
Pagi ini aku masih malas-malasan di atas ranjang dengan mendengarkan musik di ponselku. Aku baru selesai salat subuh dan rasanya masih enggan untuk beranjak. Lagi pula di luar masih agak gelap.
Tiba-tiba pintu kamarku dibuka. Kak Arden muncul dari balik pintu, menatapku dingin dengan sudah memakai seragam sekolah. Dia terlihat sudah rapi dan siap sekarang. Padahal baru pukul 05.30 pagi.
"Ya ampun, ini anak sebiji. Masih santai aja. Nggak sekolah? Mandi gih, aku tinggal nanti nih," ancam Kak Arden.
"Iya kak. Baru juga jam segini. Lagian kakak yang kepagian. Jam di kamar kakak mati?" tanyaku masih santai.
"Ta ... Kakak mau berangkat pagi nih, ada urusan OSIS." Kak Arden lalu masuk dan membopongku ke kamar mandi di kamar. Tidak peduli jeritanku yang menolak untuk mandi sepagi ini.
"Udah jangan bawel. Mandi situ. 10 menit harus udah selesai!! Awas kalo lama. Kakak tinggal!" ancam nya benar benar serius.
Aku mengerucutkan bibir dan pasrah pada ucapan Kak Arden itu. Dia lalu keluar kamar mandi dan menutup nya.
Alhasil aku mandi dengan cara cepat. Terlebih suasana sepagi ini sangat dingin. Pemanas air di kamar mandi ku sedang rusak. Air dingin ini yang menyentuh kulit tubuhku, membuatku menggigil. Aku bahkan sampai gemetaran sambil meraih piyama mandi.
Kini aku sudah siap memakai seragam sekolah dan akan menikmati sarapanku. Di meja makan semua sudah berkumpul. Ayah juga akan berangkat kerja hari ini. Sementara Bunda akan pergi ke rumah Pak de.
Baru segigit roti tawar yang masuk ke mulutku, Kak Arden memakai tasnya dan menarik tanganku.
"Yuk, berangkat."
"Buset! Aku belum selesai, Kak," gerutuku.
Bunda hanya geleng geleng melihat kami. "Bun, berangkat, assalamualaikum," kata Kak Arden mencium punggung tangan Bunda dan Ayah. Aku pun mengikuti apa yang dia lakukan. Ini memang kebiasaan kami setiap akan pergi ke mana pun. Dan merupakan Kegiatan rutin kami setiap pagi.
Aku akhirnya makan roti tawarku di jalan, sambil menggerutu sebal sekaligus heran, kenapa Kak Arden sangat buru-buru pagi ini. Biasanya kami berangkat setengah jam lagi. Bahkan jalanan masih sangat lenggang sekarang. Kabut tipis masih dapat kurasakan menerpa wajahku. Karena kaca helm tidak kututup dan membiarkannya terbuka, agar udara pagi terasa meresap ke pori-pori wajahku.
Sampai di sekolah, setelah mematikan mesin motor, Kak Arden langsung pergi.
"Kakak duluan. Dah." Dia mengecup pucuk keningku, dan pergi begitu saja. Meninggalkanku yang masih melongo atas sikapnya pagi ini
"Kesambet setan mana itu, ya?" batinku.
"Tha!!" panggil Radit yang ternyata sudah ada di belakangku. Aku yang tidak menyadari keberadaannya karena terlalu asyik berdiskusi dengan diri sendiri tentang keanehan Kak Arden, lantas menoleh. Dia sudah berdiri di belakangku dengan jarak cukup dekat.
"Eh, Dit. Baru berangkat juga?" tanyaku basa basi.
"Iya, si Arden kenapa buru buru gitu?" tanya Radit heran sambil melihat ke arah sudut Kak Arden menghilang.
"Nggak tau tuh. Aku aja belum sarapan udah di seret gitu aja. Ngeselin, kan? Mana pagi buta aku udah di bopong masuk kamar mandi. Kan masih dingin banget," gerutuku.
"Ya udah, yuk kita sarapan," ajaknya dengan langsung menggandeng tanganku.
Dan aneh nya, aku mau saja digandeng begitu.
Sampai di kantin Radit masih menggandengku, dan kami duduk di meja yang masih kosong.
"Mau sarapan apa?" tanyanya dengan mendekatkan wajahnya satu jengkal dekat padaku.
"Eum ... Apa ya," sahutku bingung.
Tambah grogi juga sebenarnya. Rasanya setiap aku berada di dekat Radit, maka akan ada perubahan aneh di tubuhku. Jantungku makin berdegup cepat, tanganku gemetaran, panas dingin tidak karuan.
"Gimana kalau mie goreng aja? Kamu suka, kan?" tanya Radit sambil melihat papan menu yang ditempel di dinding kantin.
"Kamu tau dari mana aku suka mie goreng?" tanyaku heran.
"Tau lah. Bentar, ya." Dia lalu beranjak dan segera memesan makanan.
Tak lama kembali lagi dengan segelas susu coklat hangat.
"Minum dulu, sambil nunggu makanan dateng," ucapnya antusias. Dia terus saja tersenyum. Membuatku merasa aneh melihatnya. "Loh kamu mana?" tanyaku mencoba mencairkan kegugupanku sendiri.
"Aku udah sarapan kok."
Saat menikmati susu cokelat hangat milikku, Doni dan Kiki datang
"Cie ... Udah nangkring di sini aja. Ehem," ledek Kiki lalu langsung duduk di sampingku. Sementara Doni duduk di samping Radit.
"Kenapa? Nggak boleh? Laper!"
Makanan datang, aku langsung makan tanpa basa basi lagi. Tak mengurusi ejekan dua makhluk menyebalkan ini. Lagi pula aku takut bel masuk berdering sebelum aku menghabiskan semua makanan ini.
Suara ramai terdengar memasuki pintu kantin. Rupanya datang lagi Dedi dan Ari. Mereka langsung menempatkan diri duduk di meja tempat kami duduk.
"Dion sama Danu ke mana?" tanyaku ke Kiki, karena hanya mereka berdua yang belum datang. Kalau Kak Arden aku sudah tau sedang ada di mana.
"Ngurusin OSIS kayak Arden," sahut Kiki santai. Aku sampai lupa kalau mereka juga pengurus OSIS inti.
Saat kami asyik ngobrol, tiba-tiba ada teriakan yang membuat kami diam sambil mengerutkan dahi. Lalu menoleh dan menyapu pandang ke sekitar. Di luar kantin terlihat banyak orang berlarian. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi.
"Ada apa, ya?" tanya Kiki sambil menggumam pelan. Netranya terus menatap orang-orang di luar sana.
Radit berdiri lalu keluar kantin dan menarik satu orang yang terlihat histeris.
"Ada apa sih?" tanya Radit.
"Ada yang kesurupan. Di aula!" jawabnya. Tangan Radit merenggang setelah mendapat penjelasan itu. Dia lantas menoleh ke arahku. "Aula, lagi?" tanyaku dalam hati.
Kami lalu pergi ke aula sekolah.
Dan benar saja, di sana ramai sekali yang kesurupan. Di antara kerumunan di dalam, aku melihat Kak Arden yang ada di antara mereka.
Dia sedang mencoba menolong dengan beberapa orang yang kutau adalah anggota ROHIS sekolah. Tapi kondisi Kak Arden cukup mengkhawatirkan. Mungkin karena banyaknya orang yang kesurupan di sini. Melihat hal itu, aku langsung menerobos masuk kedalam.
"Ta! Aretha!" jerit Radit. Yang tidak kuperdulikan. Yang kutau, aku harus mendekat ke Kak Arden. Tenaganya sudah terkuras habis.
Kak Arden terlalu lelah, tenaga nya terkuras banyak karena membantu korban kesurupan di sini. Aku saja hampir rubuh jika saja Radit tidak memegang ku.
"Sini ku bantu," ucap Radit lalu memapah Kak Arden ke pinggiran aula.
Aku mengenggam tangan Kak Arden. Badannya sudah sangat panas. Aku khawatir sekali.
"Dek, kamu bantu mereka aja," ucapnya dengan napas yang pendek-pendek.
"Enggak! Kakak lebih penting. Aku pastiin dulu kakak baik-baik aja. Baru aku bantu yang lain," kataku kesal.
Radit tidak berani berkomentar, hanya menatap kami berdua bergantian.
Sekitar beberapa menit berlalu, Kak Arden mulai kembali normal.
"Yuk, Bantu mereka, dek," ajak Kak Arden.
Di aula ini, ada banyak yang kesurupan, dan beberapa siswa yang bisa menangani kesurupan, ikut membantu. Atau hanya memegangi temannya saja, agar tidak lepas kendali. Para guru juga hampir semua ada di sini.
Aku dan Kak Arden menolong satu persatu dari korban di sana.
Beberapa berhasil dengan mudah disadarkan, namun ada juga yang sulit.
Radit yang terus mengekor pada ku juga ikut membantu.
Namun, aku berhenti sebentar lalu menatap Radit.
"Kamu di luar aja, Dit," pintaku.
"Tapi, Tha ...." Dia hendak melawan permintaanku, namun ku pegang tangannya dan menatap matanya dalam. "Please ... kali ini aja, Dit. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa lagi. Kalau yang dihadapi manusia, aku bakal bersembunyi di belakang kamu, tapi ini lain," pintaku.
Dia menarik nafas dalam lalu mengangguk dan keluar aula. Namun terus menunggu di depan pintu bersama beberapa orang lainnya.
"Kak, Ini gimana sih? Kok bisa gini?" tanyaku ke Kak Arden.
"Di sini emang gudang nya, Tha. Kakak juga nggak tau awal mula nya gimana."
Setelah hampir setengah jam, korban kesurupan tak kunjung habis.
Tenagaku dan Kak Arden sudah hampir terkuras, begitu juga teman teman yang lain yang sejak tadi ikut membantu.
"Kak... Aku nggak sanggup. Panggil Eyang aja deh. Aku capek," kataku lalu duduk begitu saja di lantai.
Kak Arden mengangguk, dan mulai memanggil dan meminta bantuan Eyang.
Suara geraman harimau, merupakan pertanda kemunculan eyang. Aura yang tadi panas, perlahan mulai sejuk. Di sudut lain aula, kami mulai merasakan kedatangan Eyang. Eyang Prabumulih. Dan hanya kami berdua saja yang bisa melihatnya.
Dalam hitungan menit saja, semua sudah dapat dikondisikan. Eyang hanya melintas dan menembus tubuh-tubuh yang sedang kesurupan. Seolah mengambil makhluk-makhluk tersebut dengan mudahnya.
Keadaan kembali tenang, dan beberapa siswa masuk ke aula membantu teman mereka yang menjadi korban kesurupan.
Radit dan teman temanku juga masuk menghampiriku dan Kak Arden.
"Tha ... Kamu nggak apa-apa, kan?capek, ya?" tanyanya. Yang ikut duduk di lantai sepertiku. Dia terus menatap wajahku yang penuh peluh.
"Lumayan, Dit." aku pun mulai mengatur nafasku yang tadi berantakan.
Kak Arden mendekat, dan Eyang sudah tidak ada lagi.
Kami saling duduk berhadapan dan saling berpegangan tangan. Mencoba menetralkan tubuh kami setelah kejadian barusan.
Entah bagaimana menjelaskannya, namun aku dan kak Arden memang saling membutuhkan.
Keadaan kami akan lebih membaik jika kami terus bersama. Jika kak Arden demam, hanya dengan memegang ku pasti tak lama demamnya turun. Itu jika demam karena kehadiran makhluk astral, ya.
Dan karena kejadian ini, sekolah dipulangkan lebih awal.
Kami pulang ke rumahku, karena mereka tidak mau pulang ke rumah mereka.
Ini seolah sudah kebiasaan kami, rumahku adalah basecamp untuk kami.
\=\=\=\=\=\=\=
Sampai di rumah, aku langsung masuk kamar untuk ganti baju.
Kiki juga ikut, karena katanya dia mau meminjam bajuku juga.
Kiki jika sedang berada di rumahku, memang seperti ini. Bagai di rumah sendiri saja. Begitu juga denganku, saat berada di rumah Kiki.
Setelah ganti baju, aku dan Kiki kembali berkumpul dengan mereka yang sedang ngobrol di halaman depan.
Radit dan Bunda keliatan ngobrol berdua, dan setelah aku muncul mereka senyum senyum. Aneh. Jangan jangan ngomongin aku nih.
"Tha! Aku udah bilang Bunda mu," kata Radit, membuatku melotot lalu melihat ke teman teman yang ada di halaman.
"Bilang apa?" aku pura pura tidak paham, dan kini ikut duduk bersama mereka.
Bunda senyum senyum.
"Bunda nggak larang, tapi alangkah lebih baiknya untuk sekarang kalian berteman dulu. Saling mengenal satu sama lain lagi...." Dan bla bla bla, Bunda mulai memberikan kultum.
Kak Arden senyum-senyum. Sementara Radit malu-malu.
Aku mending pakai earphone dan pura pura nggak denger aja deh.