Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
45 lorong bawah tanah


"Ke mana lagi itu anak?"


"Iya, larinya cepat banget deh. atlit lari jangan-jangan," celetuk Radit.


Aku memutar bola mataku sebal dan meliriknya.


"Tha, serius kan dia si Friska? Bukan Friska jadi jadian?" tanya Danu.


"Iya, aku yakin dia manusia. Cuma kalau Friska apa bukan, nggak tau. Yang namanya Friska aja, aku nggak paham kayak apa. Anak kelas berapa sih? Angkatan kita?" tanyaku.


Danu malah berdeham sambil melirik Radit. Sementara Radit garuk garuk kepalanya yg entah beneran gatal karena belum keramas seminggu atau pura pura gatal.


"Kenapa sih??" tanyaku ke mereka.


"Friska itu... Anak kelas satu. Katanya Dedi, Radit pernah bilang kalau dia itu manis, pas di kantin waktu itu," terang Danu sambil cekikikan.


"Oh gitu... Ya ya ya ya." Aku melirik Radit dengan tatapan tajam.


Radit cuma bisa senyum getir.


Saat di belakang sekolah, suasana nampak sepi sekali, dan gelap. Lampu di sini sengaja tidak dinyalakan. Karena memang bukan wilayah untuk kegiatan PTA hari ini.


Hawa sekitarku berubah panas. Pertanda ada yg tidak beres di sini. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, mencari keberadaan Friska berada.


Namun, anehnya tidak ada sama sekali batang hidungnya nongol di sini.


Apa bukan ke sini ya tadi?


Aku kembali melihat ke awal kami datang, dan tidak ada jalan lain selain ke sini.


Aku pusing.


Udah capek badan dari tadi mondar mandir ke sana ke mari. lapar, eh ini suruh nyariin orang ilang.


Aku pengen tidur, ngantuk bgt rasanya.


Ya Allah, kangen kasur. huft.


Tak lama kak Arden datang dengan yg lain, dan ada ... Leo?


Ngapain sih ni anak ikut?


Radit terlihat sangat tidak suka melihat Leo datang bersama kak Arden. Dia lalu menarik ku ke sampingnya. Tapi aku malah senyum senyum. Rasanya aku suka, kalau Radit cemburu  seperti ini.


"Gimana? Ketemu?" tanya kak Arden.


"Kagak. Raib ke mana sih itu anak ya?" sahut Danu dengan mendengus sebal.


"Ikut gue!!" kata Leo lalu ngeloyor begitu saja melewati kami.


Dia membawa kami ke bawah tangga dekat gudang.


Ternyata ada pintu kecil di sini, di bawah tangga.


Pintu ke mana ya?


"Aku kok baru tau di sini ada pintu?" tanyaku.


"Ya kamu main nya cuma ke kantin, perpus. Mana tau ada pintu rahasia gini,"jawab Leo santai..m


Apa? kamu? Bukan nya dia biasa manggil elo gue?


Radit makin sebal dengan Leo yg sok akrab dengan ku.


Kreeekkk.


Kreeeekkk


"Ke kunci gaess," kata Ari saat membuka pintu tersebut.


"Minggir." Leo masuk ke kerumunan dan kini berada di depan pintu itu. Dengan sekali tendangan dari Leo, pintu langsung terbuka lebar.


Kini hanya terlihat lorong yg sangat gelap di hadapan kami.


Entah di mana ujung lorong ini.


Apa ini yg katanya lorong bawah tanah yg menghubungkan dengan sekolah sebelah?


"Serius dia ke sini?" tanya Danu.


"Iya, ih. Gelap gini. Gak mungkin kayaknya deh. Secara cewek gitu loh," timpal Ari.


"Ya kalau dia sadar ya nggak bakal ke sini. Orang dia lagi ketempelan," ujar Leo menanggapi dengan santai,"kalau kalian takut, biar gue aja yg masuk."


Dia masuk begitu saja meninggalkan kami di luar.


Berani banget dia sumpah.


Eh, nggak heran sih, temen nya aja jin. Pantes aja dia santai gitu.


Kami saling pandang, menunggu kesepakatan bersama, kira kira mau masuk apa nggak nih.


Dan setelah diakhiri anggukan dari kak Arden, kami putuskan masuk ke dalam.


Walau diiringi dengan dengusan Ari yg sudah pasti tidak setuju dengan hal ini.


Kami nyalakan senter karena lorong ini begitu gelap.


"Ini PLN sentimen banget deh. Pakai dimatiin listrik di mari," celetuk Dion.


Plaaakk!


"Bego!! Mana mungkin listrik sampai kemari. Ini kan bekas tempat persembunyian jaman penjajahan dulu! Mana ada listrik nya!!" tukas Dedi.


"Iya, bego banget, lagian ngapain ni tempat dikasih listrik. Tempat jin buang anak gini mana mungkin dikasih listrik. Kurang kerjaan banget PLN," tambah Danu.


"Heh! Gak usah sebut sebut jin deh!!" timpal Ari sambil bergidik ngeri.


"Udah udah. Jangan pada ribut. Kita fokus dulu nyari Friska," sahut kak Arden.


Kami terus menelusuri lorong ini. Entah akan ada di mana ujung nya.


Namun, kami menjadi bimbang dengan apa yg ada di hadapan kami sekarang. Dua buah lorong yg terpisah.


"Duh, mampus deh! Gimana dong  ini?" tanya Ari.


"Oke deh. Yuk.." sahut Dedi semangat.


Akhirnya kami pun terbagi menjadi 2 kelompok.


Aku, Radit, Doni, Danu dan Dion.


Sisanya dikelompok kak Arden.


Aku berjalan menyusuri lorong sebelah kanan.


Jalanan yg agak becek, membuat langkah kaki berdecak membuat suara berisik di sepanjang lorong.


Deg!


Duh, pakai acara nongol lagi. males banget, sumpah.


Seorang pejuang dengan pakaian coklat, dan bendera merah putih yg diikat di lengan nya terlihat sedang mondar mandir di depan kami.


Kutarik Danu yg terus berjalan.


"Apaan sih, Aretha?"gerutunya.


"Nanti dulu."


"Kenapa?"


"Itu tuh, "kutunjuk di mana sosok itu berada.


Mereka menatap nya namun malah kembali melihatku bingung.


"Kalian nggak liat, ya?"tanyaku sambil kupandangi wajah mereka satu persatu.


Mereka menggeleng.


Kutepuk jidatku, entah karena kesal, sebal, gemas, ah pokoknya semua jadi satu deh.


Aku mengisyaratkan mereka jongkok untuk bersembunyi.


Kami jongkok dibalik tumpukan kayu yg sudah lapuk.


"Eh, Tha. Jita mau ngapain di mari?" tanya Dion.


"Ntar. Aku baca doa dulu buat yg di depan. Aku males kalau nanti dia ngikutin kita," sahutku.


Lalu gumam kan beberapa doa.


Dan tak lama sosok itu pergi dari sana.


"Aman," bisikku ke belakangku. Aku kini berdiri kembali. Diteruskan oleh Radit. Karena posisi kami sekarang seperti sedang berbaris.


"Aman," sahut Radit lalu dia menoleh sedikit ke belakangnya.


"Aman.."


"Aman."


"Aman."


"Aman."


"Ya udah yuk. Lanjut," ajakku ke mereka.


Tapi tunggu..?


Satu, dua, tiga, empat, lima... En... Enam???


"Eh, Aku salah denger nggak sih?"


Aku berhenti berjalan dan Radit yg ada di belakangku akhirnya menabrak ku.


"Duh, Sayang. Kok berhenti mendadak sih?" gerutunya.


"Kok enam ya tadi?" tanyaku ke dia.


"Enam? Apanya yg enam??"


"Yg nyahut tadi..m Kan harusnya 5??" tanyaku lalu melongok ke mereka.


Wajah mereka memucat.


Lalu saling lirik dan terakhir yg mereka tuju adalah Dion. Karena dia yg paling belakang.


Dion terlihat menelan ludah, dan gemetaran.


Di belakang nya ada sesosok wanita dengan memakai pakaian yg bagus. Mirip noni belanda jaman dulu, dengan wajah cantik, namun pucat pasi. Membawa payung yg penuh dengan darah. Dia menyeringai pada kami.


Aku langsung berlari, diikuti mereka sambil teriak teriak tidak jelas.


Akhirnya tepat di ujung lorong aku melihat sebuah pintu.


"Jalan keluar tuh kayanya," seruku.


"Buruan."


Saat sampai di pintu itu, keadaan memang terkunci.


"Duh, kan.. Pakai dikUnci lagi nih.."


"Minggir minggir." Radit menendang pintu itu hingga terbuka.


Dan ternyata kak Arden sudah ada di sana bersama yg lain, dan ada Friska dan Leo juga.


Friska dalam kondisi tidak sadar sedang dibopong Redi.


Dan setelah ku amati, ternyata kami sedang ada di sekolah sebelah.


"Huft... Gak lagi lagi deh masuk situ. Sumpah," kataku sambil ngos-ngosan.


"Capek ya, sayang?" Tanya Radit sambil membetulkan anak rambutku yg berantakan.


Leo langsung pergi begitu saja ke gerbang sekolah depan, dia lompati pagar itu dengan mudahnya.


Dasar aneh!