
Aretha mulai membuka sebuah kamar yang dikatakan sebagai kamar utama oleh Pak Slamet. Ruangan tersebut memang lebih besar daripada kamar yang berada di bawah tadi. Aretha masuk sambil memperhatikan setiap detil ruangan itu. Rupanya ada balkon yang menghadap ke kebun teh yang berada di depan rumah. Di kamar tersebut juga ada kamar mandi dalam. Tidak seperti kamar lainnya. Pantas saja kamar tersebut dikatakan kamar utama karena fasilitasnya yang memang lebih baik dari kamar lainnya.
Aretha membuka pintu kamar mandi. Dia memang terbiasa memakai kamar dengan kamar mandi dalam, karena di rumah mereka pun demikian. Hanya saja, saat melihat kamar mandi di kamar itu, Aretha langsung tidak suka melihat situasi kamar mandi yang rusak. Bath up nya seperti bekas dihancurkan paksa. Lalu shower nya juga patah. Toilet duduknya juga hancur. Akhirnya Aretha segera menutup pintu kamar mandi dan tidak lagi berminat menempati kamar utama itu.
Hanya saja, saat melewati pintu balkon, dia langsung tertarik untuk melihat kondisi di luar dari sana. Aretha membuka pintu itu yang ternyata tidak terkunci. Derit pintu nyaring di telinga, padahal kondisi pintu lain tidak demikian. Pintu pun dibuka lebar - lebar. Angin malam segera berembus masuk ke dalam menabrak tubuh mungil Aretha. Wanita itu tidak terganggu akan hal tersebut. Dia justru menikmati udara malam yang menyejukkan. Apalagi udara di kotanya tidak sedingin di desa Alas Purwo, dan Aretha memang menyukai dataran tinggi, di mana udara akan sejuk, dan dingin seperti di desa ini.
Suara orang berbincang terdengar sampai ke atas. Di mana Radit sedang memberikan instruksi pada pekerja nya. Aretha hanya melirik ke bawah saat berdiri di atas balkon kamar utama. Namun, pemandangan di sekitar rumah justru menarik perhatiannya. Dia menyukai suasana balkon kamar itu, tapi sayang nya kamar mandi nya rusak. Maka keinginan nya untuk menempati kamar tersebut pun ia urungkan.
Tiba - tiba pandangannya tertuju pada sudut gelap di balik rimbunan daun teh di ujung. Aretha sampai sampai menyipitkan mata saat berusaha melihat ke arah depan. Di sana ada sebuah titik yang terasa sangat familiar baginya. Titik tersebut berwarna merah, dan yang Aretha ingat, dia melihat hal itu tepat saat baru saja memasuki pedesaan. Yah, gadis dengan pakaian merah di tengah kebun teh.
Aretha mengerutkan kening. Menyadari kalau orang yang ia lihat sebelumnya ternyata berada di depan halaman rumah nya.
"Aneh." Aretha berucap, otaknya berpikir keras. Dia mulai sadar kalau sosok di depan sana, bukanlah manusia. Hanya saja yang membuatnya tidak habis pikir, untuk apa sosok wanita tadi mengikutinya terus. Bahkan sampai ke rumah ini. "Hm. Baru datang, udah ada yang sambut."
Aretha lantas turun untuk menyusul Radit di bawah. Tak lupa dia menutup pintu balkon sambil terus menatap sosok wanita yang masih berdiri di tengah kebun teh tersebut.
_____
"Sayang? Gimana? Udah dibenerin semua?" tanya Aretha sambil melingkarkan tangannya pada lengan kokoh sang suami.
"Sebentar lagi, sayang. Tadi baru betulin pintu sama jendela depan. Ternyata agak sulit, makanya lama." Mereka berada di dapur untuk melihat para pekerja yang sedang berlanjut memperbaiki pintu belakang rumah.
"Pak Slamet, pintu jendela nya rusak begini, apa nggak ada pencuri yang masuk?" tanya Aretha heran. Rumah tersebut masih rapi dengan perabotan yang lengkap juga mewah. Banyak guci guci mahal serta kristal kristal pajangan yang berada di bufet ruang tengah maupun meja sudut di ruang tamu.
"Alhamdulillah nggak ada pencuri sejauh ini, Bu. Warga desa di sini memang saling menjaga satu sama lain. Apalagi keluarga Pak Ibrahim terkenal dermawan selama ini. Jadi tentu para warga segan pada beliau, sekalipun mereka sudah tidak berada di rumah ini sekalipun."
Penjelasan tadi memang masuk akal. Mungkin karena kebaikan hati Pak Ibrahim, maka semua peninggalan nya masih utuh, tanpa ada satupun orang yang berniat jahat dengan merampas semua miliknya.
"Oh iya, sayang. Gimana? Kamu mau kita pakai kamar yang mana? Kata Pak Slamet kamar utamanya luas? Kamu mau pakai kamar itu?"
"Eum, enggak deh. Aku mau kamar di bawah aja."
"Yakin? Padahal di atas ada balkonnya juga loh, sayang?"
"Yakin. Aku mau kamar di bawah aja, Dit."
"Kenapa?" Radit tampak sangat menyayangi istrinya. Dia selalu memperlakukan Aretha dengan lemah lembut dan penuh kesabaran.
"Kamar mandinya rusak."
"Astaga! Maaf, Bu, saya lupa. Kamar mandi itu belum diperbaiki. Besok saya akan kembali ke sini untuk memperbaikinya."
"Memangnya rusak kenapa, Pak Slamet?" tanya Radit penasaran. Padahal dia sendiri belum mengerti maksud dari kamar mandi rusak tersebut.
"Dulu saat keluarga Pak Ibrahim pergi, sudah seperti itu. Saya pun nggak tau kenapa."
"Memangnya rusak gimana, Yang?"
"Hancur gitu, Dit. Bath up nya rusak, kayak habis di pukul keras banget. Pokoknya hancur semua itu kamar mandi nya. Nggak bisa dipakai."
"Ya udah, besok Pak Slamet betulin kan, jadi kita bisa pakai kamar itu."
"Enggak. Enggak usah."
"Hm? Maksud kamu apa, sayang? Apanya yang nggak usah?"
"Maksudnya kalau memang mau di betulin, silakan, tapi kita tidur di kamar bawah aja, ya. Nggak usah di atas."
Radit mengerutkan kening, mendengar jawaban dari sang istri. "Loh kenapa, Tha? Kenapa kamu nggak mau tempati kamar atas. Aku pikir di atas itu yang ada balkon nya. Iya, kan, Pak Slamet?" tanya Radit meminta kepastian dari sang penjaga rumah.
"Be-betul, Pak. Kamar utama memang ada balkon nya. Dari sana bisa melihat pemandangan di kebun teh depan rumah," jelas Pak Slamet.
Aretha tampak tidak tertarik. Hal itu memang cukup aneh bagi Radit yang sangat paham betul apa kesukaan sang istri.
"Ada apa, sayang? Apa ada yang aneh?" tanya Radit sambil berbisik pada Aretha, dan menjauh dari Pak Slamet. Walau demikian pria berumur 50 tahun itu dapat mendengar pembicaraan pasangan muda di depannya.
Aretha melirik Pak Slamet yang sepertinya juga penasaran pada jawaban nya. Hanya saja Aretha lantas hanya menggeleng sambil menunjukkan senyum tipisnya. "Enggak gitu. Cuma takutnya aku kecapean naik turun tangga, Dit. Apalagi rumah ini besar sekali. Gimana cara aku bersihin nya. Lebih baik lantai atas nggak perlu dipakai, biar ngirit tenagaku nanti." Aretha bercanda dengan mengatakan hal itu. Karena Aretha tau betul, kalau sang suami pasti tidak akan membiarkan istrinya kelelahan dalam hal mengurus rumah. Bahkan di rumah mereka saja, Radit tetap menyediakan asisten rumah tangga yang memang akan datang setiap satu minggu dua kali. Padahal rumah mereka tidak sebesar rumah ini.
"Oh gitu. Ya sudah terserah kamu saja, sayang."
"Kalau Bapak dan Ibu berkenan, istri saya bisa membantu ibu membersihkan rumah jika memang diperlukan," terang Pak Slamet.
"Wah, boleh sekali, Pak Slamet. Kalau begitu besok ibu bisa ke rumah, ya, Pak. Karena pasti kami butuh sekali bantuan untuk membereskan rumah."
"Baik, Pak Radit. Nanti saya beritahu istri saya."