
POV ARDEN
Aku sering disibukan kegiatan OSIS akhir-akhir ini. Sehingga mengharuskan ku sering berada di sekolah hingga sore hari.
Saat itu, aku akan ke mushola sekolah untuk salat ashar. Setelah mengambil air wudhu, aku melangkah masuk ke dalam, segera berjalan ke karpet yang ada di bagian depan mushola. Saat masuk mushola aku mendengar suara lantunan ayat suci alquran. Di dalam mushola memang tidak hanya aku seorang. Masih ada beberapa siswa lain yang juga menjalankan ibadah. Sekilas aku melirik ke salah satu sudut du bagian belakang mushola. Ada seorang gadis yang masih mengenakan mukena tengah membaca al quran di depannya. Suaranya merdu dan lembut sekali. Membuatku betah berlama-lama.
Aku segera melakukan salat sunah dan salat wajib. Selesai salat, kembali aku menoleh ke arah gadis itu. Aku penasaran, siapa dia. Sekilas saat melihat wajahnya, sepertinya dia kakak kelasku. Karena aku pernah melihatnya ada di barisan kelas 2 saat upacara bendera kemarin.
Aku memutuskan duduk sebentar di sini. Menundukkan kepala sambil menikmati dia mengaji
"Alya!!" panggil seseorang dan membuatnya berhenti membaca al quran.
Oh, jadi namanya Alya.
"Yuk, balik sekarang. Keburu sore nih," ajak temannya.
"Iya, sebentar. Aku beres-beres dulu," ucapnya lembut.
Dia mengakhiri baca al quran lalu berkemas dan pergi bersama temannya tadi.
Alya.
Setelah dia pergi, aku pun kembali ke ruang OSIS, karena pekerjaanku belum selesai.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
(Flashback part sebelumnya)
Pagi ini Aretha sungguh keterlaluan, dia masih saja malas-malasan dan belum siap mandi. Malas berdebat, aku segera membopongnya dan memasukkan dia ke dalam kamar mandi.
"Kakak tunggu 10 menit! Kalau nggak selesai. Kakak tinggal!" ancamku serius.
Hari ini aku memang ada perlu untuk kegiatan OSIS dan harus sudah ada di sekolah pagi-pagi sekali.
Sampai di sekolah aku segera pergi, meninggalkan Aretha di parkiran. Walau dia terus saja menggerutu dan memanggil namaku.
Dengan sedikit berlari kecil, aku menuju ruang OSIS. Yah, di sanalah tujuan utamaku sebelum masuk ke kelas. Karena terburu-buru dan tidak melihat ke depan, aku menabrak seseorang di persimpangan koridor.
Alya?
Dia ternyata Alya, dan beberapa buku yang tadi dipegangnya jatuh berserakan. Jantungnya seolah berhenti berdetak sedetik. Lalu kembali berpacu lebih cepat.
"Maaf... Nggak sengaja. Mba nya nggak apa-apa, kan?" tanyaku ikut membantunya membereskan buku-buku itu sambil terus menatapnya.
"Iya, nggak apa-apa kok. Aku juga tadi nggak lihat jalan," cetusnya.
Setelah selesai, kami berdiri bersama-sama. Dia tersenyum padaku. Aku pun memberikan buku yang kini berada di tanganku.
"Permisi," katanya pamit.
"Eum ... maaf, Mba," panggilku sedikit menjerit.
Dia berhenti berjalan, lalu menoleh padaku.
"Aku Arden," ucapku sambil mengulurkan tanganku padanya. Entah kenapa aku punya keberanian seperti ini. Untung dia belum jalan terlalu jauh.
Dia menaikkan sudut bibirnya lalu menyambut uluran tanganku.
"Alya," ucapnya.
"Salam kenal ya, Mba. Eum ... aku suka denger kalau Mba Alya baca Quran di mushola. Suara Mba Alya, bagus," kataku memujinya.
Dia terlihat tersipu-sipu sambil menunduk.
"Makasih. ya udah, aku balik kelas dulu," katanya lalu pergi.
Aku menekan kepalaku sambil terus melihatnya berjalan menjauh dariku.
Dia berbeda. Setiap aku melihatnya, aku selalu merasa nyaman. Dan seakan-akan aku ingin terus melihatnya.
"Den!" Danu muncul dan langsung menepuk bahuku agak keras.
"Apaan sih! ngagetin aja!" gerutu ku.
"Ya ampun, makanya jangan ngelamun aja! Dipanggil dari tadi malah bengong!" kata Danu lalu ikut menatap ke koridor di mana Alya pergi, "Eum ... Siapa dia? Cantik juga," ucap Danu sambil ikut menatap Alya yang makin menjauh.
Aku memukul kepalanya, lalu menghimpit lehernya dan menarik Danu ke ruang OSIS. Tak peduli jeritannya sepanjang jalan.
Sejak aku melihat Alya di mushola kemarin, entah kenapa aku terus saja teringat dia. Saking frustrasinya aku sampai menjambak rambutku sendiri.
"Den! Kenapa sih lu?" tanya Dion saat kami sedang rapat OSIS.
"Yon, Arden lagi kesemsem cewek," canda Danu sambil terkekeh.
"Hah? Sama siapa? Serius? Seorang Arden bisa suka juga sama cewek? Luar biasa." Dion tertawa sambil tepuk tangan.
"Sama anak kelas dua. Itu lho si Alya. Eh, Den, dia banyak yang suka loh. Saingan elu berat berat," cetus Danu berbisik padaku.
Aku sedikit berkecil hati mendengar nya. Tapi, ah ... Sudahlah. Lagipula untuk apa aku mencemaskan hal yang belum pasti?
Jodoh sudah ditentukan Allah. Dan aku masih sekolah, masih jauh untuk memikirkan hal itu.
Pintu diketuk, dan masuklah Om Feri dengan sedikit tergesa-gesa.
"Arden mana?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Ini pak," pekik Danu sambil menunjukku. Om Feri langsung melihat posisiku dan mendekat.
"Ikut yuk!" ajaknya dan berhasil membuatku bingung.
Ada apa ya? Apa Aretha bikin masalah lagi?
Aku pun menuruti saja ajakan Om Feri. Sampai di depan ruang OSIS, dia yang panik kemudian berusaha mengatur nafasnya yang tidak karuan.
"Den! Aretha mana? Di aula ada kesurupan massal!" kata Om Feri ketakutan.
"Hah? Kok bisa, Om? Memang lagi ada acara apa tadi?" tanyaku heran.
Om Feri belum selesai bicara, aku langsung berlari ke aula.
Yah, itu kelas Alya dan aku khawatir padanya.nsemoga dia tidak kenapa kenapa.
Om feri berteriak memanggilku, namun aku terus berlari ke aula.
Saat sampai aula, keadaan memang kacau. Kucari sosok wanita yang tengah kupikirkan sekarang.
Itu dia!
Aku mendekati nya, dia sedang membantu temannya yang kesurupan. Alya membacakan ayat ayat alquran dengan sabar. Namun tiba-tiba, dia kena pukul temannya itu hingga jatuh ke lantai.
"Kamu nggak apa-apa, mba? Mana yang sakit?" tanyaku khawatir.
"Aku nggak apa-apa. Tolongin Anggi dong. Dia berdarah," pinta sambil menunjuk temannya yg kesurupan. Memang keadaan nya kacau. Kepalanya berdarah karena sepertinya telah membentur sesuatu.
Aku mendekati Anggi dan kubacakan amalan amalan doa. Dengan mudahnya dapat kusingkirkan makhluk yang mendiami tubuh Anggi. Dia pingsan. Segera kupapah agar berbaring di samping Alya.
Aku kembali celingukan mencari orang yang mungkin ku kenal.
"Dan!!!" Danu dan Dion yang ada di ambang pintu mendekat.
"Kenapa, Den? Kok bisa kacau gini??" tanya Danu.
"Gak tau.. Tolong bawa nih ke UKS. Jangan di sini, takutnya dia kesurupan lagi," pintaku .
Mereka mengangguk dan Danu membopong Anggi keluar.
"Den... Aretha udah tau??" tanya Dion.
"Belum. Cari Aretha deh. Suruh ke sini. Gue nggak bisa tangani sendiri."
Kembali aku mengamati sekitarku, ada beberapa guru yang membantu juga. Mereka juga biasa menangani orang kesurupan seperti nya.
Namun korban kesurupan lebih banyak.
"Mba... Tadi lagi pada ngapain sih? Kok bisa gini?" tanyaku ke Alya yang masih ada di dekatku.
"Aku juga gak tau, Den. Tau tau tadi banyak yang teriak teriak gitu. Terus gini deh," ucapnya cemas.
"Mba Alya nggak usah takut. Aku coba bantu. Mending mba keluar aja ya," Pintaku.
"Tapi kamu gimana?" aku tersenyum sedikit, mendengar perhatian darinya.
"Aku nggak apa-apa." aku lalu menatap Dion yang sepertinya paham maksudnya untuk membawa Alya keluar.
Mereka berdua keluar dari aula.
Tak lama Aretha datang di saat aku sudah kewalahan.
Dan keadaan kembali tenang setelah eyang muncul.
\=\=\=\=\=\=\=
Aretha kembali ke kelas nya bersama Radit, untuk mengisi absen dan setelah itu pulang ke rumah. Karena kejadian ini sekolah di pulangkan awal. Aku tau mereka dekat, dan Radit anak baik. Aku percaya dia bisa menjaga Aretha jika dia tidak sedang bersamaku.
Kuputuskan untuk ke mushola dulu. Rasanya aku ingin menenangkan diri sebentar di sana sebelum pulang.
"Arden!!" Seseorang yang suara sangat familiar memanggilku.
Aku menoleh padanya.
"Iya mba. Gimana temennya? Udah baik baik aja kan?" tanyaku dengan masih mengatur nafasku yg belum stabil.
Keringatku bahkan bercucuran di kening sebesar jagung barangkali.
Alya mendekat lalu mengambil tissue di sakunya dan mengelap keningku.
Hatiku berdesir tak karuan mendapat perlakuan seperti ini.
Aku kenapa, ya? Nanti aku tanya Bunda deh. Kenapa tiap deket Alya jantungku lebih cepat berdetak, aku juga gemetaran.
"Nggak usah, Mba. Biar aku aja." Karena sungkan, ku ambil tissue dari tangannya.
Dia agak malu saat tangan kami bersentuhan.
"Maaf." aku lalu menarik tanganku menjauh.
"Iya, nggak apa-apa. Eum, kamu mau ke mana? Pulang?" tanyanya.
"Enggak. Aku mau ke mushola dulu."
"Eum ... Ini udah bukan waktu buat salat den," katanya sambil melihat jam tangannya.
"Aku nggak mau salat, mau itikaf bentar aja. Gara gara kejadian tadi, aku jadi gelisah gini. mending di sana sebentar."
"Oh gitu. Kamu sering ke mushola buat itikaf?"
"Lumayan. Aku juga suka denger mba Alya baca quran. Suara mba bagus," pujiku.
Dia tersenyum.
"Kalau gitu, aku ikut deh," katanya. Aku sontak terkejut mendengar hal itu. Kegugupan mulai merasuk dalam hati.
"Eh, tapi jangan berdua aja, Mba. Nggak enak. Takut jadi fitnah," kataku.
"Eum, aku ajak Anggi aja ya." Kami lalu ke UKS untuk menjemput Anggi. Keadaan dia juga sudah lebih baik, namun terlihat masih pucat.
Di mushola kami melakukan aktifitas masing masing. Aku duduk agak menjauh dari Alya, dan lebih memilih berdzikir sendiri.
Alya kembali membuka alquran dan membacanya. Kembali hatiku merasa tenang dan nyaman. Rasanya aku ingin terus mendengarnya membaca alquran setiap hari seumur hidupku.
Ya Allah, jika engkau berkenan. Semoga dia menjadi jodoh hamba.