Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 32 siaran ulang


Citra sudah tidur sejak aku kembali ke kamar. Kiki yang mondar - mandir di dalam, lantas segera menarik nafas lega saat melihatku masuk.


"Lama bener! Mandi lu!" kata Kiki saat melihat rambutku basah.


"Iya, gerah banget, Ki. Biar bisa tidur." Aku masih fokus mengeringkan rambut dengan handuk sambil duduk di kursi depan meja rias. Ada beberapa barang yang memang sudah kami keluarkan dari dalam tas, dan berada di atas meja, bahkan ada yang diletakkan begitu saja di lantai.


"Ya udah, aku juga mandi, ah. Padahal suasananya dingin, ya, perasaan. Tapi kenapa rasanya gerah banget," ujar Kiki mengambil handuk dan baju ganti dari dalam tas besar miliknya. Aku yang sedang menyisir rambut lantas melotot, teringat akan apa yang sempat aku alami di bathtub tadi.


"Jangan pakai bathtub, pakai shower saja. Terus jangan lama - lama."


"Kenapa sama bathtub nya?"


"Rusak."


"Hah? Rusak?"


"Iya. Buruan, keburu kemalaman!" pintaku, agar dia lekas bergerak.


"Masa vila baru jadi udah rusak, Tha. Aneh deh, emang nya lu apain tadi?"


"Bawel! Mau bikin susu gue!" jelas ku segera keluar dari kamar, agar Kiki tidak bertanya terlalu banyak.


Di ruang tengah masih ada beberapa orang yang nonton tv. Kamar di vila ini memang tidak terlalu banyak, hanya saja yang membuat aku heran, kenapa mereka justru ada di sini sekarang.


"Ini kenapa kalian tidur di sini semua? Siapa yang tidur di kamar?" tanyaku menunjuk mereka satu persatu.


"Udah sepakat, Tha, tidur di sini aja. Takut terjadi hal - hal yang tidak diinginkan," jelas Danu.


"Halah! Bilang aja takut!" ejekku sambil berlalu ke dapur.


"Nah, ente tau? Ya udah, harap maklum. Lagi pula, kita jagain kalian bertiga loh," sambung Dion.


"Ngapain? Kita bisa jaga diri sendiri!"


Aku lantas mengambil tas yang berisi aneka cemilan dan minuman ke masa, memilih susu yang sudah aku persiapkan sejak dari rumah. Suasana yang dingin, memang paling enak jika menikmati minuman hangat seperti ini.


"Udah mandi, sayang?" tanya Radit yang sudah berdiri di belakangku, memeluk pinggang dan menempelkan dagunya di bahuku.


"Udah. Seger banget. Kamu nggak mandi, Dit?"


"Enggak ah, dingin. Tapi tadi udah cuci muka kok, sikat gigi, tinggal tidur."


"Anak pinter." Aku menepuk kepalanya lembut, lalu mengusapnya sebagai bentuk apresiasinya telah melakukan hal yang manis malam ini.


"Iya dong. Eh, buruan bikin susunya terus diminum. Istirahat. Udah lewat tengah malam ini loh," kata Radit menunjuk jam di dinding dapur.


"Iya."


________


"Udah?" Kiki yang baru saja masuk dengan kondisi sama sepertiku tadi lantas tersenyum sumringah. Sepertinya mandi malam memang bisa menjadi salah satu mood booster di kala tubuh lelah. 


"Seger banget, Aretha! Eh, elu bohong, ya? Katanya bathtub nya rusak! Mana ada. Bisa dipakai gitu kok. Hwu! Curang!" omelnya langsung duduk di ranjang.


Aku yang sedang mengetik di laptop hanya terpaku sambil berfikir, sekaligus bersyukur kalau Kiki tidak diganggu sepertiku tadi.


"Oh, gitu ya. Bagus lah! Eh, Citra minta tidur di pinggir tadi, elu tengah, ya."


"Kok gitu?"


"Iya, gitu pokoknya. Nggak bisa gue tidur desak - desakan di tengah kasur gini, atau gue tidur di kamar lain aja deh, kalau elu nggak mau!" ancam ku dan membuat Kiki mengiyakan penawaran tadi.


Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Suara para pria di luar juga sudah senyap, yang artinya mereka juga sudah terlelap di ruang tengah.


Kiki menempatkan diri tidur di tengah, diapit oleh aku dan Citra. Lampu dimatikan, sejak memutuskan tidur, Kiki selalu menghadap ke arah ku terus. Sehingga aku pun memilih membelakangi Kiki. Aku paling tidak suka jika harus berbagi udara saat sedang tidur. Seolah nafas ini tidak bisa ku hirup dengan panjang dan bebas.


Tangan Kiki menjulur ke pinggang, tubuhnya makin merapat padaku, membuatku justru tidak bisa tidur.


Namun, dengkuran halus mulai terdengar di belakang, yang artinya Kiki sudah terlelap menuju batas alam mimpi. Sementara aku belum juga bisa terlelap. Jika sedang banyak hal yang di pikirkan, maka mataku akan sulit terpejam. Entah itu sedih, bahagia, atau pun rasa takut.


______


"Aretha!" jerit seseorang. Aku langsung tersentak, dan membuka mata. Namun tetap dalam posisi miring ke arah kanan. Tangan Kiki masih melingkar di pinggang dengan nafasnya yang berat.


Anehnya tubuhku tidak bisa bergerak. Hanya bisa diam mematung dengan posisi yang sama. Di ujung ekor mataku, ada bayangan seseorang yang sedang duduk di ujung ranjang. Dari postur tubuhnya aku merasa mengenal dia.


Citra? Gumam ku dalam hati.


Sosok itu hanya duduk diam di ujung ranjang. Tidak melakukan apa pun. Hal itu membuatku penasaran atas apa yang sedang dia lakukan. Bahkan aku bertanya - tanya pada diriku sendiri, mungkin, kah aku sedang bermimpi? Atau memang ini nyata?


Pintu kamar dibuka pelan. Gelapnya suasana di dalam kamar membuat seseorang yang berada di luar sana hanya seperti bayangan saja. Aku tidak bisa berbuat apa pun, hanya bisa menggerakkan kedua bola mata untuk memperhatikan tiap gerak gerik mereka.


Orang yang berdiri di luar itu, kemudian mulai melangkah masuk. Jantungku berdegup makin kencang. Rasa cemas mulai menjalar di sekujur tubuhku sekarang. Aku takut mereka akan melakukan hal buruk padaku atau Kiki. Tamu di luar mulai mendekat dan akhirnya aku dapat melihat sosoknya lebih jelas lagi. Satu hal yang mengejutkan, yang membuat tubuhku makin lemas, adalah sosok tersebut rupanya adalah sosok kuntilanak merah. 


Gaun panjangnya menjulur di sepanjang jalanan yang ia lewati. Warnanya yang merah, membuatku langsung menebak hal itu dengan mudah. Dia malah mendekat ke Citra yang masih duduk di pinggir ranjang. Aku sungguh bertanya - tanya, apa yang sebenarnya terjadi.


Kuntilanak merah itu, membelai wajah Citra dengan penuh kasih sayang. Citra tidak juga bergerak dan melakukan reaksi apa pun. Mungkin, kah, dia kesurupan. Seperti apa yang terjadi padanya tadi saat dia menghilang.


Aroma wangi yang khas tercium di pangkal hidungku. Aroma ini sungguh pekat hingga membuat kepalaku sakit. Aku justru berusaha agar tidak bergerak atau bersuara apa pun. Rasanya di saat seperti ini, lebih baik aku pingsan saja.


Tubuhku mulai menggigil, rupanya selimut tidak berada di atas tubuhku lagi. Kiki yang paling mendominasi jika sedang tidur bersama seperti sekarang. Belum saja aku ditendang olehnya sekarang. Biasanya dia sangat bar - bar saat tidur. Hidung mulai gatal, dan harapan terakhir yang ingin terjadi, adalah berharap agar aku tidak bersin. Hidungku sangat sensitif dengan air atau udara dingin, apalagi jika aku bangun tidur, seperti sekarang. Aku mulai menggerakkan hidung, menahan hasrat bersin, yang sudah ada di ujung. Ya Allah, tolong jangan sampai bersin. Begitulah doa yang ku panjatkan sekarang. Sampai akhirnya aku justru melakukan hal itu dengan cepat. Mataku dengan cepat ku pejamkan kembali.


Kuntilanak merah itu, langsung menatapku tajam. Aku berusaha setenang mungkin agar dia tidak curiga, kalau ternyata aku memang sudah terjaga sejak tadi. Dalam keadaan mata yang tertutup, rasanya aku bisa merasakan keberadaannya yang kini berada di dekatku. Sangat dekat. Aku bahkan merasakan embusan nafasnya dekat telingaku. Aromanya busuk dan panas membuatku rasanya ingin mendorongnya agar segera menjauh. Sepertinya dia kini berada di atas tubuhku. Hal ini membuat aku makin membeku, dengan mata yang makin terus terpejam, tidak berani membukanya. Sentuhan kain merahnya terasa di bagian tubuhku. Lima detik, sepuluh detik, dan akhirnya 60 detik sudah dia berada di atas ku, memeriksa, dan memastikan kalau aku masih terlelap dalam tidur. Dia lantas kembali ke tempatnya, karena gaunnya kembali bergerak dan mundur menjauh dari atas tubuhku.


Aku mencoba menetralkan nafas, berusaha setenang mungkin. Perlahan mata ini terbuka. Mengintip apa yang sedang terjadi di kamar ini.


Tangan Citra lantas ditarik, pelan. Mereka kini berdiri sambil bergandengan tangan, lalu pergi.


Terlihat aneh dan tidak masuk akal. Kenapa Citra justru dibawa olehnya. Apakah yang terjadi saat hilangnya Citra tadi karena dibawa oleh kuntilanak merah tersebut. Pertanyaan itu terus berputar dalam pikiranku. Tubuhku yang awalnya sulit digerakkan, kini sudah mulai dapat bergerak sedikit demi sedikit.


Pintu ditutup kencang. Membuatku terlonjak, dan bangun dari tidurku sekarang.


"Kenapa lu?!" tanya Kiki yang sedang menggelung rambutnya yang basah. Dia habis mandi. Lagi? Aku lantas melihat sekitar, rupanya hanya aku yang masih tidur sekarang. Citra bahkan sudah berganti pakaian dan sedang bersolek di depan cermin.


Jadi yang semalam, itu mimpi? Batinku sambil memperhatikan Citra, yang masih sama seperti biasanya. Syukurlah, kalau itu memang cuma mimpi.


"Jam berapa sekarang?" tanyaku, menguap sambil mengucek mata.


"Subuh, Aretha. Bangun! Tuh, Radit nanyain elu tadi."


"Salat subuh dulu deh." aku lantas beranjak dari tidur, perlahan. Rasanya dunia yang kupijak agak berputar - putar. Kepalaku terasa berat, sehingga harus menekannya sambil berdiri.


"Kenapa anda?" tanya Kiki dengan intonasi menyebalkan.


"Berisik!"


"Ye, judes banget sih!"


Tidak menjawab apa pun lagi, aku lantas berjalan keluar kamar. Terkadang berpegangan pada apa pun yang ada di sekitar, tembok, pintu atau meja. Sampai di luar, Radit berlari mendekat. Aku yakin dia pasti cemas melihatku.


"Kenapa?"


"Sst, aku nggak apa - apa, salah posisi tidur. Jadi pusing kayanya." Tanganku terus menutupi wajah, rasanya tidak nyaman jika dia menatapku dengan kondisi baru bangun seperti sekarang.


"Yang bener? Mau aku buatin sesuatu? Kopi, ya?" tanyanya dengan terus mengikuti ku.


"Makasih, sayang. Aku salat dulu, ya."


Radit segera menuju kompor guna membuat kopi untukku. Yah, amunisi pagi ku adalah secangkir kopi. Semoga setelah meminum kopi nanti, kondisiku jauh lebih baik.


Aku diam di depan kaca wastafel. Kembali mengingat kejadian demi kejadian yang telah lalu, terutama tentang kedatangan kuntilanak semalam. Masih menimbang dengan hati - hati, apakah itu nyata atau hanya mimpi belaka. Hingga suara ketukan pintu terdengar jelas, dan memaksaku untuk segera menyudahi acara di kamar mandi ini.


"Lama bener! Ngapain sih?" tanya Ari yang sudah berdiri di depan kamar mandi, menyampirkan handuk di bahu.


"Ih, kepo! Ganggu aja! Kan ada kamar mandi lain, kenapa ke sini!"


"Si Dedi lagi boker, lama banget. Gue kebelet juga, Tha. Buruan ah!" Ari lantas merangsek masuk ke dalam, dan membuatku harus menahan kesal.


Suasana ruang tengah sudah mulai ramai. Banyak yang sudah bangun, kecuali Dion dan Danu. Mereka justru masih terlelap di sofa dengan selimut di atas tubuh.


Aku segera menuntaskan kewajiban, salah subuh terlebih dahulu, dan berniat akan membahas hal ini bersama Radit nanti. Kak Arden tidak ada, jadi aku hanya bisa membahasnya dengan Radit, sebelum teman - teman yang lain tau.


Selesai salat, mukena aku lipat. Rasa berat di kepala masih terasa sampai sekarang, hanya saja tidak begitu sakit seperti saat aku bangun tidur tadi. Kiki sudah tidak ada di kamar, aku lihat dia sudah berganti pakaian dan memakai sepatu olahraga tadi. Citra masih berada di kamar, tiduran di atas kasur sambil memainkan ponselnya.


"Kamu udah salat?" tanyaku acuh tak acuh.


"Hm? Enggak."


"Oh lagi enggak?"


"Iya, aku nggak salat."


Tidak ada lagi yang ingin aku bicarakan dengannya sekarang. Bahkan aku menyesal bertanya hal demikian tadi. Aku pikir, dengan mendekatinya lebih dulu maka aku dan dia bisa lebih dekat. Nyatanya dia seolah ingin menutup diri dari sekitarnya.


Aku lantas berjalan keluar dengan hati - hati. Bau kenanga yang menyengat kembali tercium. Aku menoleh dan mendapati Citra sedang memakai parfum di leher dan lengannya.


Orang yang aneh!


Tidak mau berlama - lama berada di kamar, aku segera keluar. Mencium bau parfum Citra justru membuatku makin sakit kepala.


Aroma kopi tercium, membuat keadaan agak membaik. Kopi bagai penetralisir dari aroma tidak menyenangkan yang aku cium sejak tadi. Radit mendekat, lalu menggandeng tanganku sambil memegang cangkir kopi. Kami berjalan terus ke teras. Rupanya semua orang sudah terbangun. Danu bahkan sedang meregangkan tangan di teras, menghirup dalam - dalam udara pagi yang sejuk.


"Cuci muka! Ilernya tuh!" tunjukku ke sudut bibirnya saat aku dan Radit melewati Danu. Danu langsung mengusap bibirnya, lalu menjulurkan lidahnya. Tapi dia tetap kembali masuk ke dalam vila. Semoga dia tidak hanya mencuci muka saja, dia harus sikat gigi.


"Duduk dulu. Gimana? Udah mendingan belum?" tanya Radit menatapku intens.


"Mendingan. Walau belum sembuh sih." Aku menyecap kopi buatan Radit yang masih hangat. Aromanya kuhirup dalam - dalam sambil memejamkan mata. "Dit," panggilku tanpa menatapnya. Justru pemandangan langit di arah laut sangat menggoda.


"Hm?" sahutnya sambil menikmati kopi miliknya sendiri.


"Mimpi apa?" tanyanya dan berhasil membuat perhatian tertuju padaku.


Aku memijat kepala berharap agar rasa sakit ini makin berkurang. "Ada kuntilanak masuk ke kamar,"  jelas ku pelan. Bahkan terkesan berbisik.


"Hah?!"


"Ssst! Pelan!" cegahku sambil memperhatikan sekitar.


"Yakin? Kamu mimpi? Atau memang ada kuntilanak yang datang betulan?" Radit kini mendekatkan tubuhnya padaku dan mulai tertarik dengan diskusi ini.


"Huft, entahlah, Dit. Aku juga bingung apakah ini mimpi atau bukan. Tapi semua terasa nyata!"


"Oke, pelan -pelan ceritanya, sayang."


Aku menatap kedua bola mata itu dalam, lantas menceritakan semua yang terjadi padaku sejak kemarin. Hingga kemunculan kuntilanak merah tersebut. Radit terus menyimak pembicaraan ini dengan seksama. Seperti berusaha mencerna semua yang aku katakan padanya.


"Tapi, Tha, memang aku akui ada yang aneh sama Citra. Awalnya aku pikir dia ini masih kerasukan setan, atau kepergian dia yang tiba - tiba kemarin karena diculik setan, cuma yang bikin aneh, kenapa dia muncul sendiri. Balik sendiri ke sini. Padahal kamu tau, kan, sekitar kita benar - benar hutan. Kami bahkan berpencar loh, ke segala arah, jadi aneh saja kalau dia benar - benar nggak terlihat oleh salah satu dari kami."


"Apa mungkin dia ada di sekitar sini saja, dan muncul saat kalian semua pergi cari dia?"


"Tapi apa alasannya? Itu justru makin nggak masuk akal."


Kami diam. Sibuk dengan pikiran masing - masing yang rasanya enggan untuk diungkapkan. Karena perdebatan ini tak juga mengalami titik temu. Radit lalu melambaikan tangan ke vila sebelah kami. Aku pun menoleh dan mendapati anak - anak kuliah itu keluar dari vila. Sepertinya mereka baru saja bangun tidur. Wajah kusut dan berantakannya rambut seolah menjadi ciri khas manusia yang baru bangun tidur.


Radit mengangkat cangkir kopinya, bermaksud menawarkan minuman tersebut pada mereka. Dari sekian banyak para mahasiswa di sana, hanya tiga pemuda itu saja yang terlihat ramah dan bersahabat. Aku bahkan masih merasakan tidak nyaman saat berhadapan dengan Adnan.


Roger mendekat, diikuti Bintang dan Rayi. "Pagi, Bang, Kak," sapa Rayi pada kami berdua.


"Baru bangun kalian?"


"Iya, Bang. Gila sih, Ollie semalam kumat. Dia kesurupan lagi, jadi kami begadang ini. Masih ngantuk rasanya, tapi sayang banget kalau liburan di tempat sebagus ini hanya dinikmati dengan tidur sampai siang," ujar Roger.


"Ollie kesurupan lagi? Terus bagaimana? Nggak apa - apa, kan?" tanyaku agak panik.


"Nggak apa - apa, Kak. Kami bisa mengatasinya kok," sahut Rayi. Mereka bertiga duduk bersama kami, menikmati pagi hari di tempat asing ini dengan diskusi santai. Aku menuangkan teh yang sudah ada di poci, juga kopi yang Radit buat tadi. Dia membuat kopi dengan porsi agak banyak, agar yang lain bisa langsung menikmatinya segera.


"Makasih, kak Aretha," ucap Bintang dengan riang. Dia melihat kopi di cangkir itu dengan bahagia. "Hm, kopinya enak banget, asli. Ini siapa yang buat?" tanyanya menatap aku dan Radit bergantian.


"Itu," aku menunjuk kekasihku yang hanya tersenyum menatapku sekarang.


"Wah, Bang Radit cocok jadi barista ini."


"Halah, cuma penikmat kopi saja. Nggak ada niatan untuk mendalaminya sebagai profesi."


"Oh, iya, Kak. Semalam siapa yang mondar mandir di teras depan?" tanya Rayi padaku.


"Semalam? Mondar mandir?" tanyaku mengulangi pertanyaannya. Aku dan Radit lantas saling tatap dan mencoba mencari tau apa maksud perkataan Rayi.


"Iya. Cewek di teras, pakai baju merah. Aku pikir Kak Aretha."


Radit dan aku melotot bersamaan, dan saling pandang. " Jadi itu bukan mimpi, Dit!"


"Mimpi? Mimpi apa, Kak?" tanya Rayi, bingung.


Aku menceritakan perihal kedatangan kuntilanak merah semalam pada mereka. Mereka diam dan ajaibnya, mereka percaya pada perkataan ku. Hal yang sangat jarang terjadi selama ini jika aku bertemu orang baru dan menceritakan hal aneh seperti ini pada mereka.


"Jadi kuntil nya bawa pergi Kak Citra?"


"Tapi Kak Citra tadi pagi masih ada di kamarnya?"


"Wah, ada yang nggak beres nih. Eh tapi baru pernah denger gue, ada kunti kerja sama sama manusia, gaes," ujar Roger, menatap kedua temannya bergantian.


"Eh, Nabila pernah cerita. Kalau ada kuntilanak yang bisa berubah menjadi manusia kalau ubun - ubunnya ditancapkan paku khusus."


"Terus? Maksud lo, Citra itu kuntilanak?"


"Bukan! Tapi mungkin nggak sih, kalau Kak Citra itu anak kuntilanak merah tersebut?"


"Anak kuntilanak? Wow, gila!"


"Eh, Nabila pernah cerita. Kalau ada kuntilanak yang bisa berubah menjadi manusia kalau ubun - ubunnya ditancapkan paku khusus."


"Terus? Maksud lo, Citra itu kuntilanak?"


"Bukan! Tapi mungkin nggak sih, kalau Kak Citra itu anak kuntilanak merah tersebut?"


"Anak kuntilanak? Wow, gila!"


"Yakin, anak kuntilanak?"


"Eh, kalian coba pikir aja. Kalau memang Kak Citra itu kuntilanak, kenapa malah ada kemunculan dua makhluk itu? Terus, sikap dia yang tertutup, bahkan hilang kemarin bisa jadi salah satu faktor, kan? Ke mana dia pergi? Kita udah cari sampai tiap sudut loh! Nggak ketemu! Malah dia udah balik sendiri! Itu aneh, gaes!"


"Iya, bener! Masuk akal sih kalau Kak Citra anak kuntilanak. *****, rupanya bener - bener ada, ya?"


Anak kuntilanak? Aku baru pernah mendengarnya. Apakah  teori ini masuk akal? Walau rasanya ini tidak masuk logika, tapi aku tetap harus menimbang berbagai kemungkinan.


"Sst," desis Bintang sambil melirik ke pintu. Kami serempak menoleh dan mendapati Citra ada di sana bersama Ari. Mereka sudah memakai baju olahraga, dan mengambil sepeda yang memang sudah dipersiapkan jauh - jauh hari.


"Ari aman nggak, ya, kira - kira?" tanyaku berbisik pada mereka. Yah, keselamatan Ari tentu patut dipertanyakan, karena jika benar Citra anak kuntilanak, maka ada kemungkinan besar dia memiliki niat terselubung pada Ari, atau bahkan pada kami.


"Kita awasi saja mereka, terutama Citra."


Pagi ini kami mulai melakukan aktivitas, rencana hari ini kami akan pulang, guna mengurangi tingkat kecemasan dalam diri masing - masing, karena kejadian kemarin yang cukup membuat semua orang terkejut dan ketakutan.


Siang nanti kami semua berencana akan pulang, karena suasana di tempat ini sebenarnya sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Kami ingin menghabiskan waktu di sini sebentar. Apalagi cuaca sangat cerah pagi ini. Semua orang berpencar dengan kesibukan masing - masing. Aku memperhatikan mereka, dan semua apa yang hendak mereka lakukan. Oliie terlihat jauh lebih baik pagi ini, dia sudah bercengkerama kembali dengan teman - temannya yang lain. Kebanyakan dari mereka memutuskan mengelilingi hutan di sekitar, entah dengan menggunakan sepeda, atau motor trail yang sudah mereka persiapkan. Ada jalur khusus untuk kendaraan tersebut, dan memang kegiatan inilah yang menjadikan ciri khas tempat ini.


Hanya ada dua orang yang ada di vila tempat Rayi menginap, Rayi sendiri dan Bintang. Teman - temannya kini sedang melakukan penjelajahan di hutan sekitar. Sementara di vila yang aku tempati ada aku, Radit, dan Danu. Mereka sedang memeriksa mobil karena memastikan kalau kendaraan yang akan kami naiki aman untuk perjalanan pulang nanti.


Aku yang sejak tadi duduk di teras, sambil mengetik, kini mulai lelah dan jenuh. Aku merentangkan kedua tangan ke atas, menghirup kembali udara sekitar yang terasa masih sejuk, walau matahari sudah muncul.


"'Dit, aku ke sana, ya," tunjukku ke sisi tebing. Radit mendongak lalu menatap tempat yang aku tunjuk tersebut, dia lantas mengangguk dengan tangan yang sudah belepotan oli, bersama Danu.


Semilir angin laut terasa kencang berembus. Menabrak tubuhku yang tengah berjalan mendekati hamparan lautan lepas di bawah sana. Kini aku sudah berada di sisi tebing yang memang diberi pagar pembatas. Di bawah sana ada pantai dengan banyak batu karang di bawahnya, tidak ada pantai yang berpasir dan cocok untuk bermain, atau sekedar membuat istana pasir dan bola voli. Batu karang di sana besar - besar. Tapi justru sangat indah dilihat. Sepertinya tempat itu juga cocok untuk mengabadikan foto sebagai kenang - kenangan.


Aku mulai merapatkan jaket. Laut tidak akan pernah membosankan untuk aku pandang. Tenang dan misterius, namun indah jika dilihat dari tempat ku berdiri sekarang.


"Argh! Gila! Nggak mungkin terulang lagi, kan sekarang?!" jerit Danu yang berteriak kesal. Aku menoleh dan mendapati mereka berdua mulai kesal. Akhirnya aku mengakhiri menikmati laut, dan kembali pada mereka. Sepetinya ada yang tidak beres dengan mobil kami. Matahari makin terik menunjukkan sebentar lagi saat nya azan dzuhur.


"Kenapa?" tanyaku yang ikut melongok ke mesin mobil yang sedang mereka berdua pandangi sejak tadi.


"Aneh banget, Tha! Sumpah. Nggak ngerti gue!" pekik Danu masih terlihat kesal sambil menatap mesin mobil.


"Apanya?! Jangan bilang kalau mobilnya rusak lagi?"


"...." RAdit hanya diam sambil terus berusaha mengutak - atik mesin tersebut.


"Dit? Dan?!" panggilku agar mereka berdua menjawab pertanyaan, yang membuatku makin gelisah sekarang. Radit menarik nafas dalam, ia lantas menatapku dengan raut wajah putus asa.


"Aku juga nggak ngerti, kenapa hal ini terjadi lagi sekarang. Sama seperti saat kita di dusun tempo hari. Padahal ini mobil baik - baik aja, Sayang, tapi kenapa sekarang nggak mau nyala!" Radit menunjuk mobilnya dengan perasaan gusar.


Aku diam, menatap benda di depanku ini. Mulai yakin jika memang ada hal aneh, aku mengalihkan pandangan ke sekitar. Sampai pada akhirnya suara motor terdengar dari kejauhan, teman - teman mulai berdatangan dari hutan.


"Bang Ari jatuh!" jerit Roger yang datang memakai motor trail.


Pernyataannya tentu membuat kami terkejut, apalagi Roger datang seorang diri. Dia lantas berhenti dan memarkirkan motornya.


"Maksudnya apa? Ari jatuh di mana?" tanya Radit sambil membersihkan kedua tangannya yang hitam.


"Itu, Bang. Jatuh ke jurang!" jelas Roger menunjuk ke suatu tempat.


"Kok bisa?" tanya Danu. Kami mengerubungi Roger dan bertanya banyak hal.


"Aku suruh ambil tali!"


Danu segera masuk ke dalam, mencari tali yang dimaksud oleh Roger. Sambil menunggu, dia lantas menceritakan kejadian tiap detailnya pada kami.


"Sayang, kamu sini aja, ya? Aku sama Danu coba tolong Ari, siapa tau mereka butuh bantuan kami." Radit menatapku sedikit ragu dengan keputusannya itu.


"Biar Kak Aretha sama kami saja," ucap Rayi, yakin.


"Bagaimana?" Radit kembali bertanya padaku. Akhirnya aku mengangguk setuju.


Danu keluar dengan gulungan tali yang sepertinya cukup panjang. Mereka lantas segera pergi menyusul yang lain. Kiki dan Doni kembali dengan berjalan kaki, dan bingung melihat kepergian mereka yang terkesan tiba - tiba.


"Kenapa sih?" tanya Doni padaku.


"Ari ... jatuh ke jurang!"


"Hah?! Serius lu?"


"Citra mana?" tanyaku ke mereka berdua.


"Perasaan dia udah balik. Tadi katanya dia capek," jelas Kiki.


"Yakin, mana? Nggak ada!" cetusku sambil menunjuk vila yang memang kosong.


"Kak ...," gumam Rayi menatap dengan tajam ke arah pintu vila. Kami menoleh dan mendapati Citra sedang mengeringkan rambut, seperti habis mandi.


"Sejak kapan dia masuk ke dalam? Padahal dari tadi aku sama sekali ngga lihat ada orang masuk loh," cetusku yakin.


"Sama. Kami juga nggak lihat ada orang masuk vila kakak. Kalau ada, pasti kami lihat, iya kan, Yi?" tanya Bintang, dan diakhiri anggukan Rayi.


"Teman lu, makhluk apa sih, Ki!" sindirku mulai jengah.


"Hah?! Makhluk apa?! Maksud lo?!" Kiki sedikit menjerit dan bingung pada pertanyaanku.


(maaf belum bisa update, sampe akhir bln ya. jng ditunggu. sorry diulang lg part-nya.)