
Hendra kembali terbangun di tengah malam. Lagi lagi dia merasakan haus saat sedang tidur nyenyak. "Hem, kenapa sih aku selalu pingin minum kalau udah tidur. Seharusnya lain kali aku siapkan minum sebelum tidur," gumamnya yang akhirnya beranjak mengambil air minum ke dapur.
Hendra tersentak, saat melihat ada teteh yang sedang duduk di kursi salah satu meja makan di dapur. Apalagi di tengah kondisi gelap. Langkah Hendra terhenti. Dia menelan ludah saat hendak menuju dapur. Entah mengapa kali ini dia justru tampak ragu-ragu untuk menyapa teteh. Kakinya terasa berat keberaniannya pun menjadi ciut. Padahal sebelumnya mereka sudah pernah bertegur sapa dan juga ini bukan pertama kalinya Hendra melihat Teteh berada di dapur Saat tengah malam. Namun pada akhirnya Hendra pun memberanikan diri untuk maju ke dapur.
"Teteh belum tidur?" tanya Hendra basa basi
Namun Teteh hanya menggeleng bahkan tanpa menatap ke arah Indra. Wanita itu justru menatap ke depan dengan tatapan kosong dan tanpa ekspresi.
"Maaf, Teh. Saya cuma mau ambil air minum," kata Hendra lalu melanjutkan berjalan ke dispenser.
Letak dispenser yang berada di sudut dapur, membuatnya harus melewati Teteh yang sedang duduk di tengah ruangan dapur. Semilir aroma wangi tercium saat Hendra melewati teteh.
'Hem, Teteh ternyata penyuka bedak zaman dulu,' gumam Hendra.
Hendra hafal betul aroma ini adalah aroma bedak yang biasa dipakai wanita-wanita di zaman dulu. Karena dia sering mencium aroma ini pada neneknya saat Hendra masih kecil. Arah mawangi yang lembut dan tidak terlalu menyengat sangat khas dengan bedak yang dipakai oleh teteh.
Hendra segera mengambil gelas dan air dari dispenser lalu meneguknya di tempat itu juga. Begitu selesai Hendra meletakkan gelas tersebut di wastafel lalu berniat untuk kembali ke kamarnya. Namun saat dia hendak pulang Hendra tidak berani untuk menyapa Teteh lagi. Dia hanya melirik ke arah wanita tersebut yang masih dalam posisi yang sama bahkan seperti tidak bergerak sama sekali. Hendra melangkah sedikit lebih cepat untuk bisa secepatnya kembali ke dalam kamar. Namun saat dia hendak membuka pintu kamar, Hendra justru menoleh ke arah dapur yang memang akan terlihat dari pintu kamarnya tersebut. Tapi apa yang dia lihat membuat Hendra segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat serta menguncinya.
"Si teteh ke mana? Kok nggak ada!" katanya masih berada di belakang pintu.
Hendra merinding lalu segera naik ke atas ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Pikirannya terus membayangkan hal yang tidak tidak. Dia berusaha untuk memejamkan mata agar bisa tidur. Tapi pikiran buruk yang masih berkeliaran di dalam kepalanya membuat Hendra justru tidak bisa segera tidur. Dia terus berguling di atas ranjang untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Tapi di tengah keresahannya suara langkah kaki terdengar di luar. Bukannya memeriksa Hendra justru makin merapatkan selimut dengan tubuh yang gemetaran. Dia terus melakukan itu hingga tengah malam sampai dirinya benar-benar terlelap Karena kelelahan.
"Oh sial! Aku kesiangan!" ungkap Hendra saat alarm ponselnya berdering puluhan kali sejak subuh. Dia langsung berganti pakaian tanpa mandi lebih dahulu. Segera mengenakan pakaian kantor yang sengaja dia pinjam dari Radit sebelumnya. Saat sampai di belakang pintu dan hendak membukanya Hendra sedikit ragu dia berhenti beberapa detik walau pada akhirnya dia pun membuka pintu kamarnya.
Suasana rumah tampak sepi. Hendra yang sebenarnya ingin mencuci muka di kamar mandi lantas mengurungkan niatnya dan justru langsung keluar dari rumah itu dengan tergesa-gesa.
"Heh! Kenapa lo? Kok ngos ngosan gitu?" tanya Radit begitu Hendra sampai di kantor.
"Sumpah. Gue takut tinggal di rumah itu, Dit!" kata Hendra.
"Loh kenapa?" tanya Radit heran. " Bukannya Lo sebelumnya itu sangat antusias buat tinggal di sana sampai-sampai lo langsung bayar sewa kost satu bulan?" tanya Radit.
Tante Melan sebenarnya tidak langsung meminta Hendra untuk membayar sewa kost pada hari di mana Hendra datang. Tapi Hendra justru malah membayar sewa kost selama dua bulan. Dan sekarang tiba tiba dia justru mengatakan takut tinggal di rumah itu. Tentu saja itu membuat Radit bingung.
"Enggak tahu, Dit. Tapi rasanya udah dua malam ini gue merasa aneh tinggal di rumah itu."
"Aneh apanya? Oke, coba lo cerita pelan pelan."
Hendra pun menceritakan apa yang dia alami dan juga ia rasakan selama tinggal di sana Dua Malam Terakhir ini.
"Iya, gue sih ketemu sama teteh juga, Hen. Jadi apa yang aneh sama teteh. Pas ketemu kemarin dia biasa aja deh rasanya, nggak kelihatan aneh atau apa."
"Lo ketemu teteh? Beneran?"
"Iya. Kan gue bilang sama lo kalau bareng-bareng yang lo minta gue titipin ke Teteh. Iya itu artinya gue ketemu dong sama Teteh."
"Syukurlah. Gue cuma ngerasa aneh aja karena gue ini jarang banget melihat teteh pas siang-siang. Aja terus selalu Saat tengah malam dan dia selalu ada di dapur dan duduk di meja makan. Kan aneh. Lagi ngapain coba dia tengah malam sendirian di situ dalam kondisi lampu semua mati."
"Ya mungkin dia lagi ada masalah kali, Hen. Makanya Butuh waktu buat sendiri dan menyendiri di tengah malam. Kenapa lu Nggak tanya aja sama dua anaknya tante Melan itu, katanya lu udah ketemu sama mereka?" tanya Radit.
"Soal teteh?"
"Iyalah. Apalagi coba!"
"Iya deh. Nanti coba gue tanya sama mereka. Cuma memang gue termasuk jarang ketemu sama Lia dan Mona. Mungkin karena mereka kuliah ya Dan kalau malam mereka udah tidur."
"Iya bisa jadi. Udah pokoknya jangan terlalu dipikirkan. Sayang banget loh uang saya mau yang udah masuk ke Tante Melan. Kalau justru tiba-tiba pindah bosan Emangnya lo masih punya duit buat sewa tempat?"
"Nggak ada sih, Dit. Duit gue ya tinggal buat makan aja sampai gajian."
"Nah, makanya itu."
Akhirnya Hendra pun menuruti perkataan Radit dengan Bertahan sebisa mungkin di tempat tersebut. Apalagi saat mendengar Kalau Radit juga pernah bertemu dengan Teteh maka Hendra pun tidak kembali berpikir buruk mengenai sosok wanita itu.
Sore harinya setelah pulang dari kantor Hendra memutuskan tidak langsung kembali ke rumah melainkan menyempatkan dulu makan di warung yang ada di dekat rumah tante Melan. Di warung itu tertulis warung makan Mbak Dian. Otomatis Hendra berpikir kalau pemiliknya yakni wanita yang sebelumnya melayaninya mengambilkan lauk pauk adalah Mbak Dian tersebut.
"Mba, saya pesan nasi sayur lauknya tempe dan gorengan saja," pintar Hendra.
Hendra duduk di dekat pintu. Dari tempatnya duduk dia bisa melihat rumah tempat dia tinggal. Sejauh mata melihat tidak ada hal yang aneh di sana hanya sebuah rumah tua bergaya klasik yang tampak sepi dengan halaman yang teduh.
"Baru pulang, Mas?"
"Iya, Mbak. Langsung ke sini, lapar. Hehe," ujar Hendra sambil cengengesan.
"Iya, kelihatan masih pakai baju kerja. Si Lian sama Mona juga sepertinya baru pulang. Mereka itu sudah punya rumah, malah tidurnya di rumah teman. Ckckck. Dasar, anak muda," ujar Mbak Dian.
"Lian sama Mona baru pulang? Jadi selama ini mereka nggak di rumah, Mbak?" tanya Hendra.
"Iya. Kenapa, Mas? Kok kaget gitu?"
Hendra justru diam dan terlihat melamun. Kecemasan yang tadi sudah hilang justru muncul kembali setelah mendengar perkataan Mbak Dian. Alhasil Mbak Dian mendekati Hendra.
"Mas? Mas, kenapa?" tanya Mbak Dian. Merasa tidak mendapatkan respon dari Hendra, Mbak Dian lantas menepuk bahu Hendra beberapa kali. Di saat itulah Hendra tersadar dari lamunannya. "Kamu kenapa to, Mas?" tanya Mbak Dian dengan logat Jawa kental.
"Saya... Saya nggak tahu, Mbak. Gimana harus cerita nya," kata Hendra. Mbak Dian yang awalnya berdiri di dekat Hendra kini justru menarik kursi yang berada di depan Hendra.
"Ada apa? Ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu diganggu juga di rumah itu?" tanya Mbak Dian.
Sontak Hendra terkejut mendengar perkataan Mbak Dian. Padahal Dirinya belum menceritakan apapun tetapi Mbak Dian seakan-akan sudah mengetahui apa yang Hendra alami.
"Kok Mbak Dian tahu?" tanya Hendra antusias.
Mbak Dian menarik nafas panjang lalu menoleh ke arah rumah tersebut berada. " Saya tinggal di sini sejak kecil jadi saya tahu bagaimana dan apa yang terjadi di sekitar tempat ini. Terutama rumah itu, rumah yang kamu tempati sekarang. Memangnya siapa yang mengganggu kamu?"
"Teteh, Mbak. Saya bahkan tidak tahu apakah Teteh itu manusia atau bukan."
"Teteh? Apakah dia perempuan yang umurnya sepantaran aku? Terus orangnya putih, bersih, matanya sipit? Mirip orang tionghoa?" tanya Mbak Dian.
"Iya, Mbak. bener! Mbak Dian kenal sama Teteh. Jadi dia itu manusia ya mbak?" tanya Hendra.
Mbak Dian justru Diam seakan-akan pertanyaan itu adalah hal yang sangat sulit untuk dijawab olehnya.
" jadi kamu sudah ketemu sama Teteh? Baiklah. Mbak Dian akan cerita sesuatu kepada kamu. Sebenarnya kalau soal banyak penunggu di rumah itu Mbak Dian sudah sering dengar dari orang-orang yang sebelumnya tinggal di sana. Mereka juga sama seperti kamu sering datang ke sini untuk makan. Tetapi kebanyakan dari mereka hanya bertahan satu bulan bahkan ada yang kurang dari itu. Mbak Dian pernah dengar ada yang cerita kalau dia melihat makhluk halus di rumah itu. Cuma selama ini nggak pernah ada yang menyebutkan kalau mereka bertemu sama Teteh dan baru kamu saja yang bilang seperti ini."
Hendra mengernyitkan kening. Perasaannya pakai roller coaster yang naik dan turun.
" Mbak Dian sama teteh itu sudah kenal sejak kecil Kami sering bermain bersama dulu. Sampai menginjak remaja kami pun sibuk dengan kegiatan masing-masing dan menikah. Teteh itu menikah dengan orang dari luar pulau. Kalau nggak salah pertemuan mereka itu sudah terjalin 3 bulan dan mereka pun memutuskan menikah. Cuma setelah menikah teteh nggak mau ikut suaminya pindah ke Sumatera. Jadi Teteh terus ada di sini di rumah orang tuanya. Selama 6 bulan menikah semua berjalan lancar tidak ada hal aneh Apapun yang terjadi tetapi menginjak 7 bulan pernikahan mereka suami Teteh tidak pernah pulang lagi ke sini. Bahkan setelah 1 tahun pun suami Teteh nggak pernah terlihat akhirnya Teteh pergi ke Sumatra untuk mengunjungi suaminya itu. Dari yang Mbak Dian dengar ternyata suaminya Teteh di sana sudah punya istri lagi. Teteh langsung Terpukul dia balik lagi ke sini tapi kondisi mentalnya benar-benar terganggu. Dia jadi lebih banyak melamun dan menyendiri. Hingga pada akhirnya ibunya menemukan Teteh gantung diri di kamarnya."
Hendra melotot saat mendengar kalimat terakhir yang terucap dari mulut Mbak Dian. Akhirnya kecemasannya pun terjawab dan segala keindahan hatinya pun sudah terungkap. Sebenarnya Hendra juga merasakan ada yang aneh dengan Teteh Tetapi dia terus menepi semua pikiran buruk itu dan masih berpikir kalau teteh itu adalah manusia yang tinggal bersamanya Dan mungkin dia adalah salah satu saudaranya tante Melani. Apalagi setelah Lian dan Mona mengiyakan keberadaan Teteh di rumah itu.
" jadi Teteh sudah meninggal, Mbak?" tanya Hendra.
Mbak Dian menatap iba kepada Hendra, dia hanya mengangguk dengan wajah yang tidak nyaman karena mengatakan kebenaran itu.
"Tapi yang nggak tahu teteh itu adalah orang yang baik jadi mbak yakin kalau teteh tidak akan melakukan hal yang merugikan kamu. Apakah selama ini dia mengganggu kamu atau berusaha untuk melukai kamu?" tanya Mbak Dian.
"Enggak, Mba. Justru dia yang menemui teman saya dan meletakkan barang titipan teman saya ke kamar saat saya sedang tidak di rumah."
"Iya, Mbak yakin dia tidak ada niat untuk melukai orang lain. Bahkan orang-orang sebelum kamu juga sering dibantu oleh teteh. Hanya saja di antara mereka tidak ada satupun yang pernah menyebutkan Pangeran Teteh di depan Mbak Dian. Mereka cuma cerita kalau ada sosok wanita yang selama ini tinggal di rumah itu yang sering membantu mereka titik entah membangunkan mereka saat pagi hari untuk kuliah atau bekerja atau membantu membereskan kamar. Bahkan Sebenarnya saya juga pernah melihat teteh."
"Oh ya? Bagaimana ceritanya?"
" waktu itu ada yang pesan makanan ke sini dia telepon dan bilang kalau minta makanan itu diantar ke rumah Bu Melani. Saya pikir itu salah satu anakku
"Jadi begitu, ya Mba. Ya sudah saya sekarang sudah tahu Walau kebenaran ini justru membuat saya semakin takut tapi setidaknya saya sudah tidak penasaran lagi."
"Apa kamu juga mau pindah seperti orang-orang itu?"
"Nggak tahu Mbak. Soalnya saya sudah bayar sewa sampai bulan depan jadi rasanya sangat sayang kalau saya harus pergi dari rumah itu dan merelakan uang tersebut melayang begitu saja. Apalagi saya adalah perantauan, uang saya juga pas-pasan. Jadi Sepertinya saya akan bertahan dulu di sana sampai saya dapat gaji untuk mencari tempat tinggal lain."
"Baiklah kalau begitu. Mbak harap, kamu bisa bertahan di sana. Kalau ada apa apa, kamu ke sini saja."
"Iya, Mbak. Terima kasih banyak."