Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
15.cinta segitiga


"Kak ... Mba Alya cantik, ya," ucapku ke Kak Arden. Sore ini kami berdua sedang ada di gazebo depan rumah sambil tiduran dan baca novel saja.


Ayah dan Bunda sedang pergi.


Katanya, Bunda mau buka restoran dan sekarang sedang melihat lokasi restoran itu bersama Ayah.


"Emang kamu udah ketemu Alya?" tanya Kak Arden sambil pasang muka kaget.


"Udah dong. Tadi ketemu pas lagi di ruang seni. Emangnya Mba Alya ikut seni juga, Kak? Eh, permainan pianonya hebat juga," kataku antusias.


"Eum, kakak nggak tau, Tha."


"Lha. Masa nggak tau, gebetannya bisa main piano?" tanyaku heran.


"Ya emang nggak tau," kata Kak Arden cuek.


"Payah banget deh. Pepet dong, kak. Gerakannya mana?"


Sebuah jitakan mendarat di kepalaku.


"Ye, Udah ah. Biar aja."


"Lho kok biar aja?" Tanyaku sambil mengelus kepalaku sendiri


"Kalau jodoh nggak bakal ke mana, Tha. Lagian masih kecil, ngomongin jodoh aja," ucap Kak Arden seolah berdiskusi dengan dirinya sendiri.


"Buset! Iya, kak. Bener itu. Tapi ya harus usaha juga dong! Masa pasrah gitu aja! Ih payah banget deh," gerutuku sebal.


Tak lama, mobil Radit masuk ke halaman rumah kami.


"Tuh, pangeran bermobil putih dateng." Kak Arden berbisik padaku.


Aku hanya meliriknya tajam.


Radit lalu turun dari mobilnya, dan tersenyum pada kami.


Dia berpakaian rapi sekali. Memakai kemeja putih dan celana jeans biru dan sepatu putih.


Ni anak mau kondangan apa ya?batinku.


"Hai, Dit!" sapa Kak Arden lalu mereka tos, seperti biasa. Hal ini bagai sebuah ritual yang wajib dilakukan mereka semua.


"Hai ... Den, Tha."


"Mau ke mana, Dit?" tanyaku.


"Eum ... Ikut yuk, " Ajaknya.


"Ke mana?" tanyaku.


"Ke acara nikahan sepupuku. Di hotel Java Heritage. Aku males datang sendiri. Temenin, yuk," katanya.


"Hah? Eum ... Gimana, ya," gumamku agak ragu-ragu.


"Den! Elu juga ikut, yuk. Gue jamin elu nggak nyesel kalau ikut," kata Radit sambil senyum - senyum.


"Males ah, Dit. Udah enak rebahan nih. Sama Aretha aja deh," ucap kak Arden malas - malasan.


"Ck. Ini anak! Denger ya, Den. Di sana ada alya juga lho," kata Radit.


Kak Arden yang awalnya sedang tiduran, langsung bangkit dan duduk.


"Hah? Kok bisa? Ngapain dia di sana?" tanya Kak Arden penasaran.


"Dia dari pihak pengantin perempuannya. Saudara sepupunya, Den. Yuk ah. Cus. Jangan kelamaan," paksa Radit.


Kak Arden langsung berlari masuk  ke dalam." Tha! Buruan ganti baju," jeritnya


"Ya ampun. Segitunya," ucapku heran.


"Ya udah, sayang. Kamu juga ganti baju gih. Jangan lama - lama ya. Nggak usah dandan, udah cantik," kata Radit manja.


"Sayang?" tanyaku sambil mengerutkan keningku menatap Radit.


"Iya. kan aku sayang sama kamu." Dia makin membuatku salah tingkah.


"Ya udah, bentar." Tak mau berlama- lama di depan pria ini, aku segera masuk ke dalam dan bersiap. Khawatir jika terlalu lama, aku akan meleleh.


\=\=\=\=\=\=\=


Baru 15 menit aku masuk kamar, untuk ganti pakaian, kak Arden sudah teriak - teriak di depan kamarku.


"Cepat, Aretha!"


"Iya! Bawel!" Suaraku tak kalah kencang dari Kak Arden.


Aku kali ini memakai dress selutut berwarna pastel dengan sepatu yang senada. Setelah mematutkan diri di cermin, aku keluar kamar.


"Lama banget sih!" gerutu kak Arden, sambil memandangi jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ya ampun. Baru juga 15 menit!" protesku.


"Udah ah. Yuk berangkat. Jangan pada berantem terus," kata Radit lalu menarik tanganku keluar rumah diikuti Kak Arden.


Kami naik mobil Radit ke hotel itu.


"Dit, memangnya nggak apa-apa, ya, kalau kamu ikut? Itu kan acara keluarga?" tanyaku.


"Nggak apa-apa. Aku mau kenalin kamu ke Papa Mamaku, juga keluarga besarku. Mumpung mereka lagi kumpul," kata Radit sambil fokus nyetir.


Glek!


Mampus!


"Hehehehe ... Asik, mau ketemu CAMER," ledek Kak Arden.


Aku hanya melirik kak Arden yang duduk di kursi belakang.


Radit malah senyum-senyum.


Tak lama kami sampai di hotel itu. Suasananya memang cukup ramai. Hotel ini adalah salah satu hotel bintang lima terkenal di kotaku.


Kak Arden dan Radit sudah turun dan keluar mobil. Sementara aku masih diam di dalam, jujur aku grogi.


Radit bilang mau mengenalkan aku ke keluarganya. Itu bagai momok mengerikan. Bagaimana tidak? Aku harus bagaimana nanti? Astaga, ini mengerikan.


Pintu mobil sampingku kemudian dibuka oleh Radit. Dia mengulurkan tangannya padaku sambil tersenyum.


"Yuk."


Kami bergandengan tangan masuk ke dalam hotel ini. Kak Arden juga bersama kami terus.


Hingga sampai di dalam, fokus kami langsung menuju ke arah panggung. Di mana Mbak Alya sedang bermain piano.


"Tuh! bener, kan, kak? Mba Alya pinter main piano," kataku ke kak Arden.


Kak Arden mengangguk sambil terus menatap Mba Alya. Dia memang cantik, apalagi dengan dress mocca yang sedang dipakainya. Terlihat serasi dan pas dengan Kak Arden yang memakai kemeja yang senada.


"Kamu mau makan apa, Tha?" tanya Radit sambil celingukan ke sana ke mari.


"Eum... Apa, ya? Zuppa sup dulu yuk," ajakku.


"Oke, yuk. Eh, Den. Ikut nggak?" tanya Radit.


"Nggak ah, kalian aja. Gue tungguin di sini deh," kata Kak Arden lalu duduk di sebuah kursi tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.


Akhirnya hanya aku dan Radit yang mencoba semua kuliner di sini.


"Kamu makan aja yang kamu suka, Tha. Lagian juga kamu nggak bakal gemuk, kan?" tanya Radit sambil menatapku dari ujung rambut sampai kaki.


Sesekali Radit menyuapiku makanan yang dia pilih sendiri.


"Dit ... Kamu di sini? Ya ampun. Aku tungguin dari tadi. Kata Mama kamu tadi, kamu pulang dulu? Untung balik lagi ke sini." tiba - tiba ada seorang wanita cantik, tinggi dan putih mendekati kami.


"Eh ... Ester? Kamu udah lama?" tanya Radit sambil melirik padaku.


"Iyalah, kan aku nungguin kamu," kata Ester lalu melirik padaku juga.


Kayanya aku nih jadi obat nyamuk deh sekarang.


"Oh iya, Ter. Kenalin ini Aretha, pacarku," kata Radit, dan berhasil membuatku menoleh ke arahnya sambil melotot.


Dia malah senyum senyum saja sambil menarik pinggangku mendekat ke samping tubuhnya. Memelukku dengan posesif sehingga menunjukan kalau apa yang dia katakan memang benar. Bahwa aku pacarnya. Padahal, kan ....


"Aretha." Aku mengulurkan tangan ke Ester. Dan drama seperti ini bukan pertama kalinya kami lakukan. Jadi setidaknya aku kini cukup lihai.


"Ester," sahutnya singkat dengan wajah tidak suka.


"Eh, Mama tuh! Ter, Aku ke sana dulu, ya," pamit Radit lalu menarik tanganku menjauhi Ester.


"Dit! Serius nih?" tanyaku lalu menahan tangannya agar dia berhenti berjalan.


"Apanya?" Dia malah bingung.


"Ketemu Mama kamu.."


Aku tau kalau beliau Mama Radit, karena aku pernah melihat fotonya di rumah Radit. Memang sangat cantik, bahkan lebih cantik dari di foto.


"Mama!" panggil Radit.


Wanita itu menoleh lalu tersenyum.


"Hai sayang. Udah ketemu Ester? Tadi dia nyari kamu," katanya. Membuatku sungkan. Karena Mama Radit kini melirikku.


"Udah. Oh iya, Ma, ini Aretha," kata Radit lalu menarikku makin dekat ke Mamahnya.


Beliau melihatku lalu tersenyum dan tiba-tiba memelukku erat.


"Terima kasih, ya. Udah bantuin Radit waktu itu." Ia melepas pelukannya, dan kembali menatap wajahku lekat-lekat. "Kamu cantik banget. Pantesan Radit tergila gila sama kamu," ucap beliau.


"Tante bisa aja. "


Aku lalu dikenalkan dengan beberapa saudara Radit yang lain juga. Kebetulan orang tua Radit sedang libur, namun hanya 3 hari saja di rumah. Itu yang kudengar dari pembicaraan mereka tadi. Acara ini juga bagai pemersatu keluarga besar.


Dan ku melihat Radit bahagia sekali melihat Mamanya ada di sini.


Aku juga dikenalkan dengan Papa Radit juga. Dandanan nya keren banget. Sekalipun Papahnya Radit sudah berumur 45 tahun, namun masih terlihat muda.


"Makan dulu Aretha. Dit, ajak makan sana," suruh Papahnya Radit. Radit tersenyum sambil mengangguk.


"Ya udah, Radit jalan-jalan dulu ya Pah, Mah."


Kami pamit, dan bergerilya mencari makanan. Di sini ada banyak jenis makanan dari seluruh Indonesia bahkan ada beberapa kudapan ringan dari mancanegara. Surga kuliner.


"Kak Arden mana, ya?" tanyaku sambil celingukan.


"Iya, kok hilang itu anak," sahut Radit ikut menyapu pandang ke sekitar. "Alamak! Arden!" pekik Radit sambil melotot ke arah panggung. Aku ikut menoleh ke arah yang dia tatap.


Kak Arden baru saja memukul seorang pria yang sepertinya mendekati Mbak Alya.


"Mati gue! Duh." Radit berlari ke panggung guna melerai perkelahian tersebut. Aku menyusulnya.


"Den! Udah, Den. Lepas!" kata Radit menarik Kak Arden menjauh. Sementara orang tadi juga sudah dipegangi tamu lain yang seperti salah satu temannya juga.


Mbak Alya terlihat menangis di dekat piano tadi. Aku lalu mendekatinya.


"Ada apa sih, mba? Kok kak Arden mukul orang?" tanyaku penasaran. Karena aku hafal betul bagaimana watak kakakku. Dia tidak akan asal memukul orang sembarangan.


"Tadi Danar tiba - tiba nyium aku, Tha. Terus Arden pukul dia," katanya sambil tergugu.


Pantas saja. Kak Arden ini orang nya sabarnya minta ampun. Tapi kalau masalahnya seperti ini, nggak bakal deh pakai ilmu sabar.


Pakainya ya ilmu tonjok.


Kupeluk mba Alya yang masih menangis karena trauma. Pasti dia terkejut.  Setelah mengalami kejadian tiba tiba seperti itu. Wajar saja.


Radit pun berhasil melerai Kak Arden dan Danar dengan bantuan beberapa orang lain yang ada di sana.


Kak Arden lalu mendekati aku dan Mba Alya.


"Alya nggak apa-apa, kan, Tha?" tanya nya dengan nafas tersengal-sengal.


"Nggak apa-apa kok," kataku sambil terus memeluk Mba Alya.


Radit lalu mengajak kami turun dan duduk di halaman belakang hotel ini. Kebetulan ada taman yang cukup bagus di sini.


Setidaknya mungkin bisa untuk menetralisir emosi Kak Arden yang masih dapat kulihat.


Aku duduk bersama mba Alya sambil terus menggenggam tangannya.


Kak Arden yang melihat mba Alya masih sedih lalu mendekat dan jongkok di depannya.


"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya kak Arden dengan tampang cemas.


Mba Alya mengangguk. Lalu kak Arden membantu menghapus air matanya dengan telapak tangan kanan Kak Arden.


Gila, bisa romantis juga rupanya, Abangku.


"Siapa sih dia. Kok bisa kurang ajar banget, Al?" tanya kak Arden, dahinya berkerut. Bola matanya melebar. Dia juga mengatupkan rahangnya.


"Dia itu suka sama aku, Den. Udah lama. Cuma aku nggak suka sama dia. Karena ya gitu kelakuannya," jelas wanita di samping ku ini sambil terus menunduk. Kak Arden menarik nafas panjang.


"Ya udah, kalau dia macem macem lagi, kamu bilang aku ya, Al." Kak Arden sudah mulai tersenyum tipis, menatap wanita di depannya dengan tatapan penuh kasih, sambil menyisir rambut Mba Alya yang terurai ke depan, menutupi wajahnya.


Aku berdeham, menatap kedua sejoli itu dengan perasaan campur aduk. Mirip drama FTV,A di kehidupan nyata. Kak Arden melirik padaku.


"Apa?"tanyanya.


"Nggak apa-apa. Aku mau ke toilet." Aku beranjak dan menepuk rokku yg mungkin sedikit kotor.


"Aku antar, yuk," kata Radit yang sejak tadi berdiri tak jauh dari kami.


"Ih, nggak usah. Kayak anak kecil aja," ucapku lalu berjalan ke arah toilet yg ada di dalam hotel.


Setelah buang air kecil. Aku cuci tangan di wastafel sambil memikirkan kak Arden dan mba Alya.


Eh tunggu!


Sosok yang kemarin kok nggak keliatan lagi, ya?


Dalam kebingungan ku, pintu toilet terbuka, lalu muncul Ester yang agak kaget melihatku ada di toilet ini.


"Oh ada kamu," katanya lalu menjajariku dan ikut cuci tangan di wastafel sebelahku.


"Iya ter.. Kamu sendirian aja?" tanyaku mencoba ramah.


Padahal aku tau kalau dia tidak menyukaiku.


"Iya. Eh, Tha! Kamu bisa nggak jauhin Radit?!" tanyanya dengan sebuah pertanyaan yang seolah mengharuskan aku untuk melakukannya.


"Emang kenapa?" tanyaku heran.


"Aku sama Radit tuh sebenernya udah dijodohin sama keluarga kami masing masing. Dan gara-gara kamu, Radit tiba-tiba sekarang menolak perjodohan itu. Lagian aku heran, apa sih yang dilihat Radit dari kamu? Lagi pula kalian beda agama, kan? Mikir dong, Tha!" kata Ester ketus. Aku diam, tidak tau harus menjawab Atau melawan yang bagaimana. Dia menyenggolku kasar, lalu masuk ke salah 1 bilik toilet.


Aku terdiam. Hatiku panas mendengar kata - kata Ester barusan.


Tiba - tiba pintu bilik toilet Ester dibuka lagi. Ester hanya mengeluarkan kepalanya dari dalam.


"Aku peringatkan, ya, Tha! Kalau kamu masih aja genit sama Radit. Aku bakal bikin perhitungan sama kamu!Jadi jauhi Radit!" Dia membentak lalu langsung menutup kembali pintu itu.


Aku lantas keluar dari toilet dan berjalan ke tempat Kak Arden yang tadi.


"Udah, Tha? Kok lama?" tanya Radit.


Aku diam dan menatap tajam Radit.


"Kenapa sih?" Radit heran dengan perubahan wajahku.


"Kak, pulang!" ajakku lebih ke memerintah.


"Lho kenapa?" tanya Kak Arden yang sedang duduk bersebelahan dengan Mba Alya.


"Aku pusing," jawabku.


"Kamu nggak apa-apa, Tha? Kok tiba-tiba pusing?" tanya Radit cemas.


"Yuk, balik." aku tidak memperdulikan Radit lalu berjalan ke luar hotel.


"Eh, tungguin, Dek!" teriak Kak Arden.


Akhirnya Mba Alya juga pulang bersama kami. Aku dan Mba Alya duduk di kursi belakang, Kak Arden di samping Radit.


Aku banyak diam selama di perjalanan. Setelah mengantar Mba Alya pulang, Radit lalu mengantar kami juga.


Sampai rumah aku langsung masuk ke dalam dan segera masuk ke kamar.


Entahlah, aku merasa bingung. Aku merasa bersalah, aku marah, aku kecewa, aku juga sedih. Semua bercampur menjadi satu.


Aku tidak tau apa yang harus kulakukan, dan entah kenapa aku kesal dengan Radit.


Bahkan saat Kak Arden mengetuk pintu kamarku pun, aku tidak menyahut. Aku ingin sendirian saja sekarang.


Sampai malam aku hanya di kamar saja. Dan kubilang ke Bunda kalau aku tidak enak badan agar tidak terlalu banyak pertanyaan lagi. Aku malas berdebat dan malas menjelaskan apa yang kurasakan.


Karena aku memang tidak tau apa yang kurasakan.


Aku tidak suka jika Radit dekat dengan Ester. Dan tidak suka sikap Ester yang seperti tadi.


Apa aku sudah mulai menyukai Radit?


Tapi benar kata Ester. Perbedaan kami terlalu besar.


Aku kadang tidak yakin bahwa hubungan kami akan berhasil nantinya.


Ada cinta segitiga antara kita, Dit.


Yaitu aku, kamu dan Tuhan.


Lalu siapa yang harus ku pilih?