Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
20. Sosok itu Kinanti


Sudah hampir pukul 02.00 dini hari. Tapi antusias warga untuk mencari anak itu masih tinggi. Mereka terus memanggil nama anak tersebut, berharap anak yang dimaksud bisa mendengar suara mereka.


"Gibran!"


"Gibran!"


Tua, muda, dewasa dan remaja semua ikut dalam pencarian ini. Hanya ibu ibu saja yang diam di rumah masing masing. Tentu mereka yang memiliki anak kecil, juga harus menjaga anak anak mereka di rumah.


"Pak, apa nggak ada cara lain selain mencari seperti ini?" tanya Aretha ke Pak RT yang memang ikut dalam pencarian.


"Betul, Pak. Desa ini kan, luas. Jadi rasanya akan membuang banyak waktu jika mencarinya seperti ini," tambah Radit.


"Tapi memang selama ini, kalau ada anak yang hilang karena diculik ummu Sibyan, kami mencarinya dengan cara ini, Mas. Sebelumnya memang ketemu. Dia justru menghampiri kami sendiri karena mendengar namanya di panggil panggil. Karena kita nggak tahu, jin ini tinggal di mana dan menyembunyikan anak anak di mana," jelas Pak RT.


"Duh, repot ya kalau begitu. Ya sudah kita lanjutkan saja, Pak," sahut Radit.


"Mas Radit dan Mbak Aretha sebaiknya pulang saja. Sebentar lagi pagi, kalian butuh istirahat," tukas Pak RT.


"Betul, Mas. Kasihan istrinya pasti capek, mana udara lagi dingin sekali sekarang," tambah warga lain.


Radit menoleh ke Aretha dan melihat bagaimana sayu nya mata sangat istri. "Eum, ya sudah. Maaf ya, Pak. Kami hanya bisa ikut sebentar untuk pencarian. Semoga segera diketemukan."


"Iya, Mas. Terima kasih sudah mau membantu."


Mereka berdua akhirnya pulang. Apalagi Aretha memang tampak tidak menolak ajakan Radit untuk menyudahi sebagai tim pencarian anak hilang itu. Mereka sampai ke rumah saat hampir pagi. Bahkan satu jam lagi azan subuh pertama berkumandang. Sampai di halaman rumah, Aretha tak sengaja menoleh ke kebun teh di depan rumah. Lagi lagi dia melihat wanita berbaju merah itu. Tangannya yang sedang digandeng Radit akhirnya menahan tangan itu dan membuat Radit menoleh ke arahnya.


"Kenapa, Sayang?"


"Itu, perempuan itu ada di sana!" kata Aretha sambil menatap ke arah wanita yang dimaksud.


Radit ikut melihat ke arah yang Aretha tatap. Rupanya dia pun melihatnya.


"Oh, jadi dia?"


"Kamu? Bisa lihat dia juga?" tanya Aretha terkejut.


"Iya, pakai baju merah, berdiri di tengah kebun teh, kan?"


"Iya, Dit."


Semalaman mereka berdua tidak tidur. Ancaman makhluk tak kasat mata langsung terasa bahkan baru beberapa hari mereka tinggal di sana.


"Kamu yakin mau kerja? Kamu nggak tidur loh, Dit. Apa bisa fokus nanti?" tanya Aretha sambil mengoleskan selai ke roti tawar untuk sarapan mereka.


"InsyaAllah, Sayang. Lagian aku banyak kerjaan hari ini. Kalau nanti udah nggak kuat, aku izin deh, ya. Tapi pagi ini aku harus berangkat soalnya ada meeting sama klien."


"Iya udah. Tapi beneran, ya. Jangan sampai kamu sakit karena nggak tidur semalaman."


"Siap, Nyonya besar."


Dari arah pintu belakang, muncul Bu Jum. Dia rupanya sudah datang pagi pagi ke rumah. Menyapa Aretha dan Radit yang berada di ruang makan, yang menjadi satu dengan dapur.


"Masuk, Bu. Pak Slamet sudah datang?" tanya Radit.


"Sudah, Mas. Ada di depan lagi menyiapkan material sambil nunggu Ratno datang."


"Ohiya sudah."


"Eh, Bu. Anak yang hilang semalam udah ketemu belum?" tanya Aretha.


"Oh, Gibran? Belum ketemu, Mbak. Kasihan sekali orang tuanya, mereka sudah pasrah. Tadi saja, pas saya berangkat ke sini kan lewat rumahnya, itu Ibunya Gibran lagi nangis terus. Karena kalau sampai pagi nggak ketemu, itu kemungkinan besar nggak akan pernah ditemukan," jelas Bu Jum.


"Memangnya pernah ada yang sampai nggak ketemu, Bu?"


"Pernah, Mas. Itu terjadi setahun lalu. Anaknya Pak Edi. Umurnya malah lebih besar dari Gibran. Dia sudah 10 tahun. Jadi ceritanya, waktu malam kejadian Satya lagi belajar di kamar. Itu pas banget azan isya. Rupanya jendela kamarnya itu belum terkunci. Korden di kamarnya bergerak karena tertiup angin. Nah, Satya ini otomatis melihat ke jendela, dan disaat yang bersamaan itulah, dia bertatapan sama jin itu. Ibunya yang nggak sengaja masuk ke kamar Satya, lihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana anaknya di ambil oleh jin itu. Duh, kasihan banget pokoknya. Sampai sampai Bu Edi itu harus dirawat di rumah sakit dan sampai sekarang dia masih kelihatan syok. Nggak pernah keluar rumah dan sering sakit sakitan."


"Itu Satya langsung dicari, kan, malam itu juga? Dan nggak ketemu gitu, Bu?" tanya Aretha antusias.


"Iya, Mbak. Setelah Bu Edi lihat Satya dibawa pergi, dia langsung teriak minta tolong. Warga pun keluar semua dan kami cari Satya sampai subuh. Saya juga ikut. Tapi nggak pernah ketemu sampai sekarang."


"Ya ampun. Kasihan banget. Kok bisa begitu, ya. Apa nggak pernah minta bantuan kyai atau ustaz untuk mencari Satya dan membuat jin itu pergi dari desa. Atau setidaknya berhenti meneror warga di sini?" tanya Radit.


"Sudah, Mas. Tapi belum ada hasilnya."


Dari pintu belakang kini muncul Pak Slamet dan Ratno. "Maaf, Mas Radit mobil pasirnya sudah datang," kata Pak Slamet sambil menunjuk ke arah depan.


"Oh, iya, Pak. Saya keluar."


Radit memang memesan pasir lagi untuk renovasi rumah tersebut dan dia harus membayar tagihan itu saat mobil pengangkut pasir datang.


"Mbak, saya mau minta maaf soal semalam. Suami saya nggak enak sekali soal kecerobohan kemarin soal kamar lantai atas," kata Bu Jum dengan ekspresi yang tidak nyaman.


"Oh, soal itu. Iya nggak apa apa kok, Bu Jum. Alhamdulillah kami nggak kenapa napa, Bu. Tapi sayangnya, jin itu malah mengincar anak lain. Itu yang saya sesalkan," ucap Aretha tulus.


"Iya, Mbak. Nggak ada satupun orang yang mau kejadian mengerikan itu terjadi, Mbak. Kita bantu doa saja, agar Gibran segera ketemu. Pak RT mau menggelar doa bersama, sekaligus menghadirkan Kyai dari kota. Semoga bisa membantu," tukas Bu Jum.


"Aamiin. Semoga membuahkan hasil yang baik, ya, Bu."


"Iya, Mbak. Ini saya masak dulu atau gimana, Mbak?" tanya Bu Jum yang sudah siap bekerja.


"Oh iya, Bu Jum. Saya rencananya mau masak gurame asam manis, tapi saya belum ambil ikannya di warung Bu Darsi. Bu Jum tolong ambilkan, ya. Badan saya rasanya nggak nyaman, mungkin karena efek nggak tidur semalaman."


"Baik, Mbak. Biar saya ambilkan ke warung. Mbak Aretha sudah pesan ya? Selain ikan gurame mau beli apa lagi, Mbak?" tanya Bu Jum.


"Bawang bombay sama tomat belum ada, Bu. Sekalian, ya. Sebentar saya ambil uangnya dulu," kata Aretha lalu bergegas kembali ke kamarnya.


Tak lama kemudian, Aretha kembali dengan satu lembar uang seratus ribuan, dan memberikannya ke Bu Jum.


"Oh iya, Bu Jum. Saya mau tanya sesuatu. Mungkin agak aneh tapi saya penasaran," kata Aretha saat Bu Jum hendak pergi.


"Mau tanya apa, Mbak?"


"Eum, apa ada warga desa di sini yang sering memakai baju warna merah?"


"Iya, Bu. Bukan baju seperti kaus gitu, tapi semacam gaun atau baju terusan yang warnanya merah," jelas Aretha lebih rinci.


"Ti-tidak ada, Mbak. Me-memangnya kenapa, Mbak?" tanya Bu Jum agak tergagap.


"Enggak apa apa kok, Bu. Saya cuma beberapa kali melihat dia berdiri di kebun teh depan rumah," tutur Aretha.


"Oh, tapi nggak ada yang seperti Mbak Aretha sebutkan. Mungkin, mungkin Mba Aretha salah lihat," timpal Bu Jum.


"Eum, iya ya. Bisa jadi. Ya sudah, Bu. Silakan kalau mau ke warung sekarang."


"I-iya, Mbak."


Bu Jum pun segera meninggalkan rumah, tapi sesekali tampak menoleh ke Aretha.


Aretha memutuskan masuk ke kamar, karena kondisi tubuhnya sedang tidak terlalu baik. Efek dari kejadian semalam rupanya langsung berdampak bagi tubuhnya. Dia langsung merebahkan diri di atas ranjang. Walau demikian Aretha tidak bisa tidur, dan dia memang tidak berniat tidur pagi. Karena tidur pagi itu tidak diperbolehkan. Dia hanya bermain ponsel sambil memeriksa sosial media miliknya yang sudah lama tidak tersentuh sejak mereka pindah ke desa itu. Apalagi sinyal yang kadang muncul dan hilang membuat Aretha enggan menyentuhnya.


"Danu? Lagi di mana dia? Pindah kerjaan lagi rupanya," gumam Aretha saat melihat sebuah foto muncul di beranda media sosial. Danu sedang berfoto di sebuah sungai yang tampak jernih dengan beberapa anak kecil di sekitarnya. Aretha pun mengetik di kolom komentar.


[Duh duh, lagi di mana, Pak Guru? Hawa hawa nya asyik banget tempatnya.]


Setelah mengetik Aretha meletakkan gawai miliknya di samping tubuh. Dia menatap langit langit kamar dan mengingat banyak hal terutama semua yang berkaitan dengan desa ini.


"Desa ini bener bener ngeri sih. Tapi kok bisa sih, aku ada di sini, di tempat yang bersebelahan sama dusun Kalimati. Mana setannya lebih ekstrem lagi."


Notifikasi di ponsel Aretha mengalihkan perhatiannya. Rupanya Danu langsung membalas komentar itu dengan cukup cepat.


[Iya, dong. Kali ini tempatnya asyik, Tha. Bebas dari perhantuan.]


Namun Danu pun juga mengirim pesan pribadi ke Aretha, dan obrolan mereka berlanjut ke pesan pribadi itu daripada di kolom komentar.


"Lo katanya ikut Radit? Gimana? Betah?" tanya Danu.


"Betah sih betah. Tapi lo tahu, nggak, Dan. Ternyata desa ini, desa yang gue tempatin sama Radit, tetangganya sama dusun Kalimati! Dan jin ummu Sinyal ada di sini."


"Hah? Serius lo? Kok bisa? Lo diteror lagi?"


"Parah sih. Dia lebih mengerikan, Dan. Semalam dia sampai culik anak kecil, dan belum ketemu juga walau udah dicari semalaman!"


"Astaga, Aretha. Lo berdua mending balik aja deh, kenapa mau di tempat serem gitu?!"


"Tuntutan kerjaan, Dan. Demi sesuap nasi. Lagipula banyak hal aneh di sini yang bikin gue penasaran!"


"Hal aneh apa? Setan, kan?"


"Entahlah. Kemarin pas pertama kali datang ke sini, gue langsung ditampakin sama sosok perempuan pakai gaun merah. Dan berkali kali gue lihat dia terus, berdiri di depan rumah gue. Dia berdiri di kebun teh yang ada di depan rumah gue. Gue bingung, dia itu setan atau manusia sih. Soalnya kayak nyata banget gitu, Dan."


"Sosok wanita bergaun merah, ya? Emangnya lo di desa mana sih, Tha?"


"Desa Alas Purwo."


"Hah? Desa Alas Purwo? Bentar gue tanya temen gue dulu. Kali aja dia tahu."


"Emangnya temen lo pegawai sensus setan? Kok bisa tahu?"


"Diem lo, bawel."


"Ih, yang bener, Dan!"


Namun Danu tak kunjung membalas pesan Aretha bahkan hampir beberapa menit lamanya. Sampai sampai Bu Jum sudah pulang dari warung. Aretha bisa mendengar dan melihat dari kamarnya, karena dia sengaja tidak menutup pintu. Agar bisa melihat Pak Slamet dan Ratno yang lalu lalang bekerja naik turun lantai dua. Dia justru merasa aman saat tahu kalau ada orang lain di rumah itu selain dirinya. Walau siang hari seperti sekarang, tapi Aretha memiliki rasa takut akan sesuatu di rumah itu. Tapi dia belum mengetahui apa penyebab nya. Yang ada di dalam pikirannya hanya sosok wanita bergaun merah dan jin ummu Sibyan saja.


Tapi tiba tiba telepon Aretha berdering, dan nama Danu muncul di layar. Aretha tentu segera menerima panggilan telepon itu.


"Assalamualaikum. Ya, Dan?"


"Tha, gue ada informasi sedikit nih tentang desa itu."


"Apa?"


"Jadi dulu pernah ada kejadian di sana. Ada gadis desa yang hilang di sana. Namanya ... Kinanti. Dia gadis desa yang cantik, dan terkenal sempurna buat orang yang hidup di desa, sampai akhirnya dia tiba tiba hilang. Usut punya usut, dia kabur ke kota karena merasa lebih bebas ada di kota daripada di sana. Tapi ada dugaan lain, kalau dia jadi korban pembunuhan. Dan yang lo sebutin tadi, mirip sama ciri cirinya Kinanti. Dia suka banget pakai baju atau gaun warna merah, dan terakhir kali dia memang pakai gaun merah."


"Dugaan pembunuhan? Ada dugaan itu tapi nggak ada penyelidikan?"


"Enggak. Orang tuanya nggak mau menggelar penyelidikan. Mereka sudah ikhlas kalau Kinanti itu kabur. Ya kan, Jod? Eh, ni temen gue tanya lo tinggal di sebelah mana, soalnya temen gue ini warga situ dulu."


"Gue tinggal di rumah Pak Ibrahim. Dia tahu nggak?"


"Tahu nggak lo, Jod? Rumah Pak Ibrahim?"


"Tahu! Astaga, suruh temen lo pergi dari sana. Itu rumah hantu!" kata sebuah suara yang Aretha yakini kalau itu teman Danu.


"Lo denger, kan, Tha? Itu rumah berhantu!"


"Iya, gue tahu. Tapi kenapa? Ada apa sama rumah ini?"


"Sini biar gue yang ngomong aja," kata teman Danu.


Ponsel Danu akhirnya berpindah tangan ke temannya itu. "Mbak? Kamu tinggal di rumah Pak Ibrahim tapi sering lihat Kinanti?"


"Eum, iya. Kenapa, Mas?"


"Itu setan, Mbak. Aku yakin, kalau Kinanti itu sudah mati. Karena waktu aku masih tinggal di sana, aku sama beberapa pemuda desa sering lihat dia berdiri diam di kebun teh depan rumah Pak Ibrahim. Tapi kalau didekati, hilang. Sepertinya mayat Kinanti dikuburkan di rumah itu. Kamu mendingan pindah aja, Mbak."


"Hah? Yang bener? Mayatnya dikuburkan di sini?"


"Soalnya orang tua Kinanti dulu kerja sama Pak Ibrahim. Sepertinya ada skandal. Sampai sampai Pak Ibrahim nggak mau balik ke rumah itu lagi dan Kinanti hilang sampai sekarang."


"Skandal? Tunggu, orang tua Kinanti siapa sih?"


"Pak Slamet dan Bu Jum!"


"Hah!"