
Hari ini Indra sudah pulang ke rumah. Dan pagi pagi sekali dia sudah ada di rumahku. memang susah menjadi kebiasaannya jika sedang libur, akan ada acara antar jemput yang merupakan agenda wajib kami. Agar hubungan kami tetap awet dan terjaga, di tengah waktu yang jarang sekali membuat kami bersama sama seperti pasangan yang lain.
Kami sarapan bersama. Pagi ini rasanya pagi yang sempurna buatku. Karena ada Indra juga.
"Nis... inget kata kata kakak kemaren," kata kak Adam di tengah sarapan sambil melirik Indra.
"Iya kak." Aku mendengus sambil melotot ke Kak Adam. Rasanya sarapan sempurna ku bisa berantakan jika pembicaraan ini dilanjutkan.
"Indra masih libur, ya?" tanya papah.
"Iya, Pah. Masih libur 2 hari. Lusa baru Indra masuk kerja lagi."
"Bagus deh. jadi Nisa ada yang anter jemput. Jangan sampai dianter jemput orang lain." kak Adam kembali mengungkit Anjar. kak Shinta yang melihat kekesalanku lantas menyenggol kaki kak Adam. Agar menghentikan perkataannya lagi.
"Memang kamu dianter jemput siapa, Nis?" tanya Indra agak curiga.
"Pak Bowo lah. Kadang kak Yusuf," elakku.
**
Saat dimobil Indra sepertinya masih penasaran dengan kata kata kak Adam. Dia memang pintar, cepat tanggap dengan keadaan sekitar. Pantas saja dia jadi polisi.
"Di kantor udah dapet temen, Nis?" tanyanya memecah kesunyian.
"Udah, Ndra. 1 divisi aja sih yang akrab. Soalnya kan ketemu tiap hari," sahutku santai.
"Kamu pernah dianter pulang temen kantor?" tanya Indra penuh selidik.
Aku harus jujur, daripada bohong malah nanti bakal jadi masalah dikemudian hari.
"Pernah 1 kali, dianter Anjar. Pas hari pertama itu, aku balik duluan gara gara perkenalan sama mas Eka."
"Mas Eka itu siapa?"
"Arwah yang gentayangan di kantor, Ndra," jelasku.
Aku lalu menceritakan apa yang kualami di kantor beberapa hari ini. Aku juga cerita tentang Anjar, Mia, Dimas dan semua teman temanku di kantor.
Kejujuran dan komunikasi yang baik adalah salah satu kunci keharmonisan hubungan kami.
Sampai lobi kantor ada Anjar, Dimas, Mia, Yuli. mereka menghampiriku dan Indra.
"Nisa... cie, siapa ini?" tanya Mia.
"Kenalin temen temen... ini Indra. Calon suami aku. Insha Allah beberapa bulan lagi kami mau nikah," kataku terus terang. Mereka terlihat antusias dan berjabat tangan bergantian dengan Indra. Setelah basa basi sebentar, Indra pamit pulang.
"Kamu mau ke mana habis ini?" tanyaku.
"Ke rumah kamu, ada perlu sama kak Adam. Tadi kak Adam nyuruh aku balik lagi ke rumah."
"Oh gitu. ya udah.. hati hati ya di jalan."
Teman temanku masih di loby, menungguku. Indra mengecup keningku, lalu pergi ke mobilnya. Ku perhatikan memang sikap Anjar agak berubah, dia agak pendiam.
Apa benar kata kak Adam, tentang Anjar?
***
Kami kembali ke ruangan dan bekerja seperti biasa. Semoga hari ini tidak ada kejadian aneh aneh lagi.
Beberapa jam berlalu, keadaan aman, tenang tanpa gangguan.
Sampai saat Yuli menekan nekan tengkuknya terus sambil memutar mutar kepalanya.
"Kenapa, Yul?" tanyaku.
Yuli menggeram. membuat teman teman yang lain berdiri dan berkumpul di sudut ruangan.
"Nis... kenapa tuh Yuli?" tanya Mia.
Aku masih duduk di kursiku sambil mengamati Yuli.
"Panggil pak Dikin!!" perintahku.
Dimas kemudian keluar perlahan dan berlari ke Pantry. Aku mencoba berkonsentrasi dengan yang ada di hadapanku.
Tak lama aku melihat sosok mas Eka duduk di bahu Yuli.
Itulah sebabnya Yuli memegang bahunya terus.
Aku mencoba membaca doa dalam hati.
Saat aku memejamkan mata aku seperti melihat kejadian yang terjadi dulu.
Saat mas Rka beradu mulut dengan mas Galih. Mereka terlibat masalah kantor, lalu mas Galih yang lebih senior dari mas Eka memaki maki mas Eka yanh membuat semua orang memperhatikan mereka.
Mas Eka langsung pergi ke lantai atas. Dan tak lama terdengar suara gaduh di luar kantor. Setelah dilihat mas Eka lompat dari lantai atas kantor ini dan meninggal saat itu juga.
"Mba Nisa." Suara pak Dikin menyadarkanku.
Aku tidak pingsan tadi. Karena posisiku masih sama, duduk di belakang meja kerjaku.
Pak Dikin membaca beberapa doa lalu Yuli pingsan.
Yuli segera dibawa ke Puskesmas terdekat. Bahunya terlihat kehitaman. Karena aku ikut mengantarkan ke Puskesmas dengan Mia dan Anjar juga .
Setelah sampai kantor, Yuli tadi diantarkan Anjar pulang ke rumahnya.
"Nis, gimana Yuli?" tanya Dimas.
Aku masih duduk bersebelahan dengan Mia Di sofa dekat ruang kerja kami, kami merasa lelah sekali.
"Kalian tau nggak, siapa itu mas Eka yang bunuh diri dulu? rumahnya atau semua tentang dia deh." Entah kenapa aku jadi penasaran, aku hanya ingin semua normal, sehingga kami bisa bekerja dengan baik.
"Denger denger mas Eka itu tinggal di deket kantor, Nis. Kompleks belakang itu loh," tunjuk Dimas
"Kamu tau, Mas? rumahnya di sebelah mana tepatnya?"
"Kamu mau ngapain sih, Nis?" tanya Mia heran.
"Pengen main ke sana."
" ih nggak usah aneh aneh deh, Nis. nggak usah ikut campur urusan mereka. biar aja," kata Mia.
"Masih ada yang nggak beres, Mi. Aku pengen tau aja kenapa, mas Eka atau jin qarinnya mas Eka masih aja berkeliaran di sini."
"Ya udah, kapan mau ke sana?" tanya Dimas.
"Nanti sore aja deh, pulang kerja. Gimana?"
"Ayok deh.. Aku anter. Kamu ikut yuk, Mi," ajak Dimas.
"Hmm.. ya udah deh.. Eh, ajak Anjar sekalian, ya," kata Mia sambil senyam senyum.
"Iya."
***
Sorenya kami sepakat akan ke rumah mas Eka.
Aku, Mia, Dimas,dan Anjar.
Indra juga ikut karena dia sudah datang menjemputku tepat saat kami keluar kantor.
Aku berlari kecil ke Indra.
"Kita ke rumah mas Eka dulu ya, Ndra. Sama temen temen."
"Mau apa?" tanyanya lembut.
"Eum.. entahlah.. aku ngrasa pengen tau aja, sebenernya kenapa sampai mas Eka nggak tenang. Tadi aja Yuli kesurupan."
"Ya udah.. yuk," ajaknya menuju teman temanku yang berkumpul di depan kantor.
Kami pergi bersama sama berjalan kaki, karena jalurnya hanya gang sempit.
Dimas berjalan di depan bersama
Anjar dan Mia. aku di belakang dengan Indra.
Setelah bertanya sana sini kami sampai di sebuah rumah sederhana sekali.
Dimas mengetuk pintu rumah itu, lalu keluar lah seorang ibu yang kira kira berumur 50 tahunan.
Kami mengutarakan maksud kedatangan kami.
Ibu itu terlihat menangis sedih, karena gosip yang didengar tentang anaknya memang benar adanya.
"Sebelum mas Eka meninggal, Dia pernah cerita sesuatu ke ibu?" tanyaku.
"Iya, katanya dia sedang ada masalah di kantornya. Dia dituduh melakukan korupsi yang ibu yakin anak ibu tidak mungkin melakukan itu mba," terang ibu itu.
Mungkin aku sudah bisa membaca ke arah mana masalah ini sebenarnya.
Pasti mas Galih yang menuduh mas Eka melakukan korupsi.
Berarti aku juga harus ke tempat mas Galih, untuk mengkonfirmasi nya.
Aku menyerahkan sejumlah uang ke ibu itu..
"Maaf bu, ini saya ada sedikit uang, mungkin bisa digunakan untuk mengadakan pengajian mendoakan mas Eka," kataku sambil menyerahkan amplop coklat.
"Duh mba. terima kasih banyak ya mba. Memang saya berniat mau mengadakan pengajian untuk Eka, tapi belum ada biaya nya."
Teman teman ku menatapku bingung. Kami lalu pamit untuk pulang, karena hari sudah semakin sore. Bahkan mendekati maghrib.
Aku harus bisa membersihkan nama mas Eka agar beliau tenang.
"Eh, Rumah Sakit yang ngerawat mas Galih di mana ya, Dim?" tanyaku ke Dimas, sambil berjalan di lorong gang sempit menuju jalan besar dekat kantor.
"Rumah sakit sini aja kok, Nis. Cuma 1 kan RSJ di kota ini."
Aku mengangguk mengerti.
"Eh, Nis. kamu nggak bilang mau kasih duit, kan kita bisa patungan." Mia menengok ke arahku sambil berkacak pinggang.
"Hehe. ya besok kita patungan lagi, namanya pengajian kan jangan cuma sekali, Mi."
"Iya, yah. Besok aku minta temen yang lain juga, siapa tau banyak yang mau ngasih, Nis."
"Sip," kataku.
Indra hanya mengelus kepalaku sambil tersenyum.
Di ujung jalan depan aku melihat seseorang diam dan menunduk terus melihat ke bawah.
Mas Eka!
Jujur, aku sedang tidak ingin melihatnya sehingga aku gandeng Indra. Saat melewatinya, sosok itu hilang. Hanya meninggalkan bau anyir yang menyengat.
"Bau apaan sih ini, ya?" tanya Dimas yang menyadari pertama kali sampai menutup hidungnya.
"Udah, cepet jalannya. Mau maghrib nih," kataku masih menggandeng Indra.
***
Hari ini Indra sudah pulang ke rumah. Pagi pagi dia sudah ada di rumahku hendak mengantarkanku kerja.
Kami sarapan bersama.
"Nis.. inget kata kata kakak kemaren."kata kak Adam ditengah sarapan sambil melirik Indra.
"Iya kak"aku agak melotot ke kak Adam.
"Indra masih libur ya?"tanya papah.
"Bagus deh.. jadi Nisa ada yang anter jemput. Jangan sampai dianter jemput orang lain"kak Adam kembali mengungkit Anjar.
Lalu kak Shinta menyenggol kaki kak Adam.
"Memang kamu dianter jemput siapa Nis?" Indra agak curiga.
" dianter Pak Bowo lah..kadang kak Yusuf."aku masih coba tenang.
Ini kak Adam maksudnya apaan sih ? orang aku sama Anjar nggak ada apa apa kok.
**
Saat dimobil Indra sepertinya masih penasaran dengan kata kata kak Adam. dia memang pintar, cepat tanggap dengan keadaan sekitar. Pantas saja dia jadi polisi.
"Di kantor udah dapet temen Nis?"tanyanya memecah kesunyian.
"Udah Ndra. 1 divisi aja sih yang akrab. Soalnya kan ketemu tiap hari."kataku santai.
"Kamu pernah dianter pulang temen kantor?"tanya Indra penuh selidik.
Aku harus jujur, daripada bohong malah nanti bakal jadi masalah dikemudian hari.
"Pernah 1 kali, dianter Anjar. Pas hari pertama itu, aku balik duluan gara gara perkenalan sama mas Eka.."
"Mas Eka itu siapa?"
"Arwah yang gentayangan di kantor Ndra.."jelasku.
Aku lalu menceritakan apa yang kualami dikantor beberapa hari ini. Aku juga cerita tentang Anjar, Mia, Dimas dan semua teman temanku dikantor.
Kejujuran dan komunikasi yang baik adalah salah satu kunci keharmonisan hubungan kami.
Sampai lobi kantor ada Anjar, Dimas, Mia, Yuli. mereka menghampiriku dan Indra.
"Nisa... , cieee..siapa ini?"tanya Mia .
"Kenalin temen temen.. ini Indra... Calon suami aku.. Insha Allah beberapa bulan lagi kami mau nikah," kataku terus terang.
Mereka berjabat tangan bergantian.
Lalu Indra pamit pulang.
"Ya udah,aku pulang dulu ya.."
"Kamu mau ke mana habis ini?" tanyaku.
"Ke rumah kamu, ada perlu sama kak Adam. Tadi kak Adam nyuruh aku balik lagi ke rumah."
"Ohh gitu.. ya udah.. atiati ya di jalan.."
Teman temanku masih di loby ,menungguku.
Indra mengecup keningku, lalu pergi ke mobilnya.
Kuperhatikan memang Anjar agak berubah sikapnya.
Apa benar kata kak Adam, tentang Anjar?
***
Kami kembali ke ruangan dan bekerja seperti biasa.
Semoga hari ini tidak ada kejadian aneh aneh.
Beberapa jam berlalu, keadaan aman, tenang tanpa gangguan.
Sampai saat Yuli menekan nekan tengkuknya terus sambil memutar mutar kepalanya.
"Kenapa Yul?"tanyaku yang dibelakangnya.
"Hhhhrrrrrrr..."hanya itu jawaban dari Yuli. membuat teman teman yang lain berdiri dan berkumpul dipojok ruangan.
"Nis... kenapa tuh Yuli?"tanya Mia.
Aku masih duduk di kursiku sambil mengamati Yuli.
"Panggil pak Dikin!!"perintahku.
Dimas kemudian keluar perlahan dan berlari ke Pantry .
Aku mencoba berkonsentrasi dengan yang ada dihadapanku.
Tak lama aku melihat sosok mas Eka duduk dibahu Yuli.
Itulah sebabnya Yuli memegang bahunya terus.
Aku mencoba membaca doa dalam hati.
Saat aku memejamkan mata aku seperti melihat kejadian yang terjadi dulu.
Saat mas Rka beradu mulut dengan mas Galih.
Mereka terlibat masalah kantor, lalu mas Galih yang lebih senior dari mas Eka memaki maki mas Eka yanh membuat semua orang memperhatikan mereka.
Mas Eka langsung pergi kelantai atas. Dan tak lama terdengar suara gaduh diluar kantor. Setelah dilihat mas Eka lompat dari lantai atas kantor ini dan meninggal saat itu juga.
"Mba Nissaaaa"suara pak Dikin menyadarkanku.
Aku tidak pingsan tadi. Karena posisiku masih sama, duduk di belakang meja kerjaku.
Pak Dikin membaca beberapa doa lalu Yuli pingsan.
Yuli segera dibawa ke Puskesmas terdekat. Bahunya terlihat kehitaman. Karena aku ikut mengantarkan ke Puskesmas dengan Mia dan Anjar juga .
Setelah sampai kantor, Yuli tadi diantarkan Anjar pulang ke rumahnya.
"Nis, gimana Yuli?"tanya Dimas.
Aku masih duduk bersebelahan dengan Mia Di sofa dekat ruang kerja kami, kami merasa lelah sekali.
"Kalian tau nggak, siapa itu mas Eka yang bunuh diri dulu? rumahnya atau semua tentang dia deh" entah kenapa aku jadi penasaran, aku hanya ingin semua normal, sehingga kami bisa bekerja dengan baik.
"Denger denger mas Eka itu tinggal dideket kantor Nis.. Kompleks belakang itu loh Nis.."kata Dimas
"Kamu tau Mas? rumahnya disebelah mana tepatnya?"
"Kamu mau ngapain sih Nis?" tanya.Mia heran.
"Pengen main ke sana.."
" ih nggak usah aneh aneh deh Nis. nggak usah ikut campur urusan mereka.. biar aja.."kata Mia cuek.
"Masih ada yang nggak beres mi.. Aku pengen tau aja kenapa, mas Eka atau jin qarinnya mas Eka masih aja berkeliaran disini.."
"Ya udah, kapan mau kesana?"tanya Dimas.
"Nanti sore aja deh, pulang kerja. Gimana?"
"Ayok deh.. Aku anter. Kamu ikut yuk Mi.."ajak Dimas.
"Hmm.. ya udah deh.. Eh, ajak Galih sekalian, ya."kata Mia sambil senyam senyum.
"Iyaaaa... "Dimas
***
Sorenya kami sepakat akan ke rumah mas Eka.
Aku, Mia, Dimas,dan Anjar.
Indra juga ikut karena dia sudah datang menjemputku tepat saat kami keluar kantor.
Aku berlari kecil ke Indra.
"Kita ke rumah mas Eka dulu ya Ndra..sama temen temen."
"Mau apa?"tanyanya lembut.
"Eum.. entahlah.. aku ngrasa pengen tau aja, sebenernya kenapa sampai mas Eka nggak tenang. Tadi aja Yuli kesurupan"
"Ya udah.. yuk.."ajaknya menuju teman temanku yang berkumpul didepan kantor.
Kami pergi bersama sama berjalan kaki, karena jalurnya hanya gang sempit.
Dimas berjalan didepan bersama
Anjar dan Mia.. aku dibelakang dengan Indra.
Setelah bertanya sana sini kami sampai disebuah rumah sederhana sekali.
Dimas mengetuk pintu rumah itu, lalu keluar lah seorang ibu yang kira kira berumur 50 tahunan.
Kami mengutarakan maksud kedatangan kami.
Ibu itu terlihat menangis sedih, karena gosip yang didengar tentang anaknya memang benar adanya.
"Sebelum mas Eka meninggal, Dia pernah cerita sesuatu ke ibu?"tanyaku.
"Iya, katanya dia sedang ada masalah dikantornya. Dia dituduh melakukan korupsi yang ibu yakin anak ibu tidak mungkin melakukan itu mba.."terang ibu itu.
Mungkin aku sudah bisa membaca ke arah mana masalah ini sebenarnya.
Pasti mas Galih yang menuduh mas Eka melakukan korupsi.
Berarti aku juga harus ke tempat mas Galih, untuk mengkonfirmasi nya.
Aku menyerahkan sejumlah uang ke ibu itu..
"Maaf bu, ini saya ada sedikit uang, mungkin bisa digunakan untuk mengadakan pengajian mendoakan mas Eka."kataku sambil menyerahkan amplop coklat.
"Duh mba.. terima kasih banyak ya mba. Memang saya berniat mau mengadakan pengajian untuk Eka, tapi belum ada biaya nya."
Teman teman ku menatapku bingung. Kami lalu pamit untuk pulang, karena hari sudah semakin sore. Bahkan mendekati maghrib.
Aku harus bisa membersihkan nama mas Eka agar beliau tenang.
"Eh, Rumah Sakit yang ngerawat mas Galih di mana ya, Dim?"tanyaku ke Dimas, sambil berjalan di lorong gang sempit menuju jalan besar dekat kantor.
"Rumah sakit sini aja kok, Nis. Cuma 1 kan RSJ di kota ini."
Aku mengangguk mengerti.
"Eh, Nis. kamu nggak bilang mau kasih duit, kan kita bisa patungan." Mia menengok ke arahku sambil berkacak pinggang.
"Hehe. ya besok kita patungan lagi, namanya pengajian kan jangan cuma sekali, Mi."
"Iya, yah. Besok aku minta temen yang lain juga, siapa tau banyak yang mau ngasih, Nis."
"Sip," kataku.
Indra hanya mengelus kepalaku sambil tersenyum.
Di ujung jalan depan aku melihat seseorang diam dan menunduk terus melihat ke bawah.
Mas Eka!
Jujur, aku sedang tidak ingin melihatnya sehingga aku gandeng Indra. Saat melewatinya, sosok itu hilang. Hanya meninggalkan bau anyir yang menyengat.
"Bau apaan sih ini, ya?" tanya Dimas yang menyadari pertama kali sampai menutup hidungnya.
"Udah, cepet jalannya. Mau maghrib nih," kataku masih menggandeng Indra.
***