Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
39. Akhir Kisah


Awalnya sedikit demi sedikit dan lama-lama nampak juga banyak warga desa yang berduyun datang. Mata mereka menyala, dan hembusan dari aroma mulut mereka berkumpul tak sedap.


"Arrgggh, Radit. Tunggu aku, tunggu ... Aku takut sekali."


"Ayo, lari yang cepat. Nanti mereka bisa datang kepada kita dan bisa-bisa kita jadi santapan mereka malam ini."


"Jangan ngomong aneh-aneh deh. Gimana ini, orangnya makin banyak saja?" suara Aretha semakin menggigil gemetar hebat.


Di sepanjang jalan desa, beberapa warga desa berjalan sangat menakutkan. Mereka mengisi beberapa ruas jalan yang sedikit sempit. Bentuk mereka sangat mengerikan sekali, layaknya zombie yang hidup sulit dan matipun enggan. 


Ada yang diam hanya berdiri memagari beberapa jalan keluar,. Adapula yang berjalan ke arah Aretha juga Radit dan menakutinya. Dengan langkah lebar dan loncatan kencang, Radit merinding sendiri.  Lain dengan Aretha yang berlari pincang sambil berkomat-kamit berdoa. 


Keajaiban dusun Kalimati saat ini sudah tak bisa di elakkan lagi. Kenyataannya memang semua mitos yang terdengar di luaran sana kini disaksikan oleh Aretha juga Radit.


"Radit, aku capek." Aretha menarik nafasnya berulang kali. Ia memompa dadanya agar mengisi semua rongga nafasnya dengan oksigen sekitar. Meski semua tidak sesempurna di hari biasanya.


"Kamu pasti bisa, Aretha jangan menyerah, mereka semakin mendekat cepat sekali."


"Aku tidak bisa terus berjalan. Rasanya aku tak kuat lagi, lebih baik kamu tinggalkan aku saja." 


"Tidak, aku tidak mungkin meninggalkan kamu sendirian di sini," elak Radit semakin mencengkram erat tangan Aretha sang belahan hati.


"Kalau kamu  ada di sini, aku juga tetap di sini," Radit tetap mencetuskan keputusannya.


"Jangan keras kepala," sambar Aretha sambil berbincang dengan suara bervolume yang penuh. Mereka tetap berjalan seadanya dengan kekuatan yang tersisa. 


Sedangkan para warga zombie itu terus berjalan mengikuti kemana arah suara berada


Aretha berpikir sambil terus berjalan. Mendengar apa yang di ucapkan Radit, membuat Aretha yakin atas kecintaannya. Semua menumbuhkan rasa percaya diri Aretha hingga dia tak lantas putus asa.  


Aretha pun terus menelusuri beberapa jalanan di tempat itu dengan mulut membungkam.  Rasa lelah itu tak di rasakan oleh keduanya, ketika mereka dalam Ng bergandengan. 


'Sttt. ternyata, mereka tidak mengikuti kita, jika kita tak bersuara," bisik Radit. 


Aretha melirik sekitar dan benar adanya. Semua warga itu seperti kehilangan hal yang mereka tuju ketika Radit juga Aretha membungkam mulutnya.


'Benar, mereka tidak mengikuti kita.' Batin Aretha seolah menjawab ucapan Radit sambil mengendikkan kepalanya berulang kali dan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.


Radit mengarahkan Aretha ke lain arah. Mereka memutuskan untuk tidak mengambil arah jalan umum di tempat itu. Hingga Radit menarik tubuh Aretha untuk mengarak ke alur hutan kembali.


Aretha sempat ragu dengan keputusan Radit. Namun sebagai istri, apa salahnya jika dia menuruti semua anjuran suaminya dengan patuh.


ARetha pun ikut melangkah kemana suaminya berjalan. Hatinya masih dirundung ketakutan. Sampai-sampai dia tak bisa berpikir lagi. 


Menggunakan kaki jenjangnya, Aretha pun berjalan pontang-panting. Sampai pada detik yang sama Aretha tidak sengaja menginjak beberapa helai ranting pohon yang berserakan di hutan itu. 


Krek!


Betapa terhenyak nya Aretha saat itu hingga kedua pupil matanya membulat. Radit ikut terkejut mendengar suara ranting di balik kaki Aretha yang belum lepas dari pijakannya.


Sontak Aretha menoleh ke arah dusun tersebut. Berbondong-bondong warga yang telah berubah jadi mayat hidup itu berlarian dari setiap penjuru arah hanya untuk menghampiri asal suara itu.


"Aretha, lari!" 


"Radit, aku takut ...," teriak Aretha lekas tunggang langgang lari mengekor di balik punggung sang suami.


Aretha dan Radit lari dengan cepat secepat kilat karena di kejar-kejar oleh makhluk aneh itu. 


Arah hutan menjadi pusat pertama pelarian keduanya. Namun, tak lantas perjuangan mereka selesai sampai di sana. Hutan di tengah malam buta semakin mencekam. Bola bulat yang benderang di atas langit itu, satu-satunya pencahayaan bagi Aretha juga Radit. 


Mengandalkan bulan dari keagungan sang kuasa, mereka terus berjalan mengitari hutan. Alih-alih larinya terhenti, makhluk itu semakin berduyun datang dengan banyak pasukan.


Untuk mengecoh para pasukan makhluk aneh itu, Aretha dan Radit kembali membungkam mulutnya dan mengarah ke sebuah celah. Mereka memasuki lorong kecil untuk sampai di sebuah pemukiman warga.


Radit menunjuk dengan telunjuknya sebagai penunjuk arah. Untung daja, Arthea saat itu mengerti apa yang di isyarat kan sang suami.


Hingga sampai di sebuah pemukiman, Arthea dan Radit bisa bernafas lega ketika menoleh kebelakang ternyata para pasukan zombie itu telah enyah seketika.


"Mereka pergi, tunggu sebentar. Aku lelah sekali, aku ingin nafas dulu sebentar," ucap Radit sambil menghempaskan penatnya.


"Kamu pikir, kamu saja yang lelah? Aku juga capek."


"Terus, gimana kaki kamu?" 


Aretha memutar pergelangan kakinya. "Sepertinya agak baikan," balas Aretha.


"Syukurlah. Sekarang, kita jalan santai aja dulu ya? Sambil kumpulin nafas dulu."


"Ya, aku setuju." Aretha pun terus membuntuti sang suami.


Keduanya berjalan beriringan di bawah rembulan malam. Rembulan malam yang cukup memberi aroma kemistisan. Sampai di tengah perdesaan, Aretha dan Radit meringis ketakutan. 


Suara hewan-hewan malam saat itu seperti makhluk yang sedang menangis. Terkadang terdengar ada nada-nada wanita yang yang sedang tertawa cekikikan dan tak la dari itu suara tangisan pun berlanjut.


Genggaman tanga Arthea semakin melilit pada gandengan Radit. 


"Aku takut ..., aku ingin pulang saja," ucap Arthea setengah hati.


Pemukiman nampak mencekam. Beberapa rumah yang berantakan, juga kondisi desa yang rusak parah membuat bulu kuduk Arthea semakin bangkit berdiri.


"Iya, kita akan pulang. Tapi, ke mana lagi jalannya? Mana pemukiman ini semakin aneh saja," timpal Radit sedikit kesal.


"Jadi kamu menyalahkan aku, karena mengajak kalian ke sini?"


"Bukannya begitu. Tapi, kamu harus sabar dulu dong!" Radit yang hilang akal malah mengajak istrinya cekcok di waktu yang tidak tepat.


Di tengah percekcokan itu, Radit menarik tubuh Arthea saat mendengar suara aneh.


"STT! Diam!" Keduanya bersembunyi di rumah bekas salah satu warga di tempat itu.


"Apa?" Bisik Arthea tidak mengerti.


Tak menjawab, Radit menundukkan kepalanya dan bersembunyi di balik tembok penghalang antara luar ruangan rumah pemukiman itu, dengan area luar.


Arthea yang sedikit membangkang, mendongak dan melihat ke arah luar saking penasarannya. Perlahan dia menekuk kepalanya hingga arah luar wilayah terpampang nyata di pelupuk matanya. Awalnya sepi, namun kemudian dia tak kuasa menahan keterkejutannya.


Mata Arthea sontak membelalak saat melihat sebuah sosok aneh.


"Waaaaarrrgghhh!" Jeritnya menggelegar.


Semua yang tadinya adalah warga desa dusun kalimati, sekarang sudah. Berubah jadi makhluk menyeramkan lainnya. Naasnya lagi, Arthea dan Radit jadi bulan-bulanan mereka. Pasalnya, hanya ada mereka dan aroma darah segar dari tubuh mereka. 


Biasanya para makhluk yang dianggap siluman itu, akan mencium aroma segar dari sebuah dar, apalagi Arthea masih menitikkan darah dari bagian kakinya.


""Radit, ayo lari.  Mereka ada di belakang kamu."


"Hah, lari lagi? Astaga, sampai kapan kita harus berlari?"


"Buruan, tunggu apalagi sih?"


Radit yang baru saja menghela nafas panjang ikut menoleh dan melihat apa yang tengah di tunjukan oleh Arthea. 


Benar kata Arthea, jika sebengal apapun seorang istri, pasti cerewetnya menjurus pada kebenaran. Arthea memberi tahu kenyataannya, kalau orang yang bertitel warga saat itu, kini semua sudah menjelma menjadi manusia jadi-jadian.


"Arrgh, lari lagi!" serogoh Radit lantas mengayuh kakinya untuk berlari sekencang-kencangnya.


"Kita dosa apa sih sampai di Uber mereka sampai segininya?" tanya Radit masih tak habis pikir.  


"Dia akan terus mengejar kita, selama darah di kaki aku terus mengalir." Arthea berusaha menjelaskan dengan petunjuk matanya. Meski berlari, manik matanya mengarah pada luka di kakinya.


"Darah?" 


"Iya, mereka suka darah segar. Tak hanya itu saja, mereka juga selalu peka pada gerakan dan suara-suara," urai Arthea menjelaskannya.


"Hah, gerakan? Jadi, sebaiknya kita cari persembunyian biar bisa diam gitu?"


"Iya, cari tempat sembunyi dong, Dit." 


Kaki mereka masih beradu gulatan untuk tetap berlari menjauh dari kejaran makhluk aneh itu.


Setelah lama berkeliling Radit tak mendapat solusi. Nafas Arthea pun sudah hampir habis. Otak Radit pun ikut berputar mencari akal.


"Bagaimana ini?" tanya Arthea terengah-engah.


"Aku juga nggak ngerti, harus bagaimana. Yang jelas, sepertinya kita terjebak di hutan ini. Bulan saja sudah mulai tertutup awan, hari kian gelap." keluh Radit sambil berlari kencang.


"Ah, sudahlah. Bukan waktunya mengeluh, setan itu terus aja mengejar kita. Aku sudah lelah," Arthea kebingungan.


Mengingat para makhluk itu menyukai darah segar, Radit berpikir kalau dia harus menghentikan darah di balik kaku Arthea. Karena kemanapun mereka lari, jika darah itu tetap mengalir pastilah saja masalahnya tidak aka selesai.


Hingga Radit gerak cepat meloncat dan meraih sebuah daun pada pepohonan itu. Lalu menyimpan luka di balik punggung kaki Arthea yang berdarah itu.


Arthea mengerti dan faham apa yang sedang di usahakan oleh Radit.


"Pelan-pelan. Sakit sekali tahu."


"Iya, maaf habis nggak ada cara lainnya. Tutup mulut kamu dan usahakan tahan nafas dulu," ujar Radit memberi ide briliannya.


"Apa? Tahan nafas?"


"Iya, stttt!" Radit dan Arthea menahan nafasnya dan diam tak bergerak. Semua para makhluk seperti kehilangan arah buruannya.


Sampai mereka pindah arah ke tempat lain, Arthea pun menemukan pohon besar dengan lekukan yang besar pula.


"Kita bersembunyi di sana saja ya?!" anjir Radit saat menolehnya ke arah batang kayu itu.


"Hemmh, aku juga berpikiran seperti itu Lo, ayok!" Baru terasa sakit di belahan kaki Arthea, ia pun berjalan menyeret-nyeret kakinya. 


"Sini!" Radit membawa Arthea dan membantu sang istri untuk duduk bersandar di balik lekuk kayu yang besar itu. 


"Huft, akhirnya kita bisa beristirahat juga," ucap Arthea menghembuskan nafas lega.


"Sttt, kita beristirahat di sini beberapa saat saja. Mudah-mudahan ada tim penolong akan datang mencari kita. Kita juga jangan berisik, karena kalau makhluk itu menemukan kita lagi, maka nasib kita bisa habis." Radit mencoba untuk menegaskan demi hal yang sebaik-baiknya.


"Benar kata kamu." Arthea kembali menyandarkan punggungnya di dasar pohon itu. Di ikuti Arthea, keduanya bisa sedikit bernafas lebih leluasa lagi. Karena jika di hitung mereka telah berkeliling separuh malam itu. 


Anehnya, langit tak pernah segelap apa yang di bayangkan oleh keduanya. Rembulan seolah menemani Radit juga Arthea melewati hari aneh itu. 


"Bagaimana luka kamu?" tanya Radit perhatian.


"Sepertinya darahnya sudah berhenti. Berkat daun itu, lukaku kering. Udah nggak terlalu sakit lagi," jelas Aretha.


"Baguslah." Radit sedikit mengembangkan senyumannya, hanya untuk mengobati luka dari mental keduanya.


"Hoams," mulut Aretha membuka lebar menguap kencang. Rasa kantuk sedikit bergelayut di kepala sang istri. Akibat lelah terus berkeliling dan mengitari wilayah itu, mata Aretha pun sulit untuk di buka.


"Kamu ngantuk?"


"Ah, enggak," geleng Aretha.


Radit pun menyilangkan kakinya dan membuat pahanya sedikit nyaman untuk menjadi pengganti bantalan bagi Aretha.


"Kalau kamu ngantuk, tidurlah di pangkuanku. Kamu emang pintar, tapi sayang sekali kamu tidak pintar menyembunyikan kebohonganmu. Jadi, jangan berbohong lagi. Kalau kamu ngantuk, ya tidurlah!" Radit pun sudah bersiap untuk menjadi tempat ternyaman bagi Aretha.


Aretha menyumbingkan senyumannya, karena kala itu dia benar-benar mengantuk. Di bawah langit uang luas, Aretha pun menidurkan dirinya di atas pangkuan Radit. 


"Kalau ada apa-apa, bangunin aku ya!"


"Iya," Jawa Radit singkat degan menyampirkan senyumannya.


Melihat sang istri tertidur lelap, rasa tenang terasa alam itu hanya milik berdua saja.  Malam itu, Radit pun harus tetap menghadang rasa kantuknya demi melindungi Aretha.


Bukan hanya rasa kantuk itu saja yang membelenggu. Cacing di dalam perutnya pun sulit untuk di ajak kompromi. Hingga sesekali, Radit menoleh ke arah belakang. Radit sontak merapatkan persembunyiannya saat dia melihat sosok-sosok makhluk aneh itu masih berkeliaran di wilayah peristirahatannya. 


Takut membuat dirinya kebal dengan angin yang menghantamnya. Ia tetap bersiaga, takut jika mereka akan tiba-tiba saja memburu kepadanya juga Aretha.


Suara lolongan anjing, berbaur dengan suara-suara aneh menakutkan.


"Gimana ini? Mereka masih ada di sana. Apa aku harus membangunkan Aretha?" tanya batin Radit pada dirinya sendiri.


Namun melihat bulu mata Aretha terkatup nikmat, dia pun tak bisa membangunkan istrinya itu.


Hingga akhirnya Radit memutuskan untuk membungkam mulutnya saja. 


Malam yang tak pernah redup itu, membuat Radit pun ikut lelap dalam mimpi. Mereka tertidur di tengah beberapa mata bahaya yang mengintainya.


Hingga mimpi Radit membuat dirinya tercengang. Ia mendengar suara-suara aneh memanggil namanya.


"RADIT! ARETHA!" Teriakan itu jelas-jelas membuat keringan Radit memuncak dan dia terhenyak bangun dengan cepat.


Semua gerakan cepat itu membangunkan perempuan yang sedang enak tidur di atas pangkuannya.


"Radit, ada apa?"


"Kamu dengar suara orang memanggil kita?" tanya Radit.


"Ah, tidak." Aretha masih menggosok kedua matanya, mengibas beberapa kotoran kecil di balik wajahnya yang berdebu.


"Dengar baik-baik."


"Itu hanya mimpi kamu saja," elak Aretha.


"Bukan, ini beneran nyata." Radit benar-benar mengutarakan apa yang ia rasakan.


Kening Aretha ikut mengernyit aneh, saat memusatkan pendengarannya lebih dalam lagi.


"Oh, benar. Itu ada orang yang memanggil kita," balas Aretha merasa mendapatkan sedikit titik terang dari petualangannya itu.


"Radit! Aretha!" Suara itu kembali terdengar nyaring dan memekik di kedua telinga itu. Aretha pun bangkit dari duduknya setelah Radit pun ikut bangun. 


Matahari mulai menyorot pagi itu. Pagi, malam, dan pagi lagi, mereka menghabiskan di tempat itu berada tengah bertahun-tahun. Padahal kenyatannya, di hitung dari jam, mereka baru melewatkan beberapa jam saja.


"Ayo kita keluar."


"Aku tidak mau. Aku takut, para warga aneh itu masih ada di sana."


"Tenang saja. Di sini kan ada aku. Ayo!" Radit mengendap-endap keluar dari persembunyiannya di buntuti oleh Aretha.


Ketegangan terasa saat ketakuta itu masih mengelilingi netra dalam hatinya. Tapi, semua itu sekejap hilang jetika semua yang mereka takutkan ternyata tengah tiada.


"Hutf, akhirnya mereka sudah pergi."


"Benar. Ayo kita cari asal suara yang terus meneriaki nama kita," semangat Aretha bangkit lagi.


Semua dusun Kalimati saat ini terasa sangat sepi sekali. 


Keduanya berlarian di tempat yang sudah lengang. Radit mengintip ke semua arah ketika ia mendengar gerak-gerik kehidupan dan suara aneh di sana.


Setelah mengintip, pada waktu yang bersamaan ternyata para warga desa Alas Purwo dan Hendra yang datang menghampiri. Langkah mereka terdengar semakin mendekat saat beberapa ranting di alas tanah tertimpa tubuh tinggi besar itu.


"HENDRA?!"


"Hei, kalian ada di sana?" Dari kejauhan mereka pun saling mendekat, dan meraih pelukannya masing-masing seperti sedang menemukan harta yang berharga. Hendra tak menyangka jika dia akan kembali bertemu lagi dengan dua sahabatnya itu. 


"Aretha, Radit. Aku pikir, kalian sudah ...," Suara Hendra terhenti saat Aretha menyambar.


"Sudah apa? Sudah mati, hah? Enak saja ya, kalau bicara. ayo bantu aku!" Canda Aretha memotong kangen-kangenan antara dua sejoli itu. Aretha pun menaikan kedua tangannya di belahan pundak Radit juga hendra.


"Eh, bukan gitu maksud aku. Aku hanya khawatir saja," ucap Hendra tak enak hati dengan menunduk malu.


Semua para warga pun berkumpul dan menyaksikan kebersamaan mereka.


"Syukurlah kamu datang Hendra. Kami benar-benar lelah." Radit seperti tak menyangka dengan kedatangan temannya itu.


Hendra melirik keduanya dari atas hingga ujung kaki. Tak ada sedikitpun penampilan yang baik dari keduanya. Lusuh, dan bau tak sedap cukup menyelimuti keduanya.


"Astaga, kalian kacau sekali?"


"Gimana tidak kacau, sedari tadi kita ...," Ridwan menahan ucapannya saat Aretha membelalakkan mata.


"STTT." Mata Aretha mengedip memberi sedikit isyarat setelah dirinya melirik banyak orang di sekitar.


"Gimana kalau sekarang kita keluar dulu dari sini. Aku lelah sekali dan ingin beristirahat."


"Ide bagus, aku juga lelah." Radit ikut menyambar.


Para warga desa Alas Purwo pun ikut menggiring keduanya. Radit dan Hendra membantu Aretha dan membopong wanita itu keluar dari dusun Kalimati. 


Akhirnya mereka bisa keluar dengan selamat, meski tubuh Aretha dan Radit terasa remuk seperti sudah bertempur di Medan perang.


Sebelum meninggalkan dusun itu, Aretha sempat menoleh dan heran dengan keadaan tempat itu yang tiada berubah. Sama sekali tidak ada bekas pelarian antara dirinya dengan Radit. 


Bahkan tak ada seorang pun makhluk aneh yang semalam mengitarinya. 


"Kamu lihat apalagi?" tanya Radit.


"Tidak, ayo kita pulang."


Lepas sampai di Desa Alas Purwo, Aretha dan Ridwan duduk istirahat di sebuah rumah salah satu penduduk.


Di temani air putih, mereka menikmati harinya seperti tengah keluar dari penjara.


"Kalian tadi kemana saja?" tanya Hendra heran.


Radit dan Aretha saling bertatap wajah, lalu tersumbing mengingat perjuangan juga pengalaman mereka hari itu cukup menggiurkan.


"Malah ketawa?" 


"Kami hanya tidur santai saja di sana. Tempatnya adem, sampe kita lupa kalau itu bukan kamar kita," canda Radit menaikan sebelah alisnya.


"Yang bener? Orang di sini semua khawatir sama kalian, eh malah ketiduran?" Hendra tak percaya dengan candaan dari keduanya.


"Beneran tuh kata Radit. Kami pikir, tadi suara kamu itu adalah mimpi. Tahunya eh nyata. Suara kamu semakin jelas dan langka kaki kamu semakin dekat, jadilah kita terbangun," balas Aretha menggoda Hendra dengan kebenarannya.


Saat itu wajah Hendra benar-benar masih pucat, namun Aretha dan Radit menanggapi semuanya dengan guyonan karena mereka masih lelah memikirkan hal yang tak semestinya dia pikirkan saat itu.


"Bisa pulang sampai sini saja, kami bersyukur." Radit kembali menimpali.


"Terus, bagaimana dengan orang yang kalian cari?"


"Nenek Siti ..., Sudahlah jangan di bahas." Aretha merasa perih kala dirinya tidak berhasil menyelamatkan seseorang yang benar-benar dekat dengannya. Sampai-sampai dia sulit untuk berkata-kata.


Radit memberi isyarat kedipan mata pada Hendra agar dia tidak melanjutkan ceritanya.


"Bagaimana dengan kamu dan yang lainnya? Selamat?" Radit malah balik bertanya. Semuanya seolah-olah sulit untuk bisa di guar dengan kata-kata. Petualangan hari itu benar-benar menguras tenaga.


"semua selamat, aku sampai ke desa tapa kekurangan apapun. Semuanya juga selamat kok. Hanya saja aku kepikiran sama kalian, sampai-sampai aku harus mengerahkan semua warga untuk kembali ke tempat durjana itu." Hendra pun membalas dengan candaan.


Semua lelah dan capek, juga sakit di beberapa pelosok tubuh Aretha hilang saat melihat semua merebahkan senyuman.


Hanya dia masih memendam sedikit sakit karena Nenek Siti tak bisa dia selamatkan.


"Kenapa kamu sedih?" tanya Radit melirik ke arah Aretha.


"Tidak apa-apa. Aku hanya terharu saja. Aku sempat berpikir kalau kita akan mati berdua di sana. Tapi, nyatanya ...." Radit lekas merangkul pundak sang istri dihadapan Hendra. Ia tak mau melihat tetes air mata itu lagi.


Mengingat kejadian hari ini cukup menguras tenaga, Radit mencanangkan pengobatan untuk Aretha dan pertolongan pertama untuk sang istri.


"Hei, jangan pelukan di sini dong." Hendra protes.


Keduanya tersenyum mesra, meski hatinya masih ketakutan dengan hari yang telah terlewati.


"Hend, tolong bantu aku Carikan dokter di desa ini ya! Kasihan Aretha."


"Siap, laksanakan," jawab Aretha patuh.


Semua para warga menyuguhkan banyak makanan pada Aretha juga Radit. Mereka bagai penyelamat dunia saat itu.


Langit yang cerah kembali gelap. Hanya gelap kali ini berbeda dari hari-hari biasanya yang selalu menampakan suasana gaib. 


Saat ini kondisi di desa Alas Purwo kembali seperti semula. Tidak ada makhluk-makhluk aneh lainnya yang berkeliaran di desa itu.


Kesejukan alami malam itu begitu asri. Bahkan, Aretha dan Radit mengajak Hendra untuk pulang ke rumah asal mereka setelah Aretha merasa dirinya membaik.


"Benar-benar pengalaman yang sangat seru ya, sayang?" ucap Aretha bangga.


"Lain kali, kita tidak usah kembali ke dunia aneh-aneh lagi ya! Aku, tidak mau." Radit mencairkan suasana hati mereka.


"Kalian memang hebat," ucap Hendra yang menyaksikan kebersamaan Aretha dan juga Radit yang sangat akur dan romantis.


"Terimakasih, atas bantuan kalian, ya!" ungkap salah satu perwakilan dari warga Alas Purwo.


"Sama-sama ya pak. Kami juga banyak berterima kasih karena kalau tidak ada kalian, kami tidak mungkin akan kembali dengan selamat." Radit kembali merangkul sang istri bangga.