
Atas rekomendasi dan campur tangan mamah Indra, aku sudah mulai bisa bekerja hari ini. Ini hari pertamaku bekerja. Langkahku pelan berjalan masuk ke dalam gedung besar dengan 20 lantai tersebut. Suatu tindakan nepotisme kecil memang. Tapi, aku akan berusaha bekerja keras dan tidak mempermalukan Mamah karena telah membantuku.
Suasana kantornya cukup ramai. Beberapa karyawan dan karyawati sibuk mondar mandir. Sesuai instruksi, aku segera mencari ruangan HRD. Tidak butuh proses yang pelik, karena aku memang sudah diterima di kantor ini. Bagian HRD hanya memberitahu tentang semua sistem kerja yang harus kulakukan selama bekerja. Di bagian mana aku ditempatkan, dan apa saja yang harus kulakukan. Pak Bimo adalah orang yang ramah dan baik, sebagai pimpinan HRD.
Beliau sendiri yang mengantarku ke ruanganku. Dan memperkenalkan ku pada semua orang di sini. Ada sekitar 5 orang yang bekerja dalam 1 ruangan. Setiap meja diberi pembatas separuh badan saja. Dengan kedatanganku menambah anggota menjadi 6 orang. 3 orang laki laki yang bernama Anjar, Dimas dan Fitra.
3 wanita nya Mia, Yuli dan Aku.
Mereka orang orang yang menyenangkan, tidak seperti senior yang sok berkuasa ke juniornya. Karena baru satu hari aku bekerja di sini, mereka terlihat antusias dan menyenangkan.
"Welcome, Nisa ... semoga betah, ya." itu kata pertama yang kudengar dari Mia.
Semua menjabat tanganku dan kami terlibat beberapa obrolan ringan sebelum memulai bekerja. Aku pun tidak sungkan bertanya pada mereka jika ada hal yang tidak ku mengerti.
Dalam keheningan dengan pekerjaan masing masing, pintu ruangan kami diketuk dan otomatis membuat kami melihat ke arah pintu. Kebetulan semuanya terbuat dari kaca. Ini agak aneh, karena mereka bilang jika ada yang ingin masuk ke dalam, pasti langsung membuka pintu. Karena divisi kami memiliki banyak anggota, dan kami bukan salah satu bagian pemimpin perusahaan yang mengharuskan tata Krama untuk setiap tamu yang masuk.
"Mulai deh," kata Yuli, berbisik.
"Nisa ... kamu siap siap aja, ya. Di sini angker," jelas Fitra yang duduknya paling dekat denganku.
"Masa sih, Fit?"
Fitra mengangguk yakin, sambil menatap ngeri ke arah pintu.
Tapi kenapa aku tidak melihat apa pun, ya? Siapa tadi yang mengetuk. Apa karena aku tidak fokus? Karena penasaran, aku mencoba berkonsentrasi kembali, menatap ke pintu. Kini bayangan itu perlahan terlihat. Awalnya samar, namun makin lama jelas. Ada sesosok pria yang sedang berjalan mondar mandir di depan lorong divisi kami.
Kepalanya berdarah, matanya hampir keluar, badannya seperti remuk akibat tergilas sesuatu.
Aku pura pura kembali bekerja. Aku tidak mau berurusan dengan dia. Cukup tahu, dan melihat saja rasanya sudah cukup. Karena rasa penasaran yang ditahan itu tidak enak. Tapi setelah tau, malah makin tidak nyaman.
"Toilet ah," kata yuli lalu berjalan keluar ruangan. Aku terus memperhatikan Yuli, karena sosok tersebut masih ada di depan lorong. Anehnya, Yuli diikuti olehnya. Ah, semoga dia baik baik saja.
"Emangnya angker gimana sih, Fit?" tanyaku mulai penasaran.
"Kabarnya dulu ada karyawan yang bunuh diri. Loncat dari basemen atas. Arwahnya gentayangan." Fitra berbisik ke arahku.
"Suka nongol gitu?" tanyaku lagi.
"Iya, kadang gitu. Kadang cuma suara, kayak tadi. Atau bau aneh."
"Dia dari divisi kita, ya?"
Mendengar pertanyaan ku, mereka menatapku bersamaan.
"Kok kamu tau, Nis?" tanya Anjar lalu mendekati ku.
"Eum... iya, tadi dia mondar mandir di depan," kataku ragu.
"Hah? Serius? Kamu bisa liat, Nis?" Dimas ikut heboh.
"Emang dia bunuh diri kenapa, ya?" tanyaku penasaran.
"Kabarnya stres akibat tekanan hidup." Anjar yang menjelaskan.
Yuli kembali dari toilet, dan makhluk itu masih saja mengikutinya.
Kebetulan Yuli duduk di depanku. Hingga aku mampu melihat dengan jelas.
Bau anyir dari sosok itu membuatku mual. Aku menutup hidungku. Fitra yang melihatku malah bingung. Karena aku yakin dia juga pasti mencium baunya.
"Eh, bau apa ya ini?" tanyanya sambil menutup hidungnya sama sepertiku.
Aku melirik tajam ke Fitra dan memberikan isyarat agar dia diam. Dia yang paham, langsung menutup rapat mulutnya. Wajahnya pucat dan ia kembali meneruskan pekerjaannya. Padahal aku tau kalau sebenarnya Fitra tidak fokus. Hanya agar terlihat sibuk saja.
Yuli memijat bahunya. Terlihat terganggu atas sesuatu yang tidak dia lihat. Tapi aku melihatnya.
"Kenapa, Yul?" tanyaku dingin sambil menatap makhluk itu.
"Bahuku sakit deh. Salah urat kali, ya," katanya berasumsi sendiri.
Aku menggumamkan doa dalam hati agar makhluk itu pergi. Semakin lama dia di sini maka aku juga tidak tahan. Sosok itu melirik tajam ke arahku. Merasa terusik dan pasti dia menyadari kalau aku bisa melihatnya. Ia mendekat ke mejaku.
Aku diam tanpa reaksi heboh seperti biasanya, mencoba lebih berani menghadapinya.
Teringat ucapan Indra," lawan rasa takutmu, Nis." Setidaknya aku harus mencobanya sekarang.
Sosok itu terus menatapku dingin. Badanku sudah gemetaran. Kakiku lemas, bahkan aku merasa tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhku.
"Astagfirullohaladzim." Sebuah suara pria setengah baya membuatku mulai bisa menggerakan tubuh. Beliau merapalkan doa doa untukku.
"Alhamdulillah. Makasih, Pak Dikin," kata Mia pada pria tersebut. Aku menoleh ke arahnya, penasaran siapa yang sudah menolongku kali ini. Dari pakaiannya dia pasti OB di kantor ini.
Pak Dikin juga memberiku minum yang sudah dibacakan doa.
"Minum dulu, Mba. Oalah.. Hari pertama kerja udah dapet sambutan ya, mba," ujarnya. Aku tidak menyahut hanya menerima gelas itu lalu meneguknya.
"Kamu nggak apa apa, Nis?" tanya Anjar, terlihat cemas. Aku hanya menggeleng menanggapi.
Sepertinya Pak Dikin bisa peka terhadap makhluk halus juga. Wah, ini bagus kalau begitu. Aku bisa sharing seputar penghuni kantor ini dengan beliau. Sesuatu yang jarang terjadi selama ini. Setelah aku sudah tenang Pak Dikin pergi kembali bekerja.
"Nis, tadi kenapa sih?" tanya Fitra yang sangat penasaran. Aku menarik nafas panjang lalu menatap mereka satu persatu. Mereka semua mengerubungi ku karena mencemaskan keadaanku.
"Jadi bau yang anyir tadi dari setan itu ya, Nis?" tanya Fitra lagi. Aku hanya diam menatapnya datar dengan memegang gelas yang berisi air mineral tadi.
"Nis, jawab dong!"
Aku yang memang belum fokus karena masih teringat hal tadi, akhirnya terlihat seperti orang linglung.
"Nis, jangan nakutin dong.. Pak Dikin udah balik tuh.. kamu nggak kerasukan lagi, kan?" tanya Mia.
"Iya, aku nggak apa apa. Masih lemes aja. Apa salahku sih, baru aja hari pertama kerja," Gumamku sambil menekan kepala.
"Dia kan dulu duduknya di situ, Nis. Di meja yang kamu tempati," bisik Fitra, menatap kursi yang kutempati dengan tatapan ngeri.
"Apa?!"
Jadi tempat kerjanya dulu itu di meja yang sekarang aku gunakan? Ah sial. bener benar sial.
"Orang sebelum aku yang kerja di meja ini gimana?" tanyaku ke mereka.
"Nggak ada yang betah, Nis. Semua pasti langsung resign setelah 1 minggu. Ada yang kesurupan, diikutin sampai rumah, sering digangguin saat kerja, " terang Mia.
" Ya Allah." aku langsung menyembunyikan wajahku di meja kerja sambil menutupinya dengan tangan. Rasanya aku frustrasi sekali sekarang.
Tunggu! tapi kenapa dia tadi juga ngikutin Yuli, ya. Dan diam cukup lama juga di meja Yuli.
"Ngomong ngomong, Eh Yuli, kamu udah berapa lama kerja di sini?" tanyaku.
"Aku? Baru dua bulan ini," sahutnya yang kini duduk menghadap padaku dengan memutar kursinya ke belakang
Aku pusing jadinya. Masalah ini masih menjadi teka teki yang belum bisa kupecahkan dengan cepat. Aku putuskan ke Pantry membuat kopi. Sekalian jalan jalan menghirup udara segar. Semoga bisa membantu.
Letak pantry yang memang ada di lantai ini memudahkan ku menemukannya. Apalagi sudah ada papan petunjuk di atasnya. Saat aku membuka pintu, ada Pak Dikin sedang duduk di salah satu kursi. Menatapku dengan wajah datar. Sepertinya ia sedang kelelahan karena bekerja seharian. Apalagi di umur nya yang sudah tidak lagi muda.
"Gimana, Mba? Ada yang bisa saya bantu?"
"Mau bikin kopi, Pak."
"Tadi pesan aja lewat telepon, Mba. Kan nanti saya antar ke ruangan."
"Nggak usah, pak. Pengen jalan jalan sekalian. Bapak udah selesai kerjaannya?" tanyaku basa basi. Aku memang sengaja ingin menemui pak Dikin, menanyakan masalah tadi.
"Udah ini mba, lanjutin nanti lagi. Istirahat dulu. capek," katanya sambil mengibas ngibaskan topinya ke wajah. Aku lantas tersenyum dengan tetap menatapnya. "Mba Nisa mau nanya apa ke bapak?" tanyanya seolah tau apa yang kupikirkan.
"Bapak kayak dukun aja deh. Hehe.."
"Dukun pijet mba.. hehe."
"Itu loh pak, tadi tuh beneran arwah penasaran salah satu karyawan sini?"
"Ya bisa jadi mba. Dia memang pernah kerja di sini, udah lama banget. Pas saya baru di sini. Dia bunuh diri, mungkin karena tekanan hidup," jelas pak Dikin berbisik.
"Jadi bener, kalau dia dulu yang duduk di meja saya ya, pak?"
"Iya mba.. udah berkali kali yang nempatin meja nya mba ndak betah. Paling lama 1 bulan. semoga mba Nisa bisa lama ya kerja di sini."
"Amiin.. Trus meja depan saya, gimana pak?"
"Menurut rumor sih, Yang bunuh diri namanya mas Eka. dia ada masalah sama temen 1 divisi, ya itu yang mejanya di depan mba Nisa.. nggak lama setelah mas Eka meninggal, mas Galih gila.. Sekarang di RSJ mba," jelas pak Dikin dengan antusias.
"Masya Allah.. Ada masalah apa ya, pak? sampai mas Galih nya kayak gitu dan mas Eka bunuh diri."
"Nggak tau."
Kopi selesai ku buat. Aku pamit ke pak Dikin hendak kembali ke ruanganku. Jarak pantry ke ruanganku tidak begitu jauh sebenarnya. Hanya melewati gudang dan toilet.
Aku melihat ada OB yang sedang mengepel lantai.
Kaki ku kembali lemas, seakan tidak percaya, yang di depanku adalah pak Dikin.
"Mba Nisa kenapa? sakit? kok wajahnya pucat?"
Aku amati lekat lekat...
Ini beneran pak Diikin bukan, ya? kok tiba tiba sudah ngepel di sini. Perasaan tadi ada di pantry.
"Pak Dikin kok di sini? bukannya tadi pak Dikin di.... " aku menunjuk pantry.
"Mba Nisa kenapa? saya dari tadi di sini kok.. habis ngepel depan."
"Tadi saya ketemu pak Dikin di pantry. sampai ngobrol lama juga kok. itu siapa berarti ..." kataku lemas
"Ya Allah.. Memang sering kejadian kayak gini mba.. ayok bapak antar ke ruangan mba Nisa. Bapak bawakan kopinya, ya."
Aku berjalan ke ruangan ku dengan langkah yang ringan sekali. Pandanganku buram.
"Lho mba Nisa.. mba... mba... tolong.. tolong.."
Aku masih mendengar suara pak Dikin. Lalu sunyi.
***
Bau minyak kayu putih ada di ujung hidungku. Perlahan aku membuka mata.
Sudah ada Mia, Yuli, Anjar dan beberapa karyawan OB.
"Alhamdulillah udah sadar."
"Minum dulu, mba Nisa."
"Kenapa sih, Nis.. kok bisa pingsan gini?" tanya Yuli.
"Eh jangan ditanyain dulu kasian, Nisa," cetus Mia.
"Nis, aku anterin pulang ya. Tadi aku udah ijin sama bos. Biar kamu istirahat aja di rumah. Yuk," kata Anjar. Aku mengikuti saja ajakan Anjar dan pulang diantar olehnya .
Sampai di rumah, aku mengajak Anjar mampir. Tapi dia menolak karena masih harus kerja lagi. Baguslah, karena aku memang ingin istirahat saja sekarang. Tubuhku lemas.
Aku masuk ke rumah, di dalam ada kak Shinta bersama Aim.
"Lho kok udah pulang, Nis?"
"Huft... Baru hari pertama udah berat kak!" rengekku sambil merebahkan diri di sofa depan tv.
"Kerjaannya ngapain sih? berat banget emangnya?" tanya kak Shinta sambil memeluk Aim.
"Kerjaan nya sih enteng. Biasa aja.. Penghuninya yang luar biasa," kataku
"Hah... banyak, Nis?"
"Baru 1 yang nongol, kak. Tapi... ah gitulah.. Nisa pusing." Aku menutup kepalaku dengan bantal yang ada di sofa. Kak Shinta hanya berdecak dan menasehatiku dengan berbagai macam kalimat motivasi. Karena lelah akhirnya aku tertidur.
***
"Niss... mandi dulu sana.. udah sore.. tidur mulu deh." Suara kak Yusuf yamg samar membangunkanku.
"Hm...." Aku mengerjap lalu menggeliat sambil melihat jam dinding. Kuputuskan kembali ke kamar. Namun baru saja akan merebahkan tubuh lagi di kasur, ponselku berdering.
"Ya?"
"Assalamualaikum." Suara Indra lembut.
"Wa alaikum salam."
"Kamu kenapa, sayang? kok males banget angkat teleponnya?"'
"Hm ... aku ngantuk, Ndra. Maaf ya. kamu kapan pulang?"
"Kangen, ya."
"Iya lah."
"2 hari lagi, ya. Sabar."
"Hm. Lama." aku merajuk.
"Hehe. eh kata mamah kamu hari ini udah masuk kerja? gimana hari pertama kerja?"
"Huft ... lemes. makanya aku pulang cepet tadi."
"Lho kenapa? kok lemes gitu?"
"Banyak setan nya, Ndra," kataku merengek.
"Kalau kamu nggak mau nerusin, ya udah, resign aja, sayang. setelah kita nikah nanti, kamu nggak usah kerja juga nggak apa apa. Di rumah aja," pintanya.
"Tapi di rumah terus juga bosen, Ndra."
"Terus gimana?"
"Aku terusin dulu aja deh. gampang kalau besok aku nggak kuat aku resign aja."
"Ya udah terserah kamu aja Nis.. kamu lagi ngapain nih? udah mandi belom? sholat ashar dulu.."
"Lagi tidur tadi.. "
"Ya udah, sekarang mandi.. sholat dulu. Nanti kita telfonan lagi."
Aku pun mengakhiri telfonku dengan Indra.
Aku bergegas mandi kemudian sholat.
Lalu aku ke kamar Aim. Bermain dengan Aim sebentar.
" Nis.. ada tamu tuh," kata kak a
Adam yang barusan pulang kerja.
"Siapa?"
"Kakak belum pernah liat. Cowok. hayoo ati ati... ntar ketauan Indra lho." ledeknya.
"Ih apaan sih kakak.."
Aku menuju ke teras. Karena penasaran dengan tamu yang Kak Adam curigai. Ternyata Anjar.
"Hai, Njar... Udah pulang kerja?" tanyaku basa basi.
"Baru aja, Nis.. mampir ke sini sekalian pulang. Kamu gimana?"
"Aku udah nggak apa apa kok. Istirahat bentar juga udah fresh lagi. Eh mau minum apa?"
"Apa aja deh, Nis.."
"Bentar yaa. Mboook," teriakku ke dalam rumah.
"Ya neng."
"Bikinin minum ya. kopi.."
"Siap, Neng."
Sambil menunggu kopi untuk Anjar, kami mengobrol ringan seputar pekerjaan hari ini dan setelah aku pulang tadi. Sedang asyik mengobrol, terdengar langkah kaki di dalam rumah, kak Adam.
"Niss... Indra balik kapan sih?" tanya kak Adam sambil berdiri di sebelahku. Sepertinya sengaja.
"2 hari lagi katanya, kak. Kenapa?"
"Ada perlu aja. Ini siapa,
Nis?" tanya kak Adam ke Anjar.
"Ini Anjar kak.. temen kerja Nisa."
Lalu Anjar menjabat tangan kak Adam saling memperkenalkan diri. Namun raut wajah Kak Adam terlihat tidak suka pada Anjar. Dan membuat Anjar salah tingkah.
"Ya udah, Nis..aku balik dulu ya."
"Ooh gitu.. iya, Njar.. makasih ya udah mampir."
Anjar pamit juga ke kak Adam.
"Hati hati, Nis.. dia playboy. Dia suka sama kamu. kakak nggak mau sampai hubunganmu sama Indra rusak gara gara dia," kata kak Adam begitu Anjar tidak lagi terlihat
"Iya kak. Nisa bakal jaga jarak.."