
POV YUSUF
Kuparkirkan motorku di garasi rumah. Sudah pukul 00.00 lewat. Rumah sudah sepi, beberapa lampu juga sudah dimatikan. Pasti Rahma sudah tidur. Aku berjalan gontai memasuki rumahku.
"Abi udah pulang?" tanya Rahma yg ternyata sedang membaca alquran di kamar. Dia lalu melepas mukena yg masih dia pakai, dan menutup alquran miliknya.
"Umi belum tidur? Udah malem ini lho?" tanyaku sambil mendekat padanya.
"Udah kok tadi, terus kebangun. Jadi mending tahajud sekalian. Eh, gimana tadi, Bi? Aretha ketemu?" tanyanya.
Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
"Udah kok, umi."
"Abi kenapa? Ada masalah?" tanya Rahma, sambil menatap wajahku terus.
Dia memang sangat paham tentang diriku. Tidak bisa sedikit pun aku berbohong atau menyembunyikan hal sekecil apa pun darinya.
"Iya, ini soal ... Azis."
"Azis? Dia bikin ulah apa lagi, Bi?"
"Dia hampir mencelakai Aretha dan Arden."
"Ya Allah... Terus gimana? Mereka gak papa, kan?" tanya Rahma agak panik.
Karena Azis pernah juga mencelakai Aisyah, dengan membawa Aisyah ke alam gaib. Untung arif juga membantuku saat itu. Sehingga aku dengan mudahnya membawa kembali Aisyah.
"Alhamdulillah, mereka baik baik aja umi. Besok abi bakal ke tempat dia. Abi sudah tidak bisa terus diam," kataku dengan mengatupkan rahang.
Rahma membelai punggungku sambil tersenyum.
"Umi yakin, abi tau apa yg harus abi lakukan," katanya lembut.
Aku mengangguk lalu kupeluk dia. Rasanya aku selalu menemukan kedamaian jika memeluk nya.
Wanita sholehah yg kini menjadi istri dan ibu dari anakku.
Aku berwudhu kemudian masuk ke ruangan pribadiku.
Kutunaikan salat isya terlebih dahulu. Jika sedang gelisah seperti ini, aku selalu berada di ruangan pribadiku.
Entah sekedar, membaca buku buku koleksiku atau berdzikir hingga hatiku lebih tenang.
Alhamdulillah selalu berhasil.
Kuraih ponsel ku, yg kuletakkan di bufet tempatku menyimpan buku buku koleksiku.
"Assalamualaikum, Rif?"
"Wa alaikum salam. Ada apa, Suf?"
"Maaf, aku ganggu malem malem gini. Aku mau minta tolong."
"Soal apa?"
"Azis!"
"Dia bikin ulah apa lagi?"
Arif sudah paham tentang kelakuan Azis selama ini.
Kuceritakan semua yg terjadi tadi pada Arif.
Ya, Arif adalah sahabatku satu satunya, dia juga sering membantuku, bahkan kami sudah seperti saudara. Walau dia tinggal di kota sebelah, namun aku masih tetap terus menjaga tali silaturahmi dengan nya.
Dan Azis..
Dia salah 1 sahabatku juga selain Arif. Kami satu angkatan, dan sering bersama sama saat di pesantren dulu. Bersama Arif, Azis, Iman dan Habibi. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Dari mengaji, menghafal ayat ayat, bahkan berlatih pun kami selalu bersama sama.
Namun, persahabatan kami retak. Terutama antara aku dan Azis. Secara diam diam, Azis juga mencintai Rahma.
Bahkan, sebenarnya Azis dan Rahma sudah lebih dahulu saling mengenal sebelum aku mengenal Rahma.
Saat aku mengkhitbah Rahma, Azis tidak terima bahkan sempat menantang ku sehari sebelum acara lamaran berlangsung.
Dan akhirnya itu pertama kalinya kami berkelahi.
Sebenarnya jika Rahma juga mencintai Azis, aku pun akan rela melepaskan nya dan bersanding dengan Azis.
Bagiku, jodoh tidak akan tertukar, dan jika Rahma bahagia, aku juga insya Allah akan berbahagia juga untuk nya.
Namun Rahma tidak mencintai Azis dan lebih memilihku.
Sifat Azis yg terkadang arogan itulah, yg membuat Rahma berfikir ulang untuk memilihnya.
Setelah perkelahian ku dengan Azis, dia sudah jarang sekali berkumpul dengan kami.
Dan menurut penuturan Habibi, dia kini menjadi pengikut iblis.
Dia terus saja berusaha menghancurkan pernikahanku dengan Rahma, namun selalu saja dapat ku gagalkan.
Bahkan kejadian tadi, bukan kali pertamanya Azis mengirim iblis untuk menghancurkan ku.
Aku pernah bertarung melawan nya dibantu aarif dan eyang.
Alhamdulillah kemenangan ada dipihak ku.
Kulepaskan dia agar dia segera bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Namun ternyata, dia menyusun rencana baru untuk menyerang ku melalui Arden dan Aretha.
"Ya udah, Suf. Besok kita datangi dia."
"Makasih ya,.Rif."
Kuletakkan kembali ponselku di meja bufet, lalu aku kembali ke kamarku untuk beristirahat.
\=\=\=\=\=\=\=
Paginya selepas salat subuh, aku segera meluncur ke tempat biasa aku dan Arif bertemu.
Tak sampai 30 menit, ku lihat Arif sudah duduk di atas motornya sambil membaca sebuah buku.
Saat sampai di dekatnya, dia tersenyum padaku, kemudian menutup bukunya.
"Waalaikum salam. Baru kok, Suf," sahutnya santai.
"Ya udah, kita pergi sekarang aja."
Arif mengangguk. Segera dia menyalakan mesin motornya, dan kami sekarang menuju ke tempat Azis biasanya bersembunyi.
Sampailah hamparan kebun dan pohon pohon yg luas.
Kami memarkirkan motor kami dan mengunci nya, bahkan kami kunci ganda. Karena kami akan masuk ke dalam rimbunan pepohonan ini.
Tempat ini memang jarang dilalui orang.
Setelah pergi dari pesantren dan memilih untuk menjadi budak iblis, Azis memang tinggal di tempat yg jauh dari keluarga dan teman teman nya.
Aku masih tidak habis pikir dengan jln pikiran nya.
"Itu, Suf!!" tunjuk Arif ke sebuah rumah gubug di ujung jalan.
Jalanan memang masih setapak yg belum di aspal.
Kami berjalan mengendap endap ke gubug itu.
Sampai di gubug itu, kulihat Azis sedang melakukan ritual ritual aneh dengan banyak lilin dan bunga bunga, ada lambang trisula juga di sana.
Saat sedang mengamati, tanpa sengaja aku menginjak ranting pohon yg ada di tanah.
Aku dan Arif saling pandang.
"Siapa?" teriak Azis dari dalam. Terdengar langkah kakinya berjalan keluar.
Saat sudah di luar, Azis terkejut melihat kami yg ada di sini.
"Kalian???!!!"
"Zis!! Kamu lagi ngapain?" tanyaku.
"Bukan urusan mu!!" katanya dengan nada mengejek.
Dia berdiri dengan merentangkan kedua tangan nya, sambil menggumam sesuatu. Tiba tiba datang angin yg cukup kencang.
Bahkan aku dan Arif sampai menutup wajah kami karena banyak nya debu yg beterbangan di sekitar kami.
Azis tertawa keras sekali.
Arif mengeluarkan tasbih nya begitu juga denganku.
Kami berdzikir dan terus merapalkan doa doa.
Angin kencang terus berhembus di sekitar ku dan Arif, namun kini tidak sampai menyentuh kami berdua. Hanya berputar di sekitar kami dengan cukup kencang.
Aku dan Arif terus mendekat ke Azis, dia makin aneh. Dia terus menatap tajam kami.
Suaranya berubah. Agak lebih berat dengan menggumam dalam bahasa Latin.
Diraihnya sebuah trisula yg dekat dengan nya.
Dia berteriak keras sekali bahkan sampai beberapa barang di dekat kami bergetar. Azis benar benar sudah sesat.
Azis berlari ke arah kami yg masih berdiri sambil mengangkat trisulanya dan mengarahkan pada kami.
Dengan cekatan, aarif meraih balok kayu yg ada di dekatnya lalu menghantamkan ke Azis.
Buggg!!!
Azis terpental namun hanya dengan hitungan detik, dia bangkit kembali seperti tanpa merasakan sakit sedikit pun.
Dia melayangkan tinju padaku, namun dapat kutangkis dan kuputar tangan nya ke belakang.
Ku pegang kuat kuat Azis yg terus meronta lalu Arif meraih tali yg sudah kami bawa tadi, kemudian mengikatnya di sebuah kursi.
Azis teriak teriak.
Namun, kami dengan gerakan cepat merapalkan doa doa untuknya.
Ku buang jin jin yg merasukinya. Semua rajah yg ada di dalam dirinya kuambil lalu ku bakar saat itu juga.
Terakhir Arif menarik ilmu yg dimiliki Azis.
"Aarghh!" dia berteriak keras sekali.
Dengan satu tarikan, Arif berhasil menarik ilmu yg Azis miliki dan kini, dia sudah lemah tidak berdaya.
Keringat menetes deras di dahi kami bertiga.
Azis tertunduk lemas. Bahkan sepertinya dia benar benar kehabisan tenaga.
Kusalurkan tenaga dalam ku untuk nya, setidaknya dia harus bisa jalan dengan kaki nya sendiri agar kami bisa pergi dari tempat ini.
Tidak mungkin juga aku atau Arif menggendongnya.
"Yuk balik," ajak Arif.
Aku hanya mengangguk sambil menatap Azis di depanku.
"Maaf, Suf." suaranya pelan sekali.
"Pasti, Zis. Aku akan memaafkan kamu, asal kamu mau berubah. Kembalilah menjadi Azis yang dulu. Bukan seperti sekarang," kataku.
Azis menangis tergugu. Arif menatap kami berdua bergantian, lalu menjauh.
Sekalipun perbuatan nya di luar batas, namun aku yakin dia sudah menyesal kini.
Rasa iri dengki membuatnya mudah dikendalikan iblis.
Semoga ini menjadi pembelajaran untuk nya, juga untuk ku.
Kami pulang bersama.
Kuantarkan Azis dulu untuk pulang ke rumahnya.