Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
9 teror di rumah kiki


"Tha! Buruan ke sini ..." rengek Kiki di sambungan telepon. Aku buru-buru ke rumah Kiki karena khawatir. Suaranya terdengar sangat panik. Kebetulan Radit yang sedang ada di rumahku menawarkan diri mengantarku. Tentunya Kak Arden juga ikut serta. Walau Radit adalah sahabatnya, tetapi Kak Arden tetap mengawasi kami berdua dan selalu menjadi seperti wasit jika kami berdekatan.


Mobil Radit melaju cepat menembus jalanan. Hingga tak terasa kami sudah sampai di rumah Kiki.


"Choki, Tha! Choki!" rengek Kiki sambil menarik tanganku yang bahkan belum sepenuhnya turun dari mobil.


Rumah Kiki cukup luas, tidak hanya halaman depan, tetapi halaman belakangnya juga cukup lebar. Ada kolam renang dan beberapa pohon mangga dan jambu. Sampai di halaman belakang, kami memekik melihat kondisi Choki. Anjing peliharaan Kiki yang mati mengenaskan. Tubuhnya terkoyak hingga beberapa organ bagian dalamnya keluar.


"Astagfirulah!" Semua menutup mulut sekaligus hidung karena bau busuk menyeruak. Kiki memelukku sambil menangis. Radit dan Kak Arden mendekat, mengamati tubuh Choki yang sudah dipenuhi lalat. Kak Arden segera meraih gawai miliknya dan menghubungi Danu. Sementara Radit mengamati keadaan sekitar. "Kok kayak dimakan binatang buas, sih?" tanyaku berpendapat.


Radit menatap tembok keliling yang hanya setinggi satu meter saja. Itu hal yang sangat mudah dipanjat seseorang jika ingin merangsek masuk ke dalam. Ia memicingkan mata, menatap sebuah sisi tembok dengan tatapan aneh. Radit mendekat. Aku yang melihat hal itu, mengekor padanya. Sedangkan Kiki terus menggenggam erat tanganku karena rasa sedih dan takut yang masih ia rasakan.


"Kenapa, Dit?" tanyaku yang berdiri di belakang pria tinggi, yang belakangan sedang dekat denganku itu.


"Aneh," sahut Radit sambil mengelus dagunya pertanda berpikir keras.


"Apanya?" tanyaku ikut mendekat. Tak lama, seseorang datang dari dalam rumah Kiki. Doni. Ia mendekati Kak Arden lalu seperti mendiskusikan sesuatu. Kiki segera menghambur memeluk kekasihnya yang baru saja datang. Sementara aku dan Radit masih menatap tembok di hadapan kami. Lalu kembali mendekat ke mayat Choki. Radit tampak diam sambil melihat tubuh Choki dan membolak-balikkan tubuh yang sudah acak-acakan itu.


"Dit! Jorok ih! Jangan digituin napa! Ususnya berantakan tuh!" pekik Doni dengan wajah ngeri.


"Hm ... Ini kayanya sih, orang yang ngelakuin deh ... " gumam Radit yakin.


"Orang? Kok bisa yakin gitu, Dit?" tanya Doni.


"Lihat? Di sekelilingnya cuma ada jejak kaki, Gaes. Ini bukan jejak kita. Karena pas kita datang jejaknya udah ada," jelas Radit


Memang ada beberapa jejak kaki. Benar-benar jejak kaki alias tanpa memakai alas kaki.


"Jejak kakinya Kiki kali, Dit?" Pertanyaanku terdengar wajar. Karena di rumah ini hanya ada Kiki saja sejak tadi.


"Bukan, Tha. Kakinya Kiki, kan, lebar, buntek gitu. Nah ini panjang dan besar," sahut Radit memperjelas maksudnya. "Laki-laki ini sih."


Kiki memukul lengan Radit kesal. "Enak aja! Ngatain buntek!" omel Kiki tidak terima atas perkataan Radit.


"Iya juga sih, lagian Kiki kalau ke sini pasti pakai sandal. Nggak mungkin dia nyeker," kata Doni membenarkan pendapat Radit.


"Kira-kira ini mati udah berapa jam ya? udah bau gini."


"Udah agak lama ini mah, mungkin semalam."


"Semalam kamu dengar ada suara aneh nggak , Yang?"


"Mmm ... iya sih. Choki ngegonggong keras dan lumayan lama. Terus habis itu langsung berhenti tiba-tiba. Pas aku mau cek keluar, aku lihat jam ternyata masih tengah malam, akhirnya aku balik lagi ke kamar. Takut ..." jelas Kiki sedikit merengek.


"Mungkin jam segitu Choki mati. Eh, nggak ada barang hilang, Ki?" tanya Radit menegaskan kembali.


"Mmm ... setahuku sih nggak ada deh."


"Ya udah, mending dikubur dulu aja. Kasian nih, makin banyak lalat datang, baunya makin busuk."


Doni lalu memgambil cangkul dan mulai menggali tanah di pojok belakang halaman. Kak Arden dan Radit juga membantu proses penguburannya. Setelah selesai, Kiki menancapkan nisan yang sudah dia ukir dengan nama Choki, lengkap dengan tanggal dia menemukan Choki dan tanggal meninggalnya Choki. Astaga.


Kami kembali masuk ke dalam rumah Kiki setelah acara penguburan selesai. Aku membuatkan teh untuk mereka semua. Setidaknya harus ada yang membuat makanan dan minuman hangat setelah kejadian ini.


"Ki, Orang tuamu hari ini balik, kan?" tanya Radit sambil meneguk teh hangat buatanku.


"Iya, nanti sih, malaman."


"Aku temanin ya, sampai mereka pulang," kata Doni mendekat dan menggenggam tangan Kiki.


"Eh eh eh! Aku ikut! Nggak bisa dibiarin berduaan aja kalian! Nanti ada setan! " kataku sewot.


Radit dan Kak Arden yang sejak tadi diam, lantas tertawa. "Kamu nggak tahu, Tha. Setannya kan Doni," kekeh Radit yang segera dilempar kulit kacang.


"Ya udah, kita temanin deh di sini," sambung Kak Arden.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Kami salat magrib bergantian. Selesai salat, aku dan Kiki memasak nasi goreng untuk makan malam. Ia lalu ke depan memanggil Radit, untuk ikut makan malam bersama-sama. Sementara Kiki menyiapkan meja makan untuk mereka. Saat kami salat, dia berjaga di depan. Kalau mungkin ada orang lain yang masuk ke halaman rumah ini lagi.


"Dit, makan dulu yuk," ajakku yang muncul dari balik pintu.


Radit memasukan gawai ke saku baju. "Ayo ... udah matang masakannya?" tanya Radit lalu beranjak dari duduk.


Bunyi ranting terinjak membuat perhatian kami berdua teralih ke halaman sekitar. Radit memincingkan mata dan mempertajam pendengarannya. "Siapa ya, Dit?" tanyaku berbisik dan kini sudah ada di dekat Radit.


"Nggak tahu, Tha." Keadaan yang gelap, membuat jarak pandang kami terbatas. Hanya ada angin yang meniup dahan-dahan kering di tanah, dan dedaunan di pohon. Mengetahui tidak ada hal aneh lagi, Radit mengajak aku masuk.


Selesai makan, menonton film adalah hal yang menarik. Kebetulan koleksi kaset DVD Kiki cukup banyak. Ponsel Kiki berdering. Ia lalu menerima panggilan teleponnya agak menjauh karena suara speaker pasti akan mengganggu pendengarannya, terlebih mamanya yang menelepon. Kiki kembali dengan wajah ditekuk.


"Kenapa tuh muka?" tanyaku sambil sesekali menatap layar TV di depan kami.


"Gaes ... Malam ini kalian nginap sini ya, please ..." pinta Kiki memohon.


"Kenapa, Ki?" tanya Radit yang memegang remote TV dan duduk di lantai, tepatnya di bawahku. Doni dan aku duduk di sofa. Sementara Kak Arden duduk di sofa lain sibuk dengan laptop miliknya.


"Papa mamaku nggak bisa pulang, masih ada urusan .... Aku takut kalau sendirian di rumah," rengeknya dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Sayang, aku mau kok nginap sini, " kata Doni sambil senyum-senyum nakal.


Kak Arden meliriknya sinis lalu melemparnya dengan bantal yang dia pegang. "Modus!" hardik Kak Arden.


"Sirik lu!" Doni membela diri.


"Iya, nggak apa-apa deh. Lagian aku masih trauma di rumah sendiri," celetuk Radit sambil terus menatap film yang sedang diputar. Tatapan matanya kosong. Sekalipun kejadian itu sudah berlalu, dan lukisan berdarah itu sudah tidak ada di rumahnya, pasti Radit masih sedikit trauma.


"Kenapa lu?" tanya Doni yang belum tahu kejadian di rumah Radit kemarin.


Belum sempat Radit menjawab, suara dentuman keras dari jendela yang ditutup cukup keras membuat kami semua terdiam dan saling pandang.


"Kalian sih! Pakai bahas gituan!" Kiki mulai resah lalu memeluk lenganku yang duduk di sampingnya. Ia yang sudah tahu cerita tentang lukisan di rumah Radit, menyadari kalau pembahasan itu sebaiknya tidak kami lakukan di saat malam-malam begini.


"Kak," panggilku, memberikan isyarat kepada kak Arden. Kak Arden memutar bola matanya, karena jengah. Ia paham maksudku. "Ayo, Dit," ajak Kak Arden lalu menarik Radit ke sumber suara yang sepertinya dari arah dapur. Kami bertiga yang tinggal di ruang TV menunggu dengan perasaan gundah.


Saat mereka kembali, Radit terlihat kesal. "Keterlaluan! Kita dikerjain nih!" umpat Radit, melemparkan sebuah kotak ke meja di depan kami bertiga. Doni lalu membuka kotak itu, dan semua terkejut dengan isi di dalamnya. Ada sebuah bangkai burung yang berlumuran darah. Lebih tepatnya burung gagak.


"Kerjaan siapa sih ini?" tanya Doni mulai emosi.


"Ini kayanya ada yang sengaja meneror kamu deh, Ki," ucap Radit yakin, "kamu punya pandangan nggak? Kira-kira siapa orangnya? Apa kamu punya musuh?" tanya Radit secara terperinci mirip detektif saja.


Kiki diam sejenak. Mencoba menarik benang merah atas masalah ini


"Siapa sih? Aku beneran nggak tahu," katanya frustrasi sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Aku yakin, lama kelamaan dia pasti bakal muncul, tapi kita juga harus waspada, " saranku.


"Tunggu! Sebaiknya kalian lihat dulu ini." Kak Arden mengutak-atik laptop miliknya. "Tadi, aku minta tolong Danu buat cek kamera CCTV di sekitar rumah Kiki. Aku yakin, orangnya sering mondar-mandir di sekitar sini. Dan, ini ..." tunjuk Kak Arden ke monitor di depannya.


"Ini orang mencurigakan banget," gumam Kak Arden menunjuk seorang pengendara motor yang berhenti di halaman depan rumah Kiki.


"Itu kapan?" tanyaku mulai tertarik.


"Kurang lebih ...." Kak Arden mengklik beberapa tombol, "Sekitar habis magrib tadi."


Aku dan Radit saling bertukar pandang. Hal ini ditangkap oleh Doni dan Kak Arden. "Kalian tahu sesuatu?" tanya Doni.


"Apa suara tadi ya, Dit?" tanyaku sambil mengingat kejadian tadi.


"Bisa jadi."


"Suara apa?" tanya Doni penasaran.


"Tadi waktu aku sama Radit di teras, kita dengar suara. Aku pikir ada orang, tapi setelah kita cari, nggak ada," terangku. Yang lain hanya menanggapi dengan anggukan pelan.


"Eh, tapi, kok aku nggak asing ya, sama orang ini," celetuk Doni sambil mengusap dagunya.


Mereka ikut mengamati pria dalam rekaman CCTV yang Danu kirimkan. "Kayanya aku tahu siapa dia!" timpal Radit yakin.


"Serius? Yang bener, Dit. Jangan asal nuduh," tukas Doni.


Radit hanya tersenyum tipis. Menandakan sesuatu.


________


Paginya kami pulang ke rumah masing-masing. Hari ini adalah hari senin dan tentu kami harus masuk sekolah seperti biasa. Sampai di halaman parkir sekolah, kami berkumpul sesuai kesepakatan. Radit menyapu pandang ke sekitar, seperti menunggu seseorang.


"Kenapa lu?" tanya Doni yang menyadari tingkah aneh Radit.


"Apa yah? Nggak perhatiin, Dit. Lagian nggak begitu jelas ah," tukas Doni ragu.


"Ah, payah!" sindir Radit.


"Emang kenapa, Dit?"


"Aku ngerasa pernah lihat motor itu di sekolah ini, Tha," sahutnya dengan berbisik. Semua tertarik atas apa yang diungkapkan Radit, kami lalu membentuk lingkaran dan berdiskusi.


"Motor apaan, Dit?" tanya Dion ikut penasaran.


"Motor sport, warna merah!"


Dahi kami serentak berkerut. Otomatis melihat sekitar. Mencari motor yang di maksud Radit.


"Motor sport, warna merah? Di sekolah ini cuma ada empat orang yang pakai," kataku yakin.


"Elu perhatian bener, Tha?" tanya Dion sedikit mencandainya.


"Iyalah, teman kelas kita sering banget itu bahas mereka berempat."


"Mereka berempat?" tanya Radit penasaran.


"Elu hafal bener, Tha?" tanya Danu sambil melirik dan menyikut Radit yang ada di sampingnya.


"Habisnya, anak cewek di kelasku itu selalu ngomongin mereka berempat, Roni, Pandu, Fredi, dan Putra, karena motor mereka keren," jelasku. "Siapa sih yang nggak klepek-klepek sama mereka berempat, kecuali ..."


"Kita berdua, ya Tha!" sambung Kiki dengan bangganya. Kami mengangguk sambil menyapu pandang sekitar.


"Oke, jadi kita harus selidiki mereka berempat. Kita harus bagi tugas," kata Kak Arden.


Dedi dan Ari menyelidiki Fredi, Danu dan Dion menyelidiki Roni, Radit dan Doni menyelidiki Pandu. Sementara Putra adalah bagian Kak Arden seorang diri. Karena Putra aktif di kegiatan Rohis, jadi mudah untuk Kak Arden mencari tahu jati dirinya. Sekalipun anak Rohis, Putra tidak bisa dianggap bersih dari semua tuduhan.


"Oke, nanti pulang sekolah, kita kumpul lagi di sini," kata Kak Arden semangat.


Kebetulan hari ini, kegiatan belajar mengajar diliburkan, karena ada perayaan ulang tahun sekolah. Kesempatan ini sangat mudah bagi kami untuk mencari tahu, siapa peneror rumah Kiki. Hari sudah beranjak siang, rasa panas tidak lagi terelakkan. Semua berkumpul di halaman parkir sesuai kesepakatan tadi. Hanya saja, Danu dan Dion tidak juga tampak. Bahkan saat ponsel mereka dihubungi, selalu saja tidak aktif. Hal ini membuat kami sedikit gusar.


"Ke kantin dulu yuk, haus," pinta Kiki. Akhirnya kami setuju kembali ke kantin, hanya Dedi dan Ari saja yang tinggal di dalam mobil Radit. Mereka menunggu Danu dan Dion, siapa tahu mereka berdua muncul.


"Mau pesen apa, Tha?" tanya Radit ramah, kami duduk berdekatan hingga sebuah tempat tisu melayang mengenai kepala Radit.


"Ya ampun, Den! Kejam bener, lu!" timpal Radit sambil mengelus kepalanya yang sedikit nyeri.


"Jaga jarak aman, satu meter! Minggir-minggir!" sindir Kak Arden lalu duduk di antara Radit dan aku.


"Den, ya ampun! Nggak gue apa-apain adik lu!" kata Radit sedikit jengah.


"Ssttt!" Kak Arden hanya meletakkan jari telunjuknya di depan mulut, menyuruh Radit berhenti bicara.


Tiba-tiba ponsel ku berdering. Ada sebuah pesan masuk dari Danu.


[Tha, kami ketahuan, tolong!]


Aku menatap semua teman-teman dengan wajah panik lalu menunjukkan pesan yang Danu kirim. "Cari mereka berdua! Hubungin Dedi sama Ari, cari di tiap sudut sekolah," suruh Radit bergegas.


Semua bergerak mencari keberadaan Danu dan Dion. Yang kami tahu, kedua orang itu dalam bahaya. Sudah beberapa menit kami mencari, tetapi hasilnya nihil. Di semua ruang kelas, perpustakaan, bahkan sampai aula, tidak juga kami temui keberadaan Danu dan Dion. Kini, kami ada di taman dekat kantin. Semua diam dengan pikiran masing-masing. Aku terlihat paling gelisah di antara yang lain. Mondar-mandir ke sana kemari. Aku memang tipe orang yang mudah cemas dan khawatir. Radit mendekati lalu menarik tanganku agar duduk di bangku bawah pohon.


Radit jongkok di depanku sambil menatap dalam kedua bola mataku dalam.


"Kamu jangan khawatir, ya. Kita pasti bakal nemuin Danu sama Dion," katanya berusaha menenangkan. Radit menggenggam tanganku, hingga membuat jantungku makin berdetak cepat.


"Kita berpencar lagi. Nggak bisa diam aja di sini!" kata Kak Arden makin cemas walau terkadang sikapnya cuek, tetapi dia sangat peduli terhadap kawan-kawannya.


"Astaga! Kenapa nggak kepikiran sih!" pekik Radit tiba-tiba, membuat semua kaget dan menatapnya heran.


"Apaan sih, Dit?"


"CCTV, Bro! "


"Cakep! Yuk ke ruang guru!"


Kami benar-benar lupa, kalau ada CCTV di sekolah. KamiĀ  lantas beramai-ramai ke ruang guru. Beruntung di sana kami bertemu Om Feri yang memang akan bersiap mengajar. Om Feri menyipitkan mata melihat kelompok kami mendekat.


"Om ... Eh, Pak ... Kita mau minta tolong, bisa?" tanyaku sambil menahan On Feri yang hendak pergi.


"Mau ngapain coba kalian? Dari mukanya udah kelihatan mau aneh-aneh nih," tuduh Om Feri yang memang hafal tingkah aku dan Kak Arden beserta antek-antek di hadapannya ini.


Kak Arden lalu menceritakan masalah kami ke Om Feri, ia terdiam beberapa saat, "Ya sudah, ayo masuk."


Kami mengekor hingga sampai ruangan CCTV yang tidak dijaga. Om Feri lalu duduk di kursi itu dan memainkan mouse komputer dan mulai melihat rekaman CCTV hari ini. Semua mata terus memperhatikan setiap detail ruang demi ruangan yang terpantau CCTV, tidak ada yang terlewat dari pengawasan mata kami.


"Nah! Itu mereka!" pekik Doni.


"Eh iya bener, si Danu tuh lagi ditarik gitu sama Roni. Dion ya ampun! Mukanya berdarah," ucap kiki sedikit heboh melihat teman masa kecilnya babak belur. Gambar di CCTV memang tidak begitu jelas. Hanya saja, warna merah di wajah dua teman mereka, terlihat jelas. Mereka berdua diseret menuju gudang belakang sekolah.


"Langsung kita grebek aja!"ajak Radit semangat.


"Eh ... Jangan pada main hakim sendiri. Biar Bapak yang urus." Emosi terkadang membuat kami lupa sekitar. Kami lupa, bahwa Om Feri, wali kelasku sekaligus guru fisika kami, masih ada di sini.


"Tapi Pak, kelamaan. Keburu Danu sama Dion disate nanti," tegasku tidak sabaran.


"Kamu ini, sama aja kaya bundamu!"gerutu Feri sinis. Aku malah mengerutkan kening, tak paham maksud pria di depanku ini.


"Terus kita harus gimana dong, Pak?" tanya Kak Arden mencoba sabar.


"Ya sudah, kalian tunggu sini, biar Bapak ke ruang kepala sekolah. Coba sharing dulu ya, sama Pak Kepsek," kata Om Feri menenangkan kami. Kami, para muridnya hanya menganggukkan kepala. Setelah Om Feri pergi ke ruang kepala sekolah, kami semua mengambil langkah seribu berlari ke gudang sekolah. Gudang sekolah ada dua. Yang satu di belakang, dan yang satu lagi di dekat aula. Kami pergi ke gudang dekat aula.


Sampai di gudang, kami masuk pelan-pelan agar tidak diketahui oleh musuh di dalam. Keadaan cukup sunyi di luar, tetapi tidak dengan bagian dalam gudang ini. Beberapa kali terdengar suara perkelahian yang cukup ramai. Saat mengintip melalui jendela, kami melihat Danu dan Dion dengan keadaan tangan terikat. Wajah mereka sudah lebam dan penuh luka. Karena tidak tahan, Radit merangsek masuk ke dalam.


"Lepaskan mereka!" suruh Radit dengan nada tinggi. Kemunculannya mengagetkan semua orang di dalam. Tentu saja kelegaan dirasakan dua orang yang sedang dikeroyok hampir sepuluh orang. Wajah Radit benar-benar tampak emosi.


Roni yang awalnya kaget lalu tertawa lepas."Enak aja! Nangkapnya aja susah kok, masa gampang banget gue lepasin!"


"Lepasin mereka!" Radit yang makin kalap perlahan mendekati mereka. Ia benar-benar tidak punya rasa takut.


"Berisik banget! Hajar!"perintah Roni ke teman-temannya.


Melihat Radit akan dikeroyok, Kak Arden, Doni, Dedi dan Ari ikut masuk dan melawan mereka. Terjadilah baku hantam di dalam. Pukulan demi pukulan mereka layangkan ke musuh masing-masing. Aku dan Kiki mendekati Danu dan Dion. Melihat kedua pria di depan mereka tak berdaya, Kiki dan aku merasa iba. Dilepaskannya ikatan di kedua tangan itu lalu membantu mereka berdiri, segera keluar dari gudang ini.


Namun, belum sampai mereka keluar, teman-teman Roni menghadang kami.


"Tha, gimana dong," rengek Kiki sedikit ketakutan. Aku tmm berpikir keras, akan mengalah atau melawan. Aku memang sudah berjanji pada ayah tidak berkelahi lagi di sekolah.


"Maafin Aretha, Ayah," gumamku pelan.


Aku mendudukkan Danu yang meringis kesakitan memegang wajah dan perutnya.


"Tha! Jangan, Tha," larang Danu yang paham dengan apa yang dipikirkan olehku. Hanya saja tenaganya sudah habis untuk bisa mencegahku. Jangankan mencegah, untuk bernapas saja, ia masih kesulitan.


Tak menghiraukan larangan Danu, Aku berdiri di tengah-tengah mereka. Tanpa basa-basi lagi, aku mengambil balok kayu yang ada di dekat kaki. Lalu dihantamkan pada mereka yang ada di depan. Ditambah dengan pukulan serta tendangan bertubi-tubi. Sejak kecil kami sudah mendapat latihan bela diri yang kuat serta ilmu agama yang cukup, karena keistimewaan kami berdua, maka Pakde Yusuf sebagai yang satu-satunya paling paham masalah supranatural, terus membimbing kami. Sementara ilmu bela diri, diajarkan oleh ayah kami. Beruntung lawanku kali ini hanya berjumlah tiga orang saja.


Aku membuat mereka terkapar tak berdaya, hanya dalam beberapa kali pukulan. Melihat mereka sudah tidak bisa bangun lagi, Aku kembali memapah Danu. Lalu menyuruh Kiki segera pergi membawa Dion juga.


"Haagh!" rintih Danu tertahan, hampir terjatuh saat aku memapahnya.


"Kenapa, Dan?" tanyaku panik melihat ekspresi Danu yang menahan sakit.


"Punggungku ...."


"Astaga! Tha! Berdarah!" pekik Kiki heboh dengan menatap ke tubuh belakang Danu.


"Danu ketusuk tadi," terang Dion sambil menekan dadanya yang nyeri.


Aku segera memapah Danu agar cepat dibawa ke rumah sakit. Lukanya cukup parah. Jangan sampai Danu kehilangan banyak darah. Itu bisa fatal.


Tiba-tiba ...


Aku dipukul dengan papan tulis bekas yang tergeletak di bawah oleh salah satu teman Roni. Tubuhku lemas, pandangan mataku memburam, lalu jatuh menimpa Danu. Danu yang juga terluka berusaha menahan tubuhku.


"Tha!" teriak Radit yang melihat aku roboh. Ia segera menghampiri orang yang memukulku tadi. Dipukulnya orang itu hingga babak belur. Ia segera meraihku lalu berteriak memanggil Doni agar ikut memapah Danu. Doni mendekat membantu Danu. Kiki memapah Dion yang lukanya tidak separah Danu, hanya saja kakinya pincang karena diinjak oleh Roni tadi.


Sampai di mobil, aku duduk di samping kemudi, di belakang ada Danu, Dion, dan Kiki. Melihat darah terus mengalir, aku melepas sweter yang kupakai lalu memberikannya ke Danu. "Tutupin lukamu, biar darahnya nggak terlalu banyak yang keluar."


Sampai rumah sakit, kami segera dilarikan ke IGD. Sedangkan masalah di sekolah sudah di tangani pihak sekolah dan polisi tentunya. Kiki telah menelepon kantor polisi terdekat agar Roni dan teman-temannya segera diringkus karena tindakan kriminal mereka. Yang pasti, Roni akan dikeluarkan dari sekolah dan akan mendekam di balik jeruji besi karena perbuatannya.