
Hari ini Kiki izin tidak masuk sekolah karena singgah ke rumah Neneknya yang sedang sakit di kampung. Alhasil aku merasa kesepian karena Danu juga belum bisa masuk sekolah. Sekalipun Dion sangat cerewet, tetap saja ada yang kurang bagiku tanpa kehadiran Danu dan Kiki. Di kelas kami berempat sangat kompak, entah dari pelajaran atau kabur di jam pelajaran. Di luar juga sama.
Saat istirahat pertama, aku dengan setelan rambut berkuncir kuda untuk tema hari ini, berjalan menuju perpustakaan sekolah. Membaca merupakan salah satu hobiku. Rasanya malas ke kantin jika sendirian. Lagi pula Dion ada kepentingan sendiri. Aku segera mencari novel yang menjadi favoritku. Novel Agatha Christie. Novel yang kumaksud rupanya berada di rak paling atas. Aku berjinjit mencoba meraih buku itu. Namun, tubuhku rupanya kurang bisa menggapai rak paling atas, hingga ada sebuah tangan kekar yang dengan mudahnya meraih buku berwarna cokelat tua tersebut.
"Hati-hati, nanti kamu jatuh," ucap pria tinggi, kekar, dan berhidung mancung di depanku. Aku sempat diam sejenak karena terkesima. Sekaligus bingung, siapa gerangan pria ini. Wajahnya terlihat begitu asing bagi ku. Rasanya aku belum pernah melihat orang ini sebelumnya. Apa mungkin dia siswa baru?
"Hallo ...," panggil pria itu sambil melambaikan tangan di depan wajahku yang sedari tadi melongo, menatap pria asing di hadapan, dengan banyak pertanyaan di kepala. "Eh, maaf," sahutku gugup.
"Aku Fendi. Anak kelas 3. Pindahan dari luar kota. Kamu?" Ah, benar, kan, dia adalah siswa baru. Pantas saja wajahnya sangat asing buatku.
"Oh, eum. Aretha, kelas 1, Kak."
Dia mengulurkan tangan, dan alhasil aku menyambutnya. Sehingga kami saling menjabat diiringi senyum tipis di antara kami berdua. Tatapan mata Fendi tak lepas dari ku. Hal ini membuat ku risih. Dan berusaha memalingkan wajah.
"Kamu suka baca novelnya Agatha Christie?"tanyanya memulai pembicaraan.
"Mm ... Iya Kak, lumayan."
"Aku punya banyak lho. Aku juga suka novel itu. Kalau kamu mau, nanti aku pinjemin. Gimana?"
"Eum, boleh," sahutku sedikit ragu.
Akhirnya kami mengobrol bersama di perpustakaan. Fendi banyak bercerita tentang dirinya. Sehingga aku yang awalnya risih, kini mulai beradaptasi dengan pria ini. Aku pun tidak sungkan untuk menceritakan kondisi sekolah, dan semua hal yang mungkin informasi ini akan berguna baginya. Sikap Fendi yang supel, membuat ku makin lama makin nyaman.
"Kantin di mana ya? Makan yuk, aku laper,"ajaknya lalu berdiri merapikan seragam yang agak kusut karena terlalu lama duduk. Aku mendongak, lantas mengangguk, mengiyakan ajak kan nya.
Suasana kantin biasanya agak lenggang di jam seperti sekarang. Mungkin karena jam istirahat sudah agak lama berlalu, dan memang sebentar lagi bel masuk berdering. Suasana sepi membuat kami berdua lebih nyaman berbincang. Aku pun tidak bisa menolak permintaan Fendi, karena perutku memang sudah memberikan alarm untuk diisi. Absennya Kiki dan Danu membuatku jarang jajan seperti biasanya.
Sampai di kantin, rupanya benar sesuai dugaanku. Kami pun masuk dan menempatkan diri di meja yang masih kosong. Tapi rupanya di tengah ruangan sudah ada Doni dan Radit yang sedang makan sambil mengobrol santai. Hingga saat aku muncul, mereka seketika diam. Melihat itu, aku hendak menghampiri mereka, tetapi Fendi malah menarik sebuah kursi, mengisyaratkan aku untuk duduk.
Radit terlihat tidak suka melihat kami. Ia terus menatap tajam diriku. Doni sesekali menepuk bahu Radit. Aku pun mulai merasa tidak enak dengan keadaan ini. Tapi rasanya untuk menolak Fendi itu sangat sulit kulakukan.
Fendi kemudian memesan makanan dan minuman. Ia sangat baik dan sopan sejauh ini. Bahkan seolah sangat tau bagaimana cara memperlakukan orang lain, terutama wanita. Aku yang awalnya ragu dan tidak nyaman karena dia orang asing, kini perlahan menjadi lebih lembut. Walau sesekali netraku melirik ke arah di mana Radit duduk. Tetapi tak lama setelahnya, Radit beranjak dan menghampiri kami. "Tha, aku mau ngomong!" Sorot mata Radit tajam menatap ku dan Fendi bergantian.
"Kalau gitu, aku duluan ya, Tha. Sampai ketemu lagi. Ah iya, nanti aku tunggu diparkiran. Jadikan kita ke rumahku nanti?" tanya Fendi yang seperti sengaja mengatakan hal itu di depan Radit.
"Oh, eum ... Iya, Kak. Insha Allah," sahutku kikuk. Beberapa kali aku melirik ke Radit, ingin tau bagaimana reaksinya.
Fendi pergi melenggang ke luar dari kantin. Meninggalkan Radit dengan tatapan kesal.
"Dit ...," panggil ku pelan sambil meraih tangannya.
"Siapa dia?" tanya Radit spontan. Namun dia tidak menepis tanganku.
"Oh, Kak Fendi. Pindahan baru," tukas ku santai. Berusaha mendinginkan situasi.
"Kamu akrab banget sama dia," sindir Radit sinis.
"Tadi ketemu di perpus, terus ngobrol. Kenapa?" tanya ku sambil mendekatkan wajah ke Radit. Mataku berkedip-kedip bermaksud mencandai pria di depanku ini. Ternyata hal ini berhasil meluluhkan amarah Radit. "Oh ya udah, tapi kamu jangan terlalu deket sama dia ya," pinta Radit melembut.
"Kenapa? Kamu cemburu, ya?" sindir ku sambil mencolek pinggang Radit yang wajahnya sudah merah, mirip kepiting rebus.
"Tau ah!" tukas Radit lalu pergi begitu saja. Melepaskan tanganku.
Doni mendekat lalu menoyor kepalaku. "Demen bener elu bikin cemburu si Radit," hardiknya sambil cengengesan.
"Biarin, wek!"
Aku pergi sambil menjulurkan lidah ke Doni. Kembali ke kelas karena bel masuk baru saja berdering.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sepulang sekolah, saat aku berjalan seorang diri menuju gerbang sekolah, sebuah mobil merapat padaku. Mobil mewah dan belum pernah aku lihat sebelumnya. Siang ini, Kak Arden memang sedang ada kegiatan ROHIS, dan Radit tidak juga terlihat sejak tadi. Mungkin masih kesal. Jadi, terpaksa aku memutuskan pulang sendirian. Rencananya aku akan naik angkot saja. Tapi pemilik mobil itu ke luar, dan ternyata dia Fendi.
"Aretha!" Panggilnya dengan senyum sumringah.
"Loh, Kak Fendi?"
Fendi kini sudah berdiri di hadapanku. Dengan kaca mata hitam bertenger di hidungnya.
"Jadi ke rumahku, kan? Tadi kamu udah bilang iya, ya udah ayok!" pertanyaannya lebih ke arah memaksa. Karena kini tangan ku hampir ditarik oleh Fendi. Aku baru sadar, seharusnya tadi tidak dengan mudah mengiyakan ajak Fendi. Karena ternyata kini pria yang baru ku kenal tadi, sangat agresif. Aku diam sejenak untuk memikirkan cara menolak ajakan Fendi. Sambil menahan tangannya.
"Tapi, maaf, Kak ...."
"ARETHA!"
Suara keras dari kejauhan membuat kami berdua menoleh. Radit muncul lalu mendekat kepada ku dan Fendi.
"Ke mana aja sih? Aku cariin di kelas, udah kabur aja. Ayok pulang! Arden suruh aku antar kamu, soalnya Bunda mu lagi di rumah Pak dhe. Aku suruh antar ke sana," kata Radit lalu menarik tangan ku begitu saja.
Tangan Fendi otomatis terlepas begitu saja dari ku. Aku yang sedikit bingung lalu menoleh ke arah Fendi berdiri. Ini bagai dejavu bagiku. Kejadian ini hampir sama persis seperti yang pernah ku alami dulu, bedanya sekarang Fendi yang ditinggalkan oleh aku dan Radit. Fendi tidak bereaksi apa pun, hanya menatap kami berdua tajam. Sorot matanya terlihat mengerikan. Berbeda dari Fendi saat di perpustakaan tadi. Lama-lama dia terlihat mengerikan.
Radit menarik tanganku hingga kami sampai pelataran parkir motor siswa. Dia lantas naik ke motornya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku yang menyadari bahwa dia masih kesal, lantas menjadi bingung dan merasa tidak enak. Dalam sikap dia ku, Radit menoleh di tempatku berdiri. Dia lantas menarik tanganku dan kini tubuhku berada lebih dekat dengan dirinya. Radit yang sudah memakai helm, kini mengambil helm lain yang ada di atas motornya dan memakaikan padaku. "Ayok pulang," anaknya lalu kembali melihat ke depan sambil menyalakan mesin motor tersebut.
Dengan ragu aku menuruti perintahnya. Kini aku sudah ada di jok belakang motor Radit. Dia kembali menoleh sedikit ke arah belakang. "Pegangan."
"Hah?" tanyaku lagi, takut salah dengar.
"Aku bilang, pegangan, Aretha." Ia kembali mengulangi kalimat itu dengan menaikkan sedikit nada bicaranya.
Dengan ragu-ragu, aku mengulurkan tangan dan berpegangan pada pinggang Radit. Dia melirik ke bawah, lalu dengan cepat memegang kedua tanganku dan menariknya lebih erat. Kini kedua tanganku sudah berada di perutnya.
Dalam perjalanan tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua. Dan jujur, aku takut melihat sikap Radit yang seperti ini. Sepertinya dia benar-benar marah besar.
Sampai di depan gerbang halaman rumahku. Aku kemudian turun. Melepas helm dan memberikan ke Radit. "Makasih," ucapku pelan.
"Aku pulang dulu, ya. Sana kamu masuk," suruh nya dengan nada lembut. Aku mengerutkan kening, masih mencari tau isi hati Radit sekarang. Apakah dia sudah tidak marah, atau ... Ah, dia membingungkan.
"Dit ... Aku ...."
"Udah sana masuk, Tha. Jangan lupa makan," katanya lalu mengelus pucuk kepalaku. Ia lantas pergi meninggalkanku dengan wajah melongo.
\=\=\=\=\=\=
Pagi ini, jam pelajaran pertama di kelasku kosong, beberapa teman sekelas memutuskan pergi ke lapangan basket karena sedang ada pertandingan basket antar kelas. Aku yang sedang mendapatkan haid dihari pertama, memutuskan diam di kelas saja. Karena rasa nyeri dan tidak nyaman, membuatku memilih diam di kelas.
"Pagi Aretha,"sapa Fendi yang ternyata sudah ada di depan pintu kelas ku. Kepala ku mendongak lalu sedikit terkejut melihat kedatangan Fendi. Aku lantas mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kelas. Rupanya aku seorang diri sedari tadi. "Kak Fendi?" tanyaku ragu.
Fendi berjalan masuk ke dalam lalu duduk di meja yang ada dihadapan ku. "Kok sendirian aja?"tanya Fendi basa basi.
"Eum, iya. Tapi ini mau ke lapangan basket sih, mau liat temen - temen tanding basket," sahutku.
Saat aku akan beranjak, Fendi menahan tanganku. "Nanti pulang sama aku, ya," pintanya sedikit memohon.
"Eum ... Kayanya aku nanti sama Kak Arden deh ...," tolak ku halus.
"Please ... Aku pengen jalan sama kamu, mau ya."
Sikap Fendi yang makin memaksakan kehendak membuatku sedikit geram.
"Maaf, Kak. Aku nggak bisa, tolong jangan paksa aku!" tukas ku mulai tidak tahan.
"Aku suka sama kamu."
Pernyataan Fendi langsung mendapat tatapan tajam dari ku. Aku tidak menyangka Fendi akan blak - blakan seperti ini. Padahal kami baru saja bertemu. Tentu hal ini menjawab semua sikap agresifnya padaku yang sejak kemarin dia tunjukkan.
"Maaf, aku nggak bisa!"
"Kenapa? Karena Radit?"
"Bukan itu, Kak. Tapi ...."
Fendi menunduk. Aura tubuhnya berubah. Aku mulai takut melihat perubahan sikap Fendi. Saat aku berdiri, Fendi langsung memelukku. Sontak aku mendorong Fendi agar menjauh. Hanya saja tenaga ku tak mampu menyaingi Fendi yang berperawakan tinggi besar.
"Lepas! Kak! Lepasin aku!"
Aku meronta minta dilepaskan. Hanya saja Fendi malah mendekap tubuhku makin erat. Tiba-tiba, Fendi ditarik seseorang hingga jatuh tersungkur. Radit datang dengan badan yang penuh keringat karena baru saja tanding basket. Karena aku lihat dia masih memakai seragam basket kebanggaannya. Sepertinya dia sengaja datang ke sini karena aku tidak muncul melihatnya main basket seperti biasanya. Yah, selain karena alasan haid, aku masih merasa tidak enak dengan kejadian kemarin.
"Berani elu macem - macem! Gue abisin loe!!" ancam Radit dengan menunjuk Fendi.
Radit menggandeng tangan ku pergi meninggalkan Fendi yang terus memegangi wajahnya.
Tangan Radit terus menggenggam tanganku. Sepanjang jalan Radit terus terdiam dengan wajah merah padam. Sesekali aku melirik untuk melihat ekspresi wajahnya itu. Saat melewati kantin, aku menahan tangan Radit. "Sebentar, aku beli minum dulu."
Radit mengangguk dan mengikuti ku ke arah kedai penjual minuman. Segelas coklat dingin aku pesan. Radit menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan kepada ibu kantin sebelum aku mengambil uang dari saku kemejaku. Aku meliriknya dan menarik tipis sudut bibir. Setelah minuman itu selesai dibuat, gelas dingin itu justru kuberikan pada Radit. "Loh kok dikasih aku? Aku pikir kamu haus?" tanya Radit sambil ragu menerima minuman itu.
"Aku juga haus. Tapi kamu minum dulu. Biar emosi kamu reda,"kata ku tersenyum menatapnya. Dahi Radit berkerut, tapi dia meminum es tadi dengan terus menatapku, lalu berakhir dengan senyum. Aku lega, emosi Radit sudah mereda.
"Ke taman aja, yuk," ajak Radit dengan menarik kembali tangan kananku. Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan kami berdua, saling menggandeng dengan posesif.
Taman di belakang sekolah merupakan salah satu tempat favorit kami. Keadaannya cukup rindang, karena banyak bunga dan rerumputan, dan sebuah pohon beringin membuat beberapa orang nyaman duduk di sini. Terlebih aku dan kawan kawan. Salah satu alasannya juga karena penghuni pohon beringin itu, tidak jahil dan ramah, sehingga aku tidak perlu merasa takut.
"Kamu jangan deket-deket Fendi!" ucap Radit saat kami duduk dihamparan rumput dekat pohon.
"Aku juga heran, dia agresif banget sih!"
Akhirnya keluarlah semua keluh kesahku yang sejak kemarin kusimpan, diiringi omelan panjang lebar menceritakan kejadian tadi.
"Dia itu sengaja bikin aku kesel. Dia nggak serius suka sama kamu," tutur Radit dengan menatap lurus ke depan. Seolah olah Radit sudah mengetahui Fendi sejak lama.
"Maksud kamu?"
"Dia itu ... Kakak tiriku," katanya pelan. Lalu menunduk menatap tanah di bawahnya.
"Hah?! Kakak tiri?" pekikku lalu duduk menghadap Radit yang terlihat malas membahas hal ini. "Oke, ceritain!"
Radit menarik nafas panjang, "Papa dulu pernah menikah sama perempuan lain, sebelum sama Mama. Mereka bercerai, dan Fendi anak Papa sama istri Papa yang dulu. Semalem, Papa bilang dia pindah sekolah ke sini. Sebelumnya mereka tinggal di luar pulau. Aku juga heran, kenapa sekarang Papa pengen aku sama dia deket. Kamu tau, Tha? Gimana sakitnya aku saat mereka tiba-tiba dateng ke rumah kemarin malem? Sakit, Tha! Sakit. Usaha Mama Fendi bangkrut dan mereka minta Papa buat menyekolahkan Fendi di sini. Aku nggak suka sama mereka. Mereka munafik. Di depan Papa, mereka baik. Tapi di belakang Papa, mereka licik."
Aku menepuk bahu Radit, mencoba memberi kekuatan baru pada pria di hadapanku ini.
"Yang sabar ya, Dit."
"Dit! Yaelah, dicariin juga! Malah mojok di mari!" omel Doni yang sedang memegang bola basket di tangannya.
"Apa sih kalian? Ganggu aja deh!" kata Radit jengah.
Kak Arden menatap tajam kami berdua lalu menghampiri kami yang masih duduk santai di kursi kayu taman. Berdiri di depan kami dengan berkacak pinggang.
"Apa-apaan itu? Jangan deket-deket. Jaga jarak aman! Enak aja malah pada pacaran di sini!"
Kak Arden menarik tanganku pergi dari taman, diikuti Radit yang terus mengomel sepanjang jalan.
"Ya ampun, Den. Gitu amat sih. Aretha nggak gue apa-apain juga. Elu mah sensi banget," bujuk Radit dengan terus mengekor sahabatnya itu. Aku terkekeh melihat tingkah Radit dan kakakku. Sementara yang lain hanya memperkeruh keadaan dengan menjadi kompor.
"Jangan percaya, Den. Bahaya ini anak kalau dibiarin," cetus Dedi.
"Bener banget tuh, masih kecil udah pacaran!" tambah Doni.
Plak!
"Emang elu pikir, elu kagak, Pea!" sahut Radit kesal setelah memukul kepala Doni.
Begitulah mereka. Selalu bertengkar setiap saat, tapi persahabatan mereka patut diacungi jempol.
"Kakak ganti baju dulu ya, kamu tunggu sini. Habis itu kita pulang, " ucap Kak Arden menunjuk aku agar menurut dan duduk diam di tempat yang dia tunjuk.
Saat aku menunggu mereka berganti pakaian di koridor dekat toilet, lalu melihat Fendi melintas di lorong depan. Tapi anehnya, ada sesosok bayangan mengikutinya terus. Dan, membuat aku melotot, Awalnya terlihat samar-samar. Namun semakin diperhatikan, sosok itu makin jelas. Sosok pria tinggi besar yang sama seperti Fendi. Perawakannya, wajahnya, setiap detilnya mirip Fendi. Siapa dia?
Karena penasaran, aku mengikuti Fendi yang berjalan ke arah perpustakaan. Langkahku terus mengikutinya sampai masuk kedalam perpustakaan. Hanya saja, jejak Fendi cepat sekali menghilang. Aku terus mencari lorong demi lorong. Rak demi rak. Hingga tiba-tiba, Fendi berdiri di hadapanku.
"Kamu ngikutin aku, Aretha?" tanya Fendi dengan seringai mengerikan. Sosok Fendi yang awalnya ramah dan menyenangkan langsung sirna. Menjadi sosok Fendi yang mengerikan. Keadaan perpustakaan tidak begitu ramai. Terutama di bagian dalam, tempat aku dan Fendi berdiri.
"Ya Allah!" pekikku dengan menekan dada.
Fendi menyilangkan tangan di depan dada dan terus menatap tajam ke arahku. Sementara aku malah menatap sosok di belakang Fendi yang sedang menatap Fendi dengan tatapan benci. Sosok yang mirip dirinya. Sosok itu menyadari bahwa aku bisa melihatnya.
"Aretha? Kamu lihat apa?" tanya Fendi sambil melirik ke belakang.
"Dia bukan Fendi!" cetus sosok itu tanpa menggerakan bibirnya. Aku mencari sumber suara yang menggema barusan. Dan aku baru menyadari kalau sosok itulah yang berbicara.
"Maksud kamu?" spontan pertanyaan itu ke luar dari mulutku.
"Tha? Kamu ngomong sama siapa?" Fendi bertanya sambil menekan tengkuknya. Ia pasti juga menyadari kehadiran sosok di belakangnya itu.
"Apa bener, kamu kakak tiri Radit?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatian Fendi.
"Oh, jadi Radit udah cerita? Iya ... Aku kakaknya ... Aku kangen sama dia. Makanya aku pindah ke sini."
"Dia bukan, Fendi!" kata sosok itu lagi.
Aku mulai merasakan kebohongan dalam diri Fendi.
Aura tubuhnya berubah. Sikapnya agak gugup. Fendi berjalan mendekatiku. Dengan sikap yang lebih lembut. Dia benar-benar ... aneh.
"Aretha ...."
"Kamu bukan Fendi, kan?"
Seketika ia melotot dan sedikit tersentak, seolah tidak percaya atas ucapanku barusan.
"Apa maksud kamu!" katanya dengan menaikkan nada bicaranya. Sementara sosok di belakangnya, menatap ku lalu menggeleng pelan. Sikap Fendi kembali berubah.
Aku yang sadar, ucapanku tadi sedikit membahayakan diri ku sendiri, lalu segera pamit ke luar. Fendi menatapku curiga. Tanpa mendapat persetujuan darinya, aku terus keluar perpustakaan.
Langkah kupercepat, sambil sesekali menatap ke belakang. Aku sedikit gentar, karena Fendi sepertinya jauh lebih berbahaya dari perkiraanku. Aku juga takut Fendi mengejar. Karena tidak memperhatikan jalan, aku tersandung dan hampir jatuh ke lantai bawah. Beruntung tangan seseorang segera menangkap lalu memelukku.
"Aargh!" pekikku meronta dari dekapan pria itu.
"Hei. Aretha! Ini aku. Kamu kenapa?" tanya seseorang yang suaranya tidak asing di telingaku. Radit. Dia heran melihat sikap ku yang panik dan ketakutan. Ternyata Radit dan yang lainnya telah selesai berganti pakaian.
Aku menunjuk arah ke belakang dengan tangan bergetar.
"Itu ... Fendi ... Dia ...."
Nafasku tersengal, aku menekan dada sambil menetralkan diri.
"Dek ... Ceritain pelan - pelan," pinta Kak Arden lalu menyuruhku duduk di sebuang bangku panjang tak jauh dari mereka. Aku mulai bercerita dari awal melihat sosok yang mirip Fendi hingga semua yang ku alami tadi di perpustakaan.
"Sebaiknya elu cari tau deh,Dit. Siapa Fendi sebenarnya. Jangan jangan emang bener dia bukan kakak tiri elu !" tebak Doni.
Radit menganggukan kepala setuju dengan saran itu. Sorot matanya tajam dan penuh kebencian.
\=\=\=\=\=
Ini hari sabtu, istirahat siang ini aku dan Kiki sudah ada di kantin. Beberapa hari tidak masuk, Kiki mempunyai banyak cerita yang sudah membuat telingaku berdengung, karena sejak tadi ia tak henti-hentinya bercerita. Fendi yang terlihat berjalan santai seorang diri menjadi perhatian Kiki, karena memang fisik Fendi yang lumayan. Tak dapat ku pungkiri kalau Fendi cukup tampang dengan penampilan yang terkesan elegan. Sekalipun dia memakai seragam sekolah seperti kami. Tapi sweeter dan sepatunya terlihat mahal dengan warna yang senada.
"Siapa dia? Kok baru lihat?" tanya Kiki sambil menggigit sedotan. Fendi masuk ke kantin dan menatap ku beberapa saat, lalu melemparkan senyum. "Lah dia senyum. Eh, kamu kenal, Tha?" tanya Kiki penasaran.
"Anak baru. Ngakunya kakak tirinya Radit. Tapi, entahlah. Aku nggak yakin, karena ada sosok lain di belakangnya yang juga mirip banget dia," tutur ku sambil mengaduk aduk sedotan di hadapanku.
"Terus."
"Sosok itu bilang, dia bukan Fendi. Aneh, kan? Pasti ada yang bohong di sini. Tapi siapa? Bener-bener membingungkan," desahku lalu bersandar di punggung kursi belakang. Radit, Kak Arden dan yang lainnya juga terlihat menuju ke kantin dari kejauhan.
"Ah, itu mereka! SAYAAAANG!" panggil Kiki. Orang di panggil pun melambaikan tangannya. Mereka mendekat. Fendi mengamati aku dan teman-teman lain. Sedangkan aku terus menatap sosok di belakang Fendi.
"Oh jadi itu yang namanya Fendi? " tanya Danu dengan melirik sekilas pada Fendi lalu kami duduk berkumpul menjadi satu. Aku mengangguk. Kondisi Danu yang sudah membaik akhirnya membuatnya dapat kembali lagi ke sekolah hari ini.
"Terus gimana, Tha? Menurut kamu?" tanya Kak Arden.
"Aku nggak tau. Kalau saja, sosok itu nggak menempel terus sama Fendi, mungkin kita bisa ajak dia ngobrol, " tutur ku lalu menatap arah lain. Namun, begitu aku berpaling sebentar, sosok itu justru kini berdiri di sampingku dan membuat aku terperanjat. "Astagfirulloh!!" aku memekik sambil menekan dada. Kak Arden yang bisa melihatnya, hanya mengulum bibir, melihat kelakuan ku yang pasti lucu di matanya.
"Kenapa sih, Tha?" tanya Kiki heran.
"Ngagetin aja!" gumamku pada sosok itu.
"Bukan, kah, kamu ingin bertemu denganku?" tanya sosok itu.
Rupanya mudah sekali memanggil makhluk penguntit Fendi ini. Pikir ku. Huh, kenapa dari tadi aku pusing hanya untuk memikirkan cara ini sih.
Sosok Fendi melirik pada Radit dan menatapnya nanar. Ada kesedihan mendalam yang tengah ia rasakan. "Tolong sampaikan pada Radit, aku minta maaf. Semasa aku hidup, aku jarang bisa mengunjunginya."
Aku melirik Radit dan Fendi yang kini ada di hadapanku. Begitu juga teman temanku. Walau mereka tidak melihat sosok yang hadir di dekat mereka, tapi mereka tetap merasakan ada makhluk halus di sini. Bulu kuduk mereka meremang, bahkan Kiki sesekali menekan tengkuknya.
"Apa maksud kamu mengatakan kalau dia, " aku melirik ke Fendi yang sedang makan, "Bukan Fendi?" tanyaku sambil berbisik. Kak Arden hanya terus mengawasi pergerakan makhluk itu dan selalu waspada.
" Datang saja ke makamku, di Kuburan china, Kober Selatan."
Ia kemudian hilang begitu saja. Aku dan Kak Arden saling lempar pandang dan mengangguk sekali, ini merupakan petunjuk awal untuk kami.
Sepulang sekolah, kami sepakat akan pergi ke makam Fendi. Sebuah pemakaman umum, yang bisa disebut kuburan china. Papa Radit memang keturunan tionghoa, Mamanya Jawa asli. Papanya dan Mama Radit menikah beda agama dan langgeng sampai sekarang.
"Yakin, dia dikubur di sini, Tha?" tanya Dion sambil menatap satu persatu makan di sekitar. Aku mengangguk sambil ikut mencari makam yang dimaksud. Semua berpencar.
"Inget ya, mukanya sama persis kaya Fendi yang di sekolah. Kalian inget, kan? Nama panjangnya?" tanya ku sedikit berteriak.
"Beres, Aretha!"
Satu persatu makam mulai dilihat. Hingga, Danu berteriak memanggil kami. Rupanya tidak sulit mencari makam tersebut, karena tempat pemakaman ini juga tidak cukup besar.
"Gaes! Di sini!"
Sebuah makam dengan foto Fendi memakai setelan hitam terpampang di sana. Nama beserta tanggal lahir, dan tanggal ia meninggal membuat Radit mendekat dengan tubuh lunglai. Ia terlihat sangat terpukul. Radit membelai foto Fendi dengan menitikan air mata.
"Udah setahun, dia meninggal. Kami nggak tau, kalau mereka pindah ke sini. Setau Papa, mereka masih di luar pulau. Dia baik. Beberapa kali, dia sapa aku lewat email. Pantes aja, waktu dia muncul di sekolah, aku ngerasa lain. Itu bukan dia. Ternyata bener," Radit terlihat begitu terpukul. Kak Arden mendekat lalu menepuk bahunya.
"Sabar, Dit. Kita harus ungkap siapa sebenarnya Fendi itu."
"Bener, Dit. Ini tindak kriminal. Mencuri identitas orang," tambah Doni.
"Tapi, wajahnya mirip banget yah. Mungkin nggak sih, kalau dia operasi plastik, biar mukanya mirip Fendi?" pertanyaan Kiki seolah membuka tabir selanjutnya. Kami mengangguk sependapat.
"Jadi gimana langkah kita selanjutnya?" tanya ku.
"Kita ke rumah Fendi!" usul Radit dengan keyakinan penuh.
"Kamu yakin?"
Radit mengangguk, "Kalau memang ini Fendi asli dan yang tadi palsu, pasti ada petunjuk di rumah itu," tukas Radit.
"Ya udah, ayok kita ke sana. Kita berdua aja, biar yang lain nunggu di luar. Siapa tau ada petunjuk di rumah itu," timpal ku memberi saran.
"Kenapa harus kalian berdua?" pertanyaan Ari sedikit menyelidik, ia bertanya dengan mata menyipit.
"Ya kalau elu mau, sono dah. Gue yang nunggu di luar," sahut ku santai.
"Eh, ogah. Tar ketemu demit lagi!" tukas Ari sambil bergidik ngeri.
"Nah itu lu paham, kan cuma Aretha yang bisa lihat Fendi, yah walau Arden juga liat sih. Tapi kan, Aretha yang lebih paham situasi ini," kata Danu menanggapi.
"Ya sudah, ayok ke sana," ajak Kak Arden kepadanya. Ia lantas beranjak dari duduk, lalu pergi meninggalkan mereka. Mereka pun berteriak memanggilnya yang memang kadang suka pergi seenaknya.
\=\=\=\=\=\=\=
Sebuah rumah bercat merah maroon, kini menjadi target kami. Aku dan Radit masuk dan mengetuk pintu. Seorang wanita patuh baya, muncul. Wanita berambut ikal itu seperti terkejut akan kedatangan kami berdua. "Eh, Radit. Tumben ke sini, " sapa wanita itu, yang tidak lain adalah mantan isteri Papanya. Aku sangat yakin itu. Menurut penuturan Radit mereka hanya tinggal berdua saja di rumah, apalagi dengan langsung mengenali Radit, aku bisa langsung menebaknya. Radit juga menatap wanita itu sinis. Aku menyenggolnya dengan siku, dia yang awalnya hanya diam saja, tidak menanggapi kini mulai bereaksi.
"Iya, tante. Tadi nggak sengaja lewat, terus mampir deh. Kak Fendi di rumah?" tanya Radit basa basi sambil menyapu pandang ke ruang tamu.
"Baru aja sampai, lagi makan tuh. Ayok masuk, makan sekalian, " ajak wanita itu. Sikapnya agak gugup dan kurang nyaman. Itu terlihat jelas sekali.
"Nggak usah repot- repot tante, kami ...."
Aku kembali menyikut Radit lalu melotot mengisyaratkan sesuatu.
"Tante masak apa? Kebetulan Aretha lapar, hehe," tukas ku sambil memegangi perut.
Mendengar hal itu Radit melotot lalu mengikuti saja permainan ku.
"Oh ini yang namanya Aretha? Fendi sering cerita, bener-bener cantik ya," ucap Mama Fendi lalu menggandeng ku masuk ke dalam. Beberapa pigura sempat menyita perhatian kami. Ada foto Mama Fendi dan Fendi terpampang di sana. Ada satu foto yang benar - benar membuat kami mengernyitkan kening. Mama Fendi, Fendi dan seorang pria yang seumuran dengan Fendi. Wajahnya memang hampir mirip Fendi. Aku dan Radit saling lempar pandang. Sampai di ruang makan, Fendi yang sedang makan, agak terkejut melihat kedatangan ku dan Radit. Ia segera beranjak dan menarik sebuah kursi di sampingnya.
"Aretha? Duduk, Tha," ucapnya dengan ramah. Sikapnya sering berubah - ubah. Ia bisa menjadi sosok yang ramah dan santun, tapi dalam beberapa detik, ia bisa menjadi sosok yang mengerikan. Terbukti, kan?
Aku yang kurang nyaman, berkali-kali melihat ke arah Radit. Radit memberikan isyarat, dengan mengerdipkan matanya, agar aku bisa lebih tenang.
Kami makan bersama diiringi obrolan santai. Fendi terlihat mencoba ramah dengan Radit. Walau terlihat sekali Radit selalu mengelak dan bersikap acuh padanya.
"Ah iya, Aretha. Mumpung kamu ada di rumahku, yuk, aku tunjukin buku yang kemarin aku mau pinjemin."
Fendi langsung saja menggandeng tanganku. Sedangkan Radit hanya mengatupkan rahang, dengan wajah yang sangat tidak suka melihatku di gandeng Fendi. Tapi, ia terus menahannya. Aku dan Fendi berjalan ke sebuah kamar. Kamarnya cukup luas, dengan sebuah rak buku yang cukup besar. Fendi sangat gembira melihat aku ada di rumahnya. Matanya terus berbinar dengan senyum mengembang. Ia terus memberikan beberapa koleksi buku miliknya sambil menceritakan isi buku buku itu. Mataku malah mencari sesuatu yang lain di kamar ini. Hingga, aku menatap lurus ke sebuah buku di meja belajar. Sebuah buku sketsa, tertulis nama Fendi Gunawan dibubuhi tanda tangan. Radit juga bilang kalau Fendi asli sangat suka melukis. Dan lukisannya sangat bagus.
"Kak, aku boleh minta minum? Sambil cari buku yang mau aku pinjem, aku haus, " kataku sedikit memohon.
"Oh, oke. Sebentar ya."
Fendi pergi ke luar kamar. Setelah dirasa keadaan aman. Aku segera mengambil buku itu. Dan terus membuka buku itu, semua hasil lukisan tangan Fendi. Rupanya benar kalau Fendi pintar melukis. Ada beberapa sketsa wajah, disertai nama pemilik wajahnya. Papanya, Mamanya, Radit, dan wajah seorang pria yang memang mirip dirinya, Ferdi. Aku berpikir keras, siapa Ferdi ini.
Hingga tercium bau harum di kamar, sosok Ferdi muncul. Aku menatap lukisan di tanganku lalu beralih ke sosok itu.
"Dia, Ferdi, sepupuku. Ferdi, lah, yang sekarang menjadi diriku."
Kalimat Fendi benar - benar mengejutkanku.
"Tapi, wajahnya ... Wajah kalian, sama!" gumamku dengan membandingkan sketsa wajah di tanganku dengan sosok Fendi yang berdiri tak jauh dariku.
"Dia mengoperasi wajahnya agar mirip denganku. Mereka mau mengambil harta Papaku, mereka licik!" kata Fendi dengan menahan amarah.
"Jadi, dia Ferdi?" pertanyaanku terlontar begitu saja, tanpa mengetahui kalau Ferdi sudah ada di belakangku.
"Jadi kamu sudah tau, Aretha?"
Suara itu mampu menggetarkan hati ku. Tubuhku bergetar hebat. Aku berbalik perlahan. Ferdi menutup pintu lalu menguncinya. Ia menyeringai dengan seringai yang menakutkan. Perlahan Ferdi mendekatiku. Aku beringsut mundur. Entah kenapa kini aku ketakutan. Keinginan untuk menendang manusia di depanku ini seolah terkubur dengan ketakutanku.
"Kamu jahat!"
"Aku jahat? Oh, tidak, Aretha! Aku cuma disuruh, justru Mama Fendi yang jahat. Dia gila harta!" tutur Ferdi.
Aku melirik ke arah Fendi yang terus menatap Ferdi tajam.
"Toloooong! Radiiiiit!" jeritku spontan.
"Heh! Diam!!" Ferdi makin marah, lalu mendekati ku dan membungkam mulutnya. Rambutku dijambak kasar. Aku menggigit tangan Ferdi lalu menginjak kakinya. Ia mengerang kesakitan, selagi cengkeraman Ferdi terlepas, Aku segera berlari ke arah pintu. Dengan gusar aku berusaha membuka pintu. Namun, tiba-tiba tangan Ferdi kembali menjambak rambutku, lalu mendorongku kasar hingga menghantam lemari.
"Augh!" aku mengerang. Tubuhku makin melemah. Ferdi kembali mendekat, tapi, tiba-tiba beberapa pigura serta pajangan jatuh berhamburan bahkan ada yang terlempar ke arahnya.
"Aretha!! Aretha!!"
Suara Radit terdengar dari luar pintu. Ia berusaha mendobrak pintu itu. Suara Kak Arden dan yang lainnya juga terdengar jelas. Merasa dirinya terpojok, Ferdi berusaha kabur lewat jendela.
"Ah, sial! Kenapa susah dibuka sih!" umpatnya kesal.
Braaak!
Pintu berhasil dibuka dengan paksa. Mereka merangsek masuk ke dalam dan langsung menarik Ferdi hingga tersungkur ke lantai. Radit mendekat lalu tanpa tendeng aling-aling langsung memukul Ferdi dengan membabi buta.
"Ini buat Fendi!"
Pukulan mendarat ke pipi kanan.
"Ini buat Aretha!"
Berganti ke pipi kiri.
Perut pun berkali-kali dipukulnya dengan keras. Kak Arden berusaha melerai Radit, dibantu yang lain.
"Udah, Dit! Udah! Biar polisi aja yang ngurus!" cetus Dion sambil menepuk nepuk wajah Radit.
"Mending elu cek Aretha, biar orang ini kita yang urus!" kata Danu menambahkan.
Aku sudah terduduk dengan kondisi lemah, Kiki menyodorkan segelas air minum padaku. Radit yang awalnya bersikeras ingin memukul Ferdi terus menerus, lalu mendekat padaku setelah dibujuk oleh Kak Arden.
"Aretha? Kamu nggak apa-apa, Sayang?" cetus Radit dengan panik.
"Uhuk! Sayang?" sahut Kiki sambil terkekeh pelan.
Tapi, Radit tak menghiraukan ocehan Kiki. Malah langsung membopongku, ke luar dari kamar itu. Di ruang tamu sudah ada Mama Fendi yang menangis, dengan pengawasan Dedi dan Ari. "Aretha kenapa?" tanya mereka cemas.
Radit tak menjawab, malah terus membawaku ke luar menuju mobilnya. Kiki membiarkan kami berdua pergi. Karena ia yakin, Radit pasti akan menjaga ku dengan baik.