Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 15 Makanan menjijikkan


"Sungai di sini sebelah mana, Tha?" tanya Doni. Sore ini kami kembali berencana membuat makan malam dengan usaha sendiri. Dedi, Radit, dan Kak Arden sudah mendapatkan singkong yang tumbuh liar di kebun. Sepertinya singkong - singkong itu sengaja ditanam oleh Bu Lulu. Beberapa memang ditanam oleh Lulu, tapi sebagian lainnya memang tumbuh liar. Lulu tidak terlalu jauh pergi dari tempat tinggalnya. Dia juga menanam tanaman di sekitar lingkungan itu. Setiap hari bergantung dari hasil tanaman yang dia tanam sendiri. Jika dia ingin ikan, maka dia akan mencari ikan di sungai. Sungai di tempat ini memang masih memiliki beberapa ikan liar yang cukup melimpah.


"Katanya di ujung sana tuh. Belok kanan nanti lurus aja, ketemu deh sama sungai," jelas ku mengarahkan Doni ke arah yang kutahu. Walau aku belum pernah ke tempat itu, tapi aku sering mendengar tentang sungai dengan air yang jernih di desa ini.


"Mau ngapain sih? Kan udah dapat singkong, Yang," tukas Kiki yang keberatan jika kekasihnya pergi.


"Biar ada variasi makanan, Sayang. Lagian kita juga harus makan dengan perhitungan kalori yang cukup. Singkong aja rasanya kurang deh."


"Ya udah, kita cari ikan sekarang aja, Don, Yuk," ajak Dedi lalu menarik Danu juga agar ikut mereka.


Sambil menunggu tiga pria itu mencari ikan, kami kembali mempersiapkan tungku untuk memasak. Kali ini Bu Heni justru menyuruh kami menggunakan dapurnya. Karena di sana ada tungku api yang biasa dia gunakan untuk memasak.


"Den, kira - kira jam berapa tempat ini bakal balik lagi ke bentuk semula?" tanya Radit saat kami sedang membakar singkong hasil buruan kami. Kak Arden yang masih berusaha menyalakan bara api untuk membakar singkong diam sejenak. "Kita lihat aja nanti. Yang penting kita harus persiapkan diri."


"Rencana kakak apa?" tanyaku.


"Kakak justru ingin ketemu yang mencekik Nek Siti, Dek."


"Kata Lulu si Yodie Yodie itu ya, Den?"


"Iya. Mungkin kita harus mendatangi rumah itu," tukas Kak Arden menatap ke sisi di mana tempat yang kami bicarakan berada.


"Kak, tapi kita dilarang masuk ke tempat itu. Katanya berbahaya," cegahku. Kak Arden justru tersenyum sinis, "Sesuatu yang dilarang itu pasti ada sebabnya. Dan kita nggak perlu takut kalau hanya sebuah ancaman yang berupa nyawa. Inget, dek, kita masih punya Allah."


Hati terasa sejuk mendengarnya, rasa takut yang aku rasakan sejak awal, apalagi setelah tau tentang kisah keluarga Pak Yodie. Aku tidak ingin mendatangi tempat itu sampai kapan pun. Tapi kali ini Kak Arden malah mengajakku datang ke sana. Oke, baiklah.


"Iya, kita harus ke sana. Kita harus tau, apa yang sebenarnya terjadi di sana. Dan apa alasan ruh Pak Yodie mencekik nenek. Mungkin kita juga akan menemukan jawaban dari misteri tempat ini, iya, kan?"


"Kapan, kak?"


"Malam ini. Bagaimana?"


Aku dan Radit saling pandang, lemas. Radit menaikkan kedua bahunya, sementara aku menarik nafas panjang. Malam ini ... kami akan ke sana, mendatangi rumah itu. Rumah angker yang aku akui keberadaannya. Keangkeran rumah itu. Suara anak ayam, yang ternyata pertanda kedatangan kuntilanak, bahkan kuntilanak yang wujudnya sudah berkali - kali aku lihat. Teror itu memang cukup menakutkan bagiku. Sekalipun aku sudah sering melihat makhluk seperti ini, tapi aku masih memiliki rasa takut.


"Tha! Nenek manggil," panggil Kiki, yang muncul dari balik pintu dapur. Aku lantas menyusul Kiki dan pergi ke kamar Nenek. Dengan langkah tergopoh - gopoh aku berusaha secepat mungkin menghampiri nenek. Sampai di kamar, ternyata sudah ada Bu Heni di dalam. Nenek yang sedang duduk di kursi roda hanya diam menatapku datar. Aku lihat nenek sedang diajak ngobrol oleh Bu Heni, di tangan Bu Heni ada piring yang berisi makanan.


"Maaf, Bu, Nenek sudah makan tadi," jelasku. Bu Heni yang sejak tadi berusaha menyuapi nenek lantas menoleh. "Belum! Dia belum makan!" Tapi ada hal mengerikan saat kedua mata Bu Heni menatapku dan Kiki. Bola matanya semua berwarna putih, wajahnya pucat dan keriput. Aku dan Kiki sedikit mundur, lalu memperhatikan keadaan di sekitar kamar ini. Semua kembali ke keadaan semula. Dan inilah waktu mereka. Desa ini kembali menjadi desa mati. Nenek menggeleng samar. Dia mengisyaratkan aku untuk segera keluar dari kamar, Kiki lantas menarik tanganku dan akhirnya kami pergi dari kamar nenek. Ada rasa kecewa saat aku merasa tidak bisa membantu nenek tadi. Pasti sangat mengerikan jika berada di posisi nenek seperti itu.


Di dapur, tempat tungku tersebut sudah menyala, Doni, Dedi, dan Danu juga sudah sampai di rumah. Mereka benar - benar membawa beberapa ekor ikan hasil tangkapan mereka. Kami menikmati makan malam berramai - ramai di sini, sambil merencanakan untuk pergi ke rumah sebelah.


"Kenapa kalian nggak mau makan masakan saya?" tanya Bu Heni pelan, yang tiba - tiba sudah berada di depan pintu, membawa nampan berisi makanan. Saat aku menatap makanan yang dia bawa, perutku bergejolak, berusaha menahan mual, mengalihkan pandangan dari hewan - hewan menggeliat di sana.


"Kami sudah makan, Bu. Eum, mulai sekarang Bu Heni tidak usah repot - repot membuatkan kami makanan. Kami bisa masak sendiri kok," tukas Danu.


"Kalian tidak menghargai saya ya, saya sudah capek - capek membuatkan makanan, dan kalian malah memasak makanan aneh itu," tunjuk Bu Heni, nada bicaranya mulai naik. Aku mulai cemas, apakah Bu Heni mulai menyadari kalau kami ternyata sudah tau semuanya.


"Saya tidak mau tau, kalian harus memakan makanan ini!"