
"Nis ... Hari ini kamu mau ngapain?" tanya Indra saat kami sarapan.
"Mm ... Nggak ke mana mana. Paling ketemu sama temen temen sama ke kampus sebentar," jawabku santai.
"Oh gitu. Ya udah, kunci kost kamu aja yang pegang. Aku balik malem kayaknya deh," kata Indra.
"Jangan deh. Aku balik kost ku aja," timpalku, sungkan.
"Lho, emang kamu gak takut? udah deh, kamu di kost ku aja. Istirahat di sini. Lagian deket kampus juga, kan?"
Bener juga sih kata Indra. Jujur aku juga capek kalo harus bolak balik kampus ke kost yang jaraknya lumayan jauh. Lagian aku masih trauma di kost ku sendiri.
"Ya udah deh," ucapku pasrah.
Indra tersenyum lega. Setelah sarapan, dia langsung berangkat kerja.
Aku lalu beres beres kamarnya. Aku cuci baju kotor Indra di mesin cuci. Merapikan semua ruangan.
Bahkan dapurnya aku isi dengan berbagai bahan makanan yang kumasukkan ke dalam kulkas.
Ini anak, makan nya gak teratur banget. Masa yang ada cuma bungkus fast food aja. Jangan jangan selama sebulan ini dia makan fast food terus.
Haduh, ini Indra.
Siangnya aku memasak beberapa hidangan untuk Indra.
Rencana awal mau ketemu temen temen dan ke kampus, malah akhirnya batal. Mending di sini aja deh. Lagian aku males ke mana mana juga sih.
Aku memasak beberapa makanan kesukaan Indra dan ada juga hidangan penutup. Klapertart dan salad buah yang ku buat agak banyak, agar untuk stok dia selama beberapa hari ini. Indra ini perlu perbaikan gizi deh kayaknya.
Tak terasa sudah sore. Aku membuat kopi dan langsung stay tune didepan tv untuk menonton film yang selama sebulan ini ku lewatkan.
Wah, koleksi Indra banyak juga.
Kusingkirkan film yang bertema horor. Nggak bakal aku tonton kalo aku lagi sendirian gini.
Sampai tak terasa aku tertidur di depan TV dengan TV yang masih menyala. Mungkin karena aku terlalu lelah tadi. Seharian jadi asisten rumah tangganya Indra nih.
\=\=\=\=\=
Badanku terasa hangat. Sepertinya ada selimut di atasnya. Ku buka mataku karena penasaran.
"Lho, Ndra. Udah pulang?" tanyaku lalu segera duduk sambil menguap.
"Iya, baru aja sih," katanya.
"Mati listrik ya, Ndra? Kok redup gini m?" tanyaku sambil melihat sekeliling.
"Enggak. Sengaja. Makanya buka dulu matanya lebar lebar, baru komentar."
Kuedarkan mataku ke sekeliling. Ada beberapa lilin yang tertata rapi di lantai, meja, bufet dan hampir ada di beberapa sudut ruangan.
Ini Indra apa apaan sih.
"Aku disuruh jaga lilin gitu? Kamu yang keliling?" gurauku.
Alhasil aku mendapat jitakan dari Indra tepat di kening.
"Kamu lupa, Nis. Ini hari apa?" tanyanya.
"Hari apa? Hari sabtu, kan, ya? Eh ... Kamu ultah, ya? Tapi bukannya 4 bulan yang lalu?"
"Ya Allah, Nisa!" Indra makin kesal.
Lalu tiba tiba dia mengambil sebuket bunga mawar putih dari balik badannya.
"Happy Birthday," ucapnya dengan senyum mengembang.
"Eh, aku tah yang ultah. Masya Allah!Aku lupa!" pekik ku sambil memukul keningku sendiri.
"Duh gusti. Kenapa wanita ini kadang loading nya lama banget sih. Bikin gemes tau." Dia mencubit kedua pipiku dengan tatapan kesal bercampur lucu. Aku terkekeh sambil memegang bunga darinya tadi.
Perhatianku beralih ke bunga di depanku. Mawar putih. Bunga yang sering ia berikan untukku. Aku suka. Bunga ini indah, apalagi kalau Indra yang memberikannya. Walau sebenarnya jenis bunga apa pun yang ia berikan, pasti aku tetap suka.
"Makasih, ya. Kamu inget aja. Aku malah lupa," kataku dengan senyum tipis.
"Ya inget lah. Oh iya... Aku ada sesuatu," katanya lalu dia mengambil kotak kecil dari saku celananya.
Aku mau dilamar apa yah? Jangan jangan cincin tuh. Ia memberikan benda itu padaku. Perlahan aku membukanya dan ternyata sebuah gelang.
Gelang rantai yang ada hiasan bintang, bulan kecil kecil dan ada simbol hati nya juga.
"Wah bagus banget, Ndra, " jeritku. Dengan mata berbinar. Aku segera mengambil dan memakainya di tangan kanan ku.
Aku sedikit terkekeh dalam hati saat mengetahui ini bukan cincin seperti dalam bayanganmu sebelumnya. Tapi, itu tidak masalah. Aku pun menyukai gelang ini.
"Suka banget. Bagus. Kamu beli di mana?" tanyaku.
"Di Singapura," jawabnya singkat.
Aku mengerutkan kening. Seolah salah mendengar perkataan Indra barusan.
"Singaparna kali," sahutku asal
Indra mencubit kedua pipiku, lagi.
"Itu beli di Singapura, Nisa! Singapura luar negeri!!" katanya gemas.
"Kamu kapan ke Singapura? Ngapain?jauh jauh ke sana cuma buat beli gelang doang?" tanyaku.
"Beberapa hari yang lalu aku ada tugas ke sana. Eh liat gelang ini, terus aku beli. Aku pikir kamu bakal suka. Ternyata bener, kan?"
"Kamu beli ini doang? Yah, tau gitu aku nitip," sahutku.
Jiwa betina ku keluar, mupeng belanja.
"Kapan kapan kita ke sana deh," jawab Indra lalu berdiri dan berjalan ke dapur.
Dia kembali dengan sebuah kue ulang tahun yang indah sekali. Dengan beberapa lilin di atasnya, khas orang yang sedang berulang tahun.
Sambil berjalan, dia menyanyikan ku lagu selamat ulang tahun.
"Ayo tiup lilinnya."
Aku tersenyum, dan menuruti perkataan Indra. Kami berdua tepuk tangan. Sederhana, namun sangat bermakna. Aku suka caranya memperlakukan ku. Tiap perlakuannya. Apa pun itu.
"Oh iya, aku udah masak, Ndra. Kamu belum makan, kan?" tanyaku.
"Belom." Kutarik tangannya ke dapur, untuk menunjukkan hasil karyaku selama seharian ini.
"Nih, aku masakin banyak buat kamu. Bisa bisanya, kulkas isinya sampah fast food. Kamu sebulan ini makan makanan kaya gitu terus??" tanyaku sambil berkacak pinggang dan membuat Indra terkekeh.
"Maaf, habisnya chef pribadiku gak ada. Dia lagi KKN kemarin. ya udah, makan ku yang gampang aja. Yang penting kan makan?" tanya Indra sambil kucubit pinggangnya.
"Awas! Makan makanan kaya gitu lagi. Itu gak sehat tau, Ndra!!" aku terus mengomel ke Indra. Sambil menyediakan makan malam untuknya.
"Iya, Bu. Maaf, nggak lagi lagi deh. Janji," bujuknya sambil menjewer telinganya sendiri. Seperti anak kecil.
Dia segera makan dengan lahap.
"Nis, enak banget sumpah. Aku kangen masakan kamu tau." Dengan mulut yang penuh makanan. Ia terus memuji semua makananku. Bahkan ia sangat pandai berkomentar, bagai acara reality show memasak dunia.
Aku hanya memandanginya makan. Rasanya melihat dia makan saja, sudah membuatku udah kenyang.
"Coba deh. Kamu juga pasti belum makan, kan?" tanyanya.
Dia lalu pindah duduk di sampingku lalu menambah nasi dan lauk. Kini ia menyuapiku karena aku tidak mau makan.
Selesai makan, aku mencuci piring dan gelas kotor dibantu Indra. Sebuah kolaborasi yang kompak dan kerja sama tim yang solid.
Malam ini aku akan kembali menginap di sini. Bersama Indra, dengan catatan, aku di kamarnya, sementara dia tidur di sofa.
Hubungan kami sudah seperti ini sejak lama, sejak kami bertemu pertama kali dulu. Kami menjadi makin akrab.
Hidupku jauh lebih berwarna karena kehadiran Indra. Dia selalu menjadi tempat terakhirku untuk pulang, di saat semua tempat menjadi menyeramkan untukku.
Aku tidak terlalu berharap Indra akan menyatakan cintanya padaku, aku tau dia mencintaiku dan dia juga pasti tau kalau aku juga mencintainya.
Biarlah semua berjalan sesuai kehendak-NYA.
Jika Allah meridhai hubungan kami, maka suatu hari nanti dia pasti akan melamar ku dan menikahi ku.
Sekarang aku hanya ingin menjalani hubungan ini dengan cara seperti ini. Agar kami sama sama saling mengenal. Sebelum kami berfikir akan meneruskan hubungan kami ke arah yang lebih serius lagi.
Dan kejadian selama aku KKN kemarin, sudah cukup meyakinkan ku bahwa Indra adalah laki laki yang tepat untukku.
Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat kupikir.
Semoga keadaan desa itu menjadi lebih baik lagi sekarang. Mungkin suatu hari nanti aku ingin berkunjung lagi ke sana.
Suasana pedesaan yang masih asri, membuatku sering merindukan momen saat kami di sana.
Walau aku sedikit mengalami trauma dan stres karena makhluk tak kasat mata. namun aku bahagia karena aku pernah hidup di sana walau singkat.
The end
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=