
Tentu saja tidak akan semudah itu pecah seperti keinginan mereka. Karena patung batu itu benar benar sangat kuat. Daniel bingung dengan sikap Armand yang tampak sangat emosi. Dia bahkan tidak pantang menyerah untuk menghancurkan benda tersebut.
Hingga samar samar, Daniel mulai mendengar beberapa orang yang sedang berbicara.
"Man, ayo, pergi! Ada orang!" Bisik Daniel lalu menarik Armand bersembunyi di semak semak tak jauh dari makam. Mereka tidak bisa pergi jauh, karena suara langkah kaki tadi sudah mulai dekat.
"Sepertinya anak anak muda itu harus secepatnya kita singkirkan. Kapan upacara persembahan nya? Kau lihat, kan, kalau mereka sudah berani membawa Kyai ke desa kita! Itu benar benar berbahaya!" Ucap seseorang yang ternyata itu adalah kepala desa.
"Benar, Pak. Saya juga kaget, ternyata mereka membawa Kyai ke sini. Tapi saya yakin kalau Kyai itu tidak bisa berbuat apa apa. Dia bukan tandingan Nyai," Ucap pria lain yang ternyata adalah Pak Rt.
Mereka berjalan hingga sampai di depan mata air. Lalu berhenti di sana. Dua pria yang Armand dan Daniel kenal sebagai perangkat desa, justru mengejutkan mereka dengan kalimat kalimat tadi.
"Yang mereka maksud anak muda itu... Kita, kan?" Tanya Armand berbisik.
"Benar. Saya yakin begitu. Lalu mereka bilang persembahan? Maksudnya kita akan dijadikan persembahan?" Tanya Daniel.
Mereka terus mengawasi dua pria paruh baya itu. Informasi yang mereka dengar tentu sangat penting dan menyangkut hidup mereka semua.
Pak Rt dan Pak Kades melakukan ritual seperti sedang berdoa dengan menangkup kan kedua telapak tangan ke depan dada. Mereka diam beberapa saat seolah olah sedang melakukan komunikasi dengan patung di hadapan mereka sekarang.
"Bagaimana, Pak Kades? Sudah tahu kapan persembahan dimulai?" Tanya Pak Rt saat Pak Kades sudah menyelesaikan ritualnya.
"Yah, karena waktu kita sedikit, maka malam ini juga kita atur persembahan untuk mereka semua."
"Tapi bagaimana dengan Kyai itu?"
"Sekalian saja dia kita jadikan tumbal. Bukan, kah, semakin banyak dan kuat tumbal yang kita berikan, maka kekayaan kita akan semakin banyak?"
"Wah, benar juga, Pak. Baiklah saya akan menyiapkan semuanya. Malam ini adalah akhir dari mereka semua."
Daniel terkejut, dia bergerak mundur namun justru membuat suara yang cukup nyaring hingga bisa didengar dua orang tadi. Alhasil Pak Kades dan Pak Rt menoleh bersamaan ke tempat persembunyian mereka.
"Siapa itu?" Tanya Pak Kades.
Armand dan Daniel saling tatap. Jantung mereka berdegup semakin cepat saat melihat kalau Pak Kades dan Pak RT mulai berjalan mendekat.
"Kalian sedang apa di sini?" Tanya Pak Sobri. Yang tiba tiba muncul di pintu utara makam.
Pak Sobri melirik ke arah Armand dan Daniel karena dari posisinya sekarang dua mahasiswa itu bisa terlihat dengan sangat jelas.
"Kenapa? Kami tidak boleh berziarah? Memangnya makam ini milikmu?" Tanya Pak RT ketus.
"Memangnya kalian punya sanak saudara di sini? Bukannya sudah kalian ungsikan semua keluarga kalian keluar dari desa ini?"
"Hei, Sobri! Tidak usah ikut campur urusan kami. Sebaiknya kau urus saja urusanmu."
Pak Kades dan Pak Rt lantas segera pergi dari tempat itu. Akhirnya Armand dan Daniel bisa bernafas lega. Begitu dua perangkat desa itu pergi, mereka berdua pun keluar dari tempat persembunyian.
"Kalian sedang apa di sini?" Tanya Pak Sobri saat mereka berdua berjalan mendekati pria itu.
"Kami... Kami nggak sengaja ke sini, Pak. Tapi tadi... Kami... Mendengar mereka bilang kalau.... "
"Yah, akhirnya kalian tahu sendiri kebenarannya, kan? Aku pun sudah dengar. Makanya aku masuk untuk menyelamatkan kalian."
"Jadi... Jadi maksudnya kami benar benar akan dijadikan tumbal?"
"Ssst. Sebaiknya kita jangan membahas hal itu di sini. Walau saat siang hari dia tidur, tapi bisa saja dia mendengar percakapan ini."
Mereka bertiga akhirnya pulang ke rumah posko. Kebetulan semua orang kini sudah pulang, setelah melakukan proker selama seharian.
Derry lantas keluar dari dalam rumah dengan cangkir kopi yang ada di tangannya. "Eh, kalian ke mana aja sih? dicari-cari juga!"
"Ada hal penting yang harus kita bahas bareng-bareng. Ayo, masuk!" Ucap Armand.
Dengan tampang yang kebingungan Dolmen dan Deri akhirnya masuk ke dalam rumah mengikuti mereka bertiga. Kyai juga sedang duduk di ruang tamu. Mereka juga seperti yang sedang membahas sesuatu yang serius. Karena saat mereka melihat Pak Sobri muncul, gurat wajah semua orang yang ada di sana seperti menyiratkan sesuatu.
"Kalian dari mana?" Tanya Khusnul.
"Teman teman, dan Kyai. Padahal penting yang harus kita bahas sekarang dan ini benar-benar darurat," Kata Daniel.
"Kenapa?"
" Malam ini kita akan dibunuh. Kita semua, bahkan Kyai juga," Ucap Armand.
"Heh! Armand! Jangan main-main deh!"
" Maksud lo apa, Man? Siapa yang mau membunuh kita?"
"Iya, Terus kalau kita mau dibunuh kok lu bisa tahu?"
" jadi tadi gue sama Daniel ada di makam terus tiba-tiba datanglah Pak Kades dan Pak RT. Ternyata mereka adalah pengabdi iblis yang ada di dalam patung itu. Mereka menumbalkan manusia untuk mendapatkan kekayaan. Dan nanti malam adalah giliran kita yang akan ditumbalkan."
"Hah! Yang bener!"
"Terus gimana dong!"
"Ih, gue pengen pulang."
"Kita kabur aja, yuk!"
"Tidak bisa. Kita tidak bisa kabur ke mana mana. Karena saya yakin, kalau mereka sudah menyusun rencana. Yang bisa kita lakukan adalah melawan," Ucap Kyai.
"Melawan, Kyai? Bagaimana caranya? Sementara kita berhadapan dengan makhluk halus yang kuat dan warga desa!" Pekik Cendol.
"Bisa. Kan kita belum mencobanya. Kenapa kalian sudah menyerah? Sebenarnya saya sudah tahu siapa dalang di balik seluruh masalah di desa ini. Dan, saya menemukan ini di goa itu," Kata Kyai.
Pandu lantas mengeluarkan bungkusan kain putih, lalu saat isinya dikeluarkan mereka terkejut karena melihat boneka jelangkung di sana.
"Boneka jelangkung? Itu untuk apa, Kyai?" Tanya Ike.
"Itu buat manggil setan, Sayang. Masa kamu nggak tahu," Sahut Derry.
Kyai tersenyum. "Yah, memang fungsi dari boneka ini adalah untuk memanggil arwah, setan atau makhluk halus lainnya. Tetapi ada yang aneh dengan boneka ini."
"Apa Kyai?"
"Ada barisan doa yang menutupi boneka ini, namun, saya hanya menemukan sisa nya saja. Karena semua penutup aslinya sudah terbakar. Saya percaya, kalau seseorang sengaja menyegel makhluk itu ke dalam boneka ini, tapi ada orang lain yang melepaskannya hingga makhluk itu pindah ke obyek lain, patung batu itu."
"Jangan jangan yang menyegel nya itu kakeknya Armand!" Pekik Derry.
"Iya, benar. Saya dan leluhur saya sebenarnya bertugas menjaga benda itu agar tidak di rusak. Saya sengaja meletakkannya di goa agar tidak ada yang bisa menemukannya. Tapi tiba tiba saya mendapati boneka itu dalam keadaan setengah gosong. Jadi benda itu adalah kelemahan merihim, Kyai?" Tanya Pak Sobri.
"Betul, Pak Sobri. Boneka ini bukan hanya dijadikan wadah saja, tapi inilah kelemahan makhluk itu. Maka dari itu, saat boneka ini terbakar, api tersebut tidak membakar seluruh boneka ini dan hanya menyentuh kain luarnya saja."
"Jadi, untuk menyingkirkan makhluk itu, kita harus menghancurkan boneka jelangkung ini?" Tanya Sule..
"Tidak. Makhluk itu tidak akan dimusnahkan, karena dia sangat kuat. Dan boneka ini seperti tubuh intinya. Jadi kita harus kembali menyegel makhluk itu ke dalam boneka ini. Karena saat di dalam sini, dia tidak akan bisa berbuat apapun."