
Hari ini Radit sudah boleh pulang, dan sore ini semua sudah ada di ruang inap Radit untuk menjemputnya. Orang tuanya, dan kami semua juga hadir. Setelah packing barang barang, kami melenggang keluar kamar inap Radit.
Saat berjalan di koridor rumah sakit mereka asik bergurau sambil tertawa dengan lelucon masing-masing. Aku berjalan paling belakang bersama Radit.
Deg!
Sosok itu-- lagi!!
suster yg mengesot di lantai kini ada di ujung lorong arah berlawanan dengan kami sedang mengesot menuju ke arah kami. Masih dengan gaya yg sama, memegang kantung infus dan terus mengesot memasuki hampir tiap kamar yg dia lewati.
Aku berjalan menepi menjauhi sosok itu. Radit yg ada di sampingku menatapku heran,"kenapa, Ai?"
"Enggak papa kok." aku berusaha terlihat tenang.
Tiba tiba Radit langsung menggenggam tanganku erat lalu mendekat ke telingaku dan berbisik,"jangan takut, ada aku di sini."
Nyessss!!
Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Kumandang azan maghrib baru saja berkumandang.
"Salat dulu ya," kata kak Arden.
"Oke."
Sebelum pulang, kami sempatkan salat dulu di mushola yg ada di sebelah rumah sakit.
Mushola ini letaknya ada di dalam sebuah sekolah SMU swasta. Kebetulan gerbang sekolahnya terbuka karena selalu diadakan salat maghrib berjamaah di sana.
Karena letaknya ada di dalam sekolah dan agak masuk ke dalam, kami memarkirkan mobil di lapangan depan sekolah itu.
Orang tua Radit sudah pulang duluan, dan Radit ngeyel mau ikut kami sampai kami selesai salat.
Terlihat ada beberapa orang yg berjalan masuk ke sekolah ini dengan memakai baju koko bagi yg laki laki dan mukena atasan bagi yg wanita. Seperti nya mereka warga yg ada di sekitar sini.
Lalu ada beberapa pria yg memakai sorban putih dan pakaian nya terang seperti mengeluarkan cahaya.
Ini bukan pertama kalinya aku melihat hal seperti ini. Dan aku tau kalau mereka bukan manusia. Mungkin bisa disebut jin muslim.
"Ai... Mereka siapa, ya?" bisik Radit padaku.
Aku menoleh padanya ," hah? Yang mana?" tanyaku pura pura tidak paham.
"Ck. Kamu udah minus ya matanya? Yg itu, yg paling belakang. Kok bajunya bersinar gitu ya. "
Glek!
"Astaga, Radit," gumamku menatapnya tidak percaya.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa." Aku berhenti berjalan lalu menatapnya,"kamu mau ke mana?"
"Ya ikut lah. Nunggu di mushola aja deh.. Takut, di parkiran sendirian," katanya cengengesan.
Aku berdecak sambil geleng-geleng kepala. Sampai di mushola, aku langsung mengambil air wudhu bersama yg lain. Radit hanya mondar mandir di depan mushola.
Jamaah di sini cukup banyak juga. Walau letak mushola nya yg agak masuk ke dalam sekolah, tidak menyurutkan niat warga untuk salat berjamaah di sini.
Selepas salat, kami keluar dari mushola.
Dari kejauhan aku melihat Radit sedang ngobrol dengan seseorang yg sama seperti tadi yg kami lihat. Seorang pria bersorban putih yg terlihat bersinar terang.
Dari arah sampingku, Arkana lewat lalu berjalan terus ke depan menghampiri pria yg tengah bersama Radit di sana.
Lalu Arkana seperti menunduk seolah memberi hormat.
Memang nya siapa ya beliau.
Penampilan nya sangat tenang, berwibawa dan sangat berkharismatik.
"Dit! Gila ya? Senyum senyum gak jelas gitu!!" oceh Dedi.
Yg mereka lihat memang Radit sedang sendirian sambil senyum senyum gak jelas .
Namun aku melihatnya lain. kak Arden juga melirik padaku.
Aku hanya mengangkat bahuku ke atas.
"Yuk balik," pinta Radit, lalu dia malah berjalan duluan ke parkiran tanpa menanggapi ocehan Sedi.
"Eh... Kebelet... Temenin yuk,"rengek Kiki sambil menyilangkan kakinya menahan pipis.
"Aku juga nih, yuk ah. Bentar, temenin, gaes," pinta Ari malah ikutan.
"Eh, emang toilet di mana?" tanya Danu.
"Eum... sana tuh kayanya," tunjuk Doni.
"Serius? Tau dari mana? Salah awas ya, Don!" ancam Danu.
"Ih nggak percayaan banget sih. Pernah main ke sini kok aku."
"Ngapain, yang? Kapan sih? Kok aku gak tau?"tanya Kiki menyelidik.
"Mampus lu, Don," sindir Ari.
"Ya ampun, beb. Pas main basket waktu itu. Kan aku udah cerita, main di sekolah ini."
Kiki mengangguk percaya.
"Eh katanya ceweknya cakep cakep ya, Don?" tanya Sion.
"Wuih, mantep deh pokoknya..."
Buuugggg!!
Kiki menyikut perut Doni hingga Doni meringis kesakitan.
Kami tertawa melihatnya.
Radit terlihat lain, dia lebih pendiam dari biasanya. Aku jadi penasaran, apa yg dia bicarakan dengan orang tadi? Eh sosok tadi.
Dan Arkana???
Aku tengak tengok mencari dia, tapi tidak ku temukan di mana pun juga.
"Eh... Siapa tuh??" tunjuk Dedi.
Terlihat ada seseorang yg masih memakai seragam sekolah berlari ke arah kanan kami dan naik ke tangga.
"Ngapain tuh anak? Malem malem gini?"
"Eh, orang bukan sih?"celetuk Ari.
"Tha ? Den?? Eh Arden mana?"tanya Dedi sambil celingukan ke sana ke mari.
"Kak Arden lagi nerima telepon dari mba Alya tuh di depan. Di sini gak ada signal," kataku.
"Ya ampun.. Mau ngapain tuh!!!" pekik Danu.
Kami mendongak ke atas, ke arah yg ditunjuk Danu.
Dan siswi tadi tengah berdiri di pinggir tembok lantai 3 sambil merentangkan tangan nya ke samping.
"Nggak beres!! Bantuin ,ayok!!"ajak Dion, dan kami langsung berlari ke lantai 3 itu.
Suasana sekolah nampak sepi.
Kami buru buru naik ke lantai paling atas untuk mencegah siswi itu lompat
Karena sangat terlihat sekali dia ingin lompat ke bawah, alias bunuh diri.
Namun sampai dilantai 3, Radit menarik tanganku dan menghentikan ku untuk lari seperti yg lain.
"Kenapa?"
Radit hanya menunjuk ke arah lapangan basket di bawah dengan dagunya.
Saat aku menoleh, di sana ada siswi tadi sedang berdiri di bawah ring basket.
Dia terus diam mematung.
Lah terus yg lari tadi siapa dong.
Aku dan Radit saling tatap. Radit menggeleng pelan padaku.
"Gaes... Mendingan kita balik deh.." teriak ku ke mereka yg sedang mencari keberadaan siswi tadi.
"Kenapa, Tha? Ni anak belom ketemu lho," ucap Kiki.
"Udah, nggak usah dicari."
"Kenapa?"
"Yuk, balik aja.." kutarik tangan Kiki.
"Woiii... balik yuk!!" ajak Radit ke yg lain.
Mereka lalu mendekat bersama kami.
"Gila hilang ke mana tuh anak?"
"Iya, cepet banget. Ngumpet kali ya."
Karena memang siswi yg berseragam sekolah tadi benar benar tidak terlihat batang hidungnya. Padahal kami sudah mencarinya di segala penjuru ruangan di lantai ini.
"Udah yuk. Balik aja. Kak Arden udah nunggu di parkiran nih," ucapku sambil melihat ponselku.
Aku menggandeng Kiki, yg lain mengikuti kami dari belakang.
Saat kami akan turun tangga, siswi tadi sedang berdiri di sana sambil menunduk.
Aku menghentikan langkahku dan terus menatapnya bingung.
"Ya ampun, Aretha.. Pakai berhenti sih?" gerutu Ari yg berjalan di belakangku persis.
"Tha... Itu...." rengek Kiki sambil terus memegangi ujung bajuku.
"Sstt'' kuisyaratkan agar dia berhenti merengek, karena aku tidak bisa berfikir dengan keadaan seperti ini.
"setan pasti nih," gumam Dion.
"Eh... diem deh!!!" ucap Ari ketus.
"Gimana dong..." Kiki makin panik.
Duh, aku pusing.
Entah kenapa aku selalu grogi duluan kalau ketemu yg beginian.
Kadang kaya gak bisa mikir dengan kepala dingin.
Radit langsung memegang tangan ku, aku menoleh padanya.
Dia mengangguk yakin, lalu menarikku berjalan ke tangga, dan melenggang melewati sosok itu begitu saja.
Teman teman yg lain akhirnya ikut melakukan hal yg seperti kami lakukan.
Walau dengan sedikit rasa ketakutan, kami berhasil juga mencapai lantai bawah.
Buuuuugghhg!!!!
Terdengar suara berdebam di tanah, saat kami menoleh ternyata siswi tadi lompat dari atas dan sekarang tergeletak begitu saja di tanah. Darah mengalir membasahi tanah di sekitarnya.
"Gawaaat!" pekik Ari yg sudah mulai ketakutan.
"Toilett!!! Udah di ujung!" rengek Kiki.
"Ya udah, buruan. Tuh toilet," tunjuk Doni.
Kami sedikit tergesa gesa ke toilet dulu. Sementara Kiki di toilet kami tengak tengok melihat situasi di sekitar kami. Takutnya sosok tadi mendekat.
Setelah semua sudah menyelesaikan urusan di toilet, kami segera menuju lapangan depan tempat mobil terparkir.
Namun, saat kami melewati ruang kelas tak jauh dari toilet, kami mendengar aktifitas di dalam.
Sebuah kelas penuh diisi oleh murid dan guru yg sedang mengajar.
Namun, penampilan mereka aneh. Pakaian nya jadul sekali. Mereka diam tanpa ekspresi. wajah mereka pucat dan terdapat darah di kepala dan tubuhnya.
"Shiiit!!!" pekik Doni.
Mereka yg ada di dalam kelas langsung menoleh kepada kami.
Kami langsung teriak dan lari secepat nya ke parkiran mobil.
Sampai di dekat mobil kami ngos ngosan.
"Haduhh gila... Spot jantung banget deh!!" runtuk Kiki sambil bersandar di samping mobil.
"Elu sih, Don!!" cibir Ari.
"Lah kok gue???"
"Pakai acara bunyi... Ketahuan kan kita!!" gerutu Dion.
"Eh eh eh... pada dari mana sih?dicariin juga!!" kak Arden menatap kami heran.
"Udah yuk balik," ajak Radit sambil melihat ke lantai 3 yg tadi kami naiki.
Di sana sosok itu sedang melambai lambaikan tangan nya kepada kami.
Haduh... Serem banget ni sekolah.
Kami lalu pulang ke rumah dengan jantung yg masih belum beraturan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Paginya..
Setelah aku salat subuh, kudengar suara ramai di luar. Karena penasaran aku keluar kamar.
Saat ku buka pintu, ada Radit di sana bersama orang tua nya.
Entah kenapa jantungku berdegup kencang, karena ini hal yg sangat aneh, jika Radit ke sini bersama orang tuanya juga.
Berasa kaya mau dilamar.
*eh ngarep.
Aku mendekat ke mereka, ada ayah, bunda, kak Arden, Radit dan kedua orang tua Radit.
Saat aku dekat ke mereka, Radit menatapku lalu melemparkan senyum padaku.
Radit terlihat lebih tenang, tidak keliatan tengil nya.
Mungkin karena ada orang tuanya. Tapi-- sepertinya sejak semalam dia agak menjadi pendiam.
Mereka terlibat obrolan yg serius.
"Tunggu sebentar ya..'' kata bunda, lalu bunda mengambil ponselnya dan seperti menghubungi seseorang.
Aku menarik tangan kak Arden yg duduk di sampingku," ada apaan sih ,kak?" tanyaku sambil berbisik.
Kak Arden tersenyum,"nanti juga kamu tau ,dek."
Radit yg duduk di kursi yg bersebrangan denganku, hanya tersenyum terus padaku.
Ini ada apa sih?
Hingga tak lama ada suara mobil di luar, tidak hanya 1 tapi ada beberapa kupikir. Karena sangat ramai sekali orang di luar.
Masuklah pakde Yusuf ke dalam bersama bude Rahma dan kak Aisyah juga, lalu di belakang mereka ada pak de Adam beserta keluarga. Ada beberapa orang lain juga yg memakai baju gamis, seperti yg biasa dipakai pakde yusuf. Sepertinya mereka ini dari pesantren yg sama seperti pakDe Yusuf.
Kok ramai sekali.
Seluruh sofa di ruang tamu di keluarkan dan di ganti dengan karpet.
Aku makin bingung.
"Bun.. Ada apa sih?" tanyaku maksa.
Bunda tersenyum ,"Radit ..."
"Kenapa??"
"Radit mau masuk islam, Tha"
Sontak jantungku seakan berhenti berdetak.
Bahkan sampai kutekan dadaku menahan rasa yg entah apa dan bagaimana aku menjelaskannya.
"Hah? Radit? Kok bisa?"tanyaku heran.
"Ya bisa lah.. Namanya juga dapet hidayah." sela pakde Yusuf yg berdiri di belakangku menimpalinya.
Kami semua duduk di sana dan menyaksikan Radit membaca dua kalimat syahadat dengan lantang dan yakin.
Aku merinding dan hampir semua yg ada di sini meneteskan air matanya.
Suasana menjadi haru.
Radit memeluk islam karena kejadian saat koma kemarin, dia bilang, dia seperti tersesat entah di mana, dia sendirian dan dia sering mendengar lantunan ayat suci alquran. Dan ternyata yg dia dengar adalah aku, karena selama dia koma, aku selalu membacakan alquran untuknya.
Terlebih setelah pulang dari rumah sakit, dia bertemu sosok yg kami temui di SMU kemarin.
Radit merasa dia ingin masuk islam dan mempelajari semua tentang islam.
Aku pun menangis haru menyaksikan hal ini di hadapanku.
Selamat Radit, semoga menjadi awal yg baik untuk kehidupan kamu nantinya.
Dan-- untuk hubungan kita juga.
*eh lho...
Flashback
\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku sedang menunggu Aretha salat ashar di sebuah mushola.
Kami habis menonton acara pensi di universitas negri di kota kami.
Seperti biasa aku hanya duduk di luar mushola jika dia sedang menjalankan ibadahnya, kadang juga aku turut menjaga tas ataupun bawaan nya.
Dan ini bukan pertama kalinya aku melakukan hal ini.
Kami sudah berkali kali ada dalam kondisi seperti ini.
Aretha juga terkadang ikut menemaniku jika ada acara yg diadakan di gereja.
Sejak pertama kali aku bertemu Aretha, entah kenapa aku tidak bisa berpaling dari nya.
Dia berbeda dari perempuan yg kutemui selama ini.
Dia unik.
Dan aku nyaman bersama dia.
Selebihnya, aku tidak tau apa alasanku menyukai nya. Yang aku tau, saat bersama dia, aku selalu bisa tersenyum. aku selalu bisa menjadi diriku sendiri, tanpa harus menjadi apa yg dia inginkan.
Aku juga selalu menceritakan keluh kesahku kepadanya. Dia selalu setia mendengarkan semua ceritaku.
Dan satu yg pasti, dia selalu sabar menghadapi ku dengan segala sifat dan sikapku yg terkadang masih childish.
Tapi kadang dia juga selalu bersikap manja juga sih.
Jadi intinya, dia selalu bisa menempatkan dirinya di berbagai situasi dan kondisi.
Bicara soal perbedaan agama kami, ini bukan hal baru untukku.
Karena sebenarnya mamahku dulu adalah seorang muslim.
Namun mamah berpindah agama karena menikah dengan papah. Jadi di dalam keluarga besar mamah, semua adalah muslim.
Karena bosan, aku memainkan game saja di hapeku.
Lalu ada seorang bapak bapak paruh baya berpenampilan layaknya ustadz lewat di depanku.
Baunya harum semerbak wangi kasturi. Beliau menoleh padaku.
"Kok nggak salat ,mas?"
Aku yg kaget buru buru menyimpan ponselku disaku,"enggak pak. Saya lagi nunggu temen. Saya non muslim."
Beliau tersenyum lalu duduk di sampingku.
Kami malah ngobrol cukup lama, dan aku merasa nyaman ngobrol dengan beliau.
"Yg di dalam, pacarnya ya?" tanya beliau tiba tiba.
Aku gelagapan ditanya seperti itu,"eh -- eum.. Bukan sih pak. Tapi-- ya gitu deh." sambil ku garuk garuk kepala bingung bagaimana harus menjawabnya.
Beliau tersenyum padaku," Tidak ada agama apa pun yang mengajarkan keburukan pada pemeluknya. Setiap agama menyebarkan kebaikan. Dan jodoh itu sudah ditentukan oleh sang pencipta. "
"Apa saya bisa berjodoh sama dia pak?" tanyaku sambil menatap aretha yg masih ada di dalam mushola.
"Insha Allah.. Untuk sekarang, tidak usah terlalu menggebu mengejar cinta manusia. Cintailah penciptanya lebih dulu, maka DIA akan mengirimkan orang yg mencintaimu karena NYA."
Aku terdiam mencerna setiap kalimat dari beliau.
Kata katanya memang benar.
"Saya ada buku untuk kamu. Mungkin berguna." lalu beliau memberikan sebuah buku yg agak tebal.
Aku pandangi cover nya, dan kuraba tiap inci buku ini.
"Saya pamit dulu ya."
Beliau pergi masuk ke mushola itu.
"Diitt..." Aretha datang, lalu ku masukan buku itu ke jaket.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku terbangun di tempat yg sangat asing. sendirian. Gelap.
Rasanya aku ada di sebuah hutan.
aku terus berjalan mencari jalan keluar.
Namun aku selalu merasa aku diintai dan diikuti oleh seseorang. Berkali kali aku menoleh ke belakang, namun tidak kutemukan siapa pun di sana.
Aku di mana ini?
Aku merasa belum pernah ada di hutan seperti ini. Ada sekelebat bayangan hitam yg mengintip di balik pohon di sampingku.
Di pohon juga ada sesosok wanita yg duduk di atas dahan sambil mengoyang goyangkan kakinya.
Dia juga terlihat membopong bayi di dekapannya. Pakaian nya putih kusam. Wajahnya putih pucat dengan lingkar mata hitam.
Dia hanya diam sambil menatapku tajam. Namun aku terus berjalan menjauhinya.
Hihihihihihihi
Dia tertawa keras sekali, hingga ku tutup telingaku. Karena suaranya sungguh memekakkan telinga.
Sound sytem aja kalah.
Aku sampai bergidik ngeri lalu sedikit berlari menjauh. Saat aku menoleh, terdapat lubang besar di punggungnya. Mungkin itu yg namanya sundel bolong.
Aku makin mempercepat langkahku. Berharap dia tidak mengejar ku.
Tak lama ada suara anak kecil berlarian di sekitarku.
Ada beberapa anak kecil tanpa memakai baju, hanya mengenakan popok saja. Mereka ketawa ketawa layaknya anak anak biasa. Namun tetap saja aku merasa mereka aneh.
Sepertinya, semua yg kutemui di sini adalah makhluk halus.
Aku terus berjalan mencari jalan keluar. Beberapa kali aku bersandar di pohon besar yg kutemui. Untuk sekedar melepas lelah. Aku merasa sudah berjalan jauh dan lama skali, tapi tidak juga ku temui jalan keluar dari hutan ini.
Malam tidak juga berganti pagi. Padahal aku yakin, aku sudah lama sekali berjalan.
Makhluk astral juga beberapa kali selalu menampakan diri.
Takut? Pasti lah.
Untung aku sudah terbiasa bersama Aretha, jadi bertemu dengan 'mereka' tidak lah menjadi hal baru untukku.
Seenggaknya masih bisa jaim lah dikit kalau ketemu mereka, nggak bakal seheboh Ari deh intinya.
Nafasku sudah pendek-pendek karena rasa lelah yg sudah tidak tertahan kan lagi.
Tenagaku sudah terkuras habis.
Aku sudah tidak mempunyai harapan lagi. Mungkin aku akan ada di sini selamanya.
Hingga samar samar aku mendengar suara seseorang.
Yah-- benar. Itu suara seseorang.
Dia seperti sedang bersenandung.
Eh-- bukan!!
Itu bukan bersenandung. Itu suara orang mengaji.
Membaca alquran.
Tapi di mana ya?
Berarti masih ada manusia selain aku di sini.
Aku melanjutkan kembali berjalan, kini aku menemukan tujuanku.
Aku harus menemukan sumber suara itu.
Semakin aku berjalan,semakin aku dekat dengan sumber suara itu.
Hingga aku melihat sebuah pintu yg bersinar.
Suara orang itu makin jelas saja.
Dan saat kubuka pintu, sinar nya sangat terang dan membuat mataku silau.
Dan tak lama, aku terbangun di rumah sakit.
Sudah ada Aretha di sampingku dan agak panik bahkan sampai menangis.
Sebelum aku sadar, aku seperti mendengar dia memanggilku "ay".
Wah pasti aku memang bermimpi.
Baru aku tau kalau selama seminggu ini aku koma karena kecelakaan kemarin.
Dan Aretha selalu ada di sini menemaniku.
Dia juga sering membacakan alquran untukku.
Mungkinkah suaranya yg kudengar selama ini?
\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini aku sudah boleh pulang. Kangen juga sama rumah.
Semua datang untuk menjemput ku.
Anehnya, aku makin intens melihat makhluk astral di sekitarku.
Biasanya aku hanya melihat sekelebat bayangan saja, tapi sekarang aku benar benar jelas melihat 'mereka'.
Di mana pun 'mereka' berada, aku selalu melihatnya.
Semua terbukti dan jelas adanya saat kami ada di sebuah SMU saat Aretha dan yg lainnya salat maghrib di sana.
Tidak hanya makhluk astral yg buruk rupa, beberapa sosok yg kulihat baik juga kulihat jelas.
Dan aku juga mengobrol dengan seseorang yg bernama eyang Hardjo. Katanya beliau kakak dari eyang Prabumulih. Mungkin aku akan menanyakan pada Aretha besok.
Tapi, bagaimana bisa seperti ini?
Sampai di rumah, aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang.
Aku teringat ustadz Faizal yg waktu itu.
Ah-- bukunya!!
Aku mencari buku yg beliau berikan untukku.
Aku tidak tau, apa alasan beliau memberikan buku itu.
Tapi aku suka membacanya.
Buku itu menjelaskan tentang islam. Tapi sangat mudah untuk ku pahami. Dari segi penafsiran dan juga penjelasan nya itu terlihat menarik dan membuatku tidak bosan bosan untuk membacanya.
Bahkan aku membacanya semalaman.
Dan juga ada beberapa kisah teladan dari para nabi.
Terutama nabi muhhammad SAW.
Benar benar menjadi idola baru untukku.
Ditambah lagi karena aku sering menemani Aretha ke mushola. Terkadang aku menyibukan diri dengan membaca buku yg ada di sana sembari menunggunya selesai salat.
\=\=\=\=\=
Pukul 03.00
Kututup buku itu, mataku berkaca kaca entah kenapa.
Rasanya ada kesedihan dan kerinduan yg mendalam yg kurasakan sekarang.
Dan satu yg pasti, aku makin mencintai islam.
Ku raih ponsel ku dan kukirimkan pesan ke pakde Yusuf.
[Maaf pakde, Radit mengganggu pagi buta seperti ini]
[Ada apa, Dit?]
[Radit... Pengen masuk islam]
Kriiiing
Pakde meneleponku saat itu juga.
"Ya pakde..."
"Kamu bilang apa tadi???"
"Radit pengen masuk islam."
"Serius? Eum.. Kalau boleh tau apa alasannya? Bukan karena Aretha kan?"
"Bukan kok, Pakde.. Mungkin aretha salah 1 alasan nya, tapi bukan itu yg utama."
"Jadi?"
Kuceritakan semua yg terjadi padaku selama ini ke pakde Yusuf.
"Subhanallah... Pakde bantu ya, Dit.."
"Iya, pakde.. Tolong ya."
"Tapi orang tua kamu gimana? apa mereka setuju?"
"Setuju atau enggak. Keputusan Radit sudah bulat. Radit sudah besar dan bebas memilih yg menurut Radit paling baik kan, pakde?"
"Hmmm. Iya..itu betul.. Ya udah kalau gitu. Pagi pagi nanti, kamu ke rumah Aeetha aja ya. Kita lakukan di sana aja. Rumah pakde sedang direnovasi. Berantakan."
"Iya ,pakde.. Makasih banyak ya.."
"Iya , Radit."
Setelah telephone dimatikan, aku langsung keluar kamar menuju ke kamar Mamah& Papah.
Tok tok
"Paaaah... maaaaahh"
Ku buka pintu kamar mereka, dan kulihat papah dan mamah masih terlelap tidur.
Ingin aku kembali lagi ke kamarku, tapi aku harus memberitahu papah dan mamah tentang keputusanku.
Aku duduk ditepi ranjang samping mamah.
Air mataku tumpah saat itu juga.
Tak lama mamah terbangun dan kaget melihatku menangis.
"Lho... kamu kenapa, Dit? Ada yg sakit?"tanya mamah cemas.
"Enggak kok ,mah," suaraku parau.
"Paaaah... Papaaaaah.. Bangun.. Ini Radit kenapa???"
Mamah menggoyang goyangkan tubuh papah, dan papah pun terbangun juga.
Papa mengucek mata dan melihatku dengan keheranan.
"Kenapa sih? Mewek gitu?kayak anak kecil aja," gumam papah bermaksud meledekku.
Papahku ini sama sepertiku, sukanya becanda.
"Maah, paaaah.. Radit mau ijin.."
"Ijin? Gak masuk sekolah.. Iya gak papa.." samber papah.
Plaaaakkk!
"Papah ih.. Iseng banget.. Radit kan belum selesai ngomong.."kata mamah kesal ," gimana, Dit. Terusin."
"Radit... Pengen masuk islam," kataku dengan memelankan suaraku dengan wajah tertunduk.
Papah dan mamah nampak diam sejenak.
Papah menggenggam bahuku kuat,"terserah kamu , Dit. Itu hak kamu untuk memilih agama apa yg kamu anut. Papah yakin, kamu punya alasan kuat untuk itu. Papah gak akan larang.. Apa pun yg menurut kamu terbaik untuk diri kamu sendiri, teruskan." nasehat papah.
Aku mendongakan wajahku menatap papah, kemudian langsung kupeluk papah.
Mamah pun memeluk ku juga.
"Tunggu..."papah melepaskan pelukannya dan terlihat sambil berfikir," ini karena anak cewek itu ya?"
"Ih.. Papah.. Bukan lah.. Masa gara gara Aretha..dia mah alasan ke sekian.."
"Terus?"tanya papah menyelidik.
"Radit nyaman dengan pilihan Radit sekarang pah, dan Radit juga yakin, ini yg terbaik."
Papah tersenyum," bagus kalau gitu.. Papah akan selalu mendukung kamu..!!"
\=\=\=\=\=\=\=
Paginya kami ke rumah Aretha, karena sudah janjian dengan pakde Yusuf.
Aku sengaja tidak menghubungi Aretha.biar aja lah.
Biar dia penasaran, dia kan anaknya kepo banget. Tapi jaim banget.hehehe.
Hatiku berdebar kencang, suasana terasa khidmat sekali, banyak yg datang k esini. Aku tidak menyangka akan seperti ini. Katanya momen saat seseorang masuk islam, akan menjadi momen sakral dan diberkahi oleh Allah, untuk nya, dan untuk yg menyaksikannya.
Pakde menuntunku mengucapkan syahadat.
'Asyhadu an laa ilaaha illallāh wa asyhadu anna Muhammad Rasuulullāh.'
Artinya: 'Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.'
Kini aku menjadi seorang muslim.
Aku merasa bagai lahir kembali.
Semoga aku tetap istiqomah dan terus menjadi lebih baik lagi ke depan nya.
Amiin.
\=\=\=\=