
Daniel menyuruh Pak Muhtarom untuk melaju dengan lebih cepat menuju ke pondok pesantren. Dia benar-benar harus segera sampai di desa sebelum tengah malam. Jarak dari kampusnya menuju ke pondok pesantren memang cukup jauh. Kurang lebih akan ditempuh 2 jam perjalanan dengan mengendarai kendaraan roda dua atau roda empat. Itupun jika kondisi jalanan tidak macet.
Mobil mulai masuk ke kawasan pedesaan. Di mana lokasi pesantren memang berada di daerah pelosok, bukan di pusat kota. Beberapa kali Pak Muh beristighfar saat berkendara. Apalagi hari sudah hampir gelap. Burung burung di sekitar terbang tak tentu arah, seperti sedang menghalangi jalan mereka berdua.
"Hati hati, Pak!" kata Daniel yang ikut cemas dengan kondisi jalanan sore ini.
"Iya, Mas. Tapi ngomong ngomong tumben sekali jalanan di sini sepi," ucap Pak Muhtar om sambil memperhatikan di kanan kiri jalan, juga sesekali menatap spion di kanan dan tengah mobil.
"Memangnya Bapak sudah pernah lewat sini?"
"Sering, Mas. Soalnya ini jalur ke rumah mertua saya. Jadi setiap anak anak liburan, kami akan ke sini. Biasanya ramai, banyak kendaraan. Apalagi di atas kan banyak vila. Tumben banget ini sepi. Padahal weekend."
Daniel ikut menatap sekitar. Perkataan Pak Muh memang masuk akal. Karena dia pun mulai merasakan hal itu sekarang.
"Pak, bisa dipercepat lagi? Perasaan saya nggak enak," katanya.
"Baik, Mas."
Mobil melaju lebih cepat. Keduanya tampak gusar, terutama Daniel. Pikirannya berkecamuk. Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi lebih memikirkan teman teman nya yang berada di desa Kalimati. Apalagi setelah kisah yang dibagikan para dosen kampusnya tadi. Itu bukan lah sebuah kabar baik, tapi sebaliknya. Daniel ingin sekali bisa secepatnya sampai di desa Kalimati. Dia sudah sangat cemas memikirkan teman temannya di sana.
Plak!
Ada sesuatu yang mengenai kaca mobil depan. Mereka berdua terkejut.
"Apa itu, Pak?" tanya Daniel. Benda itu memang masih menempel pada kaca depan mobil. Sehingga mereka masih dapat melihat apa yang jatuh dari langit tadi.
"Burung, Mas. Sepertinya langsung mati."
Melihat paruh burung itu menancap di kaca mobil membuat mereka yakin kalau nyawa burung itu tidak selamat.
"Kok bisa burungnya nabrak kaca mobil ya, Pak?"
"Hm, kali ini firasat saya juga nggak enak, Mas. Ini pertanda buruk."
Dalam banyak budaya, berbagai mitos mengenai hal ini kerap terdengar di beberapa wilayah. Kejadian itu dianggap pertanda sial. Karena dianggap sebagai tanda atau indikator peristiwa yang akan datang, terutama di kalangan mereka yang percaya takhayul.
Menyakiti burung terbang secara tidak sengaja saat mengemudi diyakini sebagai pertanda buruk, berdasarkan cerita rakyat. Burung dianggap sebagai pembawa pesan jiwa, dan menyakiti mereka atau lebih buruk lagi, membunuh mereka, bahkan tidak dengan sengaja, adalah tanda negatif.
Pak Muh menambah kecepatan mobilnya. Untung jalanan sangat sepi. Bahkan sejak tadi belum ada kendaraan lain yang berpapasan dengan mereka atau bahkan menyalip dari belakang. Seolah olah jalanan itu hanya milik mereka saja. Tapi tiba tiba keanehan lain kembali terjadi. Burung yang masih menancap di kaca depan mobil, masih ada di sana. Kini kaca samping juga mulai dihujani oleh burung burung lain.
Burung burung itu datang dari berbagai penjuru dan seolah olah sengaja hjan menabrakkan tubuh mereka ke mobil itu. Daniel terus beristigfar. Dia tampak panik, begitu pula dengan Pak Muh. Tapi Pak Muh tetap berusaha tenang. Karena dia sedang memegang kemudian sekarang. Jika dia ikut panik pasti akan mempengaruhi laju mobil itu, dan bisa saja mereka akan celaka bersama sama. Kaca mobil retak karena paruh burung yang menancap.
"Pak, gimana?" tanya Daniel.
"Mas, berdoa saja. Minta perlindungan sama Allah. Sebentar lagi kita sampai kok," kata Pak Muh.
Walau diterjang dengan berbagai gangguan, pada akhirnya mereka pun sampai di pondok pesantren. Suasana pondok pesantren saat ini cukup ramai, karena mendekati magrib. Anak anak yang berada di sana sudah mulai memenuhi masjid yang ada di lingkungan pesantren. Begitu mobil masuk ke dalam, mobil yang dikendarai Pak Muh menarik perhatian hampir semua orang yang ada di sana. Wajar saja jika mereka semua memperhatikan kendaraan roda empat itu. Karena kondisinya sangat parah. Bahkan bangkai burung masih banyak yang menancap di kaca mobil dan bagian badan mobil lainnya. Seakan akan mereka baru saja melewati serangan burung yang sangat banyak.
Daniel membuka pintu mobil, begitupun dengan Pak Muh. Begitu keluar, Daniel segera melihat ke beberapa orang yang sangat ia kenal sebelumnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi dia langsung memeluk sahabat-sahabatnya yang memang masih ada yang tinggal di pesantren untuk mengabdikan diri.
"Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam!"
"Nil, ada apa? Kau baik baik saja? Apa yang terjadi?" tanya Pandu yang saat ini sedang dipeluk oleh Daniel.
Pandu adalah salah satu sahabat dekat Daniel saat mereka masih berada di pesantren dulu. Ini Pandu justru masih tinggal di pesantren untuk mengabdikan dirinya di sana membantu mengajar kegiatan ekstrakulikuler adik-adik yang baru masuk pesantren. Pandu memang mempelajari ilmu kebatinan. Diantaranya dia bisa merasakan adanya makhluk halus. Walau dia tidak pernah melihatnya secara langsung. Karena biasanya ada beberapa anggapan jika seseorang bisa melihat makhluk halus itu artinya ada yang tidak beres dengannya. Orang itu sebaiknya di ruqyah karena pasti ada jin yang menempel pada tubuhnya. Sementara yang terjadi pada Pandu justru sebaliknya. Dia memang tidak pernah melihat wujud asli makhluk halus yang sering ia temui. Pandu hanya bisa merasakan adanya makhluk-makhluk itu di sekitarnya. Selain membantu mengajar di pesantren, Pandu juga sering mendapatkan permintaan untuk melakukan ruqyah. Memang setelah lulus dari pesantren, Pandu mendapatkan amanat dari Kyai pemilik pesantren, agar Pandu bisa membantu nya untuk melakukan rukiyah. Oleh sebab itu dia sudah dididik dan dibekali ilmu-ilmu untuk melakukan ruqyah.
"Ndu, Kyai ada, kan? Saya butuh bantuan kalian. Ini benar benar darurat sekali!" kata Daniel serius.
"Yah, saya yakin ini memang kondisi darurat. Lihat saja mobil yang kau kendarai ke sini. Penuh dengan aura gelap. Makanya burung burung itu mengejar kalian. Sepertinya ... Ada yang memerintahkan mereka," ucap Pandu masih memperhatikan mobil tersebut.
"Lalu bagaimana?"
"Kita temui dulu Kyai. Ayo, masuk ke dalam. Salat jamaah dulu, ya. Eum, Noval, Agam, Syarif! Tolong kalian bersihkan mobil itu."
"Baik, Tad!"
Daniel dirangkul oleh Pandu masuk ke dalam masjid. Namun dia sempatkan menoleh ke arah mobil yang tadi ia naiki. Pak Muh masih ada di sana. Sedang membersihkan mobil tersebut dari bangkai-bangkai burung yang masih menempel. Untungnya dia dibantu oleh 3 orang Santri sehingga Daniel pun sedikit merasa lebih tenang.
Suara Adzan berkumandang. Ini adalah pertama kalinya Daniel kembali melaksanakan salat berjamaah di pesantren. Setelah lulus dari Pondok Pesantren itu dia langsung melanjutkan kuliah. Bahkan sampai sekarang Daniel belum pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya.
Jamaah sudah mulai meninggalkan masjid. Imam salat yang sejak tadi masih berzikir, kemudian menoleh ke belakang.
"Daniel? Kamu sehat, kan?" tanya Kyai.
"Alhamdulillah, Kyai. Saya sehat. Bagaimana kabar Kyai?" tanya Daniel balik.
Dia Lalu mendekat dan menyalami pria tua itu dan mencium punggung tangannya.
"Alhamdulillah. Banyak sekali yang mengikutimu," kata Kyai sambil menatap keluar masjid.
Melihat hal itu Daniel pun ikut menoleh ke belakang. Namun dia tidak melihat apapun selain para santri yakini sedang berada di halaman masjid.
"Ma—maksud, Ustad?"
"Memangnya kamu sedang berada di mana? Kenapa terlihat kacau sekali?" tanya Kyai sambil tersenyum.
"Saya ... Saya sedang kkn, Kyai. Hm, tapi di sana ... Banyak sekali hal aneh. Huft, saya bingung. Karena tadi saya dengar informasi baru dari dosen saya."
" Kata dosen saya Kami salah memilih lokasi KKN. Karena pihak kampus sudah melarang mahasiswa untuk KKN di tempat itu. Tapi rasanya aneh, Kyai. Karena jelas-jelas saat pertama kali kami mendapatkan formulir untuk KKN daerah yang akan kami datangi memang Desa itu. Tapi dalam laporan yang disimpan pihak kampus bukan tempat tersebut. Lantas Siapa yang menggantinya?" tanya Daniel.
Kyai hanya tersenyum sambil menarik nafas panjang. Dia tampak Sedang berpikir dengan kedua bola mata yang menatap ke atas.
" ini memang sebuah kesengajaan. Kalian memang sudah diincar untuk bisa datang ke tempat itu."
"Oleh siapa, Kyai?"
"Makhluk di sana."
" maksudnya penunggu di sana?"
"Yah, seperti itulah. Saya melihat dari sini, kalau sebenarnya mereka sudah mengincar kalian sejak awal. Semua seperti sudah direncanakan."
"Maksudnya direncanakan sejak awal itu apa, Kyai? Apakah mereka sengaja mengincar kami?"
"Iya."
"Untuk apa?"
"Sepertinya pernah terjadi tragedi sebelumnya di tempat itu, bukan? Dan hal itu akan diulangi lagi pada kalian."
"Bunuh diri? Apakah itu maksudnya?"
"Benar, kah, pernah ada kejadian bunuh diri di desa itu?"
" Iya, Kyai. Kata dosen saya 10 tahun yang lalu pernah ada mahasiswa yang KKN di desa itu. Kejadiannya pun sama seperti apa yang kami alami. Banyak yang kesurupan dan itu selalu terjadi setiap hari. Lalu tiba-tiba mereka semua ditemukan gantung diri di area pemakaman desa. Itu adalah hal teraneh yang pernah saya dengar seumur hidup saya, Kyai."
"Tentu saja itu aneh. Kejadian itu ada campur tangannya dengan makhluk halus. Di hari H kejadian, semua mahasiswa itu dirasuki oleh makhluk-makhluk yang ada di tempat itu. Setelahnya, kamu bisa menebaknya sendiri."
"Jadi, Apakah mereka akan melakukan hal yang sama kepada kami?"
" sepertinya demikian. Karena yang saya lihat ada satu sosok penguasa di sana. Dia sudah mau di tempat kita ribuan tahun. Hal itu juga yang membuat kekuatannya menjadi sangat besar. Seluruh makhluk halus di sana tunduk pada sosok itu. Bahkan dia juga yang mengatur semua kegiatan di desa itu. Jika ada orang yang sakit, atau kesurupan, mereka akan disembuhkan oleh kaki tangannya lalu warga desa semakin rutin memberikan persembahan untuk makhluk itu."
"Ah, iya! Itu benar. Karena setiap hari akan ada sesajen yang diletakkan di beberapa sudut desa."
"Iya, sebenarnya sesajen itu hanya sebuah simbol saja. Karena makhluk itu tidak memakan semua itu. Dia justru memakan jiwa manusia yang tinggal di sana. Ah ya, Apakah jumlah warga desa di sana tidak sampai 100 orang?" tanya Kyai.
"Benar, Kyai. Hanya ada sekitar 30 kepala rumah tangga. Dan satu biasanya kan dihuni sebanyak 3 sampai 5 orang."
"Padahal sebelumnya tempat itu ramai dengan penduduk. Tetapi perlahan warga desa banyak yang meninggal. Hingga menyisakan beberapa penduduk saja sekarang."
"Tunggu sebentar! Sepertinya perkataan Kyai memang benar. Karena area pemakaman di desa itu sangat luas dan banyak sekali batu nisan di sana."
"Dan, kejadian mahasiswa yang gantung diri itu ada di area pemakaman tersebut?"
"Betul, Kyai."
"Itu artinya tempat tersebut merupakan sumber dari kekuatan makhluk itu."
"Oh iya! Patung! Ada sebuah patung batu yang terletak di kolam mata air. Patung-patung itu terlihat seperti manusia dengan posisi bersemedi. Kemarin ada yang melihat kalau patung itu berjalan mengelilingi desa. Dan ada kemungkinan kalau salah satu teman saya yang kemarin kesurupan, memang dirasuki oleh sosok patung itu."
"Bukan dirasuki oleh patung itu. Melainkan dirasuki oleh makhluk yang ada di dalam patung itu."
"Jadi maksud Kyai, sosok yang ada di dalam patung itu adalah makhluk menghuni tempat itu selama ribuan tahun?" tanya Pandu.
"Iya, betul."
"Dan dia adalah makhluk yang mengatur Desa itu, dan juga kedatangan Daniel serta teman temannya?"
"Saya rasa memang demikian."
"Tapi, Kyai. Kenapa harus kami?"
"Hm, Saya juga tidak tahu. Mungkin nanti akan kita cari tahu Setelah kita datang ke sana. Bagaimana? Kita berangkat sekarang saja?"
"Baik, Kyai. Kebetulan Mobilnya juga sudah dibersihkan."
"Baguslah. Tapi kita tetap membawa mobil Pesantren juga ya, Ndu. Kasihan kalau nanti Daniel harus kembali mengantarkan kita pulang."
"Eh, Kyai. Tidak apa apa kok. Saya senang bisa mengantar dan menjemput Kyai ke sini."
"Hahaha. Iya saya tahu. Tapi saya akan membawa kendaraan pribadi. Lagi pula sopir yang tadi datang bersamamu sepertinya sudah kelelahan. Biar saja dia beristirahat besok."
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi ke Dusun Kalimati malam itu juga. Sesuai dengan perkataan Kyai kalau pihak pesantren akan membawa mobil pribadi. Kyai mengajak Pandu dan Syarif yang akan ikut pergi ke dusun Kalimati. Tepat setelah salat Isya Mereka pun akhirnya berangkat menuju ke desa Kalimati. Perjalanan kali ini tidak terlalu banyak gangguan. Bahkan Pak Muhtarom bisa mengemudi dengan tenang sekalipun mobil yang ia kendarai dalam kondisi yang kacau. Ada sedikit kecemasan dalam hati sopir keluarga Armand itu. Tentu saja dia takut jika dimarahin oleh majikannya nanti.
" Tenang saja, Pak. nanti saya akan berbicara dengan Armand tentang apa yang terjadi. Saya yakin Arman akan memakluminya. Lagi pula dia bukan tipe orang yang suka semena-mena terhadap orang lain. Kalau bapak tetap dimarahi saya yang akan bertanggung jawab," kata Daniel.
"Tidak usah, Mas. Saya akan menghadap Mas Armand langsung untuk menjelaskan semuanya."
"Baiklah. Hm, Semoga perjalanan kita malam ini lancar terus sampai ke tempat tujuan, ya, Pak."
"Aamiin. Allah bersama kita, Mas."
jarak yang akan mereka tempuh menuju desa kalimati sebenarnya tidak begitu jauh. hanya kurang lebih satu setengah jam perjalanan saja. tapi mengingat kejadian yang mereka alami sebelumnya saat datang ke pondok pesantren membuat Daniel dan Pak Muh menjadi lebih Waspada. tapi setidaknya mereka yakin kalau perjalanan ini akan lebih mudah karena ada Kyai yang mengikuti mereka terus dari belakang.
baru setengah perjalanan, tiba-tiba ada petir yang menyambar. suara guntur menandakan akan turunnya hujan malam ini. tapi fenomena itu tidak lantas membuat mereka berhenti dan takut. mereka justru makin mempercepat mengemudi. mobil yang di dalamnya berisi Kyai, hanya ada 3 orang di dalamnya. Pandu menyetir mobil itu. ditemani Syarif di sampingnya. sementara Kyai duduk di kursi Tengah sambil terus berdzikir sepanjang jalan. mereka harus sampai di desa Kalimati malam ini juga Apapun Yang Terjadi.