Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
23. jalan jalan


Rasa silau mulai mengganggu tidurku. Aku mengerjakan mata, dan berusaha menyesuaikan dengan sinar matahari ini.


"Sinar matahari?


Astaga! Aku kesiangan! Nggak sholat subuh!" pekikku dalam hati.


Aku langsung duduk di ranjang, dan tengak tengok ke segala arah.


Kok sepi? Pada ke mana ya??


Baru saja mengalami kepanikan bangun tidur, seseorang membuka pintu kamar dan muncul lah Radit dengan membawa nampan berisi nasi goreng dan segelas susu.


"Eh tuan putri udah bangun," ucapnya lalu duduk di sisi ranjang sebelahku.


"Kamu ngapain bawa makanan ke sini, Dit? Kok aku nggak dibangunin sih? Nggak salat subuh! Mba Alya sama Kiki mana?" tanyaku beruntun.


"Kamu kan lagi sakit. ya ku antar sarapannya ke sini," katanya sambil memberikan segelas susu yang masih hangat.


"Sakit? Siapa yang sakit?" tanyaku bingung.


Namun ku minum saja susu itu hingga beberapa teguk.


"Gimana? Pas nggak rasanya? Aku yang bikin lho," ucapnya bangga sambil senyum senyum.


"Pas kok. Enak. Sering sering aja, Dit," sahutku.


"Apa sih yang enggak buat kamu," rayu nya.


Kucubit perutnya karena gemas. "Pagi pagi udah nge-gombal!"


"Eh, tapi kamu gimana? Udah enakan belum? Lagian kamu ngapain sih tidur di luar? Kamu tidur sambil jalan?" tanya Radit sambil meletakan punggung tangannya di dahiku. Mungkin mengecek apakah aku masih demam atau tidak. Memang sih rasanya badanku agak kurang nyaman pagi ini. Namun, aku tidak tau kalau aku sakit.


"Hah? Aku tidur di luar? Masa sih?" Aku kembali mencoba mengingat kejadian semalam.


Ya ampun, bener! Aku tidur di luar, di pangkuan nenek.


"Eh ... Jadi kamu yang bawa aku masuk ke kamar?" tanyaku yang baru sadar kalau aku kini sudah di kamar, padahal seingatku, aku tidur di halaman depan.


"Iyalah. Siapa lagi coba. Untung aku yg nemuin, bukan penculik," katanya bergurau terus.


Aku malah diam, lalu beranjak.


Namun ditahan Radit.


"Eh kamu mau ke mana, Tha?" tanya Radit.


"Om Wayan masih di rumah kan?"


"Masih. Lagi sarapan tuh," jawab Radit sambil menatapku bingung.


Aku segera keluar dari kamar diikuti Radit.


Sampai ruang makan, om Wayan menatapku sambil meneruskan makan.


"Sarapan dulu, Dek," kata kak Arden.


"Nanti," jawabku cuek lalu segera mendekat ke om Wayan.


"Tha? kenapa sih?" kak Arden menahan tanganku. Aku tidak menjawab pertanyaan kak arden. Malah terus mendekat ke kursi Om Wayan.


"Om... Boneka nya ... buang deh jauh jauh," Pintaku serius.


Om Wayan berhenti makan dan menatapku lekat lekat. Tak lama tersenyum.


"Iya, Tha. Ni mau om bawa pergi. Maaf ya, kamu diganggu ya semalem," tebak om Wayan.


"Kamu diganggu, Tha? kok nggak bangunin kakak?" tanya kak Arden, cemas .


"Iya. Lain kali bangunin aku, Tha. Kalau ada apa- apa. Pantes kamu tidur di luar. Tapi kamu nggak papa kan?" tanya Radit khawatir.


"Aku bingung, nggak tau harus ngapain, terus malah keluar. eh ketemu Eyang Lestari," jelasku.


"Eyang Lestari?!" tanya Radit dan kak Arden bersamaan.


Kebetulan di ruang makan ini hanya ada mereka saja. Teman teman yang lain tidak tampak batang hidungnya. Mungkin sudah jalan-jalan atau pergi ke pantai. Jadi yg ada diruang makan hanya om Wayan, kak Arden,aku dan Radit saja.


Om Wayan nampak diam, tersenyum sebentar lalu beranjak dari duduknya.


"Kalau gitu aman, Tha. Ya udah, om mau kerja dulu ya. Kalian baik baik di rumah. kalau mau pergi pakai aja mobil, nanti dianterin Pak Nyoman aja. Kebetulan ada 2 mobil nganggur tuh. Bisa kalian pakai. Om biar pakai motor aja nanti," terang om Wayan, lalu pergi ke kamarnya untuk bersiap siap ke kantor.


Aku lalu duduk di kursi, masih memikirkan kejadian semalam.


Tiba tiba Radit sudah duduk di sampingku dengan sepiring nasi goreng tadi.


"Makan dulu, Tha, " ucap nya lembut.


Aku hanya mengangguk lalu makan, karena aku juga merasa sudah lapar sekali.


Kak Arden lalu mendekat dan menyentuh keningku seperti Radit tadi dengan telapak tangannya. Mulutnya bergumam. Entah aku dijampi jampi dengan mantra apa, tapi yang kurasa saat kak Arden menyentuh keningku, ada sensasi hangat dan nyaman.


"Udah, makan sekarang," perintah kak Arden.


Kuselesaikan sarapanku ditemani Radit dan kak Arden. Sambil merencanakan acara jalan jalan hari ini. Sudah disepakati, kalau kami ke Tanah Lot dulu. Katanya, Kiki ingin sekali ke sana. Selesai sarapan, dan saat semua orang sudah kembali dari jalan-jalan pagi, kami bersiap berangkat.


Dengan menaiki 2 mobil kami pergi di temani Pak Nyoman. Karena bawaan kami juga cukup banyak. Jadi perlu ruang tambahan di belakang mobil.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sampai juga kami di tempat tujuan. Perjalanan yang tidak terasa lama, karena pemandangannya cukup indah. Teduh dan rindang. Setelah mobil terparkir, kami turun satu persatu.


Pak Nyoman juga ikut kami turun. Jadi pemandu wisata untuk kami deh hari ini. Pak Nyoman yang memang asli Bali, memang cukup hapal tentang seluk beluk seluruh tempat di Bali. Lumayan gratis.


Kami lalu diajak ke lokasi tanah Lot. Namun sayang, saat itu air laut sedang pasang, sehingga kami tidak bisa ke pulau kecil di Tanah Lot nya.


Yah, cukuplah hanya memandangi dari kejauhan. Membuat kami penasaran, atas apa yang ada di sana. Menurut mitos ada sebuah ular mistis di pulau kecil itu. Jika ada perempuan yang sedang datang bulan, maka tidak boleh menginjakkan kaki di sana.


Walau begitu, kami tidak lupa foto foto di sekitar pantai.


Aku berjalan di bibir pantai, sambil bermain air laut. Mencari hewan air laut yang mungkin terdampar di sana.


Wah, ada bintang laut? Tumben.


Kuambil bintang laut yg terdampar di pinggir pantai itu, dan kuletakan di telapak tanganku. Sudah lama aku tidak melihat bintang laut, karena kami juga sudah jarang rekreasi ke pantai seperti ini. Dulu aku dan Kak Arden selalu bermain di pantai jika liburan bersama ayah dan bunda. Tapi sejak kami mulai beranjak dewasa, acara rekreasi seolah menjadi agenda yang sulit untuk direalisasikan.


Sepertinya ku kembalikan saja ke laut. Karena habitatnya memang di sana. Pantang bagiku mengambil biota laut dan kubawa pulang untuk koleksi. Kasihan mereka.


Saat aku akan berjalan agak jauh ke laut, dari ujung ekor mataku, aku merasa ada seseorang yg mengawasi dari arah sebelah kanan.


Sontak aku menoleh ke arah itu, dan memang ada seorang pria yang mungkin umurnya 35 tahunan. Dia berdiri sambil terus memperhatikanku.


Aku buru buru meletakan bintang laut itu ke air dan berjalan menjauh, segera bergabung dengan teman teman yang lain.


Sesekali aku melihat ke belakang di mana orang tadi berada. Namun, saat kutoleh lagi, dia hilang. Aneh sekali.


Kuedarkan pandanganku mencari di mana sosoknya sekarang berada, tapi aku tidak menemukan nya di mana pun.


"Tha? Kenapa?" tanya Radit yang sudah berdiri di belakangku.


"Mm... Nggak papa, Dit." aku masih saja penasaran, terus mencari keberadaan orang tadi.


"Kamu nyari apa sih?"


"Mm... Tadi kaya ada orang yg ngeliatin aku terus. Serem deh cara ngeliatin nya."


"Cowok??"


"Iya, cowok. Tapi kok cepat banget ilang nya, ya," ujarku.


"Ya udahlah, biarin." Radit lalu mengajakku menyusul yang lain. Mereka berencana pergi dan meneruskan ke tempat wisata lain.


\=\=\=\=\=\=


"Ayok, Tha," ajak Radit dan langsung menarik tanganku. Kami akan naik banana boat beramai ramai.


Pak Nyoman hanya duduk saja sambil menunggu kami.


Setelah berbasah basahan kareba banana boat, Radit mengajakku naik jetski.


Aku membonceng dia, sementara yg lain juga sama. Hanya mba Alya saja yg tidak ikut. Akhirnya kak Arden berboncengan dengan Dedi.


"Radit!" jeritku.


Aku ketakutan dia mengendarai jetski ini dengan sangat cepat.


"Apa??"


"Pelan."


"Gak bisa! Gak asik dong kalau naik ini pelan-pelan. Tenang aja, ada aku. Nggak bakal tenggelam deh," katanya dengan memperlambat laju jetski ini.


Namun baru saja kuatur nafasku dia malah memacu nya lagi dgn kecepatan yg sama seperti tadi.


Aku kembali menjerit dan merengek minta turun. Radit malah tertawa senang melihatku panik.


Setelah sampai di pantai kupukuli dia karena kesal. Sementara yang lain masih ada di laut dengan jetski mereka. Rasanya aku sudah tidak sanggup, pusing.


"Sorry , Tha ... Maaf ya. Habis kamu lucu," ujarnya.


"Nyebelin!" aku sebel sama dia lalu kutinggalkan dia di sana.


Aku berjalan menuju Pak Nyoman dan Mba Alya yang menunggu kami.


Mba alya senyum melihatku dibuat kesal oleh radit tadi.


"Nih,minum Dulu.tenggorokan kamu kering pasti,teriak teriak terus."ucap mba alya sambil menyodorkan es kelapa muda.


\=\=\=\=\=\=\=


Setelah berganti baju, kami pergi ke Pura Luhur Uluwatu.


Karena letaknya di atas bukit karang,kami bisa melihat hamparan lautan lepas.


Wow, sungguh indah sekali sambil menikmati sunset di sini ditemani suara deburan ombak yg menabrak tebing di bawah kami.


Kurapatkan cardigen yang kupakai, karena angin agak kencang.


Dan lagi lagi Radit melepas jaketnya jika sudah melihatku seperti ini.


"Pakai nih, angin nya gede." dia langsung memakaikan jaketnya kepadaku, tidak peduli dia yg hanya memakai kaus lengan pendek. Kalaupun ku tolak juga tidak mungkin, dia akan terus memaksa. Aku capek, males debat sama dia sekarang, dan pemandangan di hadapanku membuatku melupakan rasa kesal ku padanya tadi.


Kami semua terdiam dan sesekali berfoto foto di sini.


Suasana nya agak lain di sini. Gimana gitu ya.


Lagi lagi aku melihat pria itu. Yang tadi kulihat di Tanah Lot.


Kok bisa ketemu lagi ya? Aneh nggak sih? Mungkin dia juga wisatawan sepertiku.


"Ya Tuhan!" pekik Radit sambil melihat jauh ke sampingku. Aku otomatis menoleh, begitu juga yg lain.


"Kenapa, Dit?" tanyaku.


"Eum.. Salah liat aku kali ya," ujarnya lalu kembali melihat laut lepas di depan kami.


Namun gerak geriknya aneh.


"Dit!! Kenapa??" tanya kak Arden.


"Enggak papa. eh, kita pergi aja yuk. Mau maghrib kan ini? Kalian nggak salat?" tanyanya seperti mencoba mengalihkan pembicaraan ini.


"Iya sih, yuk. Cabut. Kita mau ke GWK juga kan habis ini," kata Doni lalu kami mulai pergi dari tempat kami berdiri tadi.


Ku lihat lagi ke arah yg Radit tatap barusan. Namun, tidak ku temui apa pun.


Dia lihat apa sih? Kok rasanya seperti takut gitu?


"Yuk." Radit menarik tanganku yg masih bengong.


Kami salat maghrib dulu lalu kami lanjut ke GWK (Garuda Wisnu Kencana).


Semua tempat wisata di Bali selalu membuat kami takjub.


Di sini pun sama, dan kebetulan ada pertunjukan tari kecak di sini, dan kami pun menonton secara langsung. Karena biasanya kami hanya menonton ini di tv saja. Sebenarnya tadi saat di Uluwatu ada juga tari kecak, namun keburu Radit menyuruh kami pergi cepat cepat jadinya kami nonton di sini akhirnya.


Selanjutnya kami ke Jimbaran untuk makan malam di salah satu cafe ikan di tepi pantai.


Di sini sangat terkenal dengan ikan bakar Jimbaran. Wisata kuliner ini dimulai dari inisiatif perkampungan nelayan di Jimbaran yang menjual ikan hasil tangkapan mereka dalam bentuk ikan yang diasap menggunakan sabut kelapa. Pengasapan membuat ikan menjadi matang sempurna, dibandingkan ikan bakar menggunakan api besar yang seringkali hanya membuat bagian luarnya kering sementara dalamnya masih kurang matang. Ikan asap ini disajikan dengan sambal matah atau sambal yang menggunakan bahan-bahan mentah. Sebelum wisata kuliner ikan bakar Jimbaran dikenal hingga dunia internasional.


Kami makan dengan lahap kali ini, mungkin karena lelah dan memang rasa ikan bakar nya enak membuat beberapa minta nambah.


"Astaga! Lahap sama kalap beda tipis,"gumamku sambil melihat Radit yg makan di depanku.


"Elu jangan heran sama Radit. Kalau udah di depan ikan bakar, elu bakal dicuekin... hahaha," terang Dedi.


"Oh gitu?? Lebih milih ikan bakar timbang aku??" tanyaku sambil menatap Radit terus.


Dia berhenti makan lalu tersenyum.


"Ya gak gitu, sayang. Kamu yg utama kok. Beneran. Cuma aku laper banget, jadi kamu nanti ya,"katanya sambil cengengesan.


"Huu.. Jangan percaya, Tha. Gombal ni anak," ejek Dion.


"Berisik lu."


Setelah makan selesai, kami langsung pulang. Karena  hari juga sudah larut. Kami juga sudah sangat lelah seharian ini.


Sampai rumah ternyata om Wayan belum pulang.


Kami lalu masuk ke kamar masing masing dan mengambil peralatan mandi. Karena tidak mungkin tidur dengan kondisi badan lengket gini.


Saat menunggu antrian. Kucoba tanya lagi ke Radit soal apa yg dia lihat tadi.


Karena Radit ini gak ada takut nya sama orang. Paling kalau sama makhluk astral, itupun gak semua. Kecuali yg bener bener ngeri dan berbahaya.


Dia kini sedang ngobrol dengan kak Arden di halaman depan. Aku ikut duduk di antara mereka berdua. Mereka akhir nya geser, dan membiarkan ku duduk.


"Dit... Kamu tadi tuh lihat apa sih?" tanyaku langsung.


"Iya bener tuh. Baru aja mau ku tanya." kak Arden sependapat denganku.


Radit diam sejenak lalu tengak tengok.


"Tapi jangan bilang yg lain ya. Janji lho," katanya bisik bisik.


Kami berdua mengangguk semangat.


"Aku lihat leak."


Deg!!


"Serius??" tanya kak Arden agak teriak karena kaget.


"Ssssttt" Radit membungkam mulut kak Arden karena takut terdengar yg lain.


Yah, semua orang sudah tau ,apa itu leak dan berbahayanya makhluk ini.


Perasaanku jadi tidak enak.