera menarik tangan kekasihnya lalu menjauh.


"Nggak beres nih!" pekik Radit yang juga menarik tangan ku dan segera pergi dari tempat itu, menyusul Doni dan Kiki. "Lewat tangga aja!" teriak Doni.


Saat yang lain masih tertegun di tempat mereka berdiri, tiba-tiba pria tadi memuntahkan apa yang ada di dalam mulutnya. Benar saja! Segumpal rambut keluar dengan cairan kental berwarna merah kehitaman. Baunya anyir dan busuk. Ia mendongak dan menyeringai pada mereka. Mereka spontan berteriak sambil menyusul ku dan Radit yang sudah berjalan lebih dahulu ke arah tangga. Berkali kali aku menoleh ke pria tadi untuk memastikan dia masih di sana dan tidak mengejar kami. "Kak! Ayok!" jeritku ke Kak Arden yang baru saja menyelesaikan panggilan teleponnya.


Kak Arden menoleh, lalu melongo sesaat. "Ya Allah," pekiknya yang baru menyadari kejadian aneh di dekatnya. Ia lalu ditarik oleh Dedi yang berbalik arah karena sadar Kak Arden tertinggal.


Tangga darurat adalah jalan keluar satu-satunya. Kami terus berjalan cepat bahkan setengah berlari. Sekalipun kami berteriak, tidak ada seorang pun yang menyadarinya atau bahkan mendengarnya. Hingga sampai di lantai satu, kami berpapasan dengan seorang wanita yang terlihat mencari sesuatu dengan terus meraba lantai. "Nyari apa, Bu?" tanya Ari penasaran. Sambil ikut melihat ke bawah. Kami terpaksa berhenti karena iba melihat wanita tua itu. Ibu tadi terus meraba lantai tempatnya berpijak. Tanpa menjawab sepatah kata pun. Ari mendekat. Aku mulai merasa ada keanehan lagi. Wanita itu terlihat aneh.


"Ri, udah yuk. Buruan," suruh Dedi. Hanya saja Ari yang terlihat penasaran terus mendekati wanita itu dan seketika ia langsung terkejut hingga terjungkal ke belakang.


"Setan!" teriaknya lalu berlari lebih dahulu meninggalkan yang lain. Kami melihat ke arah ibu tadi yang masih duduk di lantai.


Wanita tua itu mendongak, "Mata saya mana?" tanyanya dengan tangan terulur pada kami. Seolah meminta kembali matanya. Rongga matanya bolong. Semua ikut berlari seperti Ari tadi hingga keluar dari tangga darurat itu. Kami menjadi pusat perhatian semua orang saat sampai di lobi.


"Sssttt ... Jangan berisik, Mas, Mba!" tegur satpam jaga. Kami langsung tertegun, dan menutup mulut rapat-rapat.


Kak Arden segera meminta maaf lalu mengajak yang lain pergi meninggalkan rumah sakit. "Gila! Nggak lagi-lagi ke sini, kapok gue!" sesal Dedi sambil mengatur napasnya yang hampir habis. Yah, aku pun sama. Inilah alasan aku paling malas kalau harus ke tempat ini.


____