
Matahari sudah naik ke atas. Tapi tidak satupun dari mereka yang terbangun. Mereka semua masih terlelap di atas pembaringan masing-masing. Bahkan lampu petromak yang mereka pakai untuk menerangi ruangan masih menyala. Daniel menggeliat. Walaupun kelopak matanya terasa lengket dan sulit untuk dibuka Tetapi dia berusaha untuk membuka mata agar bisa melihat jam dinding yang berada di atas tembok.
"Astaghfirullahaladzim!" pekiknya lalu segera bangkit dari tidur. Dia lantas membangunkan yang lain. "Bangun, hei! Kita kesiangan! Ayo, bangun, teman teman!" kata Daniel sambil menepuk semua teman temannya.
Saat dia menatap sekitar, tiba tiba Daniel makin panik begitu dia tidak melihat keberadaan Fendi di antara teman temannya itu.
"Loh! Fen? Fendi!" Jeritnya yang akhirnya berhasil membuat teman temannya terbangun.
"Kenapa?" Tanya Sule sambil menguap.
Beberapa teman lainnya masih bermalas malasan di atas kasur.
"Fendi mana? Kok nggak ada?" Tanya Daniel sambil menunjuk ke tempat Fendi semalam terbaring.
Sontak semua orang langsung panik. Mereka beranjak dari tidur dan pergi ke sekitar rumah. Tapi berapa terkejutnya mereka saat melihat Fendi justru sedang duduk di teras rumah. Kali ini dia sedang memegang secangkir kopi yang tampak masih hangat.
Mereka tidak langsung berani mendekat, hanya bisa menatap Fendi dari kejauhan.
"Gimana nih?" Tanya Dolmen berbisik kepada teman temannya. Korden jendela sudah dibuka, dan tentu mereka dapat melihat kondisi di luar dengan mudah. Sekalipun demikian, mereka tidak dapat melihat bagaimana wajah Fendi karena dia menghadap ke jalan depan rumah, sama seperti saat dia kesurupan kemarin.
Daniel mengangguk pada Armand. Seolah olah mereka sudah berdiskusi lewat telepati. Armand mendekati Fendi. Sementara teman temannya hanya menunggu di dalam rumah, tepatnya di balik jendela.
"Fen? Lo baik baik aja?" Tanya Armand. Perlahan dia berusaha mendekat dan hendak duduk di samping Fendi.
"Badan gue lemes banget. Ngantuk juga, makanya gue bikin kopi tadi. Nanti kan kita mulai proker kelompok," kata Fendi tanpa menatap Armand yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Oh iya. Pemasangan listrik itu, ya? Tapi kan bukan kita yang pasang? Orang PLN, kan? Kalau lo masih lemes atau ngantuk, mendingan tidur lagi aja, Fen."
"Enggak, Man. Udah cukup tidurnya. Gue nggak mau tidur lagi."
"Loh kenapa? Katanya lo ngantuk?"
"Kalau tidur, dia pasti datangin gue. Gue takut."
Armand mengerutkan kening. Perkataan Fendi menjadikan tanda tanya besar baginya. Dia pun menoleh ke dalam rumah, di mana semua teman temannya juga sedang menyimak pembicaraan ini.
"Maksud lo dia siapa, Fen? Lo mimpi buruk?" Tanya Armand lagi yang makin penasaran dengan apa yang Fendi alami sehingga dia kini justru menahan kantuk dengan secangkir kopi, alih alih tidur kembali.
"Entahlah. Gue pikir awalnya juga begitu. Mimpi buruk, dan cukup dengan bangun dari tidur semua akan lenyap. Tapi... Lo lihat ini? Ini ada pas gue bangun tadi. Luka ini. Karena dia," jelas Fendi sambil menunjukkan lengan kanannya yang ternyata terluka. Bentuk lukanya berupa cakaran kuku tajam. Menusuk dalam, bahkan luka itu masih basah.
"Astaga! Kok bisa begini! Sakit?" Tanya Armand panik. "Kita obatin dulu aja deh. Ayo, ke dalam!" Ajaknya setengah memaksa.
Akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam rumah. Tanpa menceritakannya lagi, teman-teman yang lain pun sudah mengerti apa yang terjadi. Kini Khusnul mencari perlengkapan obat obatan. Untungnya mereka sudah mempersiapkan semua itu jauh-jauh hari dan ternyata benda-benda itu kini sangat berguna. Dengan telaten Khusnul mengobati di luka yang ada di lengan Fendi. Fendi juga menceritakan apa yang ada di dalam mimpinya. Dia bilang kalau dirinya selalu dikejar kejar oleh makhluk aneh berwarna abu abu. Tentu saja semua teman temannya mengerti siapa sosok yang dibicarakan oleh Fendi.
"Gila ya! Dia bukan hanya mengganggu Fendi di dunia nyata, tapi juga di alam mimpi! Bener bener keterlaluan," kata Mey.
"Kita sambil sarapan dulu aja, ya," ucap Rahma yang muncul dengan hidangan berupa nasi goreng cabai hijau.
Selesai makan, obrolan tadi kembali berlanjut. Masalah ini tidak bisa dianggap remeh. Karena teror yang terjadi bukan hanya di alam nyata saja, tetapi sudah mengganggu mimpi Fendi. Hal itu akan membuat kondisi mental Fendi menjadi tidak baik baik saja. Dia akan sulit berkonsentrasi karena tidak bisa tidur nyenyak. Sementara semua manusia tentu butuh istirahat yang cukup untuk bisa melakukan aktivitas dengan baik.
"Yang gue bingung kenapa makhluk itu meneror Fendi sedemikian rupa? Bukannya kata Pak Sobri kita tidak akan diganggu kalau kita tidak mengganggu mereka lebih dulu?" tanya Ike.
" kalau begitu, gue mau tanya. Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan, Fen?" tanya Sule.
" sebenarnya kemarin gue melakukan perbuatan yang tidak baik. Jadi mungkin itu alasannya kenapa gue selalu diganggu oleh makhluk itu," kata Fendi sambil tertunduk.
"Memangnya apa yang lo lakuin?" tanya Dolmen.
" kemarin waktu gua masih proker, lewat di pemakaman itu sendirian. Nggak tahu Kenapa Gue merasa kesel banget sama patung itu. Terus tiba-tiba gua tendang aja patung itu sampai tiga kali. Tapi patung itu nggak jatuh kok. Justru dia terlihat sangat kuat. Nggak ada patahan sedikitpun."
"Apa lo tendang patung batu itu?" tanya Derry terkejut.
"Bukan cuma itu aja, gue juga makan sesajen yang ada di depannya. Gue lapar saat itu, dan tanpa pikir panjang gue makan makanan itu."
"Gila lo! Bener bener gila! Lo tahu kan, kalau sesajen itu makanan siapa? Kenapa lo makan, Setan!" jerit Dolmen.
"Gue laper, Men. Terus gue pikir nggak bakal kenapa napa. Ternyata gue sampai di teror begini," kata Fendi dengan ekspresi cukup menyesali perbuatannya.
"Hem, jadi ini bisa dijadikan pelajaran, ya, untuk ke depan yang lain, ya. Agar kita tidak seenaknya di tempat ini dan menjaga sikap untuk saling menghormati. Terutama tentang kebiasaan warga desa yang mungkin kita anggap aneh atau tidak sesuai pemahaman kita. Bagaimana pun juga, tradisi mereka sudah mereka lakukan sejak dulu, jadi sebaiknya kita menghargainya. Toh, kita di sini cuma tamu dan cuma sebentar saja," pungkas Daniel bijak.
"Gimana dong ini. Gue takut kalau misal sosok itu masih marah sama gue. Gue nggak bisa tidur nyenyak kalau gini," rengek Fendi.
Teman temannya mengutuk perbuatan Fendi yang sembrono. Tetapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Kini pekerjaan rumah mereka hanya satu, mencari cara untuk membebaskan Fendi dari teror patung penghuni mata air.
Tapi hal pertama yang harus mereka lakukan sekarang adalah menyelesaikan proker yang sudah direncanakan sebelumnya. Apalagi hari ini kedua proker kelompok sudah mulai berjalan. Walau untuk pemasangan instalasi listrik menggunakan jasa pegawai PLN, tetapi mereka tetap harus ikut andil mengawasi proyek tersebut. Semua mahasiswa harus datang di tempat lokasi, hingga hari ini pun menjadi hari yang super sibuk. Selain mereka harus mengawasi pemasangan listrik, pembuatan sumur dan kamar mandi umum, mereka juga harus menyelesaikan proker individu.
Setelah berdiskusi sebelumnya, mereka membagi tugas secara adil dan merata. Terutama untuk kegiatan proker kelompok. Karena ada dua proker, maka dari itu mereka membagi menjadi dua kelompok pula.
Kelompok yang bertugas mengawasi pemasangan instalasi listrik terpilih Daniel, Sule, Fendi, Mey, Indi, dan Khusnul. Sementara kelompok lainnya membantu pembuatan sumur dan kamar mandi umum. Meliputi Armand, Cendol, Dolmen, Derry, Ike, Rahma.
Setelah mereka mandi dan sarapan, mereka pun siap pergi ke lokasi. Mereka akan melihat bagaimana situasi di proker kelompok sebelum melakukan proker individu. Dalam hal ini semua anggota harus bekerja sama. Walaupun itu proker individu, tetapi jika ada tempat yang sudah selesai dengan tugasnya, diharapkan untuk membantu teman lain yang belum menyelesaikan proker nya. Semua dilakukan agar seluruh kegiatan bisa selesai sesuai waktu yang direncanakan. Tentu saja sebelum mereka pergi dari desa itu.
" kemarin sudah sampai tahap apa sih pembuatan sumur sama kamar mandinya?" tanya Ike saat mereka dalam perjalanan ke lokasi pembuatan sumur tersebut. Kebetulan lokasi yang mereka pilih berada di dekat pemukiman warga. Lokasi itu lebih dekat daripada jika mereka harus pergi ke sungai untuk melakukan aktivitas mandi dan lainnya.
" Kalau nggak salah kemarin sudah mulai menggali untuk lokasi sumurnya. Kita masih menggali dengan cara manual. Semoga saja hari ini sudah selesai. Terus kalau soal kamar mandi umum sudah mulai dipasang pondasinya dulu. Coba nanti kita lihat sudah sejauh mana karena kemarin gue sama Derry balik duluan," jelas Armand.
"Oke."
"Wah, nggak sangka kita di sini udah 2 minggu," ucap Dolmen.
"Wah, bener. Nggak sangka masih 10 minggu lagi di sini, ya," sahut Derry sarkas.
Rahma dan Ike tertawa mendengar mereka berceloteh. Suasana desa jika siang hari cukup sejuk. Beginilah jika topografi sekitar masih banyak pepohonan besar. Mereka bahkan jarang sekali merasakan panas saat siang hari, apalagi jika mereka hanya berdiam diri di rumah. Apalagi tempat ini termasuk wilayah dataran tinggi. Tetapi siapa sangka jika matahari sudah tenggelam, maka kondisi tempat itu bisa berubah drastis.
"Ma, lo bawa makanan?" tanya Cendol.
"Iya. Sekalian buat pekerja nanti. Cuma bikin cemilan aja sih."
"Oh bagus deh."
Mereka akhirnya sampai di tempat pembuatan sumur. Rupanya mereka kesiangan, karena kini warga desa sudah mulai bergerak lebih dulu. Bahkan kemajuan yang Armand katakan tadi sudah naik pesat. Pondasi yang baru dibuat kemarin, kini sudah mulai berdiri tembok tembok di sekitar. Ada 5 bilik toilet yang akan dibuat. Di depan bilik tersebut akan ada kolam besar untuk menampung air sumur dan bisa dipakai untuk mencuci baju. Sementara sumur yang galiannya masih dangkal, kini sudah dalam dan mulai mengeluarkan air.
"Wah, kita kesiangan gaes!" ucap Armand saat sampai ditempat itu.
"Mending cepet berbaur, Man. Biar nggak malu banget," bisik Derry.