
Azan maghrib baru saja berkumandang. Beberapa dari kami mulai menguap karena rasa lelah dan kantuk yang mulai datang. Pekerjaan memeriksa naskah seperti ini, memang membutuhkan ketelitian yang tinggi, juga fokus yang luar biasa. Karena titik dan koma saja harus diperhatikan dengan benar.
Jam kerja sudah habis, sebelum pulang kami sempatkan salat magrib terlebih dahulu. Karena memang di tiap lantai ada ruangan untuk salat. Apalagi waktu magrib terbilang singkat.
Kami berjalan di lorong beriringan dengan komentar tentang pekerjaan masing - masing selama seharian ini. Untungnya aku cukup mampu mengimbangi dan menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu. Kini rasa lapar mulai menggerogoti perutku. Alhasil bunyi keruyukan terdengar nyaring di bawah sana.
"Mau makan dulu nggak nanti?" tanya Giska menatap kami satu persatu.
"Wah, bener nih, sebagai perayaan Aretha masuk ke team kita. Resto biasa saja, bagaimana, Aretha?" tanya Aron bersemangat.
"Sistem pembayarannya gimana ini? Gue nggak mau, ya, kalau pakai acara traktir mentraktir," sindir Mike melirik Aron sinis. Giska tertawa tertahan, seolah ada rahasia di antara mereka yang masih belum aku ketahui.
"Iya, bayar sendiri - sendiri. Kenapa sih lu sinis banget ke gue?"
"Aron ini memang punya kebiasaan minta ditraktir, Tha, jadi jangan kaget nanti, dan kamu harus berhati - hati sama tingkah dia," sahut Rick yang berjalan paling belakang. Aku menoleh sekilas lalu tersenyum, karena kini sudah mengetahui alasan Mike bersikap demikian.
Kami masuk ke ruang yang dimodifikasi menjadi sebuah mushola. Karpet terhampar dengan 5 shaf yang memang tidak terlalu panjang. Mungkin hanya bisa diisi oleh lima orang untuk tiap shaf nya. Ruang untuk mengambil air wudu juga berada di samping, diberi batas setinggi dada orang dewasa dan dilengkapi wastafel yang ada di tengahnya. Sementara di samping kanan adalah tempat wudu laki - laki, di sebelah kiri tempat wudu perempuan.
"Gis, jamaah nggak?" tanyaku saat memakai mukena.
"Duluan aja, Tha, kebelet pipis aku."
Tapi ternyata Mike dan Aron justru sudah salat lebih dahulu, padahal awalnya aku pikir kami akan salat berjamaah, ternyata tidak.
"Tha, mau jamaah sama aku?" tanya Rick yang sudah berdiri di shaf depan, hanya saja agak jauh dari Mike dan Aron. Aku lantas mengangguk dan mulai salat bersama dia.
_________
"Sini," ajakku ke Rick, agar dia duduk di sampingku, karena sebentar lagi kami akan pergi makan bersama ke resto langganan mereka. Aku tidak mungkin menolak ajakan itu, lantaran aku masih tergolong anak baru, sekaligus ingin mengakrabkan diri dengan mereka. Radit yang awalnya ingin menjemput, akhirnya aku larang.
[Kita ketemu di resto aja, ya. Nggak enak kalau tolak ajakan mereka.] Begitulah pesan yang aku kirimkan padanya, agar dia paham dan mengerti.
Giska melirik sekilas lalu kembali menatap telepon genggamnya. Mobil Mike cukup besar dan terbilang mewah, sepertinya hanya Mike saja yang memiliki kendaraan pribadi. Karena dalam bincang - bincang di mobil, ternyata selama ini Aron dan Mike memang tinggal satu kost, dan setiap hari mereka pasti berangkat bersama. Sementara Giska yang sudah memiliki tunangan akan diantar jemput setiap harinya.
Kami sampai di pelataran parkir sebuah resto yang cukup ramai, mungkin karena sudah memasuki jam makan malam, atau waktu orang - orang pulang kerja, seperti kami.
"Kamu pernah makan di sini, Tha?" tanya Giska sambil menggandengku mengikuti Mike adan Aron yang berjalan lebih dulu.
"Pernah, sama teman - temen dulu pas SMA. Kalian sering ke sini?"
"Lumayan, eh bisa dibilang sering malah, soalnya ini tuh, resto punya Om nya Mike, kadang kita dapat diskonan," bisik Giska dan aku pun mengangguk paham.
Mike dan Aron sudah memilih sebuah meja yang kosong, malam ini pertama kalinya aku makan bersama mereka, team baru yang akan bekerja bersamaku untuk ke depannya. Mereka cukup menyenangkan dengan karakter masing - masing. Walau awalnya aku cukup ragu dan takut jika sulit berbaur dengan mereka, tapi nyatanya mereka sangat baik.
"Rick, duduk!" ajakku sambil menarik kursi di sampingku, karena melihat dia hanya berdiri di ujung sana, dekat pintu masuk. Rick malah diam dan menatap kami satu persatu. Sementara mereka bertiga saling tatap bingung.
"Tha ... kenapa?" tanya Giska.
"Itu Rick kenapa sih, diem saja, nggak mau ke sini," jelasku sambil menunjuk pria di ujung sana. Bukannya mendekat, dia justru pergi begitu saja.
"Tha ...." Aron memanggilku, namun belum sempat dia meneruskan kalimatnya, Mike justru menyenggol kakinya dan menggeleng samar. Aku sadar atas sikap mereka tersebut, namun tidak paham apa yang sebenarnya terjadi.
"Sudah makan," suruh Mike yang mulai fokus dengan makanan di hadapannya. Obrolan mengalir kembali, mereka saling sharing tentang awal mula bekerja hingga suka dukanya.
"Gila! Serius kamu, Tha? Kamu terjebak di desa seperti itu? Astaga! Ngeri banget," seru Giska dengan masih mengunyah makanan di mulutnya.
"Wah, jadi ingin baca ceritanya. Kamu share di mana? Kenapa nggak dicetak saja, Tha?" tanya Aron antusias.
"Hm, bagaimana, ya. Belum ada niatan ke situ, Ron, mungkin kapan - kapan."
"Jadi kamu bisa melihat ... makhluk halus, Tha?" tanya Mike mulai tertarik dengan obrolan ini, aku tidak menyangka manusia seperti Mike justru tertarik dengan hal di luar nalar kebanyakan orang di luar sana. Padahal aku kira dia cukup skeptis dengan hal semacam ini.
Mereka terus menatapku menunggu jawaban dari pertanyaan Mike barusan. "Yah, begitulah," sahutku agak ragu dengan pembahasan ini. Rasanya aku cukup terganggu dengan obrolan semacam ini yang dibahas dengan orang baru. Aku takut mereka berpikir macam - macam tentangku. Terkadang tatapan mereka juga terlihat aneh padaku, tatapan orang - orang yang sebelumnya mengenalku, lebih dulu ketimbang mereka.
Dering telepon berbunyi nyaring, aku segera meraihnya dari dalam tas.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam, sayang. Udah selesai belum makan malamnya?" tanya Radit.
"Eum, udah nih, Dit. Kamu di mana?"
"Ini udah di parkiran. Bentar lagi ke situ. Tunggu, ya."
"Oke."
Aku melirik jam di pergelangan tangan, sudah hampir pukul 20.00. Sudah cukup malam juga rupanya.
"Iya. Udah di depan sih itu." Aku menoleh ke arah pintu, menunggu sosok yang aku tunggu muncul.
"Cowok kamu?"
"Huum."
Pria yang kami bicarakan pun muncul dari pintu. Dia diam sambil menyapu pandang mencari keberadaanku.
"Dit!" jeritku sambil melambaikan tangan padaku. Radit membalas lambaian tanganku sambil tersenyum. Dari pakaian yang dia kenakan, sepertinya dia juga baru pulang kerja. Apalagi ditambah tampang nya yang kusut seperti itu.
"Kamu baru pulang? Udah makan belum?" tanyaku saat dia sudah dekat, segera aku menarik kursi yang awalnya aku tujukan untuk Rick tadi.
"Hm. Belum."
"Oh iya, ini temen - temen aku, Dit. Gaes, ini Radit." Mereka lantas saling berkenalan dan terlibat basa basi ringan. Radit juga akhirnya duduk dulu di sampingku dan memesan makanan terlebih dahulu.
"Eh, kalau kalian mau pulang dulu nggak apa - apa kok. Siapa tau udah capek, atau takut kemalaman, " cetusku saat melihat mereka malah masih duduk di tempat masing - masing, bermain dengan gawai di tangan.
"Santai, Tha. Kita mah bebas. Lagian Giska nih belum di jemput juga. Sekalian nunggu dia, kalau nggak jadi dijemput kan bisa bareng sama aku sama Mike juga, soalnya searah," jelas Aron.
"Oh gitu. Oke deh."
Sejauh ini Radit cukup mampu mengimbangi obrolan mereka. Walau intensitas pertemuan ku dengan Radit makin sedikit, tapi kami tetap berusaha mengisi waktu bertemu, entah dia mengantar jemput ku saja. Atau kami bertemu di saat jam makan siang, dan mengadakan janji makan malam bersama. Wajahmu terlihat letih. Pasti karena efek bekerja seharian. Dia masih asyik mengobrol dengan Aron dan Mike, membahas hobi yang sama. Tangan Radit mulai menggenggam tanganku yang diletakkan di atas pahanya. Matanya fokus pada dua pria di depan kami, tapi sikapnya menunjukkan kalau di sisi lain, dia tetap ada denganku.
"Thanks, ya, Dit. Traktirannya!" seru Aron dengan semangat.
"Hwu! Emang demen banget gratisan lu!" sindir Mike.
"Namanya juga rejeki, Mike. Masa ditolak."
"Giska gimana? Belum juga dijemput?" tanya Radit yang melihat gadis itu gelisah. Aku pun merasakan kegelisahan Giska tersebut.
"Iya, duh, ke mana ya, Toni. Lama banget. Soalnya aku telepon nggak dia angkat." Giska bolak balik menatap layar pipih di genggamannya, sambil melihat ujung kanan kiri jalan raya. Berharap yang dia tunggu segera datang.
"Susah juga sih, kalau belum ada kabarnya. Takutnya nanti pulang bareng kita malah Toni ke sini, kan kasihan," ujar Mike.
"Itu dia, Mike. Nanti dia marah lagi, kalau aku malah udah pergi pas dia datang."
"Ya udah, kita tunggu aja, Gis. Aku sama Aretha temenin kamu deh," saran Radit, sambil terus menggandeng tanganku.
"Dit, kamu nggak apa - apa memangnya?" tanyaku sedikit sungkan. Karena aku pikir dia sudah cukup lelah sekarang.
"Nggak apa - apa sayang."
"Kalau gitu, kita tinggal nggak apa - apa?" tanya Mike yang sedari tadi menatap jam tangannya. Sepertinya dia ada janji dengan orang lain, atau ada hal yang ingin dia lakukan lagi setelah ini.
"Iya, Mike. Tinggal aja. Nggak apa - apa kok," ujar Giska dengan raut wajah cemas.
Namun sebuah motor besar, berjalan mendekat ke arah kami. Saat helm dibuka, Giska segera berseru melihat kekasihnya muncul. Dia lantas melepas helm dan turun untuk menemui Giska.
"Sorry, lama. Ada kerjaan tadi," jelasnya.
"Iya, Yang. Nggak apa - apa. Ya udah, yuk pulang."
Toni hanya menarik sedikit bibirnya pada kami, lalu kembali memakai helmnya. Kini mereka berdua sudah berada di atas kuda besi, lantas segera melesat meninggalkan parkir resto.
"Sayang, kenapa?" Pertanyaan Radit membuat perhatianku teralih dari pasangan yang baru saja pergi.
"Hm? Nggak apa - apa kok."
"Jangan heran, Tha. Cowoknya Giska emang gitu, sombong. Nggak pernah mau sapa kita - kita. Ya begitu doang deh. Nyelonong aja kalau jemput," sinis Aron dan mendapat kita kan dari Mike. "Ghibah aja! Mirip emak - emak! Yuk, balik. Duluan ya, Tha, Dit!" kata Mike berjalan lebih dulu ke pintu samping mobil.
"Kita pulang yuk," anakku, menggandeng Radit dan segera masuk ke mobil Radit yang parkir tak jauh dari tempat kami berdiri.
Bagi kotaku ini, waktu seperti sekarang bukan termasuk kategori malam. Mungkin bisa disebut masih sore. Tapi bagi kami, sudah waktunya pulang ke rumah. Rasa lelah adalah satu - satunya alasan kami ingin segera pulang. Rasanya sudah rindu kasur.
"Dit, kamu lihat nggak Toni tadi?"
"Toni? Kenapa?"
"Pucat wajahnya, sepertinya dia lagi kurang sehat. Aku cemas sama Giska, takut mereka kenapa - napa," jelas ku sambil terus menatap pesan yang aku kirimkan ke Giska. Tentu belum juga menunjukkan tanda telah dibaca.
"Mungkin masih di jalan, Tha. Belum sempat buka hape."
"Hm, semoga aja."