
"Kenapa lewat sini, Man? Emangnya kita mau ke mana?" tanya Cendol dan Dolmen saat mereka baru selesai proker dan hendak pulang.
Hari itu mereka pulang lebih awal dari biasanya dan mereka bertiga lah yang pulang lebih dulu daripada teman-teman yang lain. Entah mengapa Arman masih penasaran dengan rumah yang kemarin dia lihat saat berada di tempat Pak Sobri. Karena menurut Arman dari sekian banyak tempat di desa itu yang diberi sesajen, hanya tempat itulah satu satunya rumah dengan sesajen. Di tempat lain sesajen biasanya diletakkan di hutan, pemakaman, mata air, dan pertigaan jalan. Walau di area pemakaman merupakan tempat yang dianggap banyak penunggu, tetapi jika ada sesajen di sana artinya ada penunggu lain yang lebih tinggi derajatnya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada rumah kosong itu. Armand menganggap itu adalah rumah kosong. Karena sekilas saat ia lihat, kondisi rumah itu sedikit berantakan dan kacau.
"Gue mau memeriksa sesuatu dulu sebelum pulang. Kalau kalian nggak mau ikut, ya sana pulang sendiri aja," tukas Armand tegas.
"Ye, galak bener. Iya iya. Kita ikut. Lagian udah kepalang basah lewat jalur hutan rimba. Masa mau balik lagi. Capek," tutur Dolmen.
Mereka terus berjalan hingga akhirnya kembali melewati pemakaman. Jalur di desa ini memang tidak terlalu banyak dan luas. Jika dari balai desa mereka memilih jalur hutan, maka mereka akan melewati pemakaman lebih dulu untuk sampai ke rumah posko kkn yang mereka. Seperti biasa, mereka langsung dapat melihat penampakan sesaji di area pemakaman.
"Bener juga! Sesajen nya ada 2 di sini. Dih, itu mata air kenapa pakai di kasih begituan sih! Padahal gue pengen ke situ, nyobain air nya. Pasti seger," tutur Cendol.
Mereka sudah mendengar perihal sesajen yang diletakkan di beberapa sudut desa, salah satunya di area ini.
"Bener. Padahal mata airnya bisa kita pakai buat ambil air. Kan lumayan jadi kita nggak usah repot ke sungai. Soalnya menurut gue, jarak dari sini ke rumah lebih deket daripada dari rumah ke sungai. Iya, kan?" tanya Dolmen.
"Jadi maksudnya kalian lebih berani ambil air di sini, daripada ke sungai?" tanya Armand.
"Eum, iya. Soalnya gue pernah lihat sesuatu, Man, di sungai. Serem. Makanya gue agak takut kalau harus ke sana lagi," tutur Dolmen.
"Lihat apa lo?"
"Pas gue mau mandi sore sore, sama lo juga kan, Cen?"
"Iya. Kenapa sih? Gue nggak lihat apa apa. Tahu tahu lo ngajak balik, padahal baru aja cuci muka."
"Itu tuh, pas kita udah di sungai. Kan gue mau lepas baju nih. Sambil lihat sekitar. Gue kan berdiri, jadi di luar tuh bisa kelihatan situasinya. Sambil gue lihat lihat, takut ada orang ngintip. Nah terus, tiba tiba gue lihat orang. Dia ada di pinggir sungai seberang. Lagi jongkok, dan gue rasa lagi cuci muka juga dia. Tapi pas dia ndongakin kepala, ternyata nggak ada mukanya."
"Ah, salah lihat kali lo. Mungkin lo rabun jauh, jadi burem pada lihat kejauhan."
"Heh! Mata gue normal! Emangnya si Derry, make kacamata tebel! Asli, itu orang nggak ada mukanya. Rata. Cuma ada lekukan tapi rongga mata, hidung, mulut nggak ada!" jelas Dolmen dengan antusias. Melihat ekspresi wajahnya, Armand dan Cendol sedikit percaya walau tidak sepenuhnya.
Begitu sampai di depan rumah kosong Armand berhenti berjalan dan memperhatikan bangunan itu. Cendol dan Dolmen pun ikut diam dan melakukan hal yang sama seperti Armand.
"Wah, rumah siapa ini, ya? Kok dikasih sesajen juga?" tanya Cendol.
"Itulah yang bikin gue penasaran, " ucap Armand masih menatap bangunan itu lebih lama.
"Eh, kenapa nggak tanya orang itu aja?" tanya Dolmen menunjuk ke arah rumah Pak Sobri.
"Itu orang yang ngobatin Mey kemarin."
"Oh dia? Jadi dia itu dukun, ya? Wah, kebetulan banget! Kita tanya aja langsung sama pawang setan!" ujar Cendol berbisik.
"Iya, Man. Daripada kita penasaran. Mending tanya aja, yuk!" pungkas Dolmen.
Armand sempat berpikir sejenak hingga akhirnya dia pun menyetujui perkataan teman temannya. Mereka berjalan ke rumah Pak Sobri yang saat ini sedang membuat kotak kayu besar.
"Selamat sore, Pak. Wah, sedang sibuk apa ini, Pak?" tanya Dolmen lalu mendekat dengan basa basi ringan.
"Oh, Mas. Iya, saya lagi buat kandang ayam. Kemarin ayam saya bertelur lagi, jadi perlu kandang lain. Ini ngomong omong habis kegiatan tho?" tanya Pak Sobri balik. "Eh, mas yang kemarin juga ada. Gimana temennya? Sudah aman?" tanyanya pada Armand.
"Alhamdulillah sudah, Pak. Kemarin malam sudah nggak ada hal aneh lagi. Semoga seterusnya demikian."
"Syukurlah kalau begitu. Asal jaga sikap, di sini kalian aman kok, dan tentunya seperti yang kemarin saya bilang itu."
"Man, bapaknya kemarin bilang apaan?" tanya Dolmen berbisik.
"Ssst. Nanti aja!" balas Armand tanpa menoleh sedikitpun.
"Maaf, Pak. Rumah itu punya siapa, ya?" tanya Cendol mendahului Armand.
"Itu? Memangnya kenapa?"
"Cuma ingin tahu saja. Soalnya dari sekian banyak rumah kosong di desa ini, kenapa cuma rumah itu saja yang diberi sesajen?"
"Oh begitu rupanya. Sebenarnya dulu itu rumah saudara saya. Namanya Sukarta. Dia itu dulu dukun yang cukup hebat di desa ini. Tapi sayangnya, kehebatannya itu membuatnya gelap mata dan menerima semua pekerjaan baik itu hal baik maupun hal buruk."
"Maksud bapak gimana?"
"Begini, dulu Karta itu menjadi dukun hebat dan menerima segala jenis pengobatan maupun untuk hal pesugihan semacamnya. Dia bahkan tidak segan segan menyantet orang orang desa ini sesuai permintaan kliennya. Beberapa kali ada warga yang meninggal dengan cara tidak wajar. Semua langsung menunduk kalau kematian warga desa diakibatkan oleh santet yang dilakukan Sukarta. Hampir 40% warga banyak yang meninggal kala itu. Hingga akhirnya kejadian tersebut memicu emosi warga desa yang lain. Alhasil Karta diarak warga dan dibunuh dengan cara yang mengerikan. Dia dibakar dengan cara digantung. Karena Karta memiliki ilmu Hitam yang jika ditusuk atau dipenggal kepalanya sekalipun, dia akan segera bangkit lagi. Cara ini berhasil membuat Karta mati selamanya, tetapi teror tidak berhenti sampai di situ saja. Karena setelah kematian Karta, tiba tiba desa ini mendapatkan teror pocong. Pocong itu disinyalir adalah Sukarta. Karena beberapa kali warga banyak yang bertemu dengan pocong itu. Karena meresahkan hampir beberapa bulan lamanya, akhirnya kami sepakat untuk memberikan sesajen di rumahnya, agar pocong itu tidak lagi meneror desa."
"Berhasil, Mas. Sampai sekarang tidak ada lagi teror pocong oleh Sukarta."
"Berarti kalau rumah itu tidak diberi sesajen maka teror pocong itu akan kembali terjadi?" tanya Dolmen.
"Kurang lebih nya seperti itu."
"Wah, agak masuk kategori syirik, yah!" gumam Cendol lalu di sikut oleh Armand.
Hanya saja Pak Supri sudah mendengar perkataan cendol tadi, tetapi pria tua itu justru tersenyum tanpa menunjukkan reaksi marah atau tersinggung.
"Wajar kok Kalau Mas berkomentar seperti itu apalagi kalian berasal dari kota yang tidak pernah atau mungkin jarang menemukan kejadian-kejadian seperti itu di tempat tinggal kalian. Sementara di sini kejadian-kejadian seperti itu sudah seperti makanan sehari-hari bagi kami. Bahkan warga pun tetap menjalankan ibadah salat sambil tetap memberikan sesaji ke beberapa tempat yang sudah sejak lama di lakukan."
" Jadi kalau begitu di tempat-tempat yang diberikan sesajen itu artinya ada penunggu yang kekuatannya lebih besar atau mungkin pernah punya masa lalu yang tidak menyenangkan di desa ini. Berarti apa yang warga desa Ini berikan melalui sesajen hanyalah untuk membuat setan setan tidak memberikan teror saja?" tanya Armand.
"Tidak juga, Mas. Karena sebenarnya Tujuan utama warga desa memberikan sesajen itu untuk memberikan rasa syukur kami atas kehadiran salah satu Dewa yang sudah menjaga tempat ini dengan baik. Sebenarnya jika dilihat dari mata batin orang-orang yang peka terhadap makhluk lain maka mereka akan melihat ada perkampungan Gaib yang ada di desa ini. Jadi di sini tidak hanya ada perkampungan manusia saja tetapi juga perkampungan jin. Kami hidup saling berdampingan satu sama lain dan berusaha untuk saling menghormati kehidupan masing-masing. Selama ini kehidupan kami manusia dan makhluk lain berjalan dengan seimbang. Dan penguasa dari Perkampungan Gaib yang ada di desa ini juga sering membantu warga desa dari hal-hal di luar Nalar manusia. Karena makhluk itu juga yang telah menyelamatkan warga desa Dari teror pocong Sukarta. Dia juga yang membuat makhluk-makhluk gaib yang tinggal di tempat ini tidak pernah mengganggu warga desa dengan cara yang ekstrem."
"Dewa? Dewa apaan, Pak?" tanya Cendol.
"Ah, bukan dewa yang seperti itu maksud saya. Tetapi apa ya sebutannya, mungkin kita bisa menyebutkan nya dengan nama jin muslim atau jin baik."
"Dan dia meminta sesajen pada warga desa?" tanya Dolmen.
"Yah, Memang begitulah peraturannya dan ini sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu titik Jadi kami hanya meneruskan apa yang sudah terjadi dan dilakukan oleh nenek moyang kami sebelumnya."
"Tapi bukannya Bapak juga bisa melihat keberadaan makhluk lain? Apa Bapak tidak bisa membantu warga desa Dari teror makhluk-makhluk tersebut?" tanya Armand.
"Saya tidak bisa, Mas. Karena mereka itu banyak sekali. Kalau cuma satu dua makhluk saja seperti kemarin, mungkin masih bisa saya atasi, tapi jika sebanyak yang ada di sini, tentu saya tidak bisa melawan mereka."
Obrolan mengenai keberadaan makhluk
Gaib di desa Kalimati membuat perjalanan mereka menuju ke rumah menjadi lebih hening. Tidak banyak gurauan yang mereka lontarkan seperti biasa, namun hanya beberapa kali diskusi serius yang justru membuat pikiran mereka menjadi pusing.
"Loh kok kalian baru sampai. Bukannya tadi udah pulang duluan?" tanya Khusnul.
"Iya, tadi kami mampir ke rumah Pak Sobri dulu," sahut Cendol.
"Eh, ngapain? Kalian diikuti setan juga?" tanya Indy antusias.
"Bukan gitu. Kami membahas soal rumah yang ada di dekat rumah Pak Sobri. Eh terus malah melantur ke mana mana. Pakai bahas soal kampung jin lagi," tukas Dolmen.
Cendol segera menyenggol Dolmen sambil melirik tajam.
"Eh kenapa? Memangnya mereka nggak boleh tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di Desa ini? Ayolah, informasi sepenting itu kita harus membaginya ke yang lain. Ini Bahaya loh. Salah dikit aja kita bisa kesambet bahkan lebih parah lagi dari itu. Bayangin aja Mey yang cuma ketawa-ketiwi di sungai aja bisa sampai segitunya diganggu."
"Tunggu, maksudnya gimana? Informasi apa sih?" tanya Derry.
Obrolan mereka memancing teman-teman yang lain menjadi lebih tertarik. Mereka pun akhirnya duduk di teras sambil membahas hal itu.
"Eh, jangan di teras bahasnya. Bahaya! Masuk aja. Mau magrib juga nih!" pekik Ike.
Akhirnya mereka semua masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu. Mereka pun menceritakan apa yang tadi Pak Sobri jelaskan. Semua orang menyimak dengan antusias dan ekspresi mereka beragam.
"Gila sih! Serius? Astaga! Gue pengen pulang aja kalau begini!" pekik Mey yang justru ketakutan. Mengingat apa yang sudah menimpa dirinya merupakan hal yang baru pernah terjadi seumur hidup Mey.
" Ada apa sih ini? kenapa tiba-tiba Pengen pulang?" Sebuah suara muncul dari pintu depan. Rupanya Daniel, Feni, dan Sule sudah kembali dari kota. Ternyata diskusi mengenai apa yang meresahkan mereka Terdengar sampai luar dan kebetulan tiga orang itu juga sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu dan berniat akan memberikan kejutan. Tapi ternyata mereka malah dibuat penasaran dengan apa yang terjadi saat mereka pergi.
Akhirnya mereka semua Memberitahukan apa yang terjadi kepada tiga orang itu saat mereka tidak ada di desa ini.
"Gimana nih! Kita sama sekali nggak tahu kalau ternyata Desa ini benar-benar mengerikan. Kalau tahu begini gue bakalan nyari tempat lain!" ucap Mey.
"Iya, sama. Serem banget sih!" tambah Rahma.
"Sebentar. Gini, ini sih pendapat saya pribadi ya. Kalau menurut saya sebaiknya kita tetap melanjutkan KKN kita. Karena proker sudah mulai kita jalankan. Saya sudah mendapatkan sponsor untuk pemasangan instalasi listrik di desa ini dan juga bahan material bangunan untuk pembuatan sumur dan tempat pemandian umum yang layak untuk warga desa. Uang yang sudah dikeluarkan dan akan dikeluarkan itu tidak sedikit. Apalagi uang itu tidak hanya berasal dari kantong kita. Banyak pihak yang ikut andil dalam kegiatan ini dan saya tidak ingin mengecewakan pihak-pihak tersebut. Kalau dari yang Saya dengar tadi, sepertinya hal-hal semacam itu bukan menjadi masalah besar jika kita bisa bersikap sopan dan mematuhi peraturan yang sudah warga desa ini buat. Seperti tidak mendekati tempat-tempat yang sudah diberikan sesajen, atau bersikap berisik saat berada di rumah ini ataupun di luar rumah. Sebaiknya kita harus lebih waspada dan menjaga sikap Selama ada di tempat ini. Toh Kita hanya 3 bulan saja berada di sini jadi sebaiknya kita semua bertahan satu sama lain agar KKN kita berhasil," ungkap Daniel.
"Iya, gue setuju sih. Kita juga nggak mungkin mundur dan Cari tempat lain untuk memulai KKN. Selain akan membuang waktu kita juga pasti akan membuang biaya. Jadi sebaiknya kita teruskan saja KKN kita di sini dengan tetap saling jaga satu sama lain," ucap Armand.
"Ya sudah, Rahma, kamu masak apa? Saya lapar," tukas Daniel sambil memegangi perutnya.