Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
23 boneka misterius


Setelah pak ustadz berbicara dengan pak kades, akhirnya desa sebelah mulai dibenahi. Seluruh warga diminta partisipasinya untuk membantu.


Bahkan beberapa warga dari desa lain pun ikut serta membantu kami.


Pak kades berencana akan membangun sekolah dan masjid di sana.


Dan waktu kami berada di desa ini hanya tinggal 3 hari lagi. Waktu yang sebentar.


Namun rasanya berat untuk meninggalkan desa ini. Walau teror yang kami alami terus bermunculan tapi banyak sekali pengalaman baru yg kami dapatkan di sini.


Malam ini, aku ada di teras dengan teman teman yg lain.


Kamu membuat api unggun dan membuat jagung bakar sebagai perayaan kecil kecilan karena KKN kami di sini berjalan sukses. Sekaligus sebagai salam perpisahan. Sekalipun nanti kami pasti akan bertemu lagi di kampus, namun rasanya pasti akan berbeda.


Agus memainkan gitarnya sambil nyanyi nyanyi gak jelas. Walau falseto nya gak nahan tapi kami cukup merasa terhibur.


Feri dan Ferly saling berpelukan sambil suap suapan makan jagung bakar. Wicak mendekatiku sambil duduk di samping.


"Gak nyangka ya, kita hampir sebulan di sini," katanya sambil menatap Agus dan Faizal yang berantem rebutan gitar.


"Iya, Cak. Banyak banget pengalaman baru juga. Rasanya berat buat pulang. Pasti aku bakal kangen sama suasana kaya gini, sama kalian juga," ucapku haru.


"Sama, Nis. Aku juga ngerasain hal yg sama," Sahutnya


"Oh iya, besok kalian jadi ikut bantuin beresin desa sebelah, Cak?" tanyaku.


"Iyalah. Pasti. Kalau nolongin orang harus tuntas dong,"katanya.


Sreeeeekkk.sreeeekkk


Entah datangnya dari mana. Di depan rumah kami, ada seorang nenek nenek yg berjalan pelan.


Aku menyenggol wicak. Agar dia melihat nenek itu.


"Setan apa orang, Nis?" Tanyanya berbisik.


Aku mengangkat bahuku. Karena aku benar benar tidak tau. Aku juga sering tertipu. Kirain orang, eh ternyata bukan.


"Malem, Nek. Mau ke mana malam malam begini?"sapa Lukman sok akrab.


"Itu anak pake nyapa segala. Nggak dicek dulu gitu, orang apa bukan,"celetuk Feri.


Aku pun berfikiran sama seperti Feri.


Kami hanya memperhatikan Lukman dari tempat kami duduk.


Ini Lukman baik banget yah..


Kalo aku mah secara logika, ini udah malem. Lagian ngapain coba, malem malem ada nenek nenek masih berkeliaran di luar.


Nenek itu berhenti berjalan. Perlahan menoleh ke Lukman.


"Mau pulang," kata nenek itu datar.


"Memangnya rumahnya di mana, Nek?"


Duh Lukman kepo banget sih. Sumpah.


"Di sana." Nenek itu menunjuk ke arah depan.


"Saya kok baru pernah liat nenek ya?" tanya Lukman.


Dia beberapa kali memang selalu berurusan dengan para lansia untuk prokernya. Jadi dia lebih hafal ketimbang kami.


"Iya, nenek memang baru,"Kata nenek itu dingin.


"Baru dari mana, Nek?"


"Baru bangkit dari kubur!" sambil tertawa melengking


Tawa nenek itu mirip banget kaya nenek lampir di film misteri gunung merapi jaman aku SD. Kami yg mendengarnya langsung melotot. Lukman diam membeku di sana. Lalu terdengar bunyi..


Kreeeekkk!!


Dan jatuhlah kepala nenek itu ke tanah.


Namun tawanya terus menggema di telinga kami.


"Masuuuuuukkk!!"teriak Wicak.


Kami lalu berebut masuk ke dalam rumah. Tapi Lukman masih diam saja di sana.


"Cak! Lukman!!!" Jerit ku sambil memukul lengan Wicak karena panik.


Wicak garuk garuk kepala lalu berlari ke depan dan segera menyeret Lukman masuk ke rumah.


Pintu kami kunci, korden juga kami tutup rapat.


"Ya Allah. Kok masih aja ya ada ginian," rengek Nadia.


Aku melirik jam dinding di ruang tamu.


Pantesan, ini sudah pukul 23.00


Memang sudah waktunya mereka keluar. Kami saja yg kurang kerjaan. Harusnya tidur. Malah masih brisik di luar.


"Mending kita tidur aja yuk. Udah malem nih. Besok kan kita harus kerja bakti kan," kataku ke mereka.


Satu persatu mereka masuk ke kamar masing masing. Aku pun juga masuk ke kamar bersama Ferli.


Kucoba untuk memejamkan mata.


Rasa kangen yg tadi ku rasakan hilang sudah. Mending cepat pulang deh kalo gini. Beneran..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi pagi sekali kami memasak banyak makanan. Rencananya kami ingin menyumbang makanan untuk kerja bakti di desa sebelah.


Para pria sudah duluan ke sana untuk membantu warga.


Sekitar pukul 11 siang, masakan kami selesai. Lalu kami berangkat ke desa sebelah dengan masakan kami.


Di sana sudah ada beberapa ibu ibu yg juga memberikan makanan ke warga yg kerja bakti.


"Akhirnya ya, desa itu gak lagi jadi desa angker. Rasanya lega banget, kita bisa bikin perubahan sebesar ini untuk desa sebelah," ucap Indah dengan mata berkaca kaca.


"Iya, Ndah. Aku juga lega banget. Seenggaknya tempat itu akan jadi lebih bermanfaat nantinya," sahutku.


"Eh, kita jalan jalan bentar yuk ke dalem. Pengen lihat untuk terakhir kali nya deh.." ajak Ferli.


"Ayok," sahut Nadia semangat.


Kami lalu masuk ke desa itu. Hampir semua rumah rumah sudah rata dengan tanah. Beberapa barang dan benda yg tersisa dikumpulkan dan akan dibakar.


Dari kejauhan aku melihat sebuah boneka beruang yg sudah kotor.


Kudekati dan kuambil.


"Nis, mau ngapain?" tanya Yola menyelidik.


"Masih bagus ya. Aku bawa pulang aja kali ya buat kenang kenangan, " Kataku sambil kutepuk tepuk boneka itu agar debunya hilang.


"Jangan nis!! Tinggal aja deh!!"katanya serius.


"Kenapa? Dari pada dibakar, sayang tau.."aku masih saja ngeyel.


"Nisa.. Mending jangan deh.. Boneka kan bisa kamu beli aja di toko. Nggak perlu bawa dari sini. Feeling ku gak enak tau.." Yola lagi lagi memperingatkan ku.


"Kenapa sih ini?" tiba tiba Indah muncul di belakangku.


"Ini si Nisa, masa boneka nya mau dibawa pulang.. Kalo tu boneka ada yg punya gimana? Terus ngikut sampe rumah??" kata Yola lalu pergi meninggalkan kami.


"Iya nis, bener kata Yola.. Lagian kamu kan punya boneka bejibun. Masih kurang??" Indah ikut sewot.


"iya iya.. Aku tinggal nih." Kembali ku letakan boneka itu di tempat tadi.


Sesekali aku menoleh untuk melihat boneka itu sebelum pergi dari sini.


Sekarang sudah pukul 15.00


Kami memutuskan pulang karena rasanya juga sudah capek banget.


Warga juga banyak yg sudah pergi, karena besok akan dilanjutkan lagi.


Sampai di posko, aku langsung ke kamar mandi dengan sedikit berlari, karena ingin buang air kecil.


Dari tadi nahan, sampai perut agak sakit.


"Nis!!!! Nisaaaaaaa!!" teriak Indah dari depan.


Aku buru buru keluar dan menemui Indah. Dia heboh banget. Kenapa sih?


"Kenapa ndah?" tanyaku. Kulihat dia dan Ferli memandang ke kamar dengan wajah pucat.


"Kan udah aku bilang, bonekanya jangan dibawa!! Kamu kok ngeyel sih dibilangin!!" gerutu Indah kesal.


"Lah emang gak aku bawa. Kan tadi aku balikin lagi??" kataku heran.


"Terus itu apa????" Tanyanya lagi.


Ferli bergidik ngeri lalu ngacir ke teras.


Aku mendekat ke Indah.


Deggg!!


Boneka itu sudah ada di atas ranjang ku.


Gak mungkin. Aku inget banget, kalo bonekanya udah aku taruh lagi.


Masa udah di sini aja?


Gak mungkin jalan sendiri kan itu??


"Sumpah ndah.. aku gak bawa.."kataku melotot ke boneka itu.


"Duh kan... Mulai lagi nih, Cak!! Wicaaaaaaak!!"teriak Indah lalu mencari Wicak keluar.


Tak lama mereka masuk lagi dan melihat ke kamarku. Wajah mereka mendadak pucat.


"Nis..." Wicak hendak bertanya namun langsung kupotong kalimatnya.


"Jangan tanya kenapa tu boneka ada di sini!! Karena aku gak tau!!"kataku kesal.


Aku berjalan keluar dan duduk di teras.


Kutekan kepalaku karena aku benar benar stres. Ku pikir teror di desa ini sudah berakhir. Lalu ada apa lagi?


Aku sudah lelah. Benar benar lelah.


"Aku ke rumah ustadz ya, kubawa boneka nya.."kata wicak lalu dia pergi ditemani Faizal.


Terserah deh.


Sampai malam wicak belum juga pulang. aku khawatir sekali. Kenapa dia pergi selama itu?


Namun tiba tiba dia sudah muncul dari pintu depan bersama Faizal dengan wajah lebih berseri.


"Gimana cak??"tanyaku.


"Udah diamanin pak ustadz nis. Kamu tenang aja."kata wicak.


Fyuuuuh


Kuputus kan untuk sholat isya dulu dan kubacakan doa untuk warga desa sebelah, agar mereka tenang di sana.


Selesai sholat aku packing barang barangku karena besok kami akan pulang.


Ferli agak rempong malam ini, karena bawaan nya yg banyak bkin dia pusing buat bebenah.


Akhirnya pulang juga.


Kangen Indra deh. Dia lagi ngapain ya sekarang?