
Malam ini, kami berkumpul di halaman depan rumah Om Wayan.
Membuat acara ala-ala barbeque sederhana. Kebetulan Dion pintar membuat ikan bakar.
Dia jadi chef dadakan malam ini, tentu semua ikut andil dalam acara ini. Dedi dan Danu ikut membuat bumbu dan sambal, Kak Arden sudah membantu membersihkan ikan-ikan tadi. Kami mendapatkannya dari Seorang pedagang yang tadi lewat di depan rumah.
Sementara aku hanya menonton saja sambil sesekali ngobrol dengan Radit.
Mba Alya juga membantu dengan aneka bumbu buatannya. Mengoles ke ikan dan tugas para pria membakar ikan tadi.
Danu yang sudah selesai dengan tugasnya, lantas kini malah bermain gitar sambil mendendangkan lagu-lagu kesukaannya. Sejak beberapa hari lalu, lagu ini seperti nya sering sekali dinyanyikan Danu. Lagu patah hati. Hm, dia sedang para hati dengan siapa, ya?
"Dan, ganti napa lagunya. Lagu cengeng gitu," gerutu Dedi
"Mau lagu apa?"
"Apa kek, yang happy gitu lho, Dan. Biar semangat," saran Radit.
"Tha, elu aja yang nyanyi deh," pinta Dedi.
"Enggak ah, males. Tenggorokan ku lagi nggak enak," tolakku.
Suasana halaman cukup ramai. Rumah Om Wayan di kelilingi tembok dan pagar yang cukup tinggi. Semua arsitekturnya sangat khas Bali. Tak lama Om Wayan pulang. Beliau memang sering bepergian dan hanya akan berada di rumah dalam waktu singkat. Karena sebelumnya dia sudah memberitahu pada kami. Om Wayan merasa tidak enak karena tidak bisa menemani kami selama 24 jam di Bali. Tetapi kami tidak me per masalah kan nya.
"Wah, ramai nih rumah. Seneng jadinya," ucap Om Wayan setelah mengucapkan salam. Kini dia duduk di salah satu bale di mana aku dan Radit duduk berdua.
"Berisik ya, om?" Radit menyahut.
"Enggak, malah seneng kok. Biasanya sepi banget kayak kuburan, Dit."om Wayan malah melucu.
"Dari mana, Om?" tanyaku.
"Ada perlu tadi. Biasa, Tha. Ada yang butuh bantuan," desah om Wayan yang keliatan lelah sekali.
Om Wayan sering diminta bantuan nya untuk menangani hal hal supranatural.
Misal kesurupan, dan hal hal magis lainnya.
"Kalian hati hati ya di Bali," kata om Wayan lagi.
Lalu menatap Radit dengan tatapan aneh.
"Kenapa Om? Kok ngeliatin nya gitu banget? " tanya Radit.
"Eum, nggak apa-apa. " Om Wayan melepas satu kancing baju nya lalu mengambil barang dari tas yang dibawanya. Sebuah boneka yang dibungkus kain putih.
"Boneka siapa itu, Om?" tanyaku heran.
"Temen. Dia minta tolong buat nyimpen ini," jelas om Wayan.
"Reta boleh pegang?" tanyaku penasaran. Om Wayan mengangguk.
Kubuka kain penutupnya perlahan. Entah kenapa rasanya agak panas saat aku memegang boneka ini secara langsung tanpa ada kain pembungkus ini.
Dan saat kuamati lekat lekat,
Ada semacam sengatan listrik dan membuatku agak kaget. Tak lama gambaran siluet yang tidak begitu jelas tentang suatu kejadian terlintas begitu saja.
Kok seperti saat aku menyentuh lukisan yg ada di rumah Radit waktu itu ya. Gumamku dalam hati.
"Kenapa, Tha?" tanya Radit bingung.
Ku tatap Radit, dan berfikir sejenak.
"Coba kamu pegang, Dit," pintaku.
Radit ikut memegang boneka ini dan reaksinya sama sepertiku.
"Kenapa, Dit?" kutanya dia yang masih agak kaget dengan apa yg dia alami barusan.
"Ada siluet gitu, tapi nggak jelas. Terus rasanya agak panas ya. Kayak kesetrum. Ini boneka ada baterai nya, om?" tanya Radit ke om Wayan.
Om wayan malah tertawa.
"Kita pegang lagi, Dit, bareng bareng," pintaku.
Aku ingin membuktikan apakah akan sama hasilnya seperti saat kami menyentuh lukisan milik Papah Radit dulu.
Radit mengangguk dengan muka serius.
Kak Arden yang penasaran lalu mendekat bersama mba Alya.o
Om Wayan hanya memperhatikan sambil menyilang kan kedua tangan nya di depan dada.
Aku mengangguk untuk memberi aba aba ke Radit.
Kami memegang boneka itu bersama sama, lalu tanganku yg satunya memegang bahu Radit.
Bayangan itu kembali. Potongan potongan kejadian yang acak, namun makin jelas.
Aku melihat, penganiayaan yang dilakukan seorang wanita ke anak kecil yang memegang boneka ini. Anak itu di aniaya dengan sangat mengerikan, hingga dia meninggal sambil memeluk boneka ini.
"Masya Allah," pekikku sambil melepas kedua tanganku bersamaan.
"Ya tuhan." Radit ikut berucap.
"Kenapa kenapa??" tanya kak Arden penasaran.
Aku dan Radit saling pandang lalu ku tatap om Wayan yg sedang menaikkan ujung bibirnya sambil melihatku dan Radit bergantian.
"Ini beneran, Om? Pemilik boneka ini...." tanyaku ragu.
"Meninggal dibunuh?" potong Radit.
Om Wayan makin melebarkan senyumnya lalu menarik nafas panjang.
"Iya bener. Boneka ini dihuni roh dan suka jalan jalan nggak jelas. Bikin orang lain ketakutan. Makanya om disuruh bawa pergi boneka ini. Hadi dugaan om bener ya," terang om Wayan bikin kami bingung.
"Dugaan apa om?" tanya kak Arden.
"Radit dan Aretha, kalian saling melengkapi," ucap om Wayan.
"Maksudnya?" aku bingung.
"Pertama kali Om lihat Radit, auranya berbeda. unik. bukan seorang indigo seperti kalian berdua," terang om Wayang sambil menunjuk aku dan kak Arden.
"Terus aura apa om?" Radit juga penasaran.
"Eum... apa ya. Om juga gak bisa mendeskripsikan detil, pakai ilmu kira kira aja ya om jelasinnya."om wayan membetulkan posisi duduknya.
Kami ikut serius dan menunggu penjelasan om Wayan berikutnya.
"Jadi kalian berdua, entah jodoh/ enggak sih ya. Kalian berdua mirip kak Nisa dan kak Indra." om Wayan makin bikin penasaran.
"Maksudnya om?" tanya Radit.
"Jadi gini, kalian berdua punya gabungan kekuatan yang unik. Contoh nya tadi, kalau kalian masing masing sentuh boneka itu, yang kalian lihat cuma samar samar, kan?nggak jelas. Tapi kalau kalian sentuh bersamaan dan seperti tadi, Aretha juga pakai acara pegang bahu Radit, semua gambaran akan jelas sekali terlihat, dan om pikir, kalian akan lebih kuat jika bersatu. Eum,suatu hari nanti pasti akan ada kejadian yg bikin kalian ngerti maksud om." terang om Wayan lalu mengambil boneka itu dan pergi masuk ke dalam rumah.
Kami berempat melongo, masih bingung. Antara paham dan bingung deh.
"Kak, kakak ngerti maksudnya?" tanyaku ke kak Arden.
"Sedikit sih dek.. Intinya kalian berdua saling melengkapi. Kayak kita berdua, dek." kak Arden tersenyum padaku.
Biarlah misteri tetap menjadi misteri.
Mba Alya agak bergidik lalu menoleh ke belakangnya.kemudian tengak tengok.
"Kenapa, Al?" tanya Radit.
"Eum, nggak tau. Kok merinding gini ya?" jelas mba Alya.
Ku lihat di belakang mba Alya berdiri sosok anak kecil pemilik boneka itu sedang diam menatap kami datar.
kak Arden senyum sambil menggeleng pelan.
Mungkin menyuruhku untuk tidak membahas hal ini.
Kasian mba Alya kalo ketakutan.
Karena ikan bakar sudah matang, kami makan dulu beramai ramai. Rasanya enak sekali. Wah jago nih yg bikin.
______
Pukul 23.00
Aku mulai menguap.
"Bobo sana," kata Radit.
"Hmm. Iya kali ya. aku capek juga nih," kataku sambil mengucek ngucek mataku yg agak berat.
Kuajak mba Alya utk ke kamar.
"Ki! Tidur gak?" teriakku ke kiki yg masih asik ngobrol dengan doni berduaan.
"Nanti ta!! Duluan aja.. "tolaknya.
Akhirnya aku dan mba Alya ke kamar duluan.
Yg lain masih asik di halaman sambil melanjutkan bakar jagung.
Aku udah kenyang dan ngantuk banget, jadinya mending tidur.
Mba Ala kulihat juga sudah kelelahan. Aku yakin mba Alya ini gak biasa begadang, soalnya dari jam 21.30 aja udah nguap nguap terus tadi.
Sampai kamar,aku dan mba Alya langsung tidur bersebelahan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dingin!!
Sebuah tangan dingin melingkar di perutku. angan siapa ini?
Kubuka mataku yg sepertinya baru terpejam beberapa jam.
Kulihat tangannya pucat pasi.
Badanku langsung lemas. aku tidak berani melihat pemilik tangan ini.
Ku goyang goyangkan tubuh mba Alya yg tidur di sampingku, namun tidak berhasil membuatnya terbangun.
Sekilas kulihat dari ekor mataku, ada sosok anak kecil tadi ikut tidur di sampingku.
Dengan cepat aku melepaskan tangan itu lalu bangun dan turun dari ranjang kemudian keluar dari kamar tanpa menoleh lagi.
Ku edarkankan pandanganku di sekeliling, suasananya sepi. Lampu juga sudah banyak yg dipadamkan.
Dan ternyata ini baru pukul 03.00 dini hari.
Bulu kudukku meremang, dan saat aku menoleh, anak kecil itu sudah berdiri di sampingku. Sambil mengulurkan boneka miliknya padaku.
"Aahh. Pergi kamu!!" teriakku lalu aku sedikit berlari menuju halaman depan.
Sampai di luar, aku terus melihat sekelilingku, aku harus memastikan anak itu tidak lagi mengikutiku.
Setelah dirasa aman. Aku duduk di gazebo halaman depan.
Kuatur nafasku yg tidak teratur ini. Ku tarik nafas dalam dalam untuk mengisi paru paru ku dengan oksigen sebanyak banyaknya.
"Aretha.." panggil seseorang di sampingku.
Aku menoleh dan tersentak kaget.
"Ya Allah!! Ne...nenek??" panggilku ragu ragu.
Nenek Lestari sudah duduk di sampingku sambil tersenyum hangat.
"Nggak papa, nduk.. Jangan takut.. Anak itu cuma mau ngajak main,"kata nenek.
"Ih.. Nggak mau.. Masa ngajak main Reta.. Kan beda alam nek. Suruh pergi dong, Nek. Reta takut," rengekku yg hampir menangis.
Nenek tersenyum. Lalu mengisyaratkanku tidur di pangkuannya.
"Sini,tidur. Nenek nyanyikan lagu biar kamu bisa tidur lagi,"kata nenek Lestari.
Aku pun menurut saja lalu ku rebahkan kepalaku di pangkuan nenek lestari.
Kepalaku dibelai belai dengan lembut sekali. Nenek menyanyikan ku tembang jawa yg liriknya aku tidak begitu tau karena menggunakan bahasa Jawa krama inggil.
Dan rasanya mataku makin berat. Nyaman sekali tidur di pangkuan nenek, dan aku terlelap.
Namun saat sudah mulai masuk alam mimpi, samar samar aku seperti melihat Radit mendekat.
Tapi mataku makin berat. dia ini selalu aja ada, nggak di kehidupan nyata nggak di mimpi.
radit .... Radit...
\=\=\=\=\=\=\=
POV RADIT
Entah kenapa aku terbangun malam malam begini, dan saat kulihat ini baru pukul 03.00 dini hari.
Aku lalu keluar kamar untuk meneguk segelas air, karena kerongkonganku terasa kering.
Saat hampir sampai dapur, kurasakan angin semilir agak kencang. Ku toleh ke belakangku, dan sepertinya pintu depan belum dikunci.
Wah, teledor sekali. Siapa yg terakhir masuk tadi ya.
Akhirnya aku berjalan keluar untuk menutup pintu. Tapi samar aku melihat Reta??
Astaga benar itu Aretha!!
Dia sedang tertidur di gazebo depan.
Kok bisa ni anak tidur di sini. Bukannya tadi udah masuk kamar ya?
Aku lalu mendekat, dan kulihat dia nyenyak sekali tidur.
Karena tidak tega, aku langsung membopongnya pelan agar dia tidak terbangun.
Kubawa dia masuk menuju kamar nya.
Saat masuk kamarnya kulihat Alya terjaga dan sedikit kaget melihatku membopong Areta.
"Lho..kok Aretha kamu bopong dit?kenapa?" tanya Alya.
"Gak tau, Al. Tadi aku temuin dia tidur di gazebo depan. Langsung aja kubawa masuk. Ini anak tidur sambil jalan apa ya?" tanyaku heran.
"Eum. Nggak tau juga, Dit. Ya udah, sini taruh sini. Kamu juga balik ke kamar kamu. Tidur lagi gih.." pinta Alya.
Aku mengangguk lalu kuletakan Aretha di ranjang dan segera keluar dari kamar mereka.
Wuuussshhhh
Semilir angin menembus tubuhku hingga ke tulang, kutengok ke belakangku karena merasakan angin dari sana. Namun tidak kutemukan apa pun. Padahal pintu sudah kututup dan ku kunci.
Mungkin hanya perasaanku saja.
Aku kembali ke kamarku saja, dan melupakan rasa haus ku tadi.
\=\=\=\=\=