Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
20. Bantuan datang


"Kalian yang ngapain? Bisik bisik di tempat sepi. Ckckc. Mencurigakan," ucap Fendi lalu berjalan menghampiri mereka, namun segera meninggalkan ruang tamu hingga sampai ke dapur.


Derry dan Armand saling tatap. Keduanya memiliki ketakutan yang sama. Tapi untungnya ketakutan mereka tidak benar benar terjadi. Fendi kembali lagi ke depan dengan pisau lain.


"Lo ngapain sih? Bolak balik aja," ucap Derry berusaha bersikap biasa.


"Ini, ganti pisau. Yang tadi nggak tajam," sahut Fendi sambil menunjukkan benda di tangannya itu.


"Oh. Ganti pisau. Udah ada yang matang belum, ya? Gue lapar," kata Derry sambil mengelus perutnya yang agak buncit.


"Sebentar lagi jagungnya ada yang matang. Ayo, ke depan," ajak Fendi. Dia berjalan lebih dulu ke depan, tapi saat melewati Armand, Fendi tampak melirik sinis. Bahkan sekilas Armand bisa melihat seringai di wajah temannya itu.


"Ayo, Man. Ke depan. Daripada dicurigai nanti kita," ajak Derry.


***


Malam ini terasa berbeda. Mereka makan malam di luar. Bukan cafe atau restoran mewah, melainkan teras rumah dengan background hutan dan kebun yang gelap. Tidak ada perasaan takut atau semacamnya. Yang ada di pikiran mereka adalah bersenang senang. Semua terjadi karena mereka sudah jarang sekali melakukan hal-hal seperti ini. Sibuk dengan kegiatan kampus, ditambah dengan kkn yang baru saja mereka jalani, membuat mereka belum mencicipi indahnya liburan.


Jagung bakar, singkong bakar, dan ubi bakar sudah mulai matang. Bahkan beberapa sudah masuk ke dalam perut mereka. Apalagi mereka telah menjalani hari yang berat. Proker bersama yang harus melibatkan mereka semua, dengan modal tenaga yang besar, untuk membetulkan asupan nutrisi yang banyak. Mereka bisa saja tidak ikut campur dalam pembuatan sumur dan kamar mandi umum. Hanya bermodalkan uang untuk membayar warga desa yang menganggur untuk bisa membangunnya. Tetapi jika itu dilakukan maka mereka akan Butuh waktu yang sangat lama. Sementara kegiatan KKN hanya berlangsung 3 bulan saja. Itupun mereka harus membagi antara proker kelompok dengan proker individu. Semua harus selesai tepat 3 bulan, bahkan sebisa mungkin sebelum 3 bulan semua harus sudah beres.


"Akhirnya gitar gue bermanfaat juga di sini," tukas Dolmen.


Dia mengeluarkan gitar yang sengaja dibawa sejak awal. Beberapa kali memang Dolmen kerap memakai gitar itu jika sedang merokok di teras. Tapi karena gangguan yang kerap muncul membuatnya enggan berlama lama di teras. Maka dari itu, gitar miliknya tersebut jarang sekali dipakai. Biasanya di jam ini, mereka juga sudah berada di atas pembaringan. Walau tidak tidur, hanya melepas lelah, tetapi itu sudah menjadi rutinitas harian mereka. Namun malam ini semua berbeda. Bahkan mereka tertawa sepanjang malam, seolah olah melupakan segala permasalahan di desa itu. Bahkan tempat yang sengaja mereka hindari saat malam, justru menjadi tempat yang nyaman malam ini.


Armand sudah bisa tertawa. Apalagi saat Derry mulai mencandainya dengan guyonan tidak penting, namun tetap berkesan. Sepertinya dia memang kurang hiburan, sehingga celotehan Derry yang biasanya garing, justru menjadi candaan yang membuat tawa mereka lepas.


Tiba-tiba Mey mendadak diam. Sikapnya itu sangat terlihat jelas karena sebelumnya dia masih tertawa lepas seperti yang lain. Mey hanya diam, duduk menatap ke depan dengan pandangan kosong. Dolmen yang melihat lebih dulu perubahan sikap Mey, lantas menepuk tangan teman-teman di sebelahnya. Otomatis mereka semua terdiam sambil melihat ke arah yang Dolmen tunjuk. Mereka juga langsung bisa merasakan perubahan sikap Mey.


"Mey, kenapa kamu?" tanya Khusnul yang duduk paling dekat dengannya.


Namun pertanyaan itu tidak langsung mendapat jawaban. Mei masih tetap diam sambil melihat ke arah depan. Lagi-lagi Khusnul memegang tangan Mei dan menggoyangkannya sedikit.


"Mey, kamu kenapa? Mey? Imey? Hei!"


Goyangan tangan Khusnul lebih kuat dari sebelumnya, setelah melihat tidak ada perubahan dari ekspresi temannya itu. Mereka mulai panik dan kini mengerubungi Mey dengan berbagai pertanyaan.


"Hihihihihi!"


Tiba-tiba Mey tertawa dengan suara yang melengking. Sontak semua orang langsung berdiri menjauhinya. Bahkan Khusnul yang awalnya masih tetap berada di sisi Mei, langsung ditarik paksa oleh Rahma dan Indi. Mereka yakin betul kalau ada yang tidak beres dengan Mei.


"Duh, kesurupan lagi nih anak!" ucap Dolmen.


"Kenapa ya? Perasaan tadi nggak kenapa-napa kan?" tanya Indy.


" Apa mungkin karena kita berisik ya? Jadi mereka nggak suka!" tukas Ike.


"Yah, bener! Bisa jadi tuh. Karena kita kan nggak pernah kayak gini sebelumnya. Setiap malam kita langsung masuk rumah dan gak pernah keluar teras lagi setelah kejadian penampakan di rumah itu," tunjuk Cendol.


" Terus gimana nih? Masa kita harus diam aja?" tanya Rahma.


" apa kita ke rumah pak Sobri aja?" tanya Khusnul meminta persetujuan teman-temannya.


"Cukup! Jangan sebut lagi nama orang itu! Nggak cukup apa? informasi yang tadi gue bilang ke kalian semua? Dia itu nggak bisa dipercaya!" erang Armand mulai menaikkan nada bicaranya.


" Terus gimana dong?"


"Tapi sepertinya dia nggak melakukan hal-hal aneh deh," tutur Ike.


"Iya bener. Kalau dia mulai aneh kita ikat aja kayak biasanya!" tambah Derry.


"Kalian sedang apa? Kenapa tidak mengajak saya?" tanya Mey sambil menatap semua orang satu persatu dengan Tatapan yang dalam.


Otomatis orang-orang yang ditatap oleh Mei menjadi beringsut mundur ketakutan. Karena mereka tentu tahu kalau yang berbicara itu bukanlah Mey tapi makhluk yang kini merasukinya.


"Siapa kamu? Mau apa kamu masuk ke tubuh teman saya? Sebaiknya kamu segera pergi dari tubuhnya!" kata Armand tegas.


" untuk apa saya pergi? Lagi pula dia ini sangat mudah saya rasuki. Saya hanya ingin ikut acara ini dengan kalian," katanya dengan seringai menakutkan.


" maaf kalau kami mungkin mengganggu kamu. Tapi tolong keluar dari tubuh teman saya dan kami akan mengakhiri acara ini dan sekarang masuk ke dalam rumah," tutur Sule.


" untuk apa diakhiri? Justru saya suka. Jangan cepat-cepat berakhir. Tapi saya harus ikut. Sudah lama sekali Saya tidak menyanyi-nyanyi. Wah, singkong bakar. Sejak dari jauh saya sudah mencium aromanya dan ingin sekali menyantapnya."


Sosok yang merasuk di tubuh Mei tiba-tiba langsung mengambil singkong bakar yang masih berada di dalam tungku. Padahal singkong tersebut masih sangat panas bahkan Bara apinya masih menyala. Otomatis semua teman-teman di sekitar berteriak dan berusaha untuk menghalangi Apa yang hendak dilakukan olehnya. Tentu saja nanti nya tangan Mei yang akan terluka. Tapi saat mereka hendak mencegah hal itu sosok yang ada di dalam tubuhmu justru melotot sambil mengeram. Seakan-akan dia tidak suka dengan apa yang hendak mereka lakukan.


"Saya cuma ingin makan singkong bakar saja!" katanya dengan suara berat. Matanya yang melotot tajam makin memberikan kesan mengerikan ditambah dengan urat-urat leher yang menyembul keluar. Bahkan wajah Mei yang awalnya putih bersih berubah menjadi pucat. Ditambah dengan garis otot yang tampak jelas di seluruh wajahnya.


Tangan Mey benar-benar memegang singkong Bakar tersebut tanpa merasakan sakit sama sekali. Singkong tersebut Lalu dikupas dan segera disantap dalam keadaan panas. Dia makan dengan sangat lahap. Bahkan tidak cukup hanya satu potong singkong saja. Karena kini dia mulai mengambil potongan singkong kedua.


"Hei, lepaskan dia!" kata Armand.


Karman yang merasa bertanggung jawab terhadap seluruh keselamatan teman-temannya lantas mulai bertindak. Dia beranjak dari duduk lalu menarik tangan Mei agar dia menghentikan gerakan nya untuk mengambil singkong bakar itu lagi. Sekalipun kekuatan makhluk itu cukup kuat, tapi Arman berusaha untuk menahannya.


" cepat ambil tali! Kita harus mengikat dia sekarang juga!" jerit Armand.


Dolmen lantas berlari masuk ke dalam rumah. Sementara Sule, Deri dan cendol ikut memegangi tangan serta kaki Mei. Dia memang hendak berontak berusaha melepaskan diri dari Arman.


"MEN, CEPET!" jerit Derry.


Tenaga Mei justru semakin lama semakin kuat dan kini mereka berempat mulai kewalahan memeganginya. Sementara Dolmen belum juga keluar dari rumah.


"Bentar! Aku susul dolmen!" kata Khusnul. Dia lantas berlari masuk ke dalam rumah. Tapi tiba-tiba suara jeritan dari dalam membuat mereka semua menoleh ke rumah tersebut.


"Lah, kenapa lagi?" tanya Sule.


"Nul! Khusnul! Kenapa lo?" tanya Armand.


" tolong, dolmen pingsan!" Jerit Khusnul.


"Hah! Pingsan? Kok bisa sih?" tanya Cendol.


"Biar aku lihat," kata Ike.


"Eh, ikut, Ke!" jerit Indy lalu menyusul masuk bersama Rahma.


Begitu mereka sampai di dalam rumah, tiba-tiba pemandangan lain justru terlihat saat ini. Bayangan mereka yang mengatakan kalau dolmen pingsan, justru tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena kini pemandangan yang terlihat di depan mereka justru Dolmen sedang mencekik leher Khusnul. Tubuh gadis itu diangkat tinggi-tinggi menempel pada tembok. Dolmen yang saat itu masih fokus dengan Khusnul lalu menoleh saat ketiga Gadis itu muncul. Dia menyeringai.


"Tunggu giliran kalian!" kata Dolmen mengancam.


Sontak mereka bertiga tentu menjerit ketakutan lalu kembali lagi berlari ke arah depan. Namun saat akan sampai ke teras tiba-tiba Ada sosok lain yang Menghadang pintu depan. Dia adalah sosok wanita yang memakai gaun merah. Apa yang dilakukan makhluk itu tentu sengaja agar mereka bertiga tidak bisa keluar dari rumah dan terjebak di rumah itu.


"Tolong!" jerit mereka bersama sama.


Mereka bertiga berhenti di ruang tengah, di antara kamar kamar yang mereka tempati.


"Hei! Kenapa? Kenapa kalian berhenti di sana?" tanya Derry yang memang bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Anehnya Derry tidak melihat adanya sosok wanita bergaun merah itu. Padahal sosok itu masih ada di belakang pintu, berdiri dengan senyum mengerikan.


"Itu! Itu! Ada kuntilanak!" jerit Ike sambil menunjuk ke arah pintu.


Para pria yang masih memegangi Mey mulai bimbang. Karena teman teman mereka yang lain juga sedang tidak aman. Mereka bingung apa yang harus diperbuat.


"Fen, lo kok diem aja sih! Bantuin mereka tuh!" jerit Cendol.


Mereka lupa akan satu orang yang sejak tadi hanya menjadi penonton saja. Bahkan dia hanya duduk di kursi dekat tungku api. Sikapnya yang tenang dan santai seakan akan tidak menunjukan rasa empati. Sungguh di luar nalar. Benar benar aneh. Di saat itulah mereka mulai yakin kalau itu bukan Fendi.


"Ya Tuhan! Cobaan apa lagi ini! Kenapa kacau banget!" ucap Derry.


"Man, kita nggak bisa kayak gini terus. Kasihan yang lain," kata Sule.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Cendol.


"Makan! Saya lapar! Saya ingin makan!" Mey kembali membuat suasana menjadi makin keruh.


Armand bingung. Dia juga putus asa. Namun tiba tiba dia kembali teringat dengan kejadian di goa tadi. Saat ini tidak ada yang bisa membantu mereka. Apalagi gangguan yang terjadi malam ini sungguh luar biasa. Tidak hanya satu orang yang dirasuki dan gangguan lain yang menimpa teman-temannya membuat Arman kembali berinisiatif untuk memanggil sosok tersebut.


Sosok Macan Putih yang pertama kali Arman lihat saat di goa tadi, adalah sosok yang dimiliki oleh leluhurnya. Ayah Arman pernah menceritakan sebuah kisah. Kisah itu mengenai silsilah keluarganya yang dulu dianggap remeh oleh Arman karena dia adalah orang yang berpikir rasional.


'Kita itu masih keturunan darah biru. Leluhur kita dulu adalah bangsawan Sunda. Kamu tahu sendiri kan bagaimana orang zaman dahulu. Yang sangat kental sekali dengan budaya dan misterinya. Nenek moyangmu memiliki peliharaan Yaitu macan putih. Konon katanya makhluk seperti itu akan terus mendampingi anggota keluarganya hingga anak cucu. Di keluarga kita sudah menjadi tradisi bahwa setiap generasi akan terpilih 10 orang yang memiliki kemampuan istimewa. Biasanya mereka bisa menyembuhkan penyakit atau mungkin peka terhadap makhluk lain.'


'siapa saja itu Ayah? Ah, bukan aku juga, kan?' tanya Armand.


' kamu tahu alasannya kenapa kamu tidak menjadi salah satu dari 10 orang itu?' tanya ayah Armand.


'Tahu. Karena aku nggak percaya semua itu.'


Ayah Arman tersenyum saat mendengar jawaban dari putranya tersebut.


'Yah, betul. Tapi kamu lihat saja nanti karena anak keturunanmu yang akan meneruskan warisan ini.'


Begitulah obrolan singkat yang pernah terjadi dulu saat Arman masih duduk di bangku SMU. Arman memang bebal. Hanya dia satu-satunya anak dari Sastro yang paling rasional. Hanya saja itu menjadi keunikan tersendiri pada Arman.


Arman kembali mengucapkan mantra tersebut. Dia sudah tidak peduli lagi dengan segala prinsip yang selalu ia Junjung tinggi sejak dulu. Yang ada di pikirannya sekarang adalah menyelamatkan teman-temannya. Dan dia tidak sanggup melakukan itu sendirian. Dia sadar dia membutuhkan orang lain, bahkan Sebenarnya bukan orang lain tetapi makhluk lain yang berada di pihaknya.


Setelah mengucapkan mantra itu sebanyak tiga kali Arman tengok-tengok sekitar. Sampai beberapa detik berlalu dia tidak menemukan kehadiran macan putih itu.


"Lo kenapa, Man?" tanya Cendol.


"Hem? Enggak kok. Enggak apa apa!" kata Armand.


Tiba-tiba ada suara mobil yang mulai mendekat di mereka. Sontak mereka semua menoleh ke arah jalan.


"Ya Allah! Itu pasti Daniel!" pekik Derry dengan mata berkaca kaca.


Yah, mobil itu adalah mobil milik Arman. Mobil yang sangat mereka harapkan kehadirannya saat ini dan ternyata dia datang tepat pada waktunya. Cendol dan Deri terus berteriak memanggil Daniel. Mereka sangat bahagia karena merasa mendapatkan bantuan yang tiba-tiba datang. Dan benar saja saat mobil itu berhenti tepat di depan rumah, keluarlah Daniel beserta dua orang yang sebaya dengannya dan satu orang yang umurnya jauh lebih tua dari mereka.


Daniel beristighfar lalu berlari mendekati teman-temannya. " Ini kenapa sih?" tanyanya saat melihat Mey terus dipegangi oleh mereka.


"Udah. Ceritanya nanti aja! itu tolongin mereka yang di dalam!" jerit Cendol.


"Hah? Mereka juga? Astagfirullahaladzim!" Daniel lalu berlari masuk ke dalam rumah. Tapi tiba-tiba dia ditahan oleh dua orang yang tadi ikut datang bersamanya.


"Jangan! Biar kami saja!" kata salah satu dari mereka.


" kamu pegangin saja orang yang itu," kata teman Daniel yang satunya menunjuk ke arah Fendi.


Daniel menatap Fendi dengan tatapan bingung. Karena saat ini yang tampak normal dari semuanya adalah Fendi. Tapi setelah dipikir-pikir hanya Fendi juga yang terlihat aneh karena dia bisa setenang itu saat melihat keributan yang terjadi di sekitarnya.


Pria paruh baya yang datang bersama Daniel lantas mendekati Mey. Tangan kanannya memegang tasbih lalu menempelkannya ke dahi Mey. Dia berdoa, dan dalam sekejap Mei menjerit. Seolah olah ada sesuatu yang ditarik dari atas kepalanya. Dalam sekejap Mei tiba-tiba terjatuh seperti tubuh yang tidak memiliki tulang. Mereka lantas memegang Mey dan meletakkannya di kursi teras. Dalam kekacauan itu Arman melihat seseorang yang masuk ke dalam rumah dari ujung ekor matanya. Dia bukan sosok manusia ataupun makhluk mengerikan lainnya tetapi sosok macan putih. Tiba-tiba pria paruh baya tadi melirik ke arah Arman sambil tersenyum.


"Tadi dia yang memberitahu saya agar secepatnya sampai ke sini," katanya.


Arman tidak bisa berkata-kata hanya menatap pria itu dengan tatapan bingung karena Armand sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan olehnya.


"Ust, yang di dalam bagaimana?" tanya Daniel.


"Kalian saja yang coba tangani. Usahakan agar orang yang sedang dirasuki tidak melukai orang lain. Karena sumber dari semua kekacauan ini hanyalah dia," kata pria paruh baya itu.


Mereka yang mendengar itu tentu terkejut dan ikut menatap Fendi dengan tatapan heran. Daniel lantas masuk bersama dengan cendol dan Sule. Jeritan dari para gadis membuat mereka menjadi semakin panik. Apalagi salah satu dari mereka terus memanggil nama Khusnul. Arman yang tidak mengetahui proses apa yang terjadi di dalam rumah, justru hanya tertarik dengan Fendi. Karena sebenarnya sejak awal Arman sudah merasakan keanehan dalam diri Fendi selama seharian ini. Tentu saja dia sangat tertarik saat ada orang yang memiliki pendapat sama seperti dirinya padahal orang itu baru pertama kali bertemu dengan Fendy di tempat itu.


" Siapa kamu sebenarnya?" tanya pria yang dipanggil Ustad oleh Daniel. Dia Tampak santai menanyakan hal itu kepada Fendy. Bahkan mereka kini sedang duduk berdampingan di sebuah batu besar yang ada di depan teras.


"Ah, kau ini pura pura tidak tahu atau memang tidak tahu?"


"Hem? Sekilas aku bisa merasakan tapi aku masih bingung. Tapi ngomong-ngomong kenapa kau ada di sini? Ah, tidak usah dijawab karena aku sudah tahu jawabannya. Rupanya kau sudah menghuni tempat ini sejak ribuan tahun lalu. Dan merasa kalau kau adalah penguasa tempat ini ya?" tanyanya santai.


"Hahahaha! Sebaiknya kau mundur dan pulang saja sana! Mumpung aku masih bersikap baik terhadap kalian. Jujur saja aku tidak suka diganggu."


"Nah, itu kau tahu. Kau sendiri bilang kalau kau ini tidak ingin diganggu tetapi kenapa kau mengganggu mereka?"


"Aku mengganggu mereka? Bukannya terbalik kalau merekalah yang menggangguku?"


"Benarkah? Apa yang mereka lakukan, yang membuatmu beranggapan kalau mereka itu mengganggumu? Aku pikir mereka hanya melaksanakan tugas dari kampus mereka, dan mereka tidak pernah melakukan hal hal buruk."


"Oh ya? Pemuda ini sudah merusak tempatku!" jerit Fendi. Tiba tiba suaranya berubah berat dan asing di telinga.


"Ah, yayaya. Jadi patung itu tempatmu? Dan kau sangat suka karena selalu diberikan makanan oleh manusia, ya?"


"Diam kau! Aku ulangi sekali lagi, sebaiknya kau pergi dari tempat ini sebelum aku melakukan hal yang lebih buruk kepada mereka!" ancam nya serius.


"Enak saja. Ini Bukan tempatmu dan aku berhak berada di manapun yang aku mau. Jangan karena kamu sudah berada di sini sejak lama, lantas membuatmu menjadi gelap mata dan menganggap kau ini penguasa di sini. Tidak semudah itu, ya."


"Rupanya memang kau iniĀ  ingin cari masalah denganku!"


"Oh memang benar," kata Ustad tadi lalu memegangi telapak tangan Fendi dan menekannya pelan.


Tapi reaksi Fendi justru di luar logika. Dia tampak sangat kesakitan, dan hendak menyerang Ustad tersebut Tapi anehnya seakan-akan dia terjerat sehingga tidak bisa menyerang. Ustad Tadi hanya tersenyum melihat Apa yang dilakukan Fendi.


"Panas! Lepas! Lepaskan aku, bodoh!" jerit nya.


"Kau dulu yang harus melepaskan mereka semua. Ayo, bawa semua pasukanmu. Sebelum aku hancurkan tangan kananmu ini!" ancam ustad serius.


"Hentikan! Kau kurang ajar! Akan aku balas! Akan akau balas!" jerit Fendi lagi.


"Oh ya? Silakan! Aku pun akan melakukan hal yang sama nantinya."


Fendi terus menjerit kesakitan. Tapi tubuhnya seolah olah tidak mampu melawan. Padahal hanya telapak tangan kanannya saja yang dipegang. Tapi seakan akan sedang dicambuk puluhan pisau di sekujur tubuhnya.


Selang beberapa menit kemudian, sosok yang masuk ke dalam tubuh Fendi keluar. Fendi menjadi lemas seperti Mey tadi. Armand pun membantunya berbaring di kursi lain, tak jauh dari Mey. Ajaibnya seluruh keributan yang terjadi di rumah, mendadak hening. Tidak ada lagi jeritan dan tangisan seperti tadi. Semua menjadi tenang dan terkendali.


"Sebaiknya kita salat jamaah di dalam," ajak Pak Ustad. Dia lalu masuk ke dalam untuk memeriksa yang lain.


Kejadian malam ini membuat mereka semua terguncang. Karena teror tidak hanya muncul pada satu orang saja. Semua orang mendapatkan tekanan dan ancaman dari makhluk halus. Mereka sungguh tidak tahu kalau imbas dari perbuatan mereka akan bisa separah ini. Padahal yang mereka lakukan hanya ingin makan jagung bakar di teras rumah tapi suasana bahagia tadi mendadak berubah menjadi keributan yang bisa mengancam nyawa. Khusnul terus memegang lehernya Karena rasa sakit yang ditimbulkan oleh Dolmen. Orang-orang yang kesurupan tidak bisa berbuat banyak. Tubuh mereka benar-benar lemas walau telinga mereka masih bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh teman-teman yang lain.