Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
5. Tamu istimewa


Pagi ini jadwal ku dan Wicak memasak. Pagi - pagi sekali aku dan Wicak sudah ada di dapur. Kami berencana memasak nasi goreng ati ayam untuk sarapan. Beberapa bahan sudah kami beli kemarin, juga ada yang berasal dari pemberian Bu Kades.


" Nis ... Hubungan kamu sama siapa itu. Indra! Bagaimana sih?" tanyanya, sambil mengupas bawang.


"Biasa aja. Aku masih temenan aja sama Indra," jawabku seadanya. Mencuci cabai yang hendak kami haluskan untuk bumbu.


" Oh begitu," jawabnya sambil manggut manggut. Jawabannya agak meragukan, seperti ada hal lain yang ingin ia sampaikan.


" Kenapa, Cak? Tumben kamu nanyain ini."


" Gak papa. Seneng aja, akhirnya kamu nemuin cowok kaya Indra, Nis. Setelah kejadian itu. Eh, sorry," katanya tak enak tiba - tiba membahas masa lalu ku.


"Nggak papa kok, Cak. Aku juga udah lupain, dan udah mulai mencoba membuka hatiku buat orang lain, khususnya Indra. lagian Kak Adam juga udah kasih lampu hijau. Katanya Indra laki - laki yang baik," kataku malah jadi curhat ke Wicak.


" Aku juga liatnya gitu, Nis. Terlepas dari dia seorang polisi, ya. Dia kayaknya serius banget sama kamu. Tapi kok kalian masih temenan, dia belum nembak tah?" tanya Wicak.


" Belum. Jangan cepet - cepet ah. Biar aja. Heehe, " kataku sambil ketawa.


" Kamu aneh. Biasanya cewek paling nggak suka digantungin, ini malah nggak mau diseriusin," ledek Wicak, hingga membuatku tersipu malu.


Wicak dan aku sudah bersahabat dari kecil, dia tetangga dekat ku dulu. Aku memang punya pengalaman yang cukup mengerikan saat masih SMU dulu. Dengan salah 1 teman kami, yang bernama Burhan, dia 3 tahun lebih tua dari kami. Dulu, kami sering bermain bersama, bahkan saat SMU pun, kami masih sering nongkrong bareng di warung dekat pos ronda di sekitar rumah.


Aku masih ingat dengan jelas , saat burhan dan aku akan membeli jagung bakar yang ada di dekat rel kereta api, dia tiba - tiba membekap mulutku, lalu menarikku ke sebuah gubuk dan hampir saja dia melakukan perbuatan tidak senonoh. Jika saja Wicak dan Deni tidak datang, entah apa yang terjadi padaku dulu.


Dan setelah kejadian itu, aku menjadi tertutup dan mengurung diri di kamar, sudah tidak pernah bergaul dengan teman - teman di sekitar rumahku lagi.


Aku pun menjadi dingin pada semua pria asing yang berusaha mendekatiku. Dan untuk menyembuhkan luka itu butuh waktu yang tidak sebentar.


Tidak ada yang tau tentang kejadian itu selain Wicak, Deni, keluargaku dan keluarga Burhan. Mereka memohon agar tidak membawa masalah ini ke polisi, dan papah mengajukan syarat, bahwa mereka harus pergi dari lingkungan ini lalu pindah jauh - jauh dari kami.


Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Burhan.


" Wah, enak nih, Nis," kata Wicak saat masakan kami selesai. Aroma sedap tercium di pangkal hidung kami, membuat cacing di dalam perut menggeliat.


"Iya nih. Jadi laper ya, Cak," kataku sambil menatap masakan kami yang sudah tersaji di meja makan. Piring dan sendok juga sudah aku siapkan, jadi mereka hanya tinggal mengambil nasi goreng ini sesuai keinginan mereka.


"Ya sudah, aku panggil yang lain dulu ya. Habis ini aku mau PROKER. Eh, kamu ikut nggak? lihat pembuatan batas desa," ajaknya. Aku tidak langsung menjawab, sempat bingung, tapi rasanya tidak etis kalau aku tidak ikut terlibat secara langsung. Minimal aku harus melihat keadaan di sana.


"Iya deh, lagian kegiatan ku cuma bentar aja sih nanti. Selesai kegiatan, aku ke sana," kataku, pasrah.


"Oke, Nis," ujar nya antusias.


Teman-teman yang lain kami panggil untuk sarapan, kami mengambil makan dan kembali ke ruang tamu yang merupakan satu-satunya tempat yang menyediakan kursi yang muat untuk kami semua. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh seorang pria dengan tas punggung. Penampilannya misterius karena memakai masker dan kaca mata hitam. Ia diantar Pak Ponidi sampai di depan rumah ini. Semua orang penasaran dan bertanya-tanya tentang pria itu. Karena kami tidak merasa akan mendapat tambahan anggota. Ia kemudian mengetuk pintu, dan Wicak beranjak untuk membukanya. "Cari siapa, ya?" tanya Wicak.


Namun saat dia sudah ada di muka pintu, aku dengan mudah mengenalinya. Matanya tidak asing buatku. Aku segera beranjak dan meletakkan piringku di meja.


"Indra," panggilku dengan mata berbinar. Hal itu membuat beberapa temanku juga ikut mendekat untuk memastikan perkataanku.


Indra lalu membuka masker nya dan tersenyum padaku..


"Hai," sapanya.


Feri yang ikut mendekat.


"Hai bro! Akhirnya nyampe juga!" katanya lalu tos dengan Indra.


"Kamu kok ke sini ?" tanyaku heran melihatnya.


"Pakai ditanya lagi? Ya kangen lah, Nis, sama elu!" kata Feri gemas, melihatku yang terkadang mendadak seperti orang bego.


Feri menggandeng Indra masuk. Indra menyapa teman- temanku yang lain, dan aku masih bengong melihat kedatangannya yang tiba- tiba.


"Nis! Bengong aja!" kata Ferli. Lalu menarikku duduk di sampingnya.


Sementara Indra duduk berseberangan dengan ku.


"Libur, Ndra?" sapa Wicak.


"Iya, dapat cuti 3 hari nih. Jadi iseng ke sini deh," katanya enteng.


"Iseng apa kangen?" ledek Indah.


"Dua nya juga boleh, Ndah," jawab Indra sambil melirikku.


"Cie ... Eneng juga kangen, Bang. Tiap hari ngelamunin, Abang," sindir Feri yang dengan sangat jelas melirikku juga. Aku memukul dia dan kucubit keras lengannya, hingga ia mengerang kesakitan.


"Nginep kan, Ndra?" tanya Wicak lagi.


"Mm ... Kalau boleh sih," katanya ragu.


Wicak mengangguk, mengiyakan.


"Kalo nggak boleh ya bikin tenda di depan. Udah izin Pak Kades inih tadi," katanya cuek.


"Cak, serius boleh nginep sini? gak apa apa tah?" tanyaku ke Wicak yang sedang melahap nasi goreng nya.


"Ya serius lah. Boleh aja kok, nggak ada larangan juga, kan? Asal gak tidur sekamar sama kamu saja, Nis. hehe. Peace," kata Wicak sambil menaikkan 2 jarinya.


"Ngaco!!" aku lalu beranjak ke dapur, mengambilkan Indra teh dan sarapan juga.


Saat di dapur, Acong yang sedari tadi diam saja, sengaja menabrakku hingga teh yang ada di tanganku tumpah membasahi bajuku.


"Sorry, Nis," katanya santai.


"Bilang aja sengaja!" sahutku ketus.


"Kamu mentang - mentang udah ada pacarmu jadi berani ngomong ketus gitu ya sama aku?" Acong berjalan mendekati ku. Dengan wajah yang emosi.


"Apa? Maksud kamu apa? Kamu pikir aku takut sama kamu? Selama ini aku diem karena aku males ngadepin kamu! Tapi kalo kamu keterlaluan aku juga bisa marah, Cong! Kayak barusan, kamu sengaja kan?!" hardikku.


"Aku kan udah minta maaf, aku gak sengaja kok!" katanya yang mulai menurunkan nada bicaranya karena aku justru menantangnya.


"Nggak sengaja? Jalan masih luas begitu, tapi kamu malah mepet - mepet aku. Sengaja, kan!" kataku masih emosi.


"Kamu tuh, ngeyel ya dibilangin. Aku kan gak sengaja!!" Acong masih mencoba menyangkal. Ia melirik ke arah depan, mungkin takut orang lain mendengar pertengkaran kami.


Kutinggalkan dia begitu saja. Malas rasanya terlalu lama di dekat dia.


"Ndra, makan dulu. Kamu belum sarapan, kan?" tanyaku sambil menyodorkan piring yang berisi nasi goreng dan teh hangat kepadanya.


Wajahku yang masih kusut dapat terbaca jelas oleh mereka yang ada di ruang tamu.


"Baju elu kenapa, Nis? Basah gitu?" tanya Feri, mewakili rasa penasaran yang lain.


"Habis nabrak setan tadi!!" kataku ketus sambil melirik Acong yang baru sampai di ruang tamu dan duduk di samping Wicak dengan gelagat gelisah. Aku lalu masuk kamar untuk ganti baju dan tak lama keluar lagi sambil membawa proposalku. Karena aku berencana akan ke balai desa bertemu Pak Kades.


Aku kembali duduk di samping Ferli, mereka menatapku dan hanya diam tidak berani membuka obrolan. Wajahku masih terlihat kesal, dan aku menyadari itu. Di ruang tamu memang hanya ada Wicak, Acong, Feri, Ferli, dan Indra saja, karena yang lain sudah pergi untuk PROKER masing- masing.


"Kamu mau kemana habis ini?" tanya Indra.


"Mau ke balai desa dulu, terus mau ada penyuluhan lagi sama Ferli. kamu gimana?" tanyaku ragu.


"Ya ikutlah, Nis. Gitu aja pake ditanya.," ledek Feri. Kutabok dia memakai proposal milikku.


Dia ketawa ngakak. Dia emang hobi banget ngeledekin aku.


"Iya, aku ikut boleh, kan? Sekalian jalan- jalan juga," kata Indra.


"Ya udah gak apa apa," kataku mengiyakan.


"KKN kok disambi pacaran, gimana kelar nanti," gumam Acong.


Braaakk!!


Aku memukul meja di depanku. Emosiku sudah sampai ke ubun-ubun, hingga tidak dapat kutahan lagi. Tidak peduli apa kata Indra nanti, yang jelas sekarang rasanya ingin kurobek mulut Acong.


"Kamu!! Gak usah mulai lagi, Cong!! Udah berapa kali kamu bikin aku emosi pagi ini!!" kataku dengan menunjuk Acong. Semua yang ada di sini kaget dengan reaksiku. Aku memang jarang menunjukkan sikap berapi-api saat mengalami hal buruk seperti ini. Wicak melotot, lalu menarik Acong pergi.


"Cong, udah deh. Jangan mulai. Yuk ah. Kita pergi," ajak Wicak sambil menatapku yang masih tak melepaskan pandangan pada Acong. Nafasku masih tersengal- sengal karena emosi. Aku kemudian duduk lagi saat melihat Acong pergi, sambil mengatur nafas dan emosi ku, kupejamkan mata.


Entah kenapa hari ini aku begitu sensitif, terutama setelah teringat Burhan, dan aku juga sangat membenci Acong. Dia ... Aneh.


"Nis, kamu gak apa apa?" tanya Indra yang tib-tiba sudah jongkok di depanku sambil tangannya bertumpu pada lututku.


" Nggak apa apa kok, Ndra. Maaf, ya. Aku lagi kacau banget pagi ini," kataku.


Indra hanya senyum menatapku.


"Oh iya, hampir lupa. Aku bawain ini buat kamu," katanya lalu mengambil 2 batang coklat dan diberikannya padaku.


Mataku berbinar melihat nya, dia memang tau aku sangat menyukai coklat terutama jika emosiku sedang naik seperti ini. Aku ambil lalu kubuka dan segera ku makan. Yang sebatang lagi kuberikan ke Ferli yang sejak tadi diam dengan mengerucutkan bibir melihat kami.


Bahagia rasanya, melihat Indra lagi di sini.


Dia mampu membuat mood ku menjadi lebih baik lagi, dia mampu menjadi sumber semangatku dan aku memang membutuhkan nya di sini.


Yang jelas aku rindu Indra.