Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 6 Ummu Sibyan


Madrasah ini rupanya tidak seburuk apa yang aku bayangkan. Bangunannya dibuat mirip balai warga dengan tempat yang agak luas. Namun sudah di sekat menjadi dua bagian. Danu sudah berada di kelas sebelah, aku juga sudah mulai memperkenalkan diri pada anak-anak di depan. Mereka masih berusia antara 6, 8, dan 10 tahun. Memakai seragam sekolah usang tanpa alas kaki. Kaki kaki mungil mereka terlihat kotor, walau tersamarkan dengan lantai ubin yang memang berwarna gelap. Tidak ada kursi untuk mereka duduki. Hanya ada meja sebatas dada dengan tikar di bawah mereka. Beruntung ada papan tulis untuk sarana mengajar.


"Oke, jangan lupa, kerjakan PR kalian, ya. Jangan terlalu banyak main, oke, anak-anak?" tanyaku dengan menaikkan mada bicara agar mereka mendengar. Sekaligus menarik perhatian mereka yang terkadang asik sendiri. Yah, begitulah anak-anak selalu penuh dengan kepolosan, dan terkadang masih sibuk dengan dunia mereka.


Jam mengajar hanya dari pukul 08.00 sampai pukul 10.00. Bukan sekolah resmi seperti di perkotaan pada umumnya. Tetapi cukup untuk memberikan sedikit ilmu pada generasi penerus seperti mereka. Berharap akan ada donatur yang mau menyumbangkan hartanya demi masa depan mereka.


"Mau ke mana kita?" tanya Danu. Pekerjaan kami memang tidak membutuhkan waktu yang lama, dan pada akhirnya kami juga bingung akan melakukan apa setelahnya.


"Eh, ke rumah Pak Kades dulu deh aku. Mau nelpon Radit."


"Memangnya jam berapa dia nelpon?"


"Biar aku yang nelpon, Dan. Nunggu dia takut lama. Belum tentu kita di tempat Pak Kades pas jam segitu, kan?"


"Ya terserah elu aja ah."


Kami berdua berjalan lagi menuju rumah Pak Kades. Tidak begitu jauh karena daerah ini bagai pusat kegiatan kebanyakan penduduk. Selain petani dan nelayan.


"Halo, Radit?" sapa ku di balik sambungan telepon.


"Loh, sayang? Kok kamu yang nelpon? Kan aku bilang kemarin, biar aku aja. Lagian jam segini, kamu udah selesai ngajar?" tanyanya.


"Udah, Dit. Makanya bisa nelpon kamu. Aku sama Danu bingung mau ke mana, dan mau ngapain lagi. Mungkin nanti kami mau jalan-jalan ke sekeliling desa. Sambil kenalan sama penduduk."


"Oke, sayang. Kamu hati-hati ya. Aku kangen kamu."


"Aku juga, kangen. Oh iya, sayang. Kayaknya aku mau nyoba cari tempat yang ada sinyal hp juga. Soalnya kami juga harus kirim laporan tentang kegiatan kami. Sekaligus nyari bahan buat ngajar nanti."


"Memangnya ada? Di mana? Jauh?"


"Ada deket hutan sana, katanya di sana ada dataran tinggi gitu. Bu Heni yang cerita."


"Bu Heni siapa?"


"Itu yang punya rumah, tempat aku sama Danu tinggal."


'Terus bagaimana sayang di sana, betah nggak?"


"Eum, masih betah sih, Dit. Yah semoga betah terus deh."


"Kok begitu ngomongnya? Ada apa, sayang?"


"Bagaimana, ya, panjang ceritanya. Tapi aku juga belum tau pasti sih, Dit. Besok aku ceritain saja ya kalau kita ketemu. Kamu bilang mau ke sini, kan? Bawain barang-barang aku yang ketinggalan di rumah? Jadi, kan?"


"Iya, sayang, jadi. Nanti aku cari waktu dulu, ya. PAsti aku ke sana. Aku kangen kamu juga loh ini. Bukan semata-mata karena nganterin barang kamu saja."


"Oh, oke sayang. Kamu juga hati-hati, jaga diri kamu, ya. Aku sayang kamu."


"Aku juga sayang kamu."


Radit memang cukup sibuk sejak dia sudah bekerja. Dia cukup beruntung telah bekerja di sebuah perusahaan tanpa campur tangan orang tuanya. Tetapi dia menjadi makin sibuk sekarang. Aku mengerti, tidak mau terlalu banyak menuntutnya. Berharap suatu hari nanti kami akan berkumpul kembali.


Aku dan Danu mulai menjelajah desa. Menyapa warga yang masih sibuk dengan kegiatan mereka saat ini. Sekaligus memperkenalkan diri pada mereka tentang siapa kami, dan sedang apa kami di desa ini. Apalagi kebanyakan ibu-ibu di sini adalah wali murid anak-anak didikan aku dan Danu. Setidaknya kami juga harus mengetahui background keluarga mereka satu persatu.


Aku berhenti di sebuah warung. Tempat ini cukup sederhana karena memakai bambu untuk bangunannya, tapi di tempat ini satu-satunya penjual yang menjajakan banyak barang. Dari sayur mayur sampai kebutuhan kering mau pun basah. Sabun, kopi sachetan, gula, beras dan masih banyak lagi.


"Iya, lah wong baru saya tinggal sebentar, si Pak'e lupa nutup jendela, Ya ampun. Kok begini sih jadinya," rengek seorang ibu paruh baya sambil menangis.


"Sudah ke rumah Pak Narto belum, Yu?" tanya ibu lainnya. Kegiatan para ibu tersebut sebenarnya adalah berbelanja, tetapi hal ini seolah menjadi ajang bergosip dan menyampaikan informasi dengan cara cepat. Aku yang penasaran, lantas mendekat. Berpura-pura ikut memilih sayuran sambil menyimak obrolan tadi. Danu justru duduk di kursi kayu, menikmati es jeruk di meja.


"Maaf, Bu. Ada apa, ya?" tanyaku tanpa sungkan. Mereka langsung beralih menatapku dengan kebingungan yang terlihat jelas di sana.


"Mbak nya ini ... siapa, ya? Kok baru lihat?" tanya salah seorang wanita dengan pakaian kebaya usang.


"Loh ini Guru dari kota itu to?" sahut pemilik warung.


"Oh, iya, Bu. Maaf saya belum memperkenalkan diri. Saya Aretha, dan itu, Danu, kami yang bertugas mengajar anak-anak di sini." Aku menyatukan kedua telapak tangan di depan dada dan menatap mereka satu persatu bergantian.


"Oalah ini to, Bu Aretha. Anak saya tadi pulang sekolah langsung cerita tentang Bu Guru. Terima kasih, sudah mengajar anak-anak di sini."


"Iya, sama-sama, Bu. Sudah tugas saya." Mereka lantas bisik-bisik sambil tersenyum melihatku. Sekilas aku mendengar kalimat, cantik, di sela-sela bisikan itu. "Eum, maaf tadi ada apa, ya, Bu. Kok sepertinya ada hal penting?" tanyaku lagi, mengingatkan apa yang membuatku penasaran.


"Ini Bu Guru, anaknya Lastri hilang semalam," kata Ibu di sampingku, melirik wanita yang sedang memilih sayuran dengan tidak bersemangat.


"Hilang? Kok bisa? Memangnya dia main ke mana, Bu?" tanyaku agak terkejut mendengarnya. Di desa ada anak hilang, rasanya sungguh aneh.


"Iya, bukan karena main, tapi diculik!"


"Diculik? Diculik siapa?" Bayanganku mulai ke mana-mana saat mendengar kata culik, rasanya seolah ada orang jahat di mana-mana. Tak hanya di kota tetapi juga di desa ini.


"Bukan diculik orang, Bu Guru. Tapi diculik setan!" Kembali dia berbisik, dan hal itu membuat Bu Lastri makin menangis histeris.


'Setan? Kolong wewe, begitu kah, Bu?"


"Bukan, Bu Guru. Tapi Ummu Sibyan."


Ummu Sibyan, siapa dia? Aku belum pernah mendengarnya sama sekali. Dia bukan manusia, tapi setan? Setan apa yang bisa menculik anak kecil begitu mudah di rumahnya sendiri.