Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
16. maafkan aku Aretha.


Hari ini aku merasa tidak semangat di sekolah. Rasanya enggan untuk berangkat. Namun tidak mungkin juga aku bolos. Apalagi hari ini ada ulangan.


Sejak pagi aku banyak diam. Aku masih memikirkan kejadian kemarin.


"Tha ... Kamu kenapa sih? Kusut banget hari ini?" tanya Kiki sambil bisik - bisik takut ketahuan Bu Guru yang sedang mengawasi kami ulangan harian.


"Nggak apa - apa. Nggak enak badan aja, Ki," sahutku bohong. Kiki masih menatapku dengan tatapan tidak percaya. Seolah sedang berusaha masuk ke dalam pikiranku melalui sorot matanya yang tajam.


Aku berpaling darinya, saat bau aneh tercium di pangkal hidungku.


Apa lagi ini! Sesosok wanita tiba - tiba melintas masuk begitu saja ke dalam kelas. Wanita tak kasat mata itu berjalan tanpa sebelah tangannya.


Glek!!


"Ngapain juga ni setan ke sini!" batinku.


Dia seperti sedang berkeliling mencari sesuatu. Aku menunduk, karena malas sekali kalau harus berhadapan dengan hal seperti ini. Apalagi jika sedang ada pelajaran di kelas. Fokusku bakal terbagi. Lagi pula siang bolong begini kenapa pakai nongol segala! Heran deh.


Bel istirahat berbunyi. Danu dan Dion langsung pergi ke ruang OSIS. Sementara aku dan Kiki masih di kelas.


"Tha, kantin yuk. Doni udah nungguin aku nih," ajaknya.


"Eum... Enggak deh, Ki. kamu aja. Aku nanti mau ke PERPUS," ucapku.


"Lah kenapa? Kamu sakit beneran, Tha?" tanya Kiki sambil menempelkan punggung tangannya ke keningku.


"Aku nggak apa-apa. Udah sana ke kantin. Kasihan Doni nungguin," paksaku.


"Enggak ah. Aku temenin kamu aja, Tha." Kiki lalu melingkarkan tangannya ke lengan ku.


"Apa sih ah. Udah sana! Temuin tuh pacar kamu. Nanti ngambek lho. Aku nggak apa-apa kali, Ki. Beneran." Aku terus berusaha meyakinkannya.


"Serius?" tanyanya sambil menatap mataku dalam. Aku mengangguk lemas. "Kalau ada apa-apa cerita dong, Tha."


"Iya, lagian aku nggak apa-apa. Cuma lagi pengen baca di perpus aja. Udah sana ah." Aku mendorong tubuhnya pelan, sebagai bentuk pengusiran halus. Aku sengaja menghindari keramaian dan teman-teman, karena memang sengaja ingin menghindari Radit. Kiki akhirnya pergi ke kantin, walau dengan wajah kebingungan.


Kelas sudah sepi, semua pergi keluar dengan urusan masing-masing. Walau biasanya berakhir di kantin.


Aku merapatkan sweeter ku yg memang terus kupakai sedari pagi. Rasanya hari ini dingin. Padahal matahari udah muncul dan memberikan sinar hangatnya sejak tadi, tapi entah kenapa aku merasa kedinginan. Mungkin aku memang sakit. aku terus berjalan keluar kelas, hingga ke PERPUS yang tidak jauh dari kelasku.


Suasana PERPUS tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang saja yang kulihat sedang membaca dengan tenang.


Kuambil sebuah novel yang menarik dari rak buku kemudian duduk menjauh dari yang lain. Aku merasa sedang ingin sendiri saja hari ini.


Ada masanya kita hanya berteman dengan kesendirian. Agar kita paham apa yang sebenarnya kita mau dan siapa yang benar benar peduli.


Ada yg menarik bangku di depanku. Aku tidak melihatnya karena lebih senang tenggelam dalam buku di hadapanku ini.


Dia duduk, tangan kanan nya diletakan di atas meja. Karena meja tidak terlalu besar, aku dapat melihat bagaimana bentuk tangannya.


Kotor! Seluruh tangannya kotor dan bau nya anyir sekaligus busuk.


Perlahan aku menatap pemilik tangan di hadapanku ini. Aku menelan ludah, melihat sosok yang tadi muncul di kelas, kini justru ada di perpustakaan.


Dia menatapku tajam dengan rambut panjangnya yang terurai acak - acakan menutupi sebagian wajahnya.


'Mana tanganku...'


'Mana tanganku...'


Dia terus saja menanyakan hal itu. Terpaksa aku menutup buku yang ku baca lalu aku perlahan menjauh darinya. Aku menatap terus sosok itu, takut tiba - tiba dia mendekati ku. Aku lantas berjalan mundur keluar dari perpus. Beberapa orang yang ada di sana menatapku bingung.


Tidak peduli apa yang ada di pikiran orang-orang, yang aku tau aku harus pergi saat itu juga. Sampai pintu perpus, aku berbalik dan ...


Aku terjatuh karena menabrak seseorang. Radit memelukku. Aku malah melotot karena kaget mendapatinya ada di depanku saat ini.


'Perasaan aku lagi pengen menghindari makhluk yang ini juga deh. Kok malah dia nongol di sini?'


"Kamu kenapa, Tha?" tanya Radit bingung.


Aku segera melepaskan pelukan Radit."Nggak apa-apa," ucapku lalu hendak pergi dari hadapannya.


Radit kembali menarik tanganku.


"Kamu kenapa sih? Dari kemarin aneh! Aku salah apa Tha, ke kamu??ayo bilang. Jangan diem aja. Aku bingung, Tha," pintanya sedikit memohon.


"Aku nggak apa-apa, Dit." Aku mencoba melepaskan tangan Radit yang terus menahan ku yang akan pergi.


"Bohong! Nggak mungkin gak ada apa apa. Aku mohon, Tha. Kasih tau aku, salahku di mana. Jangan kayak gini," rengek nya.


"Aku nggak apa-apa. Aku cuma lagi nggak enak badan aja, Dit. Udah ya, aku capek. Mau balik kelas dulu."


"Kamu sakit? Sakit apa, Tha? Udah minum obat belum?" dia malah makin mendekat padaku dan memperhatikan wajahku dari jarak dekat.


Otomatis aku mundur agak menjauh.


"Ya udah, yuk aku anter," ucapnya sambil menarik tanganku.


"Eh... Tapi, Dit...."


"Kenapa lagi? Ayok aku anterin," katanya lalu berbalik lagi menatapku.


"Aku ... Aku laper," jawabku manja.


Radit senyum. Lalu mengacak acak rambutku. "ya udah yuk, kantin dulu"


Radit masih saja menggandeng tanganku menuju kantin. Padahal aku sudah berusaha melepaskan pegangan Radit. Tapi dia terus aja kembali menggandengku.


Sampai kantin baru dia mau melepaskan tangannya. Kami lalu menuju meja Kak Arden. Semua sudah berkumpul di sana, kecuali aku dan Radit.


"Lah... Ini dia, ke mana aja sih, Tha?Radit nyariin elu dari tadi tau," kata Dedi.


Aku hanya senyum. Lalu duduk di samping kak Arden. Kusandarkan kepalaku ke lengan kak Arden.


"Kenapa?" tanya kak Arden sambil mengelus kepalaku lembut.


Aku menggeleng namun makin menenggelamkan wajahku ke lengannya.


"Dek... Ada apa sih? Dit! Elu apain adek gue!?" tanya kak Arden menatap tajam Radit.


"Enggak gue apa apain, Den. Serius.


Tiba tiba tercium bau anyir, dan lengan kak Arden panas. Ku dongakan kepalaku menatap kak Arden. Wajah kak Arden pucat. Akhirnya aku melepaskan tanganku dari kak Arden.


Saat menoleh ke samping. Sosok itu lagi. Aku menjerit lalu kembali bersembunyi dalam pelukan kakakku. Kak Arden lantas ikut menoleh.


"Udah nggak ada," bisiknya


"Kenapa, Tha?" tanya yang lain kompak.


Aku malah nangis. Duh, kok jadi cengeng gini ya. Dan itu membuat mereka kebingungan. Karena ini pertama kalinya mereka melihatku menangis.


"Udah, Dek. Udah pergi, kan?" tanya kak Arden lalu memelukku.


Bel masuk pun berbunyi.


"Yuk, kakak antar sampai kelas," ajak kak Arden lalu menggandeng tanganku. Teman teman yang lain pun berjalan mengekor pada kamu, ikut mengantar ke kelasku juga. Kami bersepuluh ini sudah terkenal seantero sekolah. Dan tidak ada yang berani mencari masalah dengan kami. Sudah terbukti dari masalah-masalah kemarin, dan hal itu diperkuat dengan latar belakang kami, semua jago bela diri.


Aku dan kak Arden sudah mempelajari karate sejak kami masih SD. Danu dan Dion mempelajari pencak silat.


Dedi mempelajari taekwondo. Doni mempelajari Jujitsu. Ini karena orang tua Doni sering ke Jepang. Dan ayah Doni juga jago jujitsu. Yah, jenis ilmu bela diri yang jarang di dengar memang.


Sedangkan Radit, dia paling banyak di antara kami, selain mempelajari pencak silat dia juga mempelajari Aikido, jujitsu dan judo. Dia ini sangat menyukai kebudayaan Jepang. Makanya dia sangat cocok dengan Doni.


Dan mungkin karena Radit lebih sering sendirian di rumah, sehingga bukan cuma basket yang menjadi pelariannya, tapi juga bela diri.


Saat akan ke kelasku, kami berpapasan dengan mba Alya.


Kak Arden dan mba Alya saling lempar senyum.


Namun, kembali aku melihat sosok yg terus mengikuti mba Alya. Dan yang membuatku kaget adalah, dia sangat mirip mba Alya.


"Eh ... Alya. Mau ke mana, Al?" Tiba tiba Dedi menghalangi jalan mba Alya.


"Heh! Ngapain sih! Minggir!!" bentak kak Arden.


"Cie ... Ada yang belain. Oke maaf, silakan dilanjutkan perjalanannya nona Alya." Dedi menyingkir lalu sedikit membungkukkan badannya dan menyuruh mba Alya lewat.


Aku terus memandangi sosok itu.


"Kak ... mba  Alya kembar?" tanyaku.


"Hah? masa? Dia anak tunggal kok dek," ucap kak Arden kaget.


"Lah, itu siapa yang ngikutin?? Coba deh kakak lihat," suruhku.


Kak Arden membuka mata ketiganya dan menatap mba Alya yang berjalan menjauh.


"Ya Allah. Kok aku nggak ngerasain ya.."gumam kak arden.


"Eh, Alya diikutin setan, Tha?"tanya Doni penasaran. Ikut menatap mba Alya yang makin lama makin jauh.


"Ih, masa sih. Padahal itu anak sering ke mesjid ya. "


"Ya nggak jamin lah, gaes. Tapi kok bisa, Den?? Tha??''


"Mending kakak tanya deh. Bener nggak dia punya kembaran,"saranku.


Kak Arden hanya mengangguk.


Saat akan masuk ke kelasku, Radit menarik tanganku lagi.


"Eh... eh... eh... Apa apaan tuh? Pegang pegang?" tanya Kak Arden sambil menunjuk tangan Radit.


"Sebentar, Den, ah!" gerutu Radit kesal.


Kak Arden dan yang lainnya tertawa lalu mereka menunggu di depan kelas ku sambil ngobrol. Entah apa yang diobrolkan, aku tidak mendengarnya. Sementara Kiki langsung ngeloyor masuk kelas karena lupa belum mengerjakan  tugas.


"Nanti jalan yuk, Tha. Aku punya dua tiket nonton nih," katanya lalu menunjukan dua tiket bioskop padaku.


"Eum, maaf, Dit. Aku lagi nggak mau nonton. Lain kali aja, ya," jawabku malas-malasan.


"Hm, nggak apa-apa sih kalau kamu nggak mau. Tapi nanti aku ke rumah kamu, ya," ucapnya lagi.


"Terserah kamu deh."


"Aku nggak tau kesalahanku apa, Tha. Mungkin aku udah bikin kamu marah atau sedih. Mungkin aku nggak sengaja ngelakuin itu. Aku memang orang bodoh. Yang nggak bisa melakukan apa pun dengan benar. Aku cuma bisa minta maaf. Maafin aku, Tha. Kalau aku punya salah sama kamu. Aku bakal berusaha memperbaiki sikap dan sifatku kalau ada yang bikin kamu kurang nyaman," ucapnya serius dan panjang lebar


"Hajar aja, Tha! "Ejek Dedi yang mengintip dari luar


Aku diam beberapa saat.


"Aku pengen ke bukit Trenggulasih," kataku yang lama lama tidak tega juga bersikap dingin ke Radit. Bagaimana pun ini bukan sepenuhnya salahnya.


Radit menatapku dengan berbinar.


"Oke nanti pulang sekolah aku langsung ke rumah kamu, ya. Kita ke sana," ucapnya semangat.


Aku hanya tersenyum. Lalu masuk ke kelas. Radit kembali ke yabg lain dan sepertinya mereka akan kembali ke kelas mereka.


\=\=\=\=\=\=\=


Kau pasti tahu sakitnya cinta yang tak terkatakan.


Cinta yang hanya mampu didekap dalam bungkam.


Kata orang bahkan diam berbicara. Tapi, menurutku hal itu tidak berlaku dalam cinta.


Sebab cinta harus diekspresikan dan pantang dibawa diam.


Sebab cinta harusnya dinyatakan, lalu dibuktikan dengan sikap dan perbuatan.


Begitu seharusnya cinta.


Tapi, aku memang tidak punya pilihan. Maafkan!


Dan...


Maafkan siapapun yang bersungguh-sungguh dalam meminta maaf dan biarkan hidup ke depan menjelma menjadi kisah yang baru.