Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 11 Terungkap


Radit diam saat melihat ke rumah kosong di sana. Dia terlihat terkejut dan seolah lidahnya kelu untuk melanjutkan kalimat atau mungkin penjelasan yang ingin ia utarakan untuk memperkuat statmen nya tadi. Aku lantas mendekat, mengelus bahunya lembut. "Memang ada yang aneh di rumah itu, Dit. Bahkan di desa ini ada semacam peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh warganya, dan aku sama Danu kemarin sempat melanggarnya. Huh!" desahku dan langsung mendapat perhatian Radit. Dia menoleh dan menatapku dalam. "Maksud kamu apa? Peraturan apa? Kamu diapain sama mereka?" tanyanya dengan menaikkan nada bicara.


"Bukan gitu maksudnya, Dit. Mereka baik, cuma ...." Semua cerita dan kejadian yang aku serta Danu alami selama di sini, aku ceritakan ke Radit, tiap kejadian, tiap orang yang kami temui, bahkan tiap detailnya. Sampai kejadian puncak semalam. Bagaimana teror itu kami alami dan membuat aku dan Danu sempat tidak betah di sini. Hanya saja kewajiban yang memaksa kami tetap di sini yang membuat aku dan Danu bertahan. Jika Danu berpikiran untuk menyerah, maka aku akan menguatkan niatan awalnya dan alasan kenapa kami bisa sampai berada di tempat ini. Begitu pun sebaliknya. Lagi pula aku masih penasaran terhadap sosok - sosok yang sudah kami jumpai kemarin. Sosok pria yang mencekik Nenek, sosok Ummu Sibyan, Kuntilanak yang sering muncul, dan belatung yang ada di piring pisang goreng Dr. Daniel. Sampai sekarang aku belum menemukan penyebab hewan itu ada di makanan, bahkan keluar dari pisang goreng yang rasanya masih baru dimasak beberapa menit sebelum di hidangkan.


"jadi gitu?" tanya Radit terlihat seolah berpikir keras. Ada gurat kecemasan di wajahnya dan juga rasa penasaran akan sebab penampakan serta peraturan desa ini. "Tha, soal larangan keluar rumah saat magrib, itu di beberapa tempat memang ada hal semacam itu. Bahkan baju yang terlanjur masih di jemuran setelah malam, sebaiknya dicuci dulu, karena setan akan menempel di sana. Sama hal nya tentang anak kecil yang nggak boleh keluar rumah, malah bayi yang baru lahir, yang belum 40 hari kalau magrib harus dipangku atau ditungguin. Karena rawannya gangguan di waktu tersebut. Cuma ... aku baru tau, kalau desa ini bisa se-ekstrem itu. Warga nggak boleh keluar rumah dan tutup semua pintu jendela, karena jin itu bakal datang? Itu aneh, Tha. Atau bisa dibilang, jin itu sangat berani dan luar biasa sih menurutku." Pengetahuan Radit tentang ini patut aku acungi jempol, dia mulai banyak belajar tentang segala hal. Dari agama yang makin dia perdalam, dan juga tentang jin dan syetan. Dia sadar kalau aku sangat dekat dengan 'mereka' dan pasti dia juga akan terkena imbasnya karena selalu dekat denganku. Radit makin peka dengan makhluk halus, dan sangat wajar jika terkadang dia tidak bisa membedakan mana hantu mana manusia, apalagi jika wujud mereka tidak mengerikan. Toh, aku juga demikian. Beberapa kali aku bertemu seseorang yang kupikir manusia, nyatanya mereka makhluk astral.


"Iya, mungkin karena di sini masih jauh dari keramaian, letak geografisnya menunjang keberadaan 'mereka', makanya mereka sangat eksis, Dit."


"Tapi kamu bagaimana? Kalau kamu nggak kuat di sini, besok ikut aku pulang aja, ya." Radit berusaha memberikan dukungan penuh agar aku pergi dari tempat ini. Hanya saja aku masih mempertimbangkannya. Rasanya tidak adil, jika aku menyerah hanya karena makhluk - makhluk itu. Toh, ini bukan kali pertama aku berurusan dengan makhluk astral. Aku pasti bisa menghadapi 'mereka'.


"Insya Allah aku masih tahan kok. Nanti kalau memang aku nggak tahan lagi, aku bakal kabarin kamu, buat jemput. okey?" tanyaku meminta pendapatnya.


"Ya sudah, aku nurut kamu saja. Kamu sudah dewasa dan tau mana yang terbaik. Cuma hati - hati, ya sayang. Untung ada Danu di sini sama kamu, coba kalau kamu sendirian, aku bakal bawa kamu pulang sekarang juga!"


Aku lantas berhambur memeluknya. Berat rasanya, tapi inilah kehidupan dan jalan yang sudah aku pilih. Aku harus konsekuen dengan pilihanku ini. Apalagi mengingat wajah anak -anak kemarin yang begitu antusias belajar, rasanya aku tidak tega meninggalkan mereka yang baru mulai kembali belajar setelah beberapa tahun tidak lagi mengenyam bangku pendidikan.


Hari ini Radit juga meminta untuk ikut bersama kami. Dia bilang akan membantu di madrasah. Radit ingin mengenal kehidupanku selama di desa ini, melihat bagaimana warganya, dan anak - anak yang sejak tadi aku ceritakan.


"Akhirnya kita nggak jalan kaki kali ini, Tha," seru Danu dengan mata berbinar. Jarak dari rumah ke madrassah memang lumayan jika ditempuh jalan kaki. Beruntung ada Radit sekarang, kami bisa sampai ke sana hanya dengan duduk di mobil saja. Tanpa harus mengeluarkan tenaga dan keringat berlebihan.


Aku sudah duduk di kursi samping kemudi, Danu di belakang. Radit mulai menyalakan mesin mobil, tapi setelah distater berulang kali, justru mesin mobilnya tidak mau menyala. Ini aneh, dan tentu membuat kesal. Baru saja kami bersemangat menghadapi pagi ini, kini justru semangat kami meredup lagi. "Kenapa sih!" gerut Radit lalu turun dari mobil diikuti Danu. Aku pun akhirnya turun karena penasaran atas apa yang terjadi kali ini. Kemarin mobil Danu, sekarang mobil Radit.


"Perasaan sebelum ke sini udah aku bawa bengkel loh. Semua baik - baik aja, kenapa sekarang malah rusak. Padahal mobil ini selalu rutin service," gumam Radit masih memeriksa mesin mobilnya di bantu Danu.


"Ah, sudah lah, Dit. Percuma. Makin kesiangan kita ini." Danu menatap jam di pergelangan tangannya, mengibas - kibaskan tangan ke wajah karena rasa panas yang mulai menjalar ke tubuh. Memang benar, cuaca terasa panas sekarang. Apalagi mereka mulai berkutat dengan mesin mobil sejak tadi.


"Dit, kamu di sini aja bagaimana? Biar aku sama Danu aja yang ke madrasah. Kamu benerin dulu mobilnya. Soalnya aku butuh ke kota ini, ada beberapa barang yang perlu dibeli," tuturku. Radit lantas mengangguk. Alhasil kami berdua meninggal Radit di rumah, sementara aku dan Danu meneruskan kegiatan kami. Kasihan anak - anak yang menunggu kami sejak tadi.


_________________


Mobil Radit sudah berhasil diperbaiki walau dengan perjuangan yang luar biasa. Aku bahkan melihat kalau dia sangat kelelahan. Tapi mobil ini perlu di dorong agar bisa menyala lagi mesinnya. Otomatis kami perlu bantuan dari beberapa orang. Sudah ada Danu, dan Pak Karjo. Kami butuh tiga orang lagi. Setelah meminta bantuan beberapa warga, kami berhasil menemukan relawan untuk membantu.


Mobil mulai dapat menyala, aku sekaligus berpamitan dengan Danu karena akan pergi sebentar. Rasanya tidak tega meninggalkannya di sini sendirian, tapi aku pikir hanya sebentar, jika bukan karena ada kendaraan, maka aku menahan diri untuk tetap berada di desa. Aku butuh obat untuk diriku sendiri dan untuk Nenek Siti. Rasanya aku punya resep manjur untuk luka di lehernya itu. Karena aku perhatikan, lukanya tidak juga membaik walau kami sudah menjalankan perintah dokter.


"Jangan lupa, pesanan gue!" tukas Danu saat aku sudah duduk di bangku samping kemudi.


"Iya, pasti. Paling kita balik sebelum malam. Jangan lupa, jangan keluar setelah magrib. Jaga diri, Dan." Aku merasa cemas, hatiku terasa tidak tega pergi.


"Santai aja, Tha. Gue nggak apa - apa kali. Udah gih buruan, nanti kemalaman."


"Dan! Bentar ya," pamit Radit. Danu melambaikan tangan dan mengangguk. Kami akhirnya mulai pergi meninggalkan rumah. Suasana Desa terlihat ramai dengan hilir mudik warga yang melakukan aktivitasnya, bahkan di tiap sawah dan ladang terlihat para laki - laki yang masih bercocok tanam.


"Sayang ... kamu kenapa?" tanya Radit.


"Aku? Memangnya kenapa?"


"Kamu kelihatan cemas, seperti nggak tenang."


"Hm. nggak apa - apa kok, Dit. Kalau bisa jangan kemalaman ya kita balik ke desa," pintaku.


"Oke. Siap."


_______


Kami mulai keluar dari desa, bahkan aku juga melihat mushola yang Radit bicarakan sebelumnya. Memang terlihat rusak dan sudah lama tidak dipakai. Letaknya berada di depan persis gapura desa.


"Sayang banget, ya, musholanya nggak dipakai. Padahal masih bagus sebenarnya." Bangunan itu memang hanya setengah permanen, bagian bawah sudah dikeramik, namun setengah bangunan ke atas masih semi permanen. Hanya berbahan dasar bambu dan kayu.


Ponselku mulai ramai dengan banyak notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab. Sinyal ponsel sudah mulai ada sekarang, walau sedikit setidaknya aku sudah bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Aku tersenyum saat melihat spam pesan yang dikirim Radit.


"Kenapa ketawa?" tanya Radit masih fokus menyetir.


"Ini, baca pesan kamu! Lucu." Aku tidak melepaskan pandangan dari layar pipih di depan. "Eh, dit, ada pom bensin nggak? Aku kebelet." Aku mulai menatap sekitar dan melihat beberapa rumah penduduk. Rasanya lega melihat ada peradaban selain desa Alas Ketonggo.


"Hm, kayaknya jarang ada pom bensin, Tha. Paling kita cari mushola saja ya. Sekalian salat Dhuhur."


"Oke." Aku kembali membaca pesan - pesan yang begitu banyak, dari Kak Arden, Bunda, Ayah, Kiki, dan Om Feri. Entah kenapa pesan dari Om Feri yang paling menarik perhatianku. Mungkin karena ada tanggung jawab di balik semua ini. Pekerjaan ini beliau yang tawarkan pada kami.


"Nah, itu ada mushola." Radit lantas menepi dan membuat aku menatap tempat yang dia tunjuk. Akhirnya kami berhasil singgah untuk salat dan merentangkan otot - otot yang kaku. Suasana mushola itu cukup ramai, ada beberapa orang pria yang sedang membersihkan tempat ibadah tersebut. Walau kami terlambat untuk mengikuti salat berjamaah, tapi waktu salat dzuhur masih cukup lama.


Beberapa dari mereka menatap kami heran, aku sadar karena kami adalah orang asing. Aku dan Radit segera mengambil air wudhu. Radit juga berusaha sopan kepada mereka, tersenyum ramah dan meminta izin untuk ikut salat di sini.


Aku mulai memakai sepatu di batas suci, beberapa pemuda bahkan orang tua terlihat masih berada di sekitar mushola. Radit menyusulku dan membahas akan makan dahulu atau melanjutkan perjalanan lagi.


"Maaf, mas dan mba ini dari mana, ya?" tanya salah satu bapak yang masih terbilang muda. Walau beberapa jenggotnya sudah dihiasi uban.


"Oh, iya, pak. Kami sebenarnya dari kota, tapi teman saya kebetulan mengajar di desa sana. Ini kami mau kembali ke kota, ada beberapa keperluan yang harus di beli," jelas Radit yang kini berdiri dengan sikap lebih sopan. Kedua tangannya digenggam dan tubuhnya sedikit membungkuk, tutur katanya juga sopan. Tidak terlihat sombong atau congkak.


"Desa yang mana ya, mas?" tanya bapak itu bingung. Aku kembali memeriksa pesan dari Om Feri karena tadi belum sempat membaca keseluruhan pesan tersebut.


"Di sana, desa alas ketonggo, pak." Radit menunjuk dengan ibu jari, arah datangnya kami tadi. Di saat yang bersamaan aku melotot saat membaca pesan Om Feri.


[Kalian nyasar ke mana sih, Tha? Om diteleponin terus sama kepala desa, katanya kalian belum sampai!] Pesan itu membuat darahku berdesir. Aku langsung berdiri dan menarik tubuh Radit. "Baca!" Aku menekan kepala, berusaha memahami situasi ini.


"Sebentar, desa alas ketonggo? Ini desa alas ketonggo, Mas." Penjelasan bapak tersebut membuat kami berdua menatap bapak tersebut.


"Pak, yang betul. Ini desa alas ketonggo?" tanyaku dengan wajah tidak percaya.


"Iya, betul. Jadi mba ini yang akan jadi guru bantu di desa kami?" tanya bapak itu lagi. "Mba ... Aretha, kan, namanya? Ini Mas Danu bukan?" Pertanyaan itu memperkuat pesan Om Feri.


"Iya betul, Pak, saya Aretha. Tapi ini bukan Danu. Danu masih di desa itu. Desa ... alas ketonggo."


"Desa alas ketonggo ya ini, mba. Maksud mba Aretha yang mana? Nggak ada desa lain di sini. Ini desa terjauh dari hanya satu - satunya. Nah, setelah desa ini, memang ada desa lain. Tapi kalau di sana ... nggak ada pemukiman penduduk, mba."


Tubuhku luruh ke tanah, aku menutup mulut dan satu yang aku pikirkan sekarang. Keadaan Danu! Jika memang ini desa alas ketonggo, maka desa itu ... apa?


"Terima kasih informasinya, Pak." Radit menarik tanganku. "Tha, kamu yang tenang. Kita jemput Danu sekarang."


"Jadi kalian malah datang ke desa itu? Dulu memang ada pemukiman penduduk di sana, tapi sudah kosong sejak 20 tahun lalu. Ada kejadian naas yang menimpa desa itu. Jadi desa ini yang paling ujung dari kota. Nggak ada desa lain."


"Tapi waktu itu saya melihat tulisan desa alas ketonggo di sana, Pak. Makanya saya sama Danu tetap meneruskan ke sana. Dan di sana ada kehidupan kok, Pak. Ada warga dan kehidupan yang sama seperti di sini," jelasku dengan menggebu. Reaksiku ini memicu beberapa penduduk mendekat.


"Bagaimana, Pak? Ada apa to?" tanya salah satu ibu yang mendekat setelah melihat kerumunan yang kami buat. Kakiku seolah mati rasa, bahkan tidak lagi terasa ada tulang yang menyangganya. Radit lantas menjelaskan semua kejadian yang aku ceritakan tadi pada warga desa ini. Kami duduk di teras mushola. Ibu tadi menatapku iba. "Yang sabar, Mba. Doakan saja temannya baik - baik saja." Beliau mengelus punggungku lembut, bahkan kami diberikan teh manis hangat yang didapat dari warung dekat mushola.


"Kan, Pak! Bener apa kataku. Desa itu bener - bener ada aktivitas gaibnya. Lah wong aku pernah lihat sendiri kok. Mba, jujur saya ini melihat kalian lewat desa kami dan masuk ke desa itu, saya sedang mencari rumput dekat mushola sana. Nah, saya bingung, kok ada orang yang masuk ke sana. Saya pikir kalian nyasar dan bakal putar balik, cuma saya memang nggak nge - cek. Apa kalian putar balik atau enggak," kata salah seorang pemuda dengan tubuh sawo matang.


Kepalaku makin berat, kesadaranku mulai hilang. Di akhir dengan jeritan Radit yang memanggil namaku, aku jatuh ke pangkuan ibu tadi.