Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
22. Burhan


Karena kegiatanku sudah selesai, aku memutuskan berdiam diri saja di rumah.


Rasanya malas untuk ke mana-mana. Kegiatan kemarin cukup menyita tenaga dan waktu, sampai-sampai aku jarang bersantai di rumah ini. Tinggal beberapa hari lagi kami bakal pulang dan meninggalkan desa ini. Rasanya tidak percaya, bahwa waktu berjalan begitu cepat.


Hari ini semua temanku masih menyelesaikan kegiatan mereka di luar, sebenarnya Ferli sudah selesai sama seperti ku, hanya saja dia hari ini mengikuti Feri, sebagai solidaritas sepasang kekasih barang kali. Jadi tinggalah aku sendirian di rumah. Tidak banyak kegiatan yang aku lakukan di rumah ini, jadi aku benar benar memanfaatkan waktu untuk bersantai. Benar- benar bersantai. Salah satu cara membunuh waktu adalah dengan bermain game di ponsel.


Masih asyik dengan tombol yang sedang kutekan dengan ekspresi gemas, tiba-tiba aku mendengar pintu di buka. Suara pintu yang berderit memang khas dan setelah kami berada di sini cukup lama, aku sampai hapal suaranya. Seingatku, pintu sudah terkunci dan mereka membawa kunci cadangan. Kecuali Indah dan beberapa pria yang memang tidak memilikinya, tetapi jika mereka pulang dan tidak bisa membuka pintu, pasti akan ada suara ketukan dan sapaan untukku, kan.


"Siapa yang sudah pulang, ya?" gumamku dengan pertanyaan untukku sendiri. Karena merasa tidak penting, aku tetap diam di tempat dan melanjutkan bermain game. Sambil terus fokus dengan layar di depanku, tanganku menjulur ke meja malas di samping, mencari keberadaan gelas karena aku kini kehausan. Ternyata gelas ku kosong dan tepat sekali, permainan ku juga berakhir. Alias game over. Kesal sekali karena sudah mencapai level tinggi, tapi nyatanya aku kalah di menit terakhir. Dengan sebal, aku beranjak lalu membuang kasar ponsel milikku ke atas ranjang. Sepertinya memang aku harus keluar dari ruangan ini. Entah sudah berapa jam aku di sini hingga benar-benar lupa waktu.


Saat kubuka pintu kamar, keadaan di luar tampak sepi. Aku kembali merasa gelisah karena merasa ini tidak wajar. Aku sangat yakin kalau tadi mendengar suara pintu di buka.


Aku pergi ke ruang tamu, di sana tidak ada satu pun manusia. Kini kuputuskan memeriksa tiap kamar sambil berjalan ke dapur. Sangat yakin kalau tidak mungkin ada makhluk tak kasat mata di rumah ini, karena karena rumah ini sudah dipagar gaib oleh Kak Yusuf dan teman-temannya. Keadaan kamar hampir sebagian tertutup, dan aku tidak berani membukanya karena itu adalah tempat pribadi mereka.


Sampai di dapur aku segera mengambil gelas dan menyangka air dari cerek. Kutajamkan pendengaran, karena merasa ada suara langkah kaki yang mendekat. Aku segera menoleh ke arah pintu dan di sana muncul seseorang yang sangat tidak ingin kulihat.


Acong?


"Jadi dia yang ada di rumah sekarang," batinku sambil meletakan gelas dengan kasar hingga menimbulkan bunyi cukup nyaring.


Merasa keadaan ini cukup tidak nyaman aku segera pergi dari dapur. Tapi rupanya langkahku terhenti karena panggilan dari nya.


"Apa!" ketusku.


"Akhirnya aku punya kesempatan juga berduaan sama kamu," ucapnya dengan senyum menyeringai.


Deg!


Perasaanku tidak nyaman dengan kalimatnya barusan.


Maksud dia apa? Dia mau apa?


"Mau apa kamu?" tanyaku lantang. Tidak ada sedikitpun rasa takut menghadapi dia.


"Aku mau kamu. Aku kangen kamu, Nis. Udah lama banget, kita nggak ketemu," tuturnya, "oh iya. Makasih buat luka yang kamu buat," sambungnya sambil meraba leher.


Kupincingkan mataku agar dapat melihat luka yang dia maksud.


Tunggu!


Luka di leher?


Seingatku, aku tidak pernah berkelahi dengan Acong atau membuat keributan dengannya selama ini. Justru aku selalu menjaga jarak dengannya. Walau dia selalu mengikutiku selama di kampus.


Tapi luka di leher itu?


Astaga!!


Aku menggeleng pelan sambil berjalan mundur.


"Nggak mungkin! " gumamku lirih.


"Gak ada yang nggak mungkin, Nisa. Aku ada di sini. Aku kembali buat kamu," ucapnya.


Aku makin mundur dan mulai dapat membaca maksud dari perkataannya.


"Gimana kabar papah kamu yang dulu ngotot mau memenjarakan ku?" tanyanya.


"Kamu ... Burhan?!" tanyaku sambil melotot ke arahnya. Karena tidak mungkin aku lupa wajah Burhan.


Dan Acong sama sekali tidak mirip dengan Burhan. Memang sih, aku selalu tidak suka dengannya.


"Akhirnya kamu mengenaliku, Nis. Aku kangen kamu."


"Gak mungkin kamu Burhan! Kamu bohong!"teriakku.


"Masa kamu nggak bisa ngerasain aku selalu ada di sini? Memang wajahku berubah, aku pernah mengalami kecelakaan dan wajahku rusak, akhirnya aku menjalani operasi plastik. huh. Gimana? Aku tambah ganteng gak ?" tanyanya sambil terus berjalan mendekatiku.


Glek!


Aku menelan ludah, bingung harus berbuat apa. Jika mau teriak sekalipun, mana ada yang dengar. Rumah posko kami dengan tetangga termasuk jauh jaraknya.


Aku melirik ke kamar dan langsung berlari masuk ke sana. Sepertinya itu adalah tempat yang tepat menghindari Acong atau Burhan itu.


Acong mengejar dan berusaha menerobos masuk ke kamarku.


Pintu kamar yang belum ku tutup sempurna terus di dorong acong.


"Pergi kamu, Cong! Mau apa lagi kamu!" teriakku.


"Aku mau kamu, Nis! " katanya.


Bagaimanapun juga, kekuatanku tidak akan sebanding dengan Acong. Dia lebih kuat dari aku.


"Tolong!" teriakku.


"Gak ada yang bisa nolong kamu, Nisa." Acong tertawa puas.


"Ada! Ada Allah! " kataku yakin.


Braaakk


Pintu telah terbuka dengan sempurna dan aku terjatuh. Punggungku mengenai meja di belakang.


Aku meringis kesakitan sambil memegang punggungku.


Acong mulai masuk ke kamarku perlahan sambil menyeringai penuh kemenangan.


Aku beringsut mundur. Kulempar semua benda yang ada di sekitarku ke arahnya.


Dia hanya tertawa karena melihatku yang tidak berdaya.


"Aw...." dia sedikit kesakitan namun dia masih dapat tersenyum.


Kulayangkan tinju ke arahnya, namun tanganku berhasil diraihnya dan dia mendorongku mundur hingga aku jatuh ke ranjang dengan posisi dia di atasku. Kedua tanganku di tahan olehnya ke samping, kutendang *********** dengan kakiku.


Dia jatuh dan mengerang kesakitan. Aku berlari keluar dari kamar, namun Acong masih bisa meraih pakaianku, aku terus berusaha pergi dan robeklah bajuku hingga sebagian punggungku terlihat.


Kuraih pajangan yang ada di tembok kamar, lalu kuhantamkan ke Acong. Hingga kepalanya berdarah.


Aku terus berlari pergi keluar dari rumah sambil menangis.


"Nisaa!" teriak Acong.


Aku terus berlari sambil sesekali melihat ke belakang.


Tapi tiba-tiba, seseorang memelukku. Aku berteriak sambil memejamkan mata, karena tidak tau siapa yang ada di hadapanku, dan lagi aku masih trauma. Jika tiba tiba Acong sudah ada di depanku dan bagaimana jika kini dialah yang memelukku.


"Nisa. Nisaa. Ini aku. Lihat aku. Buka matamu," katanya. Dari suaranya terdengar familar. Dan saat mataku terbuka ternyata Indra. Aku langsung dapat bernafas lega dan langsung memeluk sambil menangis di dadanya.


"Kamu gak papa kan nis??"tanya I dra cemas.


"Ndra ... Acongg...."kataku.


"Iya, aku tau, Acong itu Burhan," jawabnya.


Kulepaskan pelukanku dan menatap nya bingung.


"Dari mana kamu tau?? " tanyaku.


"Aku terus nyari Burhan selama ini dan akhirnya aku dapet info kalau dia operasi plastik. Aku bahkan datengin dokter nya. Dokter itu kasih foto Burhan sebelum dan sesudah operasi. Aku kaget begitu tau ternyata dia Acong. Aku langsung ke sini," jelasnya.


Di belakang Indra datang juga beberapa anggota polisi.


"Langsung aja!!"kata Indra ke mereka.


Mereka setengah berlari menuju rumah posko kami. Indra melepaskan jaketnya lalu memakaikan nya kepada ku. Dia juga mengelap air mataku.


Tak lama teman teman Indra kembali dengan membawa Acong yang berdarah darah. Mereka menyeret Acong dengan kasar.


Dari kejauhan teman teman KKN ku berjalan mendekat dan heran melihat Acong yang dibawa paksa oleh polisi.


"Lho, Indra? Ada apa? kok Acong diseret gitu?" tanya Lukman bingung.


"Kita ngobrol di rumah aja," kata Indra pelan.


"Ndah. Temenin Nisa," pinta Indra.


Indah mendekat lalu memelukku.


Kami berjalan kembali ke rumah posko.


-----


Setelah semua berkumpul, Indra menjelaskan alasan dia datang dan kenapa Acong mereka tangkap.


Semua terkejut mendengar penuturan Indra. Bahkan Wicak sampai menjambak rambutnya sendiri karena merasa tertipu selama ini. Dialah yang paling dekat dengan Acong. Tapi dia tidak bisa merasakan bahwa Acong ternyata adalah Burhan .


"Gue nggak nyangka dia bisa sejahat itu," ucap Feri.


"Yang sabar ya, Niis," kata Lukman.


"Kamu gak papa kan, Nis? Ada yang luka gak?" tanya Faizal.


Mereka terlihat khawatir atas apa yg dulu pernah menimpaku dan yang barusan ku alami.


Namun, aku lega karena Burhan sudah diamankan. Indra juga akan memastikan kalau burhan akan dihukum seberat beratnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam nya, Indra pamit pulang, karena dia belum mendapat cuti lagi.


"Kamu jaga diri baik baik," ucapnya saat kami semua ada di teras untuk melepas kepulangan Indra


"Iya, makasih ya, Ndra. Kamu juga ati ati."


Dia mengangguk sambil tersenyum.


"Semuanya tolong jagain Nisa ya..aku pamit dulu," pamit Indra ke mereka semua.


"Iya, Ndra. ati ati.."


"Take care, Ndra.."


"Kalo libur main sini lagi, Ndra.."


Itulah pesan pesan mereka ke Indra.


Herman dan 2 orang teman Indra sudah ada di halaman untuk menjemput Indra. Karena mobil mereka ada di balai desa.


"Kamu gak usah anter. Habis ini istirahat ya.." ucap Indra.


Lalu dia mencium keningku agak lama.


"Eheem.."feri mulai iseng.


Indra melirik ke arahnya setelah melepas ciuman nya.


"Kenapa? Tenggorokan gue sakit. Serius.. Hehe," kata nya sambil nyengir.


Akhirnya Indra pamit, dan kembali pulang.