Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 23 Insiden kecil


Hari ini aku berencana pergi ke kota dengan Mita. Beberapa bahan pokokĀ  pesantren sudah semakin menipis. Kak Yusuf menyuruhku ikut agar tidak bosan berada di dalam pesantren terus. Dan tentu agar bisa menikmati suasana kota di Kalimantan. Walau mungkin akan sama saja seperti di kota kota yang lain.


Kami akan berangkat bertiga naik mobil kak Arif. Tentu bersama Firman. Karena dia adalah orang yang bertanggung jawab untuk segala kebutuhan pesantren. Aku dan Mita sudah menunggu beberapa menit di depan mobil. Hingga akhirnya tak berapa lama kemudian, dari kejauhan aku melihat Anggie dengan Firman yang membawa tas besar.


"Anggie ikut juga, Mit?" tanyaku dengan berbisik.


"Iya, Kak. Katanya mau ke kota, mau ngajar di sana sementara," sahut Mita.


Baru aku tau kalau Anggie adalah seorang guru di sebuah sekolah swasta di kota. Saat mereka sudah dekat, Anggie berbasa basi seperti biasa. Aku hanya menanggapi dengan senyum tipis. Sementara Mita dan Anggie memang sudah cukup akrab. Atau memang Mita seorang anak yang supel. Jadi dia mudah akrab dengan orang lain.


Aku tak berkomentar apa pun.


Jadilah kami berempat pergi naik mobil kak Arif.


Firman dan Anggie duduk di depan.


Aku dan Mita di belakang.


Anggie dan Firman terlihat bahagia dengan senyum dan tawa mereka sepanjang perjalanan.


Aku hanya memandang keluar jendela. Ada rasa sakit melihat hal itu terjadi di depanku. Tapi aku bisa apa?


"Nisa bakal lama kan di sini?" tanya Anggie tiba tiba membuyarkan lamunanku.


Firman melirikku dari kaca spion. Aku melihat nya dengan jelas.


"Eum. nggak tau juga. liat sikon aja. Kalau betah ya lama," kataku mencoba bersikap wajar.


"Katanya sempet kuliah ya, Nis?" tanyanya lagi.


"Iya, dulu kuliah di luar kota juga. Cuma aku nggak lanjutin, sebenernya udah sampai semester akhir. Tinggal beberapa bulan lagi aku lulus."


"Sayang banget nggak dilanjutin. Kenapa nggak lanjut, Nis?"


"Males, Nggie. Aku udah nggak semangat lagi kuliah. Udah males mikir. pusing."


"Hm.. oh iya, 3 bulan lagi aku sama Firman mau nikah. Kamu harus dateng, ya."


"Inshaa Allah." Hanya itu yang mampu kuucapkan. Aku kembali memalingkan wajahku ke jendela mobil.


Sesekali Firman masih saja menatapku dari spion depan. Mita juga melirik kami, bingung. Ia pasti tau bagaimana posisiku di antara mereka berdua.


Aku sangat menyadarinya, hanya ku biarkan saja.


Pasti mereka kasian melihatku.


Anggie ini orangnya supel, pintar dan baik. Pantas saja Firman menyukainya. Mereka juga terlihat cocok satu sama lain.


Ponsel ku berdering. Ada panggilan masuk menggunakan video call. Senyum sumringah tercipta dari bibirku. Melihat penelepon yang sangat ku rindu.


"Wah, bisa video call sekarang. perasaan kemaren susah banget," kataku berbicara sendiri.


"Di Pesantren kan susah signalnya, kak. Kalau di sini jangan tanya deh," kata Mita.


Aku mengangkat panggilan itu


Dari teman temanku.


"Nisa!" jerit Indah dengan suara cempreng khasnya.


"Assalamualaikum, salam dulu dong," timpalku dan membuat wajah Indah malu, menutup mulutnya menahan tawa.


"Eh, iya, lupa! Wa alaikum salam, ukhti. Eh, kamu ke mana sih, Nis? Pergi ke Kalimantan nggak kasih kabar! Kami nyariin kamu ke rumah tau!" sinis Indah. Dan wajah teman temanku yang lain mulai terlihat.


"Iya nih. Kamu ngapain sih ke sana. Kayak di sini nggak ada manusia aja!" tambah Ferli.


"Kamu pikir aku ke sini nyari setan? Ngawur!" timpalku.


"Nis, dicari Reno tuh!" cetus Nindi.


"Ih ngapain itu orang nyariin aku? Belum puas, bikin aku nyasar di alam gaib?"


"Nisa! Kamu kok sinis banget sama Reno!" rengek Indah.


"Ih Indah kamu kenapa belain tuh cowok sih!" sinisku.


"Kamu nggak tau ya, Nis? Mereka balikan lagi," bisik Ferli, mencondongkan tubuhnya ke depan kamera.


"What?!" pekikku. Wajah Feri kemudian muncul, mendominasi.


"Dapet cowok Kalimantan kagak lu, Nis? Katanya cewek sana cantik cantik, cowoknya juga pasti ganteng ganteng tuh!" ujarnya.


"Apa sih, Fer! Otakmu itu loh!"


"Ya, kan, kamu harus move on dari Indra, Nis. Buka hati kamu buat laki lali lain," timpal Feri.


"Nggak bakal. Udah aku kunci hatiku dari yang lain."


"Jangan giti dong, Nis," cetus Ferli.


"Udah ih, nggak usah dibahas lagi. Bawel banget deh kalian!"


"Eh kamu lagi di mana? Tumben bisa di telepon?"


"Lagi di jalan, mau ke kota."


"Wuih, gadis desa mau jalan jalan ke kota. Eh coba kasih liat gimana suasana Kalimantan," pinta Indah.


Aku membalikkan kamera agar mereka bisa melihat sekitar ku. Namun baru beberapa detik, mereka kembali menjerit bersamaan.


"Apa sih?! Teriak teriak. Berisik banget!" omelku sebal.


"Kamu lagi sama Indra?"


Jantungku terasa berdesir, aku yakin mereka melihat Firman tadi. Firman melirik padaku.


"Ngaco deh! Mana ada!"


"Lah itu yang lagi nyetir mobil! Itu Indra, kan?"


"Oh, bukan ih. Itu Firman, pengurus pesantren."


"Kok mirip banget, Nis. Pantesan kamu betah di sana."


Sontak aku matikan panggilan itu sepihak. Aku tidak enak dengan Anggie, dan benar saja, suasana menjadi kikuk sekarang.


"Maaf ya, temen temen ku bawel, rempong banget," kataku mencoba tertawa.


"Indra itu siapax Nis?" Anggie angkat bicara.


"Eumm... bukan siapa siapa kok." aku merasa malas membahas itu lagi. Kapan aku bisa move on kalau mereka selalu mengungkit Indra.


Berkali kali Indah menelfonku lagi tapi selalu aku reject.


***


Kami sampai di Bandara. Anggie akan naik pesawat pergi ke kota yang dituju.


Kami bersalaman. Firman dan Anggie saling berpelukkan, Firman mengecup kening Anggie. Aku memalingkan wajahku dan segera pergi dari sana. Kini aku duduk di sebuah kursi dekat Bandara.


Mita pergi membeli minum. Panas juga di sini.


Tak lama, Firman kembali dan duduk di sebelahku.


"Maaf ya, Nis," katanya membuatku mengernyitkan kening.


"Maaf buat apa?" tanyaku dingin.


"Soal aku sama Anggie."


"Itu kan hak kamu. Kenapa kamu harus minta maaf? Aku nggak berhak marah, Man. Karena aku bukan siapa siapa kamu!" kataku dingin.


Sementara dia terdiam membisu.


Setelah Mita datang kami segera pergi membeli keperluan pesantren.


Selama 4 jam kami berbelanja.


Kami kembali ke mobil kami dengan beberapa kantung belanjaan.


"Nis, kamu duduk di depan aja ya," pinta Firman.


Aku segera duduk dijok depan bersebelahan dengan Firman tanpa mengelak atau berdebat. Aku lelah.


Mita asyik mendengarkan musik lewat ponselnya dengan memakai earphone.


Firman sesekali melirikku saat perjalanan pulang.


Tiba tiba Firman mempercepat laju mobil.


"Kenapa ngebut? Nggak bisa pelan aja?" tanyaku.


"Kita diikuti," ucap Firman sambil menatap spion.


Aku melihat ke belakang. Memang ada mobil hitam yang sepertinya mengikuti kami.


"Mereka ngikutin kita dari tadi, Nis. Sepertinya niat mereka nggak baik"


Insting Firman hampir seperti Indra.


Firman mengerem mendadak.


Beberapa orang keluar berdandan seperti preman.


"Kamu sini aja, kunci pintunya."


Ini bagai de javu, lagi, karena aku pernah mengalami sebelumnya dengan Indra.


Mita sedikit panik. Aku ikut keluar dari mobil


"Mita, kunci mobil. Jangan buka. ini buat jaga jaga," kataku memberikan Mita kunci inggris yang ku ambil dari dash board depan. Mita mengangguk mengerti. Tatapan matanya menyiratkan kecemasan dan rasa takut. Entah untuk dirinya sendiri, aku atau Firman. Mungkin kami semua.


"Nisa! ngapain keluar balik ke mobil!" teriak Firman.


Aku seolah tidak mendengar perkataannya sedikitpun.


Mereka mulai mendekatiku, aku raih tangannya dan kupelintir lalu ku banting ke tanah.


Mereka kaget dengan gerakan ku yang cepat, tak mereka duga sebelumnya. Melihat aku bisa melawan, semua menyerang ku dan Firman bersama sama. Ada sekitar 10 orang.


Firman menghadapi 5 orang, aku pun juga. Satu orang membawa pisau. aku pasrah saja, kalau aku tidak selamat tak apalah. Karena aku belum pernah menghadapi musuh yang memegang senjata. Alhasil pria itu berhasil menusuk lenganku dengan pisaunya.


Ku pukul tenggorokannya dengan satu kali pukul, dia pingsan atau mati aku tidak peduli.


Teman teman nya yang lain juga menyerang ku dengan membabi buta.


Aku lawan sekuat tenaga. Semoga aku bisa bertahan.


Tak lama kami berhasil memukul mundur orang orang itu.


Firman mengalami luka di pelipis matanya karena dipukul dengan balok kayu. Telapak tangannya juga berdarah kena senjata tajam.


"Ya ampun. Berdarah, Firman. Ayo balik ke mobil. Aku obatin," kataku cemas.


Aku mengobati luka Firman, untung mobil kak Arif ada kotak P3K nya juga. Mita membantuku menyiapkan obat dan plester untuk Firman.


Aku merasa sakit di bagian siku kiriku. Terasa basah. Karena aku memakai jaket darah yang merembes jadi tidak begitu terlihat.


Aku juga terluka rupanya. Aku sampai tidak sadar.


Tapi aku diam saja. Kubiarkan saja, nanti ku obati di Pesantren saat kami sampai.


Perjalanan pun kami lanjutkan tanpa ada halangan lagi.


Agak lama memang sekitar beberapa jam sampai pesantren.


***


Sesampainya di pesantren , Firman dan Mita turun terlebih dahulu untuk mengambil belanjaan di bagasi mobil.


Aku melihat ke cermin, terlihat wajahku pucat, bajuku sudah basah karena darahku sendiri.


Sepertinya aku kehilangan banyak darah.


Perlahan aku keluar dari mobil dan berjalan gontai.


Tapi pandanganku makin lama makin kabur. Aku terjatuh. Samar samar kudengar teriakkan memanggilku


" Nisa!!"


***


Aku melihat Indra, ya Indra. dia tersenyum kepadaku. Lalu mengulurkan tangannya, aku pun meraihnya. Dia membawaku berkeliling , ini Taman bunga. Bahagia sekali rasanya.


Apa aku udah mati, ya?


"Kenapa kamu pergi, Ndra."


"Aku selalu di sini, Nis. di hati kamu. Aku nggak pernah ke mana mana," katanya lembut.


Tiba tiba suasana berubah gelap, Indra menghilang lagi, aku berlari mencarinya.


Berteriak memanggil namanya.


"Indra!!"


"Niss. Bangun. Nisa!!" Aku mendengar suara kak Yusuf, samar.


Perlahan ku buka mataku. Dan kini wajah mereka jelas terlihat.


"Alhamdulillah kamu udah sadar." sekarang suara kak Adam juga ada.


"Kak Adam?" Aku memeluk kak Adam seketika. Kangen rasanya. Lama tidak melihat Kak Adam.


"Aku di mana sih ini? kak Adam kok di sini juga?" tanyaku masih belum begitu sadar sepenuhnya.


"Kamu pingsan, Dek. Kamu kehabisan banyak darah kemaren," kata kak Yusuf.


"Yusuf telepon Kakak, langsung deh kakak ke sini." kak Adam membelai kepalaku.


"Kirain aku udah mati kak," gurauku.


Kepalaku langsung dijitak kak Adam. Dan mendapat omelan panjang lebar.


"Eh Kak Shinta mana?"


"Nggak ikut. kan lagi hamil, Nis. Biar aja dirumah."


"Assalamualaikum." kudengar suara Firman masuk ke ruang rawat inapku. Yah, Rumah sakit. Seperti biasa.


"Wa alaikum salam." kami menjawab bersamaan.


"Eh Firman. masuk sini," ajak kak Yusuf.


"Wah.. Nis.. Bener ya. Bagai kembar," seru Kak Adam dengan berbisik.


Aku memang menceritakan soal Firman ke kak Adam lewat telepon beberapa hari lalu. Aku diam saja tak menanggapinya.


"Ya udah, kakak ke administrasi dulu ya. kak Adam, temenin yuk," ajak kak Yusuf.


"Oh.. oke oke."kak Adam melirik kami penuh arti. Sepertinya mereka sengaja meninggalkan kami berduaan di sini.


Setelah mereka pergi, Dirman mendekat duduk di kursi ranjangku.


"Berapa lama aku di sini?" tanyaku tanpa menatapnya.


"4 hari, Nis." Firman masih menatapku sedih. Terlihat dari ujung ekor mataku.


"Hmm.. agak lama ya dari yang sebelumnya. Biasanya aku paling lama cuma 3 hari pingsan," kataku cuek. Aku memang sudah terbiasa terbangun di Rumah Sakit.


Tiba tiba Firman langsung memelukku.


Astaga!! Hatiku berdesir, lagi. Rasa nyaman dan rinduku kepada Indra seakan terbayarkan dengan pelukan Firman.


"Aku khawatir banget, Niss. Takut kamu nggak bangun lagi," katanya.


"Kalau nggak bangun lagi ya bagus kan, aku bisa ketemu Indra. Nggak perlu kayak gini terus. Hidup tapi seperti mati."


Firman merapatkan jari telunjuknya ke arah bibirku dan menggeleng.


"Kamu nggak boleh ngomong gitu Nis. Banyak yang sayang sama kamu, peduli sama kamu. Kenapa kamu selalu nyakitin diri kamu sendiri??"


"Aku nggak merasa tersakiti."


"Bohong!! Kamu bahkan lebih mementingkan luka ku yang hanya sedikit ini, Nis... kamu nggak peduli dengan luka yang ada di tangan mu sendiri!" katanya dengan penuh emosi.


"Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit, Firman.. Kamu nggak usah heran gitu."


"Indra beruntung dicintai olehmu. Dia beruntung banget. kamu harus semangat demi Indra." kata Firman.


"Bullshit!" gumamku.


Kak Adam dan kak Yusuf masuk ke ruangan ku, dan membuat Firman agak menjauh.


"Untung kamu cepet dapet transfusi darah," kata kak Adam begitu sampai ruanganku.


"Makasih ya, Firman, " Kata kak Yusuf. Aku menatap mereka dengan ekspresi bingung.


Kak Yusuf melihat kebingungan dari wajahku.


"Firman yang mendonorkan darahnya buat kamu. Saat kamu pulang dari kota, kamu pingsan. Firman langsung membawa kamu balik ke mobil, terus ke Rumah Sakit terdekat. Kamu kehilangan banyak darah," terang kak Yusuf.


Aku memalingkan wajahku ke sudut kamar ini, sedari tadi aku sudah menyadari kehadiran makhluk lain di sini.


"Nisa mau pulang sekarang," kataku.


Kak Yusuf mengerti alasanku.


"Kalau males ngeliat, pegang aja Firman. Mereka hilang, kan?" tanya kak Yusuf. Aku mengernyitkan kening.


Kok kak Yusuf bisa tau ya?


"Hah? sama kayak Indra juga, Nis?" tanya kak Adam antusias.


Aku akhirnya boleh pulang sore itu juga. Rasanya istirahat di kamar ini sudah lebih dari cukup, sambil memeluk boneka dari Indra.