Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
15. Bantuan


Pagi ini kuputuskan untuk joging mengelilingi desa.


Lama juga aku tidak olahraga. semenjak kkn disini rasanya aku tidak terlalu bersemangat untuk lari seperti biasanya.


Apalagi dengan banyak nya kejadian teror yg kami alami. membuat tenagaku seakan terkuras habis.


Aku bersiap dengan memakai celana training panjang berwarna ungu dan kaus lengan panjang pink dengan sepatu olahraga putih yg kusiapkan jauh jauh hari.


Kupakai earphone dan menyetel lagu favoritku , lalu mulai berlari mengelilingi jalanan desa ini.


Udara segar sekali . rasanya lama aku tidak menghirup udara yg bebas polusi seperti disini . aroma pedesaan yg begitu khas membuatku ingat akan kampung halaman nenek ku . suasana nya hampir sama.


Beeettt!!


Tiba tiba ponselku mati. dan otomatis aku berhenti untuk memeriksa nya .


'Padahal semalam sudah ku charger sampai penuh,kenapa belum ada setengah jam udah abis aja ya batre nya'


Akhirnya kuputuskan untuk menyimpan saja ponselku di saku celanaku . dan melanjutkan lari.


Sampai didekat sungai , kulihat ada beberapa ibu ibu yg sedang mencuci di sana . akhirnya kuputuskan untuk mendekat sambil mencuci wajahku .


" Pagi sekali mba.. kok sendirian aja? " sapa salah 1 ibu itu.


" Iya bu ,, yg lain masih tidur tadi." kataku lalu duduk di batu di pinggir sungai sambil memainkan air sungai yg jernih dan segar.


" Gimana mba ? betah di sini? " tanya ibu yg lain.


" Heehehe.. " kujawab dengan senyuman.


Jujur, gak betah bu. Rasanya pengen pulang aja .


" Maaf bu.. Boleh saya tanya sesuatu? " kataku pelan.


" Nanya apa mba? "


" Soal desa sebelah.." ucapku sambil ku pandangi mereka satu persatu.


Mereka menghentikan aktifitas mereka dan tengak tengok seperti takut diawasi orang lain.


" Jangan bahas itu mbak.." kata ibu itu bisik bisik.


" Kenapa? " tanya penasaran.


" Nanti dia dateng mbak. " pernyataan ibu itu makin buatku penasaran .


" Kalau mbak bener bener pengen tau , mbak ke rumah pak kus aja.. Rumahnya paling ujung ,deket sama desa sebelah. pak kus itu sodara nya pak slamet."


" Oh gitu . baik bu . makasih infonya. "


Kuputuskan bermain air dulu sambil melepaskan sepatuku dan memasukan kaki ku ke air dan ikut ngobrol bersama ibu ibu yg masih mencuci.


Hingga tak terasa hari mulai siang , dan para ibu pun selesai mencuci.


Aku pun ikut pulang , kembali ke posko.


\=\=\=\=\=\=


Sampai di posko , sudah banyak orang disana dengan berpakaian serba hitam , dari postur tubuh dan penampilannya sepertinya mereka polisi.


Aku berjalan ragu memasuki posko karena beberapa pasang mata melihatku.


" Nisaaaa??"


suara ini ...suara Indra.


Dia muncul dibalik kerumunan orang disana.


Wajahnya panik sekali , seperti telah terjadi sesuatu.


Dia berlari mendekatiku.


" Kamu ke mana aja? " tanyanya dengan raut wajah yg serius.


" Habis lari pagi." jawabku.


" Kok baru balik ? ini udah siang. aku pikir kamu hilang," katanya sambil menatapku tajam.


" Mmm.. aku tadi ke sungai dulu, ketemu ibu ibu jadi ngobrol deh."


"kata Wicak kamu pergi dari subuh dan belum pulang pas aku nyampe sini. Lain kali jangan pernah pergi sendirian, Nis!" dia terlihat sangat khawatir.


" Aku gak papa kok . oh iya kamu sampai jam berapa ? " tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Sejam yang lalu," katanya dengan terus menatapku.


Wah , dia marah beneran kali yah .


" Ohh.. Tau gitu kamu kemaren gak usah pulang aja ya..hehe " Indra hanya diam saja lalu memelukku tiba tiba.


Astaga , nyaman sekali rasanya. Walau baru kemarin, aku memang merindukan nya.


Dia memelukku erat.


" Ndra!! Kita jalan sekarang ?" tanya Herman.


Indra melepaskan pelukannya, dan mengangguk ke Herman.


Dia lalu masuk ke dalam posko sambil menggandeng tanganku.


Kami berkumpul untuk membahas pencarian mayat pak Slamet, lebih tepatnya tulang belulang nya.


Indra membawa sekitar 10 personil termasuk dirinya sendiri.


Ditambah 6 dari pihak kami.


" Aku ikut" kataku saat mereka diskusi serius.


" Enggak!!" jawab Indra tegas.


" Tapi aku mau ikut!! " aku ngotot.


" Aku nggak izinkan. "dia masih fokus dengan beberapa lembar kertas ditangannya sebagai denah desa ini.


" Aku yakin , bantuanku akan berguna !! kamu izinin / enggak aku bakal ikut." lalu aku pergi dari ruang tamu menuju kamar dan mengambil peralatan mandiku.


Aku bergegas mandi agar aku juga bisa ikut mereka.


Selesai mandi dan berganti baju, aku bergabung kembali bersama mereka.


Dan kami mulai pencarian.


Kami terbagi menjadi 4 kelompok agar mempercepat waktu.


Aku sekelompok dengan Indra , Feri , Faizal , Herman.


" Kita ke rumah pak Kus dulu, " pintaku.


" Pak kus siapa nis? " tanya faizal.


" Tadi kata ibu ibu di sungai beliau saudara nya pak Slamet. kali aja ada info soal pak slamet," kataku.


" Ya udah , ayok..." Indra lalu berjalan paling depan.


Kelompok lain berpencar ke segala penjuru arah. Sampai kami di rumah paling ujung yg paling dekat dengan batas desa.


" Ini nis ?? " tanya Feri.


Lalu aku masuk ke halaman rumah itu dan mengetuk pintu.


Tok tok tok


" Assalamualaikum." sapaku.


" Wa alaikum salam." terdengar jawaban dari seorang wanita didalam.


Kriiieeeettt


" Ada apa ya mba? " tanya ibu itu setelah pintu dibuka.


" Maaf bu, betul ini rumah pak kus ? " tanyaku.


" Iya , betul."


"Pak kusnya ada bu? " tanyaku dengan mata berbinar.


Rasanya aku seperti mendapat sedikit harapan untuk penyelesaian masalah ini.


" Suami saya sedang pergi keluar kota.. baru pulang besok mba.. gimana ? "


" Mmmm... Gitu ya, bu. Ya sudah kalo gitu, saya besok ke sini lagi ya, bu," kataku sedikit kecewa.


" Oh gitu. Ya sudah , nanti saya bilang suami saya ya kalo sudah pulang," kata ibu itu ramah.


" Oh iya bu, terima kasih ya bu," kataku lalu pamit.


Kami berjalan lagi ke tempat lain.


" Duh, nyari ke mana ya? " ucap Faizal . kami terus berjalan tanpa arah.


" Sungai ??" tanyaku entah mendapat ide dari mana. Karena pertama kali aku melihat Pak Slamet adalah saat di sungai.


" kenapa ? kok di sungai ? " tanya Indra.


" Pertama kali aku liat Pak Slamet itu disungai. " jawabku.


Feri lalu berjalan paling depan.


Tak lama kami sampai di sungai .kalau diurut dari batas desa yg kami buat, sungai ini juga seperti batas desa ini dengan desa sebelah.


Bunyi suara riakan aliran sungai membuat suasana tidak terlalu sunyi.


Aku berjalan mendekat ke pinggir sungai dan duduk di batu yg tadi pagi.


Sambil tanganku turun ke aliran air disampingku.


Kubayangkan semua kejadian di desa ini dari kami datang hingga sekarang. segala macam teror , ketakutan dan kecemasan kurasakan lagi.


Beberapa kali aku mengangkat tanganku ,karena ada sampah daun yg menyangkut.


Namun saat terakhir kali kuangkat tanganku ,yg kutemui adalah rambut yg sangat panjang.


Deg!


Ini seperti rambut mba kunichan deh, yang kutemui di kamar mandi posko. kok siang- siang udah eksis aja sih.


" Nisaaaa!!" pekik Faizal sambil menunjuk ke sungai.


Saat ku toleh , aku mendapati seorang wanita mengambang disungai dengan pakaian putih dan rambut panjang . matanya hitam .


Aku langsung berdiri menjauh dari sungai.


Kami mundur agak jauh.


" Gila! Siang siang udah nongol aja! " kata Feri panik.


Sosok itu mengambang terus mengikuti aliran sungai, dan makin lama makin jauh.


" Daripada itu balik lagi, mending kita pergi dari sini deh! " kata Herman.


Akhirnya kami pergi dan mencari ke tempat lain, sampai sampai kaki ku lecet karena terlalu lama berjalan.


" Udah. Istirahat dulu ya," pintaku sambil bersandar di pohon sambil mengatur nafasku.


Indra kemudian mendekat.


" Capek ya?" tanyanya dengan senyum tipis di bibirnya.


" Iya, lumayan."


Indra tengak tengok lalu melihat ke arah batu besar yg tak jauh dari tempatku berdiri.


"Yuk, duduk dulu," ajak nya.


Aku lalu berjalan ke batu itu.


Setelah duduk, segera kulepas sepatu yg kupakai, dan benar saja, ada beberapa luka di jari jari kakiku.


Indra jongkok di depanku lalu mengambil sesuatu dari dalam tas nya.


Sebuah botol minyak untuk luka.


"Sini aku obati, " katanya lembut.


"Eh, nggak usah. Aku sendiri aja," kataku menolak.


Namun dia memaksa, dan aku pun tidak bisa berbuat apa apa.


Rasanya badanku benar benar lelah.


" Kita balik aja ke posko habis ini. Lanjut besok aja," kata Indra kepada kami.


Sepertinya dia mengerti kalau aku benar benar kelelahan.


Setelah 15 menit kami lalu kembali ke posko. Dan ternyata kelompok lain juga sudah kembali ke posko karena mereka pun tidak menemukan apa apa.


Malam ini kami beristirahat karena lelah yg sudah bergelayut ditubuh kami.


Aku sudah masuk kamar sekitar setengah jam yg lalu bersama Ferli.


Tok tok tok


" Nis, buka tuh pintu, paling juga Indra," kata Ferli yg sudah setengah terpejam.


Aku beranjak membuka pintu dan benar kata Ferli, kalau Indra yg ada di depan pintu kamar kami.


"Hei ... Belum tidur kan?" Tanyanya.


" Belum kok. Ada apa, Ndra?" tanyaku.


" Mm.. Gak papa sih, cuma pengen liat kamu aja sebelum tidur," katanya merayuku.


Kucubit perutnya. Menutupi rasa malu dan sungkan yg kurasakan.


Dia malah ketawa, lalu dipegangnya tanganku karena tidak berhenti mencubitnya sedari tadi.


Mata kami saling bertemu, dan mendadak suasana menjadi kikuk. Aku berusaha melepaskan tanganku yg dipegang Indra.


" Ya udah, aku tidur dulu ya, Ndra. Cape banget nih," kataku mencoba menghindarinya.


" Iya, Nis. jangan lupa berdoa," kata Indra lalu tiba tiba dikecupnya keningku, dan dia langsung pergi ke ruang tamu meninggalkan ku yg masih syok oleh perlakuannya barusan.


Dasar Indra!!