
Setelah mengantar Kiki dan Doni, aku dan Radit pulang ke rumahku. Sepanjang perjalanan dari rumah Kiki ke rumahku, hatiku tidak tenang.
Perasaanku selalu was was dan seperti selalu merasa diawasi.
Berkali kali aku terus menoleh ke belakang. Siapa tau sosok tadi ada di belakang kami.
"Tha... Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Radit sambil meraih tanganku lalu menggenggamnya erat.
Aku hanya mengangguk diikuti senyum simpul saja.
Radit terus saja sesekali menoleh padaku. Aku yakin dia merasakan kecemasan yg ku alami sekarang.
Ada yang aneh, karena tiba tiba ada suara petir yg cukup keras membuat kami terkejut. Malam ini tidak hujan dan langit cerah. Kenapa tiba tiba ada petir?
Aku terus memperhatikan jalanan yg kami lewati. Lagi lagi kami menemukan kejanggalan.
"Tha... Cuma aku aja yg ngerasa, atau emang kita nyasar ya?" tanya Rdit sambil tengak tengok sekitar dengan memelankan laju mobilnya.
Memang aneh, karena Radit ini bagai GPS. Dia sangat hafal jalanan di kota kami ini. Bahkan jalan tikus yg aku tidak tau sekali pun, dia pasti tau.
"Lah kamu tadi lewat mana sih, Dit? Kok bisa nyasar?" tanyaku heran.
"Ya lewat jalan yg biasanya, Tha. Tapi pas di persimpangan tadi, kok jadi kebun gini yah.. Kebun nya siapa lagi tau tau ada di sini. Perasaan sebelumnya nggak pernah aku nemuin tempat yang gini," gerutu nya.
"Terus... Gimana nih? Kita harus ke mana?" tanyaku sambil ikut mengamati jalanan sekitar kami.
Aku juga merasa belum pernah melewati jalan ini sebelumnya, dan benar benar bingung, tidak tau kami berada di mana saat ini.
Radit menyalakan GPS di mobilnya. Berkali kali di pencet pencet dan tak lama dia berteriak frustasi.
"Ah!! Sial!" pekiknya.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Gak bisa dipakai GPS nya. Duh, gimana dong, Tha." Dia mulai panik.
Kalau aku ikut panik, tidak bakal ketemu jalan keluarnya.
Kubaca dalam hati sebuah doa agar kami ditunjukan jalan yg benar. Jalan yg lurus dan yg diridhoi ALLAH.
Tak lama samar samar di ujung jalan depan kami, ada seseorang yg berdiri di tengah tengah jalan.
Ya ... Sosok tadi.
Rupanya dia yg telah membingungkan Radit dan aku.
Radit menoleh padaku.
"Tha.. Itu siapa?" tanya nya lalu fokus dengan sosok di depan kami.
"Aku nggak tau. Jangan berhenti! Kalau perlu tabrak aja!!" pinta ku
"Ishh.. Jangan ngaco deh, Tha. Kalau dia mati,baku masuk penjara... Nanti kamu gimana? kamu mau punya calon suami mantan napi?" Dia mulai lagi nih tengil nya.
Ku putar bola mataku dan mendengus sebal.
"Please deh, Diit. Masa iya, yang kayak gitu manusia? Memangnya lagi ada pesta Halloween?" tanyaku sebal.
Radit menoleh padaku. "Iya juga. Ya. Aku tabrak nih ya."
Radit menambah laju kecepatan mobilnya.
Aku agak kaget, hingga berpegangan pada kursi yg ku duduki dengan mencengkeramnya kuat.
"Siap siap, Tha.!!" perintah Radit.
Sosok itu makin dekat, seorang pria dengan jubah hitam dilengkapi penutup kepala dan membawa tongkat trisula di tangannya. Dia terus menunduk.
Makin Radit mendekat, aku makin takut. Sampai akhirnya....
Mobil Radit berhenti tepat di depan sosok itu hanya berjarak 1 meter saja.
"Kok berhenti??" tanyaku.
"Nggak tau, Tha. Sumpah Berhenti sendiri. Aku nggak nge-rem. Lihat aja kakiku nggak nginjek rem kan?" tunjuk nya ke bawah kakinya.
Berarti mobil ini berhenti seketika saat sudah di dekat sosok ini.
Sosok di depan menyeringai masih dalam posisi menunduk.
"Tha..." aku yakin Radit sedikit cemas.
Mungkin kalau yg ada di hadapannya ini perampok, 10 aja bakal dia lawan deh tanpa ragu. Tapi ini lain.
"Biarin aja. Kita lihat dulu maunya apa," sahutku yg seolah tau apa yg ingin Radit ucapkan.
'Dia' mendongak, dan tiba tiba semua pintu mobil Radit terbuka sendiri.
Aku dan Radit saling lempar pandangan dan kami berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Aku mengangguk namun wajah Radit sedikit cemas.
Aku turun dari mobil,Radit pun mengikuti ku lalu memutar berjalan memutar dan kini berdiri di sampingku. Kami berjalan mendekati 'nya'
Saat dekat dengan 'dia', dia melepas jubah yg sedari tadi menutupi tubuhnya.
Dan kalian tau apa yg kulihat?
Bentuk nya sungguh mengerikan. Kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.
"Siapa kamu?!" tanya Radit lantang.
Dia tidak menjawab hanya tersenyum licik. Radit menoleh padaku, dan mengerutkan keningnya. Aku hanya diam saja sambil terus mengamati nya.
"Mau apa kamu?!! Jangan menghalangi jalan kami!! Pergi sekarang juga!!" teriakku.
"Hahahahaha..." tawanya menggelegar diiringi suara guntur di langit.
Aku dan Radit sampai sampai melihat ke atas, kami pikir akan turun hujan saat ini. Namun, langit sangat cerah dan sedikit pun awan tidak terlihat sama sekali.
Aku dan Radit kembali saling pandang.
"Kenapa?kl kalian takut??" tanyanya. Suara nya berat seperti suaranya Optimus Prime di film transformers.
Ngeri kan tuh.
"Siapa juga yg takut!!!" tantangku.
Padahal tubuhku gemetar. Sumpah.
Tapi aku tidak boleh menunjukan rasa takutku padanya.
Nanti dia pasti akan merasa di atas angin.
Dia memukul mukulkan trisulanya ke tanah.
Tanah bergetar, seperti ada gempa bumi. Qku berpegangan pada Radit.
"Tha.. Kita harus gimana?" tanya Radit.
Aku hanya senyum lalu kutundukan kepalaku sambil merapalkan doa.
Dan pada doa yg terakhir,
'Ya Allah, lindungilah kami...'
Lalu muncul macan putih yg melompat dari atasku. Ia mengaum dengan suara berat dan membuat bulu kudukku meremang.
Radit melotot lalu menoleh kepadaku untuk meminta jawaban atas apa yg kini muncul di hadapan kami.
Aku hanya melempar senyum padanya.
"Kalau yang ginian, mending aku kasih ke Eyang. Bakal digodok di kawah Chandra dimuka aku, Dit, kalau sok-sokan melawan dia. Ilmu dia jauh lebih tinggi dari pada aku. Bisa-bisa kita nggak selamat. Kamu tenang aja, ada Eyang."
Eyang berjalan memutari sosok di hadapan kami ini.
"Mundur," kata Eyang sambil sedikit menoleh ke aku dan Radit.
Suara eyang, tidak kalah horor dari makhluk aneh itu.
Bahkan bulu kuduk ku meremang jika eyang mengucapkan 1 kata saja.
Tanpa dikomando lagi aku mundur sambil menarik Radit juga yg masih bengong.
"Tha... Itu siapa? Eyang? Eyang yang ...." Radit tidak melanjutkan pertanyaannya.
"Itu eyang Prabumulih, suami nya eyang Lestari yg aku temui di Bali kemarin," terang ku.
Radit hanya ber-oh-ria.
Kami duduk dengan tenang sambil melihat eyang dan makhluk mengerikan tadi.
Kulihat mereka diam saja, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut eyang bahkan makhluk itu.
Eyang hanya berjalan memutari makhluk itu dengan terus menatapnya tajam, seolah ingin menerkam saja. Masih berwujud macan putih
"Tha... kok mereka diem aja. Cuma liat liatan gitu?" tanya Radit heran.
"Mana ku tau.. Kali aja mereka lagi ngobrol tuh. Cuma kita gak denger.. Pakai bahasa kalbu gitu kali," jawabku enteng.
"Ini kalau ada kopi sama cemilan enak kali ya, Tha," ucap Radit mulai tengil.
Aku meliriknya tajam lalu ku tinju lengannya yg kekar.
'Buuugggh'
"Aaw..." aku memekik kesakitan karena terlalu bersemangat memukul Radit.
"Nah, kualat kan tuh. Hehehe."
Aku meliriknya tajam sambil mengerucutkan bibir. Melihat itu, dia berhenti tertawa lalu meraih tanganku.
Dia meniup niup punggung tanganku yg masih sedikit nyeri.
"Sakit ya, sayang. Maaf ya. Kamu sih bandel.. Pakai mukul. Kalau marah mah, jangan mukul. Tapi nyium." katanya ngasal sambil memijat tanganku.
Kucubit lengan nya kali ini karena gemas. Dia malah tertawa.
Sumpah pengen aku cekik nih anak. Becanda nya kadang kelewatan. Nggak lihat situasi dan kondisi juga.
Bruuuugggh!!
Sosok tadi jatuh dan tergeletak di depan kami.
Kulihat Eyang tidak terluka sedikit pun. Eyang terus menatap makhluk tadi dengan tatapan tajam.
Makhluk tadi berdiri lagi, jalannya sudah sempoyongan.
Wah, kami melewatkan beberapa detik saja, makhluk ini sudah bagai hampir mati dua kali.
Dia maju dan menyerang eyang hingga mereka berguling guling di tanah.
Eyang berusaha mencakar makhluk itu dan makhluk itu pun sama, berusaha melukai eyang.
Sreeeettt
Sreeethhhh
Keduanya sama sama terluka.
Makhluk tadi berdiri, lalu mengangkat trisula nya tinggi tinggi dan menghentakkan di tanah.
Duuuhhh!!
Kembali terdengar guntur yg sama keras nya seperti tadi.
Bahkan kilat pun juga muncul kali ini.
Buug!!
Ada sesuatu yg terjatuh dari langit. Bentuknya seperti manusia. Namun memiliki sayap yg hitam, panjang dan besar, dengan tanduk di kepalanya. Aura nya sungguh gelap pekat.
Aku tidak bisa berdiam diri saja kali ini. Ini akan sangat tidak adil. Karena eyang melawan 2 makhluk seorang diri. Aku berdiri dari posisi duduk ku.
"Tha!! Mau ngapain??" tanya Radit lalu berusaha menarik tanganku.
"Aku mau bantu Eyang," ucapku dingin.
"Apa? Kamu mau lawan dia?? Enggak, Tha!! Jangan!! Aku gak mau kamu kenapa kenapa!! Udah deh. Biar eyang aja," larangnya.
Aku menggeleng.
"Keturunan Eyang, nggak boleh takut, apalagi sama makhluk keji kayak mereka!!" sahutku.
Kuambil kalung yg kupakai pemberian pak de Yusuf.
Kalung berliontin ukiran batu mini kulepaskan dari leherku.
Aku memejamkan mata lalu kukecup liontin itu. Kini, liontin itu berubah menjadi pedang panjang yg mengkilat dan tajam.
Eyang menoleh ke arahku, dan terlihat tersenyum tipis.
Wuuussshhhh!!
Eyang merubah wujudnya menjadi manusia.
Dengan wujud seorang kakek pada umumnya, eyang juga melakukan hal yg sama sepertiku. Mengeluarkan kalung dari leher beliau dan kalung itu berubah menjadi pedang berukiran emas.
Eyang mengangguk padaku dengan yakin sambil menggenggam erat pedang di tangan nya.
Aku tersenyum ke eyang.
"Dit, mundur. Kabarin kak Arden biar nyusulin ke sini. aku takut, energi ku terkuras habis nanti," pinta ku ke Radit.
Radit mengangguk lalu segera meraih ponselnya yg diletakkan di dash board mobil.
Makhluk yg baru datang tadi menatapku tajam, sambil tersenyum tipis.
Kuseret pedang milikku sambil memutari makhluk itu.
Dia hanya diam sambil terus memperhatikanku, mungkin dia juga bersiap jika aku menyerang secara tiba tiba.
"Dasar iblis!!" gumamku.
"Dasar anak adam!! Kalian tidak berguna!!!" makinya.
"Eh, sorry.. Gue ponakan pak de Adam. Bukan anaknya ya," kataku ngasal.
Entah kenapa aku malah ketularan Radit sekarang.
Eyang melirikku sambil geleng geleng kepala.
Sementara eyang dan makhluk itu bertarung, aku masih mengamati makhluk di hadapanku.
Bukan bermaksud untuk membuang waktu, tapi aku masih mencari titik lemah nya.
Kutajamkan penglihatan ku dan terus mengamati sosok itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Namun, nihil .
Aku tidak menemukan petunjuk apa pun dalam dirinya.
Dia mengeluarkan senjata nya. Sebuah trisula perak sama seperti kawan nya yg sedang bertarung dengan eyang.
Dia menyeringai padaku.
Ku tatap tajam matanya, tak lepas sedikit pun dari pandanganku.
Dia berteriak dengan suara mengerikan sambil mengangkat trisulanya ke atas.
"Allahu Akbar!!!" pekikku sambil melayangkan pedang ke atas kepalaku menahan trisula miliknya.
Taaaaanngggggg!!!
Pedang milikku dan trisula miliknya kini saling beradu.
Semoga kak Arden bisa cepat datang, karena aku takut, aku tidak mampu melawannya seorang diri.
Aku belum menemukan titik kelemahan nya sampai sekarang.
\=\=\=\=\=\=\=