
Ini adalah hari terakhir Indra di posko. Karena katanya besok pagi dia sudah akan kembali bekerja.
Pagi pagi sekali aku mandi dan segera salat subuh. Sepertinya Indra juga sudah bangun. Karena aku mendengar dari dalam kamarnya dia sedang mendengarkan musik kesukaannya.
Aku lantas segera ke dapur. Aku ingin membuat kopi untukku juga untuk Indra.
Di dapur aku berpapasan dengan Acong dan hanya meliriknya sesaat. Rasanya malas jika menanggapinya lebih jauh.
Dia masih ada di dapur entah sedang melakukan apa. Aku tidak menanggapinya, dan tetap dengan cuek nya meracik kopi.
Dia berdeham. "Pacarmu kapan balik sih?! " tanyanya sinis.
"Kenapa? Nggak ada urusannya sama kamu," ucapku masih fokus pada cangkir di meja makan.
Walau aku dan Indra belum pacaran, tapi aku yakin yang acong maksud adalah Indra.
Lagi pula juga Indra banyak bantu di sini kok. Dasar aneh si Acong.
"Ya jelas ada urusannya lah. Dia bukan anggota KKN di sini!" kalimatnya makin sinis.
Aku menoleh ke Acong yang berdiri di belakangku sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kalo soal makan, aku bakal ganti selama 3 hari dia di sini, makanan apa aja yg dia makan! Kalau soal tempat tinggal, Pak Kades mengizinkan juga Wicak. Mereka lebih punya wewenang daripada kamu! Indra juga sangat membantu selama dia di sini. Jadi apa yang membuat kamu keberatan dia ada di sini?!" tanyaku dengan nada meninggi.
Acong tidak menjawab apa apa pun, namun dia malah berjalan mendekatiku. Tatapan matanya tajam dan dingin.
Dia makin dekat dan terus mendekat. Hingga membuatku mundur mundur karena takut.
"Mau ngapain kamu!" bentak ku. Aku sudah bersiap untuk menyerangnya jika dia bertindak nekat.
"Nisa?" Indra tiba tiba sudah berdiri di ambang pintu dapur.
Sambil menatapku datar lalu melihat Acong dingin.
Aku lalu melewati Acong dengan kasar sambil pergi ke depan dengan membawa kopi yang tadi kubuat.
Sampai teras aku menghempaskan tubuhku di kursi, dengan tangan yang masih gemetaran. Aku menyesap sedikit kopi tadi berharap dapat membuatku kembali tenang.
Tak lama Indra menyusul ku ke depan.
"Nisa, kamu nggak apa apa, kan?" tanya Indra.
Aku terpaku seperti melamun. Namun aku tidak tau apa yang kulamunkan. Pikiranku kosong menerawang entah kemana.
Indra duduk di depanku lalu menggenggam tangan ku erat.
"Nis.... " Panggilnya lagi.
Kupandangi wajahnya yang teduh.
"Aku nggak apa apa," ucapku.
Aku tau dia khawatir melihatku.
Dia lalu tersenyum lega.
"Bro.. Jadi balik besok?" tanya Feri yang tiba tiba muncul dari balik pintu.
Indra menatapku sebentar, lalu menghembuskan nafasnya pelan dan terkesan berat.
"Kayaknya nanti sore deh. Besok aku harus dines pagi pagi banget."
Feri melirik ke arahku dan mengulum bibirnya. Dia tau kalau aku tidak suka jika Indra pergi.
"Tenang aja, Nis. Kalau Indra libur, pasti ke sini lagi. Iya, kan, Ndra?"
"Iya. Pasti aku ke sini lagi. Aku gak tenang kalo kamu di sini terlalu lama. Sebentar," ucap nya lalu masuk ke dalam.
Feri berdeham sambil tertawa renyah. Aku meliriknya sinis.
"Eh, Fer. Batas desa, udah sampai tahap apa? masih lama?" tanyaku menghentikan tawa Feri.
"Elu pinter ngalihinnya. Ya mungkin masih butuh waktu seminggu nih. Kalau kita ngerjain nya fokus, nggak pakai ada kejadian drama horor seperti kemaren."
Setelah berbincang dengan Feri sebentar, aku kembali masuk untuk meletakan cangkirku di dapur.
Lalu kembali ke kamarku untuk menyiapkan PROKER ku hari ini.
Pintu kamar ku diketuk pelan. Aku yang masih sibuk langsung menyuruh orang itu masuk, tanpa bertanya dulu siapa dia. Saat aku menoleh ke pintu aku terkejut kalau ternyata Indra yang datang.
"Aku ganggu gak?" tanyanya.
"Enggak kok. Ada apa? Masuk sini."
Dia masuk kemudian duduk di ranjang, sementara aku duduk di kursi samping ranjang.
Dia diam sambil terus menatapku yang sedang menyiapkan PROKER yang akan ku kerjakan nanti.
"Kenapa, Ndra? Kok diem?"
"Nanti aku balik ya," ucapnya pelan.
Aku mendadak diam dari aktifitas ku tadi. Menoleh padanya lalu tersenyum.
"Iya, kamu hati hati ya. Naik apa nanti?" tanyaku.
"Mobilku, kan, aku titipin di balai desa."
"Oh iya, ya."
Kami berdua kembali terdiam dengan pikiran masing masing.
Suasana menjadi sedikit kikuk.
Rasanya aku ingin mengatakan dan meminta agar Indra tetap disini saja.
Namun aku tidak boleh egois. Dia punya pekerjaan dan aku tidak berhak untuk mengatur hidupnya.
"Kamu nggak apa apa aku tinggal?"tanyanya.
"Aku nggak apa apa kok. Kamu jangan khawatir gitu," ucapku meyakinkan nya.
"TapiĀ ... "
"Kamu tau gak, Ndra. Kalung kamu ini sama istimewanya sama kamu," ucapku sambil memegang kalung di leherku.
Dia mengerutkan kening.
"Masa?"
"Iya. saat makhluk astral mulai mendekat, mereka pasti akan seketika mundur kalau nyentuh kalung dari kamu."
"Waw ... Serius? Jadi bener kata mamah?" tanyanya kagum.
"Mamah kamu bilang apa?"
"Ini kalung dari Mekkah, katanya udah banyak didoain. bisa menangkal hal hal buruk. Tapi walau gitu, tetep kita harus selalu minta perlindungan ke Allah. Karena kalung itu cuma sebagai perantara aja. Iya, kan?"
Aku mengangguk mengerti.
"Terus kamu balik jam berapa?"
"Sekitar jam empat. Maaf ya gak bisa nemenin kamu lagi.
Kalau aku sempet, aku bakal ke sini lagi, pasti," ucapnya sambil menatap mataku dalam.
"Makasih. Kamu udah banyak bantu di sini."
"Eh tunggu. Tadi kamu bilang aku istimewa? Serius, Nis?" tanyanya sambil makin mendekatiku dengan tatapan menggoda .
Setelah ngobrol beberapa lama dengan Indra, aku lalu bersiap untuk PROKER. Indra ingin membantu teman teman yang lain untuk menyelesaikan batas desa.
Sehingga aku tidak akan bersama Indra untuk PROKER hari ini.
\=\=\=\=\=\=\=
"Nis, udah kamu siapin semua, kan?" tanya Ferli.
"Udah, Fer. Tinggal eksekusi aja," jawabku santai, memakai tas ransel ku, bersiap untuk berangkat PROKER bersama Ferli.
Kami berpapasan dengan Indra, Wicak dan yang lainnya. Mereka juga akan menyelesaikan pembangunan batas desa.
"Hai, Neng... Godain kita dong," kata Feri melucu.
"Pacarmu kebanyakan makan micin ya, Fer?" tanyaku sambil berbisik ke Ferli. Ferli malah tertawa kencang. Riuhnya mereka yang sok tidak Mengenal kami memberikan hiburan tersendiri bagi kami. Mereka meledek terus dan ku tanggapi santai dan sinis bersama Ferli.
Namun, Acong bersikap dingin. Tidak seperti yang lain. Dia memang aneh.
Kutarik Ferli saat tiba tiba dia asik ngobrol dengan Feri.
"Eh, eh, eh ... Mau lu bawa ke mana cewek gue?!" teriak Feri.
"Brisik lu!" cetusku sambil menoleh padamu.
"Nisaa!! Kagak pamitan dulu sama Babang Indra?"
Aku cuek saja dan terus menarik Ferli menjauh. Kudengar tawa riuh dari mereka yang ada di sana.
\=\=\=\=\=\=\=
PROKER ku dan Ferli berjalan mulus, sehingga kami bisa selesai dengan cepat.
Kami berniat akan kembali ke posko. Namun Ferli ngotot ingin melihat pujaan hatinya yang sedang nguli.
"Fer, kenapa gak balik aja sih?capek tau. Ngantuk!" aku mulai menggerutu.
"Halah, kamu juga seneng, kan, ketemu Indra. Pura pura. Cih," katanya sinis.
Aku tertawa dan berhasil mendapat gelitikan dari Ferli bertubi tubi
Tak lama kami sampai di PROKER para cowok. Kami lalu mencari tempat untuk duduk yang nyaman. Indra yang melihat ku datang lalu senyum. Kulihat dia kelelahan namun dia terus tersenyum bersama yang lain.
Hanya dengan memakai kaus dalam, aku melihat tubuhnya yang atletis. Walau ini bukan yang pertama kalinya aku melihat Indra seperti itu, namun aku tetap saja kagum.
Sampai sampai aku tidak melepaskan pandanganku sedikit pun ke Indra.
Ferli menyikutku, dan membuatku tersadar.
"Segitunya memandang," sindirnya sambil terkekeh.
Indra lalu berjalan mendekat padaku. Dan membuatku salah tingkah.
"Yuk balik. Udah kelar. Besok lagi," katanya sambil memakai kaus yang dia letakan di atas batu besar bersama yang lain.
"Eh, iya. Ayok," kataku sambil menunduk malu.
Aku juga bersiap memakai ranselku dan berdiri hendak pergi menyusul teman teman yang lain, karena mereka sudah berjalan lebih dulu.
Namun tiba-tiba terasa ada embusan angin. Bukan angin sejuk karena lingkungan sekitar ku yang rindang. Tapi terasa seperti embusan nafas. Akhirnya aku berhenti untuk melihat sekelilingku.
Tak jauh dari kami, aku melihat bapak bapak yang aku lihat di sungai, dia masih memegang golok di tangannya sambil menatapku tajam.
"Nis," panggil Indra sambil menyentuh bahuku.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Enggak. Yuk balik. Udah sore. Kamu juga harus siap siap, kan?" tanyaku lalu berjalan mendahuluinya.
Indra lalu menarik tanganku.
"Kamu kenapa? Ada yang kamu lihat?" tanyanya lalu dia menatap sekeliling.
"Enggak. Aku cuma capek aja," jawabku bohong.
"Ya udah yuk balik."
Kami lalu pulang kembali ke posko.
Sampai posko Indra mandi dan segera berkemas akan pulang.
Aku masuk kamar dan berbaring. Rasanya berat melepas dia pergi.
Ferli masuk dan berdiri diambang pintu.
"Nis, Indra mau balik, " katanya dengan wajah lesu. Dia pasti paham bagaimana perasaanku.
"Iya." lalu aku beranjak, keluar kamar.
Indra duduk di ruang tamu dengan menopang kedua tangannya di atas lututnya, menopang dagu. Kemudian menatapku dalam saat aku keluar dari kamar. Kupaksakan mengukir senyum di wajahku. Agar tidak keliatan lebay. Atau terlalu mendramatisir keadaan.
"Balik sekarang?" tanyaku berusaha tegar.
"Iya, kamu baik baik di sini ya," ucapnya nanar.
"Iya.. Kamu sama siapa ke balai desa?"
"Sama Feri."
Feri yang sudah siap di teras hanya memandangku iba.
"Aku ikut ya," pintaku.
Indra diam sesaat lalu mengangguk.
Akhirnya aku, Ferli dan Feri ikut menemani Indra sampai ke balai desa.
Kami sampai di balai desa hanya dengan menempuh perjalanan selama 20 menit. Mobil Indra masih terparkir di tempatnya dan terlihat agak sedikit berdebu. Kami berjalan mendekat ke mobil untuk meletakan bawaannya.
"Mm ... Nis. Kita masuk ke balai desa bentar, ya. Ada perlu sama pak kades," kata Feri sambil menarik tangan Ferli yang plang plongo bingung.
Aku tau maksud Feri, dia ingin memberikan waktu untuk ku dan Indra berdua.
Indra menyematkan rambutku ke belakang telinga yang sedikit menutupi wajahku.
Aku menunduk mendapat perlakuan manis seperti itu.
"Kamu hati-hati, ya, Ndra," ucapku masih menunduk.
Indra lalu menaikan daguku.
Dan langsung mencium bibirku lembut. Aku yang terbawa suasana ikut menyambutnya. Walau pada awalnya sempat terkejut dengan sikapnya ini. Tak lama dia melepaskan ciumannya dan membelai wajahku.
"Kamu yang harus nya jaga diri. Aku pasti bakal ke sini lagi."
Dia mengecup keningku lagi.
Ini ciuman pertama ku. Aku memang belum pernah berpacaran selama ini, karena tragedi masa lalu itu yang membuatku tidak begitu mempercayai laki laki asing.
Dan aneh nya semua luruh seketika semenjak kedatangan Indra dalam hidupku. Tidak ada komitmen dalam hubungan kami, tapi aku tidak menolak dengan perlakuan Indra.
Tak lama Feri dan Ferli keluar dan mereka saling bersalaman. Indra lalu masuk ke mobil dan melesat pergi keluar dari desa ini.
"Tenang aja. Besok besok dia pasti ke sini lagi, Nis." Feri mencoba menguatkanku.
Aku mencoba menahan air mata yang hendak menetes, lalu mengajak mereka kembali ke posko. Karena hari sudah mulai sore.