
Malam ini, kembali lagi seperti malam sebelumnya. Tanpa Indra.
Seandainya ponsel dapat berfungsi, pasti aku tidak terlalu merindukannya seperti ini.
Terlebih lagi karena dia tadi telah mencium ku.
Aku berteriak frustasi di dalam kamar setiap mengingat kejadian itu. Rasanya itu adalah momen yang paling indah sekaligus bodoh untukku.
Pintu dibuka kasar, Indah dan Ferli masuk ke kamar dengan tergesa-gesa.
"Kenapa, Nis?" tanya mereka panik.
Aku menatap mereka lalu tersenyum.
"Hehe. Nggak apa apa," sahutku.
Apa aku teriak terlalu keras tadi? sampai sampai mereka muncul begitu.
"Eh, Makan yuk. Malah ngumpul di sin." Nindi yang sedang membawa piring berisi makanan, muncul di belakang mereka.
Hari ini adalah jatah dia memasak. Akhirnya kami keluar kamar dan makan. Walau dengan tatapan aneh dari indah dan Ferli.
Saat makan aku senyum senyum sendiri membayangkan kejadian tadi. Rasanya jika bisa, bibirku ingin ku laminating biar rasa itu bisa awet.
"Nis, ditinggal Indra malah jadi gila lu ya," ejek Feri yang melihatku aneh.
Aku hanya diam saja tak menanggapi, hanya terus tersenyum.
"Serius, ini anak gila beneran." Feri makin usil. Terserah dia mau bilang apa. Aku tidak peduli.
Kami makan di ruang tamu bersama sama. Karena kursi nya memang agak banyak jadi muat untuk semuanya.
Sambil makan, kami juga membahas PROKER kami masing masing. Kebetulan PROKER untuk penerangan jalan sudah selesai semua, dan beberapa PROKER kelompok kami juga cepat selesai, tinggal batas desa saja yang masih butuh waktu.
Karena para warga tidak mau membantu kami. Alhasil hanya teman teman laki- laki aja yang mengerjakan semua.
Saat asik membahasnya, Yola yang duduk di kursi depanku memegangi tengkuknya terus sambil terus menggerak-gerakkan kepala ke kanan dan ke kiri. Dia juga terus menunduk, sikapnya aneh.
Aku menyikut Indah yang ada di sampingku. Indah yang paham bahasa isyaratku ikut memperhatikan tingkah Yola. Lalu memberi kode ke yang lain agar waspada. Mereka yang tadinya ada di dekat yola mendadak bergeser menjauh. Bahkan ada yang masuk kamar karena takut.
"Yola. Kamu kenapa?" tanya Wicak.
Yola tidak menjawab, berhenti bergerak namun diam menunduk. Wajahnya bahkan tertutup rambutnya sendiri. Tak lama ia menggeram. "Kalian berani mengganggu ku!" ucap Yola berganti dengan suara pria yang berat dan menyeramkan. Beberapa teman kami mundur, menjauh sambil melihat Yola dengan tatapan ngeri.
"Mengganggu? Siapa kamu?" tanya Wicak lagi.
"Kalian mengganggu ketentraman ku!" Yola menjerit keras sekali sambil menggebrak meja.
Semua berteriak ketakutan dan berlarian masuk ke kamar.
Namun aku dan Wicak masih diam saja melihat apa yang akan dia lakukan. Aku tidak ingin sampai Yola pergi lagi keluar dari posko dan mencari carinya lagi seperti kemarin. Itu sangat melelahkan.
Wicak duduk bergeser mendekat padaku. Entah kenapa aku tidak bisa melepaskan pandanganku ke Yola.
Bahkan kami saling menatap dengan tatapan mata yang tajam. Jujur, aku lelah dengan teror ini. Ini sudah keterlaluan. Aku harus mengakhiri semuanya. Walau aku tidak tau bagaimana caranya.
"Kamu siapa?" tanyaku dingin.
"Hahaha! Aku? Kita pernah bertemu sebelumnya gadis cantik!" Kali ini Yola duduk dengan mengangkat satu kakinya ke meja dan meletakan tangannya bertumpu pada kakinya, seperti gaya seorang laki laki.
Siapa, ya? Apa dia pria yang sering kulihat membawa golok itu? karena selama ini, sosok pria yang kutemui hanyalah dia saja.
"Kamu pembunuh itu?!" tanyaku lantang. Ia kembali tertawa
"Betul sekali gadis pintar."
"Mau apa kamu?" tanya Wicak tanpa rasa takut.
"Mengulangi hal yang sama beberapa tahun lalu."
"Bagaimana caranya?"
Pertanyaan bodoh! Aku jelas tau apa yang akan dia lakukan.
Dia pasti akan merasuki seseorang dan mulai melakukan hal yang pernah dia lakukan dulu di desa sebelah. Dan sepertinya dia sudah menemukan target nya, Yola!
Dia tertawa keras.
"Kamu gila? Untuk apa kamu melakukan semua itu?" tanyaku geram.
"Balas dendam," jawabnya singkat.
"Balas dendam?" tanya Wicak heran. Aku pun juga tidak mengerti maksud dari perkataannya barusan.
Dia adalah Pak Slamet. Seorang tabib dari desa Kramat. Tabib yang cukup terkenal karena ilmu pengobatannya.
Semua orang yang diobatinya pasti sembuh, hingga menimbulkan iri dengki seorang tabib lain nya, yang bernama Pak Sentot. Dia adalah tabib dari desa ini.
Pak sentot melakukan fitnah dengan membuat beberapa santet ke warga yang disembuhkan Pak Slamet. Singkat cerita, warga marah dengan apa yang terjadi pada orang orang yang disembuhkan Pak Slamet dan menuduhnya telah melakukan santet. Hingga dia diarak keliling desa, lalu di bakar. Saat nafas terakhir nya, dia sempat mengucapkan sumpah serapah. Bahwa dia akan menuntut balas atas apa yang dilakukan warga desa kepadanya.
Sebulan setelah Pak Slamet meninggal, warga mulai mendapat teror. satu persatu warga meninggal. Mereka teringat sumpah Pak Slamet, dan yakin kalau apa yang terjadi karena dirinya. Warga yang tersisa memutuskan pergi dari desa. Dan saat itulah Pak Slamet mulai membunuh secara brutal semua warga dengan merasuki Pak Sentot.
"Apakah tidak cukup bapak membalas mereka? Semua warga desa sudah meninggal, Pak. Bapak jangan terus dipenuhi dendam, itu tidak baik. Kasihan orang orang yang tidak bersalah," kata Wicak mulai melunak setelah mendengar cerita Pak Slamet.
"Untuk apa kasian?! Mereka memperlakukan saya seperti hewan! Bahkan lebih buruk dari hewan! Mayat saya tidak dikuburkan dengan layak, dibuang begitu saja! Siapa yang tidak punya perasaan?!" tanyanya penuh emosi yang berkobar kobar.
"Mau Bapak apa?" tanyaku.
"Membunuh semua orang yang masuk ke desa itu! Dan kalian semua sudah melakukannya." Kembali ia tertawa keras hingga membuat bulu kudukku berdiri.
Aku melepaskan kalung ku lalu mendekati Yola yang sedang dirasuki.
Wicak menahan tanganku, namun aku yakin kan dia, bahwa aku tidak akan kenapa kenapa. Kusuruh dia ikut mendekat ke Yola agar aku bisa memakai kan kalungku ke Yola.
Yola menatapku tajam. Dengan gerakan cepat, Wicak memegang tangan Yola dan ku pakaikan kalung ku ke Yola. Dia meronta, kesakitan. Suaranya sungguh menyeramkan dan memilukan. Tak lama Yola lemas dan pingsan.
Setelah keadaan aman, teman teman keluar dari kamar. Mereka membantu Yola masuk ke kamar. Aku dan Wicak baru bisa bernafas lega.
"Nis, Cak. Aku bikinin coklat hangat, ya," kata Nadia lalu segera lari ke belakang. Padahal aku dan Wicak tidak bereaksi apa apa hanya melihatnya.
Aku yakin Wicak sama cemasnya sepertiku. Kami harus bertindak sebelum Pak Slamet melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan dulu.
Aku berjalan ke teras, untuk sekedar menghirup udara malam yang dingin. Rasanya penat, sumpek dan melelahkan.
Wicak mengikutiku.
"Kita harus bertindak dulu kan, Nis?" tanya Wicak ikut duduk di sampingku.
"Iya, Pak Slamet masih berkeliaran di desa, pertama kita harus cari jasad pak Slamet. Walaupun itu gak mungkin. Karena pasti sekarang tinggal tulang belulang aja kan, Cak?"
"Setuju. Kita harus kuburkan dengan layak. Tapi ...."
"Kita cari di mana?" tanyanya sambil menatapku.
Inilah yang membuatku frustrasi. desa seluas itu ke mana kami harus mencarinya?
"Apa perlu kita cerita ke Pak Kades?" tanyaku.
Wicak mengangkat bahunya.
"Eh...ustaz! Kita cerita ustaz aja, biar bisa bantu. Gimana?" mata Wicak seketika berbinar dengan idenya sendiri.
"Bener tuh! Pinter kamu, Cak. Emang sih, kalau kita yang hadapi sendiri bakal susah," kataku.
Nadia keluar membawakan kami dua cangkir coklat hangat.
"Ini buat para ghost buster jagoan kita," ucapnya sambil meletakkan cangkir di meja yang ada di teras.
"Ghost buster apaan! Dipikir kita gak jantungan?"
Memang rasanya menjadi lebih nyaman, apalagi jika ada Indra di sini.
Aishh! Stop mikirin Indra!
\=\=\=\=\=\=
Malam ini kami berdiskusi tentang cara menemukan kerangka Pak Slamet. Beberapa teman yang lain tidak setuju. Karena terlalu beresiko katanya.
"Kalau kalian nggak mau ikut ya udah. Biar aku sama Wicak aja!" kataku tegas setelah diskusi panjang tadi.
"Nis, kita kan di sini mau KKN ,bukan buat mengungkap kasus," ucap Agus tak sependapat.
"Nis, minta tolong Indra aja. Suruh dia mengerahkan pasukannya bantuin nyari itu tulang!" kata Feri.
Mm... Sepertinya ide yang bagus. Tawaku dalam hati.
"Tapi Fer, apa iya pada mau bantu kita? Ini bukan kasus besar, kan?" tanyaku pura pura tidak ragu. Padahal aslinya setuju banget!
"Ya kan menyangkut masalah orang banyak, pasti bakal bantuin. Lagian sang pujaan hati di sini terancam juga, pasti Indra bakal mengerahkan semua kemampuannya. Udah ah, biar gue yang kabari dia," kata Feri.
"Iya, bener tuh kata Feri.. Besok kamu ke balai desa nyari signal, terus kabarin Indra. Minta bantuan dia!" perintah Wicak.
Asik.