Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
16. Fendi Kesurupan lagi


Lagi lagi Ike terbangun di tengah malam. Kali ini dia meraih ke gelas yang biasa dia letakkan di meja samping ranjang. Begitu dia hendak meneguk isinya, rupanya gelas itu kosong. Dengan malas malasan Ike pun bangun dari pembaringan. Dia berjalan keluar kamar, kebetulan Ike satu kamar dengan Rahma, dan Indy. Lalu kamar satunya dipakai oleh Mey dan Khusnul, ditambah Fendi yang khusus tidur di kamar itu malam ini.


Kamar Ike dan Mey hanya bersebelahan dan pintu kamar mereka bersebelahan. Kebetulan saat Ike melewati kamar sebelah, pintu kamar itu tidak ditutup. Ike berjalan gontai dengan mata setengah tertutup. Namun baru beberapa langkah dia berjalan, tiba tiba dia berhenti. Matanya terbuka lebar, tiba tiba jantungnya berdesir. Dia menoleh ke belakang, berharap pintu kamar teman temannya bisa dia lihat dari tempatnya berdiri sekarang. Tapi sayangnya pintu itu sudah agak jauh dari tempat berdiri Ike. Otomatis dia berbalik badan dan berjalan kembali ke kamar tersebut. Langkah perlahan dia berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Begitu sudah sampai di dekat pintu jika tidak langsung melihat ke dalam kamar tersebut. Dia berusaha untuk mengintip sedikit. Seakan-akan keberaniannya tiba-tiba lenyap saat dia melihat sekelebat sosok yang berada di kamar itu saat dirinya tadi melintas.


Yah, Ike melihatnya. Kali ini pun saat Dia mengintip sosok yang tadi ia lihat memang benar-benar ada di kamar itu. Sosok itu bukan makhluk halus, melainkan Fendi. Fendi sedang berdiri di tengah kamar. Di antara dua ranjang yang sedang dipakai oleh Mey, dan khusnul. Dia berdiri membelakangi pintu, yang otomatis Ike tidak bisa melihat wajahnya. Melihat hal itu, Ike merasa aneh. Apalagi mengingat sikap Fendi beberapa hari ini yang suka aneh.


"F—Fen? Fen, lo lagi ng—ngapain?" tanya Ike tergagap.


Tapi Fendi tetap diam di tempatnya tanpa menyahut sama sekali. Tentu Ike menjadi semakin takut. Dia terus menatap Fendi sambil mundur mundur.


"Mau minum, Ke? Lanjut aja sana, nggak usah perdulikan aku. Aku nggak ngapa-ngapain mereka kok."


Ike melotot, perkataan Fendi terdengar aneh baginya. Fendi tidak pernah memanggil Ike dengan sebutan Aku dan kamu. Selalu dengan panggilan lo dan gue, dan apa yang dikatakan Fendi terdengar rancu. Seolah-olah Fendi tahu apa yang sedang ada di pikiran Ike saat ini. Ike memang merasa aneh dengan sikap Fendi dan berpikir kalau Fendi sedang berniat jahat kepada Khusnul dan Mey. Maka dari itu Ike menunggu di depan pintu jikalau Fendi tiba-tiba menyerang mereka berdua saat dua temannya itu sedang tidur.


"Fen, lo kenapa? Bukannya lo tidur tadi? Terus lo ngapain berdiri di situ sambil ngeliatin Mey dan Khusnul?" tanya Ike.


"Aku cuma seneng aja melihat mereka tidur. Damai, dan tenang rasanya. Apalagi saat nafas mereka tiba tiba hilang. Uh, aku tambah suka."


"Fen, ngomong apa sih lo! Jangan macam macam deh!"


"Tapi sepertinya mereka bisa menunggu," kata Fendi lalu berbalik badan.


Tiba tiba wajah Fendi yang awalnya tidak tampak, kini jelas terlihat. Wajah Fendi pucat, dengan gurat di wajah dan leher yang berwarna gelap. Dia lantas berjalan pelan keluar dari kamar menghampiri Ike. Ike yang merasa dirinya tidak lagi aman, hanya bisa berjalan mundur tanpa berani melakukan hal lainnya. Dia mulai ketakutan hingga menangis pelan.


"Fen, jangan, Fen. Please. Jangan aneh lagi dong. Kita masih lama di sini, jadi jangan kayak gitu lagi. Salah kita apa sih, Fen. Kita cuma tinggal menyelesaikan kkn aja di sini, terus pulang. Jadi udah dong, Fen. Udah, ya. Gue capek," rengek Ike.


Tapi Fendi tidak menghentikan langkahnya, dan terus berjalan menuju Ike yang sudah tidak berdaya. Tatapan Fendi sungguh mengintimidasi. Padahal dia belum melakukan apapun, tapi sudah membuat Ike tidak berdaya. Ike sudah sampai di ujung, tembok di belakang tubuhnya kini membuatnya tertahan dan tidak bisa ke mana mana. Ike menggeleng, dengan derai air mata yang terus mengalir dari kedua bola mata nya. Tangan Fendi menjulur ke depan, hingga berakhir di leher Ike. Jemari Fendi menekan kuat ke leher Ike. Membuat Ike mulai kelabakan. Fendi mencekik leher Ike dengan kuat.


"Fe—Fen ... Ja—Jangan!" ucap Ike dengan kesulitan karena dia mulai kehabisan nafas.


Tangan Ike terus berusaha melepaskan jari Fendi, tetapi kekuatan gadis itu tidak lah bisa melawan kekuatan Fendi. Semakin lama, Ike semakin tidak bisa bernafas. Hanya kedua kaki dan tangannya yang terus bergerak karena berusaha berontak. Tapi Fendi tetap mencekik Ike bahkan dengan seringai mengerikan.


"Ayolah, Ike. Mati saja. Karena kau akan tampak cantik saat tidak bernafas," kata Fendi.


"Fen, lepas!" jerit Indi. Dia terus melihat Ike yang sudah lemas tidak berdaya. Tubuhnya sudah tidak lagi melakukan pemberontakan.


"Hahahaha. Tunggu saja giliran kalian nanti," ucap Fendi dengan suara berat. Tidak seperti biasanya.


Armand dan Daniel saling tatap, mereka lantas mengangguk sambil menyerang Fendi. Pukulan demi pukulan tidak membuat Fendi melepaskan tangannya. Seakan akan dia menikmati proses ini dengan ekspresi yang lain saat ini yang sedang menatapnya kesal.


"Ya Allah! Fendi! Kamu ngapain! Lepasin Ike!" jerit Khusnul yang sudah terbangun karena mendengar kebisingan di luar.


"Man, buruan itu tolongin Ike!" jerit Mey panik.


"Ini juga gue lagi tolongin! Gila, kuat banget tenaga Fendi!" ujar Armand.


Cendol dan Dolmen lantas ikut berusaha menarik tangan Fendi dari leher Ike. Bahkan Sule memukul tangan, menendang kaki, dan menghajar kepala Fendi. Hanya saja semua yang mereka lakukan terlihat sia sia. Fendi masih berdiri kokoh di tempatnya seakan akan sedang mengejek mereka semua.


Tiba tiba dari arah samping, Derry muncul dengan sebuah kursi kayu yang ada di teras rumah. Dari menghantamkan kursi tersebut ke bagian kepala Fendi. Akhirnya tangan Fendi terlepas dari leher Ike. Fendi langsung memegangi kepalanya tapi dia tampaknya tidak merasakan sakit sama sekali. Dia hanya menoleh ke arah diri yang tadi telah membuatnya sedikit merasakan sakit karena kini ada darah yang mengalir di bagian kepalanya. Di saat itulah Arman dan juga Daniel langsung menangkap Fendi dan membuatnya jatuh di lantai.


"Tali!" jerit Armand kepada yang lain.


"Oh iya! Bentar!" kata Dolmen. Dia langsung berlari ke dapur dan tak lama kembali lagi dengan gulungan tali yang sudah pernah mereka pakai untuk mengikat Mey sebelumnya.


Armand membalik tubuh Fendi dan menahan tangan Fendi belakang tubuh. Armand melanjutkan dengan ikatan kuat di kedua tangan Fendi.


"Ikat di mana nih? Nanti dia kabur!" ucap Daniel.


Armand tengak tengok sekitar, tetapi masih sambil duduk di atas punggung Fendi agar dia tidak bisa kabur atau bahkan melukai teman yang lain.


"Tiang! Bawa ke teras! Ikat di tiang itu!" jerit Armand.


Mereka semua lantas memegang tubuh Fendi lalu membawanya keluar rumah dan mengikatnya di tiang yang ada di teras.