Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
54. selamat jalan, temanku


Setelah kelas 3, kami mulai sibuk dengan berbagai tambahan pelajaran di sekolah.


Aku dan Kiki agak sedikit trauma dengan kejadian tempo hari di bimbel itu.


Rasanya tidak ingin mengikuti bimbel di luar lagi. Lebih baik fokus dengan yg di sekolah saja seperti yg lain.


Aku dan kiki duduk di bangku kedua dari depan, di depan kami Danu dan Dion, sedang kan Doni dan Ari di belakang Kiki.


kami berenam memilih duduk di dekat tembok samping jendela.


Ini adalah spot favorit kami. Jika suntuk karena pelajaran di kelas, menatap keluar jendela adalah pilihan terbaik saat di dalam kelas.


Bangku di sampingku ada Viktor dan Ardian, mereka dua orang siswa yg memakai kacamata di kelas kami.


Viktor adalah anak yg pendiam sekali, baik, ramah, dan sopan. Dia juga termasuk murid pandai di kelas. Terlihat sekali dari kacamatanya yg agak tebal, karena jika aku ngobrol dengan nya aku suka pusing kalau harus terlalu lama melihat matanya.


Biasanya itu pertanda dia suka baca. eh iya gak sih? anggep aja iya deh ya. hehe


Aku juga sering minta bantuan nya jika ada soal yg tidak ku mengerti.


"Vik, kamu udah ngerjain tugas kemaren?" tanyaku.


Karena letak kami duduk berdekatan, aku lebih sering mengobrol dengan nya.


"Udah. Kamu udah belum? Mau liat punyaku?" tawarnya


"Udah sih.. Cuma kok aku ragu ya. Apalagi yg soal no 5-10. bentar deh.." kuambil tugas yg sudah kubuat kemarin.


"Mana coba? aku liat."


Ku ulurkan pada Viktor lembar tugas milikku, dia mengecek semua nya dengan teliti.


"Ohh.. Ini lho, Tha. Salah nih.. Bukan gini caranya.. Bentar ya aku ambil punyaku."


Dia memberikan lembar tugas miliknya.


Aku pun membandingkan hasil kami berdua.


Plakkk!!


Ketepuk keningku sendiri.


"Ya ampun.. Iya, salah punyaku. Aku lupa. Hehe.. Nyontek ya.." kataku ke Viktor sambil cengengesan.


"Iya, silakan," katanya lembut.


Dia baik nya minta ampun, kayaknya dia satu satu nya anak paling baik di kelas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Istirahat siang ini, aku memutuskan duduk saja di dalam kelas. Radit dan anak anak basket sedang main basket di luar, itu sudah kegiatan rutin. Tiada hari tanpa bermain basket.


Kiki sedang ada kegiatan lain.


Jadi aku hanya sendirian di kelas.


"Tha? Gak ke kantin?" tanya Viktor.


"Enggak ah. Males. Capek. Ngantuk. Lagian gak ada temen," kataku sambil meletakkan kepalaku di meja. Ini adalah kebiasaan ku jika sedang bermalas malasan di kelas.


Viktor tersenyum,"mau bareng? Aku mau ke kantin nih."


"Mmm... Boleh deh. Hehe"


Akhirnya aku ke kantin bersama dia. walau pun dia anak baik baik. Tapi dia ini tipe pemilih. Dia tidak bisa cepat akrab dengan orang lain.


Dan alasan dia akrab denganku, ya karena aku sering mengajaknya ngobrol, entah hanya say hello atau bertanya pelajaran.


"Eh.. Radit ke mana? Kok gak nyamperin kamu?" tanyanya.


"Lagi main basket. Biasa itu mah. Aku males nonton.panas, "Rengek ku.


Dia hanya senyum melihat reaksiku.


Sampai di kantin, kami memesan 2 jus alpukat dan siomay.


"Eh, Vik.. Rumah kamu di mana sih?" tanyaku sambil mengunyah siomay ku.


"Itu loh, Tha.. Di daerah Ringin Tirto. "


"Oh situ.. Kamu naik sepeda tiap hari?"


"Iya. Kadang naik angkot. Lagian gak jauh jauh amat kan? Sekalian olahraga," jawab nya santai.


Viktor ini memang sering ke sekolah naik sepeda, dan dia tidak malu atau pun minder dengan hal ini.


"Kapan kapan aku main ya. Kalau pas aku gak ngerti soal soal .hehe"


"Beres. Kapan aja kamu butuh pertolongan, aku siap kok."


Kami lanjutkan makan dan minum diiringi obrolan ringan.


Hingga ada Vinza tiba tiba duduk di dekat kami.


Vinza ini anak kelas IPS. Dia pernah menyatakan perasaan nya padaku, namun aku tolak.


Aku memang tidak suka padanya. Dia terlalu tempramental, arogan dan karena memang sudah ada Radit saat itu.


Radit Pun tidak suka padanya. Dan selalu mengibarkan bendera perang pada Vinza di mana pun berada.


"Hai Aretha.. Waduh. Mana bodyguard kamu? Kok berubah jadi kacung gini," katanya sinis sambil melirik Viktor.


Viktor hanya diam, sambil menundukkan kepala.


"Ngapain kamu ke sini??" tanyaku dingin.


"Ya kangen sama kamu lah. Ngapain sih kamu duduk, makan bareng anak culun ini? Mending sama aku dong. Aku traktir deh kamu mau makan apa aja. Bahkan seiisi kantin buat kamu kalau perlu," katanya sombong.


" kamu pikir aku gak punya uang buat beli makanan? Lagian hak aku dong, mau makan sama siapa aja. Itu bukan urusan kamu!!"jawabku sinis.


"Kamu lebih pilih dia daripada aku, Tha?"


Vinza mulai tersulut emosi lalu mencengkram kerah baju Viktor kasar. viktor hanya pasrah diperlakukan seperti itu.


Semua orang tau watak Vinza, kebanyakan memang tidak berani melawan.


"Lepasin dia!!" ucapku datar.


"Enggak.. Enggak akan. Mau apa kamu??" tantang nya.


Kuambil jus alpukat milikku lalu kusiramkan ke wajahnya.


Vinza makin emosi lalu berdiri menantang ku.


"Kurang ajar kamu ya. Di baik baikin malah ngelunjak!!" teriak nya keras, namun Vinza masih memegang kerah baju Viktor.


"Lepasin dia!" teriakku tak kalah keras sambil menunjuk Viktor.


"Enggak bakal!!!!"


Bugggg!!


Viktor dipukul di bagian perut hingga jatuh ke lantai.


"Kurang ajar!!!" umpatku kesal.


Buuuuggg!!


Kupukul wajahnya keras, hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah.


Dia mengelap darah itu sambil tersenyum sinis padaku.


"Aku suka gaya kamu. Liar.." kalimatnya bikin aku jijik.


Buuuggg!!


Kupukul lagi di bagian ulu hatinya.


Namun dia tidak membalas ku, hanya terus saja menyeringai padaku.


Hal ini membuatku makin geram.


Dan ku pukul dia terus dengan membabi buta.


"Minta maaf sama Viktor!!! Cepet!!" teriakku.


Vinza hanya tersenyum sinis sambil melihat Viktor.


Kujambak rambutnya dan kudorong ke lantai hingga jatuh di bawah kaki Viktor.


Vinza berdiri,"kamu nyuruh aku minta maaf sama dia? hahaha. Jangan harap.. Cih ..najis tau gak!!" dia malah meludah ke Viktor.


"Brengsek kamu ya!!" kalimat yg keluar dari mulutku makin kotor saja.


Ku ambil botol minuman di meja dekatku dan kulayangkan ke Vinza.


Namun, Viktor menahan tangan ku.


"Jangan, Tha.. Udah.. Udah. Biar aja. Aku gak papa kok," kata Viktor memelas.


"Tapi dia udah kurang ajar, Vik!! Gak bisa dibiarin!!"


"Udah, Tha. Semua tau kok kayak apa dia. Gak usah diladenin,"pinta Viktor.


"Hahahaha... "Vinza malah tertawa puas


Semua orang di kantin melihat kami, dan kami bertiga berhasil menjadi tontonan gratis siang ini.


"Diem kamu!! Gak usah ketawa ya!! Urusan kita belum selesai!!" ucapku sambil menunjuk vinza.


Buuuughhg!!


Vinza jatuh tersungkur kelantai.ternyata radit yg datang bersama yg lain.


"Kamu gak papa ,sayang?" tanya radit.


"Gak papa. Kesel aja sama dia.pengen aku pukul nih pake botol" ku tunjukkan botol yg masih ku genggam.


Radit menatap vinza kesal.


"Oh jadi elo cari masalah ya!! Mentang mentang gue gak ada elo berani ya!!" kata Radit sambil berjalan mendekati Vinza.


"Udah deh... udah.. Jangan pada berantem.. "Bujuk Dedi sambil menahan Radit yg terus berjalan ke Vinza.


"Kenapa?? Ada elo atau enggak, gak ada bedanya! Gue gak takut!!" tantang Vinza.


"Kurang ajar elo ya!!"


Radit dan Vinza terlibat baku hantam beberapa saat.


Hingga keduanya dilerai oleh beberapa orang yg ada di kantin.


Aku mendekat ke viktor.


"Kamu gak papa kan?"tanyaku sambil memandanginya dari atas sampai bawah.


Sambil memegangi perutnya viktor hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Ya udah, duduk dulu. Aku pesenin teh anget ya. Biar perutnya enak kan." ku bantu Viktor duduk dan ku pesan kan teh manis hangat untuknya.


Lalu aku mendekat ke Radit.


"Ya ampun, Dit. Muka kamu.." kusentuh pipinya yg membiru karena pukulan Vinza.


"Gak papa kok, sayang. Gini doang mah kecil. Kamu gak papa kan?" tanyanya.


"Aku gak papa. Viktor tuh yg kasian."


Kami mendekat ke Viktor yg masih kesakitan memegangi perutnya.


"Gak papa kan, Vik?"tanya Radit.


"Gak papa kok. "


"Ya udah, minum dulu tuh teh nya."saran kak Arden.


"Bisa bisanya elu ribut gimana sih, Tha?" tanya Dedi.


"Lah tuh anak, ngeselin banget... bla bla bla.." kujelaskan kronologi kejadian tadi dari awal.


"Emang kurang ajar tuh anak!" umpat Ari.


Radit malah menatapku iba.


"Kenapa sih? Ngliatin nya gitu amat?" tanyaku.


"Maaf ya sayang. Aku malah gak ada tadi, di saat kamu butuh."


Dia mulai nih, melo drama.hehehe.


"Gak papa kali, Dit. Lagian aku gak luka."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sore ini aku hanya tiduran saja di kamar sambil baca baca buku.


Rasanya badanku lemas. Dan tidak ingin ke mana mana.


Lagi pula sedang hujan deras di luar, lebih enak tidur saja.


Tok tok tok tok.


"Dekk," panggil kak Arden.


"Masuk aja."


Kak Arden masuk dengan wajah ditekuk.


"Kenapa?" tanyaku heran.


Kak Arden mendekat padaku lalu duduk di tepi ranjang. Melihat wajahnya yg serius banget. Aku akhir nya duduk.


"Kamu udah denger kabar ?"


"Kabar? Kabar apaan?"


"Viktor, Tha."


"Viktor? Viktor kenapa? Dikerjain sama Vinza lagi??" tanyaku agak panik.


"Bukan.."


Kak Arden menarik nafas panjang.


"Kenapa sih, kak??? Cepet bilang!!" kugoyang goyangkan tangan kak Arden, berharap kak Arden cepat menyampaikan apa yg akan dia katakan.


"Viktor meninggal."


Deg!!!


Hatiku bagai tersayat. Sakit rasa nya mendengar hal itu.


Air mataku tumpah.


"Kok bisa sih? Kenapa? Bukan nya tadi masih sama kita kan? Dia kenapa kak??? Kenapa??" aku menangis dengan berurai air mata.


"Dia kesamber petir, Tha. Pas main bola tadi."


"Astagfirullohaladzzzim.." ku tutup mulutku lalu ku jambak rambutku sendiri.


"Yok-- kita ke sana ngelayat."ajak kak Arden.


Sepanjang perjalanan aku hanya diam sambil menahan air mata, ku bacakan alfatihah terus untuk nya.


Aku tidak menyangka, jika dia akan pergi secepat ini.


Dia salah satu teman yg baik yg ku punya selain teman temanku ini.


Dia anak yg baik, tidak pernah menyakiti perasaan orang lain. Bahkan saat banyak yg menghina nya, dia terus sabar tersenyum pada mereka.


Sampai di rumah viktor, sudah ada bendera putih di depan dan kursi plastik berjejer rapi.


Di sana sudah ada Kiki, Doni, dedi, dan yg lain nya.


Kiki langsung memelukku, lalu mengantarku melihat jenazah Viktor untuk terakhir kalinya.


Kakiku lemas saat di dekat Viktor, bahkan Radit sampai memapahku agar tidak terjatuh.


"Yg sabar, Tha. Dia udah tenang. Jangan kamu tangisi terus,"ucap Radit.


Aku mengangguk.


Wajah viktor sungguh teduh. Dia tersenyum, ku bacakan yassin untuknya hingga dia akan di salatkan.


Aku pun ikut mensalatkan dia bersama yg lain.


Hingga saat prosesi pemakaman. Tangisku lagi lagi tidak bisa


kubendung. aku terus menangis melihat nya masuk ke liang lahat.


\=\=\=\=\=\=


Selamat jalan temanku Muhammad Abdul Viktor.


Semoga kamu tenang di sana, kami selalu mendoakan mu.


Kamu adalah teman terbaik yg kami punya.


We miss you always.


***


Lusa kami akan menjalani ujian.


Tak terasa sudah hampir 3 tahun, kami bersekolah di sini.


Banyak suka duka yg kami lalui di sini. Bertemu teman teman baru yg kini bahkan sudah seperti saudara sendiri.


Sabtu ini, sekolah pulang awal.


Tapi siswa kelas 3 masih ada di sekolah untuk melakukan doa bersama. Semua berkumpul di aula sekolah dan duduk dengan tenang dan rapi di sana. Sosok yg biasa kulihat di sini, tidak lagi nampak.


Sedikit lega rasanya. Aula ini memang tempat yg paling tidak ingin kudatangi karena keberadaan sosok mengerikan itu.


Namun hari ini, dia tidak juga terlihat. Kulihat ada seorang bapak bapak berpakaian putih menggunakan peci putih duduk bersama bapak kepala sekolah.


Pasti beliau adalah seorang ustadz yg akan memimpin doa pada hari ini.


Kami duduk berkelompok sesuai dengan kelas masing masing.


Ada rasa getir di hatiku, karena kepergian Viktor kemarin.


Sebelumnya kami sudah sering ngobrol tentang rencana kuliah bersama sama.


Kami akan mendaftar di universitas yg sama jika lulus nanti, dan juga fakultas yg sama. Belajar bersamanya membuatku lebih mudah mengerti pelajaran yg sulit bagiku. Dia banyak sekali membantuku selama ini. Dia juga selalu sabar mengajariku.


Acara doa bersama pun di mulai, kami menundukkan kepala dan berdoa dipandu ustadz Fakih.


Aku sampai meneteskan air mata saat ini. Flashback ke belakang, dan mengingat kembali semua kenangan ku selama 3 tahun bersekolah di sini.


'Vik, sayang banget, kamu gak di sini sekarang, ' batinku.


Semilir angin menerpa wajahku, anginnya tidak seperti biasa. Dan saat aku menoleh ke sampingku.


Deg!!


Viktor duduk di sampingku dan tersenyum padaku.


Tangis ku makin pecah.


Dia meletakkan telunjuk di depan mulutnya sambil menggeleng padaku.


Dia menyuruhku agar tidak menangis. Namun hal itu justru membuatku hatiku makin sesak.


Tangis ku makin kencang dan isakan tangis ku membuat beberapa teman teman menoleh padaku dan menatapku heran.


Tak lama tercium bau melati yg cukup menyengat.


"Aahh... Pergi!!! Pergi!!" teriak Binza yg duduk di seberang kami. Sambil menutup wajahnya karena ketakutan.


Semua akhirnya fokus ke Vinza yg histeris tak terkendali.


Dia seperti melihat sesuatu yg menyeramkan dan sangat ketakutan sekarang.


Aku menoleh ke viktor yg masih di sampingku.


Viktor menatap tajam Vinza.


"Vik..." panggilku.


Dia menoleh padaku. Aku menggeleng padanya agar dia berhenti menampakan diri ke Vinza.


Sehingga Vinza histeris seperti itu.


Viktor tersenyum padaku lalu menghilang.


Ustadz mendekati Vinza dan terlihat membacakan doa doa.


Lalu tak lama menoleh ke arah Viktor duduk tadi.


Kali ini Bagus ikut berteriak histeris sama seperti Vinza.


Dan, beberapa teman perempuan juga banyak yg berteriak histeris.


Keadaan makin kacau saat ini.


Beberapa memilih keluar dari aula, sebagian lagi malah menjadikan ini tontonan gratis.


Ustadz mencoba menangani siswa yg kesurupan.


Aku melirik kak Arden, kak Arden mengangguk padaku.


Kami juga ikut membantu.


Saat dekat dengan Vinza, dia melihatku dengan ketakutan.


Bahkan dia sampai bersembunyi dibalik tubuh teman nya. Padahal dia sudah disadarkan oleh ustad barusan.


Kurasakan bulu kudukku berdiri, saat aku menoleh, ternyata Viktor ada di sampingku dan menatap Vinza tajam.


'Viktor.. Udah. Berhenti. Kasian dia' batinku.


Viktor menoleh padaku lalu menunduk, 'dia terlalu jahat, Tha.'


Aku terdiam ,'kamu gak boleh dendam. Kamu bukan orang seperti itu.'


Ustadz mendekat, lalu menatapku dan Viktor bergantian.


Beliau menyentuh kening Vinza sambil menggumam doa.


"Katakan yg ingin kamu katakan," pinta ustadz.


Vinza menangis, baru kali ini aku melihat dia seperti ini. Sikap arogan nya hilang seketika.


"Viktor, maafin aku.. Aku udah sering banget jahatin kamu.."


Katanya sambil terisak.


Ternyata Vinza memang sudah terlalu sering menyakiti Viktor selama ini.dari merusak sepeda Viktor, mengunci Viktor di gudang dan masih banyak keisengan yg sudah dia lakukan selama ini.


Viktor terdiam dan menatap Vinza iba. Kemudian dia tersenyum,' aku maafkan.'


Dia lalu menghilang lagi.


Ustadz tersenyum dan mengangguk padaku.


"Tha...!!!!" teriak kak Arden sambil memegangi Doni yg ikutan kesurupan.


Waduh, kok malah jadi ke mana mana ini ya.


Aku mendekat ke kak Arden lalu membantu kak Arden dan Radit memegangi Doni. Kiki terus saja menangis.


Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, ternyata aula mulai ramai dengan kehadiran makhluk astral. Bahkan sepertinya semua berkumpul di sini.


Dan korban kesurupan pun, makin meningkat.


Aku dan kak Arden saling tatap.


Ku tundukkan kepala dan memanggil arkana.


Namun, yg datang justru Eyang.


Eyang hanya berputar putar di sekitar aula, dan tak lama semua kembali tenang terkendali.


Doa bersama akhirnya di hentikan, dan kami di ijinkan pulang ke rumah masing masing untuk mempersiapkan ujian lusa nanti.


\=\=\=\=\=\=


Kami pulang ke rumah diantar Radit. Sekarang kak Arden memang jarang membawa kendaraan sendiri, karena kami sudah terbiasa bersama Radit saat berangkat maupun pulang sekolah.


Sampai di halaman rumah, kulihat ada mbak Alya di taman sedang ngobrol dengan bunda sambil memetik bunga mawar yg ditanam bunda.


"Lho, mbak Al, udah lama?" sapaku.


"Baru aja kok, Tha. Pulang kuliah mampir sini."


Aku langsung memeluknya dan salim ke bunda.


"Makan dulu sana. Radit ajak sekalian," suruh bunda.


"Oke, bos. " aku menoleh ke Radit," yuk.. Makan sekalian" sambil kutarik dia masuk ke dalam.


"Masuk duluan, bunda. Maaf ini anaknya agak posesif hari ini. Gak tau kesambet setan mana.." gurau Radit ke bunda.


Mereka hanya tersenyum melihat kami, lalu kucubit Radit yg iseng.


Kak Arden ngobrol dengan mbak Alya dan bunda di taman.


"Aku ganti baju dulu ya." pamitku ke Radit.


"Iya, sayang."


Kutinggalkan Radit di ruang tengah lalu aku masuk ke kamar.


Kami makan bersama di ruang makan, mbak Alya memang sering mampir ke rumah jika pulang kuliah cepat.


Karena memang rumah kami dekat dengan kampus mbak Alya. Dan biasanya, kak Arden yg mengantar mbak Alya pulang ke rumah.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam ini aku duduk di teras berdua saja dengan kak Arden ,sambil menikmati secangkir coklat hangat.


Kami ngobrol ringan saja malam ini.membahas soal Radit, mbak Alya, sekolah, ujian dan rencana kami masuk ke universitas yg sama dengan mbak Alya.


Hingga aku melihat sesuatu yg aneh di langit.


"Kak... Itu apa? Api?" tunjukku ke langit di atas rumah Bu Kori.


Kak Arden memincingkan matanya dan menatap lekat lekat yg kutunjuk.


"Iya, dek. Api. Apa ya itu?"


"Kayanya ada yg gak beres deh ,kak.. Aku panggil bunda ya." lalu aku masuk ke dalam rumah dan mengajak ayah dan bunda keluar.


Api yg tadi kulihat kini berputar putar di atas rumah Bu Kori. Dan tak lama rumah Bu Kori berubah auranya menjadi gelap pekat. Bukan karena sudah malam ya. Tapi ini lain.


"Masya Allah... "Pekik bunda.


"Itu apa sih, bun?" tanyaku.


"Sepertinya itu Banaspati deh."


"Hah? Banaspati?" seru kak Arden dan aku bersamaan.


"Gimana dong, nda. Banaspati bukan nya bahaya ya? Bisa mencelakakan orang? Jangan jangan mau celakain keluarga Bu Kori," sahut ayah.


Banaspati merupakan makhlus halus terganas yang pernah kami temui, biasanya berwujud kepala melayang yang terbungkus api, dengan wajah seperti kakek-kakek, mata yang besar melotot dan lidah yang kalau sedang mendekati mangsanya jadi menjulur panjang dari mulutnya yang dihiasi taring.


"Yuk kita ke sana.." ajak bunda,"gak usah pakai sendal. Usahain kaki kalian nginjek tanah," saran bunda.


Kami berempat berjalan tanpa alas kaki ke dekat banaspati itu melayang.


Aku yakin ini kiriman seseorang.


Dan pasti dukun nya sakti banget ini.


Aku pun membaca amalan amalan pembalik santet, karena aku pernah mendengar ada santet banaspati. Santet ini adalah santet level tertinggi, karena bisa membuat korban nya meninggal dunia.


Terdengar bunyi ledakan keras disekitar kami.


"Fokus!!!" teriak bunda.


Kami membaca doa doa dan amalan amalan seperti biasa. Ayah sekarang juga sudah hafal beberapa doa doa untuk menangkal makhluk makhluk astral seperti sekarang ini.


Banaspati itu mendekati ku, aku agak mundur mundur karena agak takut juga. Wujudnya api, sehingga aku takut terbakar.


Wajar kan?


"Aretha!!!" teriak ayah lalu berlari ke arahku.


Dari arah yg berlawanan, ada bola api lain yg terbang ke arah ku. Ada sekitar 3 bola api lain yg datang.


Aku ditarik ayah masuk ke taman Bu Kori.


"Injek tanah kan kata bunda tadi??" ucap ayah.


"Hah? Oh iya.. Maaf ayah."


Ternyata tadi aku keluar dari pijakan ku, dan berjalan di jalanan beraspal.


Tiba-tiba terdengar suara ledakan laksana petir yang memekakkan telinga kami, hingga ku tutup telingaku karena suara keras tadi.


Kami terpental agak jauh, tapi anehnya ada perubahan aura dari rumah bu Kori yang semula gelap menjadi bercahaya kuning keemasan. Rupanya kami berhasil mengatasi dukun sakti itu.


Kami terdiam, sambil memperhatikan sekitar kami. Terutama langit di atas kami.


Dan sudah tidak ada lagi bola api yg melayang layang di udara seperti tadi.


"Udah pergi??" tanya kak Arden.


"Kayak nya udah deh," sahut ayah.


"Gimana dong, bun?"tanyaku.


"Sebentar.." bunda berjalan ke depan rumah Bu Kori dan melakukan pagar gaib di sekeliling rumah itu.


Mungkin takut, makhluk itu datang lagi.


Kami lalu kembali pulang ke rumah, dan beristirahat karena rasanya lelah sekali.


\=\=\=\=\=