Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 24 Rajah


Semenjak kejadian masuknya aku ke dunia lain di kantor, membuatku bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Mike, Giska, dan Aron. Mengapa mereka masih saja berkeliaran di sekitar kantor dan mengganggu karyawan lain. Aku bahkan tidak menyangka kalau sampai kecolongan dengan kejadian tersebut. Rasanya sungguh memalukan karena tidak bisa membedakan dunia nyata dan dunia mereka.


"Yuk, udah siap, kan?" tanya Kak Arden dari balik pintu kamarku yang sengaja kubuka sejak tadi. Dia sudah memakai kemeja berwarna putih, celana blue jeans dan sepatu putih. Malam ini kami akan pergi ke studio milik Kak Ibrahim. Kak Ibrahim memiliki studio tato yang sudah lama berdiri. Walau awalnya sering mendapat sindiran keras dari Pakde Yusuf, tapi Kak Ibrahim tetap melakukan pekerjaan itu. Baginya tato adalah seni. Yang sangat bertolak belakang dengan Pakde Yusuf. Tapi seiring berjalannya waktu, Pakde mulai melunak dan justru menyuruh Kak Arden membawa aku ke studio tersebut.


Sampai di teras, Kak Arden justru sibuk dengan gawainya dengan dahi berkerut. "Duh, ck, bagaimana ya," gumamnya seolah kebingungan akan sesuatu.


"Kenapa, kak?"


"Mamanya Alya masuk rumah sakit."


"Ya Allah, kenapa? Ya sudah kakak ke sana aja, biar aku pergi sama Radit saja. "


"Hm, sorry ya, dek. Padahal kakak udah janji mau temenin kamu, malah gini."


"Nggak apa - apa kok. Ya sudah kakak pergi sekarang saja, aku kabarin Radit ini," kataku sambil membuka layar pipih di tangan. Menempelkannya pada telinga kanan dan dering panggilan mulai berbunyi nyaring. Tak lama suara seorang pria terdengar di ujung telepon.


"Assalamualaikum, sayang. Bagaimana? Jadi pergi sama kakak ipar?"


"Wa'alaikum salam, Radit jelek. Belum, malah aku mau minta tolong ini."


"Apa itu?"


"Kak Arden nggak bisa, mau ke rumah sakit. Katanya mamanya Mba Alya opnam. Ayah lagi pergi sama bunda. Kira - kira kamu sibuk nggak? Kalau sibuk ...."


"Enggak! OTW!" Telepon dimatikan, bahkan aku sendiri belum selesai berbicara tadi.


"Wa' alaikum salam, Radit," gumamku lalu menarik nafas panjang.


"Bagaimana? Radit bisa?" tanya Kak Arden yang juga habis menghubungi Mba Alya.


"Bisa kok, kak."


"Ya udah, kakak pergi duluan nggak apa - apa? Soalnya Alya masih di rumah ini," jelasnya sambil menatap jam di pergelangan tangannya. Pukul 20.00 belum begitu malam, tapi jika sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh, maka akan sampai lebih malam lagi.


"Oke, pergi, ya. Kamu hati - hati nanti di jalan." Kak Arden lantas masuk ke dalam mobilnya, dan pergi meninggalkan halaman rumah.


Suasana sunyi. Suara jangkrik seolah menjadi nyanyian malam yang memang wajib ada jika duduk di halaman seperti sekarang. Rumahku memang berada di kompleks perumahan, tapi juga bersebelahan dengan pemukiman penduduk, malah sangat dekat.


"Aretha," bisik seseorang. Suara seorang wanita yang sepertinya aku kenal, hanya saja aku lupa di mana. Aku yang sedang duduk di kursi teras, lantas tolah toleh. Mencari di mana sumber suara yang sedang ingin mengusikku. Sedikit frustrasi karena aku sedang muak berhadapan dengan makhluk tak kasat mata, apalagi dengan kejadian di kantor tadi.


Semilir angin berembus pelan. Menggerakkan dedaunan yang ada di sekitar. Aku mulai memeluk lenganku sendiri, karena sensasi dingin yang mulai terasa. Memutuskan beranjak dan berjalan ke sekitar. Rasa penasaran mulai menjalar ke urat nadi, yakin kalau aku tidak sendirian sekarang, dan ada yang sedang mengajakku berinteraksi. Hanya saja aku belum tau siapa, apa maksudnya, dan ada di mana dia sekarang.


Jendela di belakang seperti dilempar batu. Aku langsung mencari sosok tersebut, sayangnya belum terlihat juga sepanjang mata ini memandang. Bau anyir mulai tercium di pangkal hidungku. Aku terus maju hingga ke halaman depan, merinding terus kurasakan sampai - sampai aku harus menekan tengkuk untuk mengurangi sensasi dingin di tengkuk.


Kaca jendela kembali berbunyi, otomatis membuatku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun juga di sana. Di dalam rumahku pun tidak kutemukan hal janggal, dan aku yakin di sana tidak akan ada jin nakal yang masuk ke dalam, tapi jika di luar sini, masih banyak kemungkinan akan hal itu.


"Aretha." Kini aku menoleh ke sebelah kanan rumah, di mana ada halaman yang memang memutari hingga ke belakang rumah kami. Di sudut sana ada seseorang yang familiar di ingatan, seorang wanita, memakai setelan blazer warna merah maroon yang warnanya sudah agak pudar. Rok selutut serta high hells yang senada dengan kemejanya, membuat aku sadar siapa orang itu. Giska.


"Giska?" panggilku dengan nada bertanya, aku ragu namun sedikit yakin kalau dia memang Giska, yang sejak kemarin sudah bersamaku di dunia lain.


"Tha, Aretha. Kamu ke mana sih, Tha?" Suaranya bergetar. Terdengar menyayat hati, dan menggema.


"Aku nggak ke mana - mana," kataku tegas.


"Duh, kuncinya mana lagi. Ah, iya, kan di bawa Kak Arden!" gumamku sambil mencari - cari di dalam tas.


"Aretha?" Kembali suara panggilan terdengar, kali ini aku segera menoleh dan rupanya di teras ada Mike dan Aron. Mereka bertiga berada di sana, sambil melambaikan tangannya padaku. Aku langsung panik, dan memutuskan memanjat gerbang yang memang hanya setinggi dada. Bunyi besi terdengar riuh, namun aku tidak mempedulikan nya. Terus memanjat hingga aku sampai di luar dan mendarat dengan selamat. "Gila!" raungku, dengan nafas yang mulai naik turun, dan terus memperhatikan halaman dan teras rumahku. Hanya saja tiga sosok tadi sudah hilang. Sedikit memberikan kelegaan, aku lantas mengambil gawai di tas. Mencari nama Radit dan segera menekan panggilan.


Nada sambung terdengar, lama dan nyaring. Radit belum juga menjawab panggilan teleponku. Sampai akhirnya seseorang kini berdiri di depanku. Ada beberapa pasang kaki di depan, dan langsung membuatku terperanjat. Aku menjerit dan menjatuhkan ponsel. Tiga sosok itu kini berada tepat di hadapanku. Terus memanggil nama, mengulurkan tangan, seolah mengajakku pergi ke suatu tempat. Aku terus meronta dan mundur, akhirnya aku berusaha lari menjauh. Terus pergi ke tempat yang mungkin ada makhluk lain yang bernama manusia. Tapi sayangnya, kompleks perumahan tempat tinggalku ini, justru sepi di jam seperti sekarang. Semua orang memutuskan berada di dalam rumah, dan anehnya tidak ada satu pun kendaraan yang melintas.


Aku terjatuh saat merasakan kakiku dicengkeram erat oleh seseorang. Tapi saat aku melihat ke bawah, tidak ada apa pun. Aku terus menepis kedua pergelangan kaki, berharap tidak ada lagi yang berada di sana. Bayangan seseorang berada di depanku, sejauh lima meter. Hanya berdiri dan melambaikan tangan. " Pergi!" jeritku.


Berusaha kembali bangkit, aku lantas berjalan dengan tergopoh - gopoh terus menuju jalan utama. Semoga bisa bertemu satu saja manusia di tempat ini. Langkah kaki yang sedang berlari terdengar jelas di belakang, aku menoleh dan melihat mereka bertiga berlari ke arahku dengan cepat. Aku menjerit lalu berlari lebih cepat. Beberapa kali terus menoleh ke belakang, agar tau jarak kami masih jauh, tapi semakin aku melihat ke belakang, justru mereka terlihat makin dekat, akhirnya aku menjerit kencang, bahkan rasanya aku sejak tadi aku tak berhenti menjerit meminta tolong. Hanya saja tidak ada seorang pun yang muncul. Sungguh menyebalkan.


Sebuah mobil berhenti mendadak di depanku, untung kecepatannya pelan sehingga tidak menabrak saat aku berlari ke arahnya.


"Aretha?!" jerit seseorang dari balik pintu, aku yang tidak bisa melihat dengan jelass karena terlalu silau akibat cahaya lampu mobil, hanya diam, sambil menutupi mata mencoba agar dapat mengetahui siapa yang ada di sana. Dia lantas mendekat dan suaranya kini membuatku yakin tanpa harus melihat sosoknya terlebih dulu.


"Dit, ayok buruan pergi dari sini," ajakku, dia memegangi tanganku lalu mengiyakan ajakanku barusan. Radit menuntunku agar masuk ke mobil. Aku menarik nafas panjang dan berusaha kembali fokus, berharap Radit yang ini benar - benar asli.


"Ada apa sebenarnya, Tha?" tanyanya yang sudah duduk di sampingku dan memakai sabuk pengaman.


"Ceritanya panjang, mending kita cepet pergi, taakutnya mereka menyusul."


"Oke."


___________________


Hanya menempuh perjalanan selama 20 menit, kami sudah sampai di studio tato milik Kak Ibrahim. Kompleks rukonya cukup berada di tengah kota dan ramai. Baik di jalan raya atau pun di dalam studio itu.


"Sayang, kamu yakin ini?" tanya Radit saat kami sudah sampai, melepas sabuk pengaman dan menatap ke studio di depan dengan bimbang.


"Iya. Ayok!" ajakku lalu turun terlebih dahulu.


Kami masuk ke dalam, dan disambut oleh Kak Ibrahim, yang dulu kami sebut Bang Aim, yang sekarang tidak mau disebut begitu. Katanya, "Berasa gue bocah mulu kalau dipanggil Aim. Tolong Aim ya Allah." Begitu katanya, dan Aim sudah dewasa sekarang, sebentar lagi akan menikah.


'Lama bener, Tha? Hampir tutup studio ini," ujarnya, segera bangkit di tengah obrolan dengan kawan - kawannya.


"Biasa, ada kendala dikit. Sorry, Bang."


"Santai. Hai, Dit, sehat?" tanya Kak Ibrahim menjabat tangan Radit.


"Alhamdulillah, Bang."


"Ya sudah yuk, sekarang saja." Kak Ibrahim mengajak kami ke sebuah ruangan yang tertutup. Di dalamnya ada semua perlengkapan untuk membuat tato. Dia adalah pembuat tato yang sangat berbakat.


"Bagaimana? Mau di mana ini?" tanya Kak Ibrahim sambil mempersiapkan peralatan tempurnya.


"Di mana, ya? Tengkuk saja, biar nggak kelihatan banget. Nggak enak kalau orang tau."


"Eh, pergelangan tangan lu juga, Tha. Itu kata Om Yusuf tempat masuk mereka biasanya."


"Ya lu atur saja, Bang."


Malam ini Kak Ibrahim membuatkan tato dengan gambar rajah di tubuhku. Gangguan yang masih intens kualami membuatku kadang tidak mampu mengendalikannya, apalagi tidak setiap saat ada Kak Arden yang menemaniku. Pakde Yusuf menyarankan hal itu, selain terus salat dan berdzikir tentunya.