Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
40. Nasib sial Bu Jum


"Assalamu'alaikum!" panggil seseorang di pintu depan rumah.


Aretha yang sedang menyiapkan sarapan lantas menoleh ke arah pintu itu berada. Sementara dua pria yang kini hendak pergi ke kantor, sedang sibuk menyiapkan diri. Alhasil, Aretha yang masih memakai celemek bergegas keluar. Begitu pintu dibuka, ada beberapa warga desa yang datang ke rumahnya. Aretha tentu bingung dengan situasi tersebut.


"Maaf, ada apa, ya?" tanyanya sedikit sungkan.


"Mbak, kami hanya punya ini saja. Terima kasih banyak karena sudah menyelamatkan anak anak kami," ucap salah satu dari warga desa di depannya. Dia memberikan beberapa ikat jagung mentah. Tidak hanya itu saja, ada singkong, ubi, sayur mayur, buah buahan yang kini memenuhi teras rumahnya.


"Ya Allah, Bu. Tidak perlu seperti ini. Saya senang kok membantu. Jadi jangan dijadikan beban. Lagipula apa yang terjadi semalam itu memang sudah seharusnya saya lakukan."


"Nggak apa apa, Mbak Aretha. Kami juga senang dan ikhlas memberikan semua ini. Maaf, kami hanya punya ini saja. Semoga bermanfaat."


Para warga desa sedikit memaksa agar Aretha mau menerima pemberian mereka.


"Ada apa, Sayang?" tanya Radit yang muncul di belakangnya.


"Ini, Dit. Ibu ibu ini mau kasih kita semua ini, katanya sebagai ucapan Terima kasih," tukas Aretha.


"Betul, Mas Radit. Kami benar benar berterima kasih sama Mas Radit dan Mbak Aretha. Karena Mas dan Mbak berdua, anak anak kami berhasil ditemukan. Saya sudah putus asa sekali, waktu anak saya dibawa pergi oleh Ummu Sibyan, karena biasanya siapapun yang dibawa oleh makhluk itu, tidak akan bisa kembali. Tapi tiba tiba anak saya pulang, karena bantuan Mbak dan Mas. Entah, apa yang harus saya lakukan untuk membalas budi," tutur Bu Rus sambil menangis tersedu sedu.


Aretha terenyuh melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu paruh baya tersebut. Dia hanya tersenyum, sambil manahan tangis, lalu mengelus punggung Bu Rus.


"Alhamdulillah. Semua bisa kembali dengan selamat. Saya juga ikut senang, Bu."


"Mbak Aretha dan Mas Radit, kalau butuh bantuan kami, tinggal bilang saja. Kami akan berusaha membantu," kata Bu Rohani.


"Iya, Terima kasih banyak, Bu. Tapi ibu-ibu di sini tidak perlu repot seperti ini lagi. Kami sebenarnya tidak ingin menolak pemberian ibu-ibu. Tapi kalau sebanyak ini kamu juga bingung harus diapakan makanan sebanyak ini. Sementara kami hanya tinggal berdua saja di sini," pungkas Radit.


"Tapi, Mbak Aretha dan Mas Radit tetap harus menerimanya. Kami sengaja menyiapkan semuanya."


"Iya, kami Terima kok, Bu. Terima kasih banyak."


"Betul, Bu. Kami Terima pemberian Ibu Ibu tapi, dikurangi saja, ya. Kami ambil sedikit saja. Sisanya bisa dibagikan ke warga lain.


Setelah diskusi panjang lebar akhirnya terjadilah kesepakatan mengenai pemberian buah tangan dari para warga. Areta hanya mengambil beberapa bahan makanan dan sisanya kembali dibawa pulang oleh mereka untuk dibagi-bagikan ke warga desa yang lain.


"Wuih, panen lo, Tha?" tanya Hendra sedikit menyindir.


"Iya. Nanti malam  kita makan singkong rebus sama jagung rebus. Oke?" kata Aretha balik.


"Loh kok. Ish! Itu mah cemilan, Aretha! Lagian gue kayaknya bakal balik ke mess deh, besok."


"Besok, kan? Bukan hari ini? Ya udah." Radit agak terkejut dengan keputusan Hendra, karena yang dia tahu Hendra meminta izin menginap hingga hari gajian. Karena dia akan pindah ke rumah kost yang berada tidak jauh dari kantor.


"Emangnya udah aman, Hen? Nggak ada penampakan lagi?" tanya Aretha


"Enggak tahu. Tapi yang jelas, mending di mess deh. Setannya nggak bar bar kayak di sini!"


"Heh! Kenapa labil banget sih? Kemarin bilang mending di sini, soalnya kalau diganggu ada temennya. Sekarang katanya lebih mending di mess. Hati hati aja loh ya, kalau ternyata hantu di sana lebih mengerikan. Hayo," gurau Aretha.


"Heh! Jangan sembarangan lo, Tha! Gue udah mengumpulkan keberanian buat balik mess nih! Malah di ingetin lagi tentang setan!" omel Hendra.


Aretha dan Radit tertawa lepas melihat reaksi Hendra. Ada saja bahan obrolan yang memicu reaksi lucu Hendra.


***


"Bu Jum, saya hari ini mau pergi keluar kota. Mungkin sampai rumah sore atau malam. Bu Jum tolong masak bahan yang ada di kulkas aja, ya. Soalnya saya belum belanja ke warung. Mungkin nanti saya sekalian belanja ke supermarket aja."


"Oh, baik, Mbak. Saya akan masak makanan yang enak. Jadi nanti kalau Mbak Aretha dan Mas Radit sudah pulang makanan pasti sudah siap di meja."


"Makasih ya, Bu. Oh ya, Pak Slamet ke mana, Bu? Nggak ke sini?" tanya Aretha sambil tengak tengok sekitar.


"Oh, Pak Slamet kebetulan lagi ada pekerjaan di ladang, Mbak. Jadi hari ini nggak ikut."


"Oh ya sudah kalau begitu."


Areta yang sudah siap dengan dandanan yang rapi lantas segera meninggalkan rumah. Dia memutuskan untuk memanggil taksi online guna menghantarkannya ke tempat tujuan.


Sementara itu, di rumah besar tadi. Bu Jum yang awalnya hendak memasak seperti perkataannya pada majikannya, justru meletakkan semua pisau dan celemek di atas meja makan. Dia lantas mengambil buah anggur yang ada di meja makan dan menyantapnya dengan santai. Tidak hanya itu saja, wanita paruh baya itu lantas berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa dengan mengangkat kakinya ke meja. Dia meraih remot dan menyalakan TV besar di hadapannya. Sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan kesehariannya selama di rumah itu selama ini. Yah, semua itu dia lakukan karena sekarang dia sendirian di rumah. Majikannya sedang pergi keluar untuk waktu yang cukup lama, dan dia di rumah sendirian. Jadi dia bisa bersantai sejenak.


"Ah, hampir saja lupa!" kata Bu Jum lalu bergegas beranjak dari sofa empuk itu.


Dia tampak tergesa gesa berjalan menuju kamar Aretha. Tanpa ragu ragu lagi, Bu Jum segera membuka pintu kamar itu yang memang tidak pernah dikunci. Dia langsung menuju ke lemari pakaian dan mengacak acak isinya. Hingga akhirnya mata Bu Jum berbinar saat menemukan amplop cokelat yang tebal. Dia sangat yakin kalau isi di dalamnya adalah sesuatu yang ia inginkan. Begitu dia membuka amplop itu, tiba tiba senyumnya pudar.


"Apa ini!" pekiknya dengan ekspresi kesal begitu tahu kalau isi di dalam amplop tersebut adalah tumpukan kertas nota milik Radit.


"Jadi begini, ya? Kalau saya nggak ada di rumah?" tanya seseorang.


Begitu Bu Jum berbalik badan, dia terkejut karena ternyata dia adalah majikannya, Aretha.


"Mb—mbak? Mbak A—Aretha? Su—sudah pulang? Sa—saya hanya se—sedang membereskan lemari. Maaf, kalau saya lancang," kata Bu Jum membela diri.


"Benar, kah, kalau Bu Jum cuma membereskan lemari? Kalau cuma membereskan lemari kenapa harus membuka buka isi amplop itu, Bu?" tanya Aretha tegas dan terkesan menyudutkan wanita itu.


"Sa—saya tadi nggak sengaja membukanya, Mbak. Tadi tercecer di lantai, jadi saya membereskannya dulu. Ini tidak seperti yang Mbak Aretha lihat," bela Bu Jum.


Wanita itu lantas mendekat dan berusaha meraih tangan Areta. Hanya saja Areta yang sudah mengetahui semua perbuatan busuk Bu Jum, menepis tangan wanita itu. Dia seakan enggan untuk disentuh oleh asisten rumah tangganya bahkan seujung kuku sekalipun.


"Sebaiknya Bu Jum jelaskan saja ke polisi. Saya sudah menghubungi mereka dan mereka sedang dalam perjalanan ke sini."


"Mbak! Mbak Aretha! Jangan, Mbak. Saya tidak melakukan perbuatan seperti itu. Saya bersungguh-sungguh. Kenapa Mbak Aretha tidak mempercayai saya? Saya berbicara sungguh sungguh!" katanya lagi dengan bersemangat.


"Bu, sebaiknya Ibu mengakui perbuatan ibu sekarang juga. Tidak ada gunanya Ibu menghindari terus. Karena kejahatan serapi apapun ditutupi, pasti akan tercium juga," kata seseorang.


Bu Jum menoleh ke pintu, di belakang Aretha kini ada Kinanti dan Ratno. Dia terkejut saat melihat putrinya masih hidup.


"Ki—Kinanti? Kamu ... Masih hidup, Nak?" tanya Bu Jum lalu berjalan mendekat.


Kedua bola matanya berkaca-kaca. Begitu dia sudah sampai di hadapan Kinanti yang memang terasa sangat nyata. "Kamu masih hidup, Nak? Ya Allah! Ternyata benar! Kamu ke mana saja selama ini? Kenapa kamu nggak pulang ke rumah."


Bu Jum terlihat sangat senang saat melihat Kinanti di depannya. Aretha bahkan sempat heran dengan reaksi Bu Jum yang di luar dugaan. Tapi anehnya Kinanti justru melakukan hal sebaliknya. Dia tampak tidak perduli dengan kecemasan yang ditunjukkan ibunya. Kinanti justru menepis tangan Bu Jum dan berusaha menjauhi wanita paruh baya tersebut.


"Kinanti? Kenapa?" tanya Bu Jum menatap heran ke Putrinya.


"Kenapa? Apa sandiwara yang sedang ibu rencanakan sekarang?" tanya Kinanti. Suaranya bergetar saat mengatakan hal itu kepada wanita yang pernah melahirkan nya.


Dia paham, kalau ada istilah surga ada di bawah kaki ibu. Tetapi dia tidak merasakan surga di sana. Ibunya terlalu jahat pada orang lain. Bahkan Ibunya juga tega mengkhianati suaminya sendiri. Kinanti sudah sangat sakit hati pada Bu Jum. Apalagi hal itu sudah berlangsung cukup lama. Hampir lima tahun lamanya, Kinanti menahan semua rasa sakit dan amarah pada Ibunya. Kini itu semua meluap begitu saja setelah Aretha mendatanginya.


Flashback.


"Bu Jum, saya hari ini mau pergi keluar kota. Mungkin sampai rumah sore atau malam. Bu Jum tolong masak bahan yang ada di kulkas aja, ya. Soalnya saya belum belanja ke warung. Mungkin nanti saya sekalian belanja ke supermarket aja."


"Oh, baik, Mbak. Saya akan masak makanan yang enak. Jadi nanti kalau Mbak Aretha dan Mas Radit sudah pulang makanan pasti sudah siap di meja."


"Makasih ya, Bu. Oh ya, Pak Slamet ke mana, Bu? Nggak ke sini?" tanya Aretha sambil tengak tengok sekitar.


"Oh, Pak Slamet kebetulan lagi ada pekerjaan di ladang, Mbak. Jadi hari ini nggak ikut."


"Oh ya sudah kalau begitu."


Taksi online yang sudah Aretha pesan sudah menunggu di depan rumah. Bu Jum hanya mengintip dari balik korden dengan menaikkan sebelah bibirnya. Hatinya berbunga bunga saat mengetahui kalau majikannya akan pergi meninggalkan rumah dalam waktu yang cukup lama. Selama ini, Aretha memang tidak pernah meninggalkan rumah itu, paling paling hanya pergi ke warung saja. Itupun hanya sebentar. Hingga Bu Jum tidak bisa bergerak bebas dengan semua niatan buruk yang sejak awal dia rencanakan.


"Nah, begitu. Baguslah. Aku bisa bersantai hari ini. Masak nanti saja. Dia nggak tahu, kalau aku masak cuma butuh waktu sebentar. Hahaha. Selama ini, aku cuma membodohi mu dengan berlama lama di dapur. Supaya kau tidak terus menerus menyuruhku ini dan itu, Aretha!" kata Bu Jum sinis.


Mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Begitu pula dengan Bu Jum yang sudah menyiapkan segudang rencana di otaknya untuk hari ini.


Aretha memeriksa ponselnya, dia terus membaca alamat yang diberikan Ratno padanya kemarin. Walau desa itu tidak terlalu luas, tetapi Aretha sengaja menggunakan transportasi roda empat untuk membuat Bu Jum mempercayainya.


"Pak, berhenti di situ saja, ya," pintar Aretha saat melihat sebuah gang sempit dengan tulisan 'gang Pakis' di depannya.


"Di sini saja, Mbak?" tanya sopir taksi online tersebut dengan nada keheranan.


"Iya, Pak. Ini argo nya 20 ribu rupiah, ya? "


"Hm, iya, Mbak."


"Loh, kok banyak sekali, Mbak? Jangan ah, Mbak. Saya tidak bisa menerimanya," tolak pria itu.


"Eh, nggak apa apa, Pak. Hitung hitung penglaris. Semoga setelah ini banyak pelanggan yang naik mobil Bapak, ya. Saya benar benar berniat memberikan uang itu kok sejak awal. Terima, ya, Pak."


Aretha yang sedikit memaksa akhirnya menyelipkan uang tersebut ke tangan sopir taksi tersebut.


"Wah, kalau begitu Terima kasih banyak. Semoga rejeki Mbak makin lancar. Sehat selalu, Mbak!"


"Aamiin. Terima kasih, ya, Pak."


Aretha lantas turun dari mobil lalu berjalan masuk ke gang tersebut. Gang sempit ini memang tidak cocok dilalui kendaraan bermotor. Karena tempatnya sangat sempit. Hanya bisa dilalui satu orang saja untuk melintasinya. Sejak tadi Aretha tidak berpapasan dengan orang lain. Apalagi gang tersebut juga sebenarnya hanya sebuah koridor panjang dengan tembok di kanan kirinya. Tetapi itu hanya sampai 200 meter dari jalan raya. Karena setelah itu, hanya ada kebun kebun singkong di kanan kirinya. Ditambah beberapa rumah penduduk yang berdiri jarang di sekitar, membuat Aretha yakin, kalau tempat ini tidak terlalu banyak warganya.


"Maaf, Pak. Mau tanya, rumah Mas Ratno di sebelah mana, ya?" tanya Aretha begitu bertemu dengan seorang pria dengan rambut yang sebagian besar berwarna putih. Ia sedang mendorong sepeda tua dengan golok yang tersampir di pinggangnya.


"Oh, Ratno? Di sana, Mbak. Rumah paling ujung," tunjuk pria tersebut.


"Oh yang itu, ya, Pak? Yang cat hijau?"


"Bukan, Mbak. Yang di depan cat hijau. Kalau yang cat hijau itu punya saudaranya Ratno tapi kosong."


"Oh, Terima kasih banyak, Pak."


"Iya, mari," kata pria tua itu lalu melanjutkan lagi perjalanan yang sempat tertunda tadi.


Aretha berjalan mantap ke arah yang tadi ditunjuk bapak tua. Lalu begitu sampai di antara rumah Ratno dan rumah kosong di depannya, Aretha berhenti sejenak. Dia menoleh ke rumah kosong itu. Tapi tak lama Ratno justru keluar rumah.


"Eh, Mbak Aretha sudah sampai," sapa Ratno, berjalan mendekat ke tempat di mana Aretha berdiri.


"Iya, Mas. Sengaja pergi pagi pagi. Eum, Kinanti ... Di mana?" tanyanya sambil tengah tengok sekitar.


Sebelum menjawab, Ratno menyapu pandang ke sekitar. Dia tampak sangat berhati hati saat hendak menjawab pertanyaan Aretha. Tampaknya keberadaan Kinanti di depan rumahnya masih tersembunyi dari orang lain. Walau rumah tetangga Ratno berada agak jauh dari nya.


"Ada. Mari, saya antar," kata Ratno berbisik.


Ratno berjalan lebih dulu ke rumah tersebut. Sebuah kunci yang ada di sakunya segera dikeluarkan. Dia pun membuka pintu rumah itu sambil tengak tengok sekitar. Aretha paham kenapa Ratno sangat protective. Apalagi yang orang lain tahu, Kinanti itu sudah menghilang. Jadi akan mengejutkan rasanya jika tiba tiba mereka justru menemukan Kinanti ada di rumah tersebut. Ratno pun bisa saja akan dicibir oleh warga desa. Apalagi mereka tidak memiliki hubungan apa apa.


"Mari, masuk, Mbak."


Setelah mereka masuk, pintu kembali ditutup dan dikunci.


"Ti? Ti? Ada tamu!" ucap Ratno dengan suara yang agak pelan.


Rumah itu merupakan rumah semi permanen. Di mana ornamen baru bata seakan menjadi ciri khas. Rumah itu adalah bangunan semi jadi. Seluruh ruangan di rumah itu sudah lengkap. Hanya tinggal melapisi dinding dengan semen dan mengecat nya saja. Lantai nya bahkan sudah di keramik.


"Sebentar, Mbak. Saya cari Kinanti dulu ke dalam," kata Ratno.


"Oh iya, Mas. Nggak apa apa. Saya nggak buru buru kok," sahut Aretha.


"Ti? Kinanti? Kamu lagi ngapain tho?"


Tak lama Aretha mendengar suara dia orang yang sedang bercakap cakap. Aretha yakin kalau itu adalah Kinanti dan dia pun menunggu wanita itu dengan sabar. Ini memang bukan perkara mudah. Karena untuk menemui Kinanti, Aretha harus membujuk Ratno dengan berbagai macam cara. Hingga akhirnya permintaannya pun dipenuhi.


"Kinanti habis nyuci, Mbak. Tunggu sebentar, ya," ucap Ratno. "Oh ya ampun, saya sampai lupa mempersilakan duduk. Duduk dulu, Mbak," ajak Ratno berusaha sopan.


"Iya, Mas. Nggak apa apa kok. Ngomong omong, ini rumah siapanya Mas Ratno?"


"Oh ini rumah sepupu saya. Dia sedang merantau ke Malaysia. Jadi tabungannya selama ini untuk membangun rumah, dan tinggal sedikit lagi selesai. Tahun depan dia mau pulang soalnya. Katanya sih udah capek kerja di negeri orang," jelas Ratno.


"Oh begitu. Pantas saja, rumahnya bagus. Tinggal sedikit lagi selesai renovasi nya, ya."


"Iya, Mbak. Mumpung masih muda katanya. Dia mau cari uang yang banyak hehe."


Obrolan mereka terhenti saat seorang wanita muda muncul dari koridor ruang tengah. Aretha cukup lama memandangi wanita itu. Dia sedang mengingat ingat apakah memang wanita itu yang ia lihat saat tiba di desa ini atau bukan.


"Ti, sini. Udah ditunggu Mbak Aretha dari tadi ini loh," tutur Ratno sambil melambaikan tangan agar Kinanti mendekat.


"Maaf, tadi saya lagi cuci baju dan piring lalu mandi," jelasnya sambil terus menunduk.


Aretha malah terus menatap wanita muda itu, lalu ia pun tersenyum. "Wah, ternyata kalau dilihat dari dekat, kamu cantik sekali, Kinanti!" puji Aretha.


Kinanti hanya melirik sekilas ke arah Aretha sambil tersenyum tipis.


"Apalagi kalau senyum. Padahal selama ini saya sering takut kalau melihat kamu di kebun teh. Hehehe."


Akhirnya tawa mulai terdengar di antara mereka bertiga. Kinanti pun tidak tampak mengerikan seperti pemikiran Aretha. Dia adalah gadis desa yang lugu.


"Maaf, kalau saya menakuti Mbak Aretha. Saya sungguh tidak sengaja."


"Oh ya? Nggak sengaja? Aku pikir kamu sengaja menakuti ku. Agar aku tidak betah tinggal di rumah itu."


"Eum, sebenarnya itu juga tujuan saya selama ini. Saya cuma nggak mau kalau ibu memanfaatkan kebaikan orang lain lagi untuk melakukan kejahatan."


"Hm, pasti berat, ya. Menanggung semua ini sendirian selama ini. Tapi... Apa kamu mau seperti ini terus? Kamu harus membuat keputusan. Nggak mungkin kamu sembunyi selamanya dari semua orang, Kinanti. Apalagi tadi Mas Ratno bilang kalau pemilik rumah ini tahun depan akan segera pulang, kan."


"Jadi maksud Mbak Aretha, bagaimana?"


"Maksud kedatangan ku ke sini, ingin mengajak kamu untuk membongkar semua kejahatan Bu Jum dan Pak Purno sekalipun Pak Purno sudah meninggal, tetapi kejahatan mereka tetap harus terungkap. Ini untuk menghindari korban korban selanjutnya yang mungkin akan terjadi di waktu mendatang. Bagaimana?"


Kinanti diam sejenak. Dia tampak sedang berpikir keras. Hingga akhirnya dia pun mengangguk pelan. "Apakah Bapak akan baik baik saja, Mbak? Kinanti cuma kepikiran sama Bapak."


"Insya Allah. Menurutku, sebaiknya Pak Slamet memang harus tahu. Tidak nyaman rasanya, jika beliau dibodohi oleh Bu Jum selama ini, bahkan bertahun tahun lamanya. Walau awalnya akan menyakitkan, tetapi aku yakin, kalau keadaan akan baik baik saja nanti."


Kinanti menoleh ke Ranto, dia mengangguk, menyetujui perkataan Aretha.


"Baik, Mbak. Saya mau melakukannya. Lagipula saya juga nggak nyaman kalau terus menerus bersembunyi seperti ini."


"Benar. Kamu pun harus melanjutkan hidupmu. Setidaknya kamu bisa memiliki kesempatan untuk membahagiakan Pak Slamet dan juga Ridho."


Kesepakatan sudah dibuat. Areta berhasil membujuk Kinanti untuk segera keluar dari tempat persembunyian. Yang lagi mereka menikmati teh buatan Kinanti, Areta memeriksa rekaman CCTV yang terhubung langsung dengan rumahnya. Dia sengaja memasang CCTV tanpa memberitahu Bu Jum. Tujuannya tentu untuk memata-matai gerak-gerik Bu Jum selama dirinya tidak ada di rumah. Maka dari itu kereta pergi dengan tanpa beban Karena dia sudah mempersiapkan segalanya.


"Ayo, kita ke rumah. Ibu mu mulai bertindak!" kata Aretha sambil menunjukkan rekaman CCTV di mana Bu Jum mulai memasuki kamarnya.


Mereka menempuh perjalanan dengan perjalanan kaki. Dalam perjalanan pulang ke rumah Pak RT juga menghubungi polisi untuk membantu proses penangkapan Bu Jum. Itu pun atas persetujuan Kinanti. Begitu sampai di rumah mereka bertiga berjalan mengendap-ngendap memasuki rumah yang memang sengaja tidak dikunci sejak awal.


***


"Sandiwara apa maksud kamu, Kinanti? Ibu tidak mengerti!"


"Ibu yang sudah membunuh Keisha dan juga selingkuhan Ibu! Bisa-bisanya Ibu berselingkuh di belakang bapak. Setelah semua hal yang sudah kita lalui bersama-sama. Ibu benar-benar keterlaluan!"


"Heh! Dengar, ya! Ibu melakukan ini untuk kebaikan kita semua. Toh, kamu juga menikmati uang dari hasil mencuri itu. Kalau soal perselingkuhan, kamu itu anak kemarin sore. Nggak paham apa yang Ibu rasakan. Bertahun tahun Ibu hidup tanpa belaian suami. Bapakmu itu loyo! Sakit sakitan! Sudah tua! Jadi nggak ada salahnya ibu bersama yang lain. Nanti kalau kamu sudah menikah kamu akan mengerti apa yang Ibu rasakan!"


" naudzubillahimindzalik. Sekalipun nanti aku menikah, aku tidak akan pernah mengikuti apa yang ibu lakukan."


"Ya Allah. Rupanya begitu, Jum?" tanya Seorang pria yang muncul di belakang Kinanti.


Orang itu ternyata adalah Pak Slamet Yang sengaja dijemput oleh Radit. Sengaja membawa Pak selamat datang ke rumahnya untuk mengetahui sendiri apa yang sebenarnya terjadi di antara istri dan putrinya.


"Bapak," panggil Kinanti.


"Bapak sudah tahu semua, Nak. Mas Radit sudah menceritakan nya tadi. Ya Allah. Aku nggak sangka kalau kamu melakukan hal serendah itu, Jum! Aku nggak sangka kalau kamu tega menghabisi anakmu sendiri hanya demi laki-laki lain! Apakah kamu tidak ada artinya bagimu?"


"Heh! Kalian semua itu hanya benalu yang bergantung terus menerus dariku. Coba bayangkan apa yang akan kalian lakukan jika aku tidak ada. Selama ini aku sudah berkorban banyak hal. Aku sudah bekerja dari siang hingga malam hanya untuk memenuhi kebutuhan kita semua. Aku capek melakukan hal itu sendirian! Kau itu tidak berguna sama sekali sebagai seorang suami! Bahkan aku harus mencuri di rumah ini untuk menambah penghasilan. Aku jika aku harus membunuh Keisha dulu. Kalau saja Anak itu tidak memergokiku, maka dia pasti masih hidup sampai sekarang.


Areta menoleh ke samping Bu Jum. Sosok anak kecil yang disebutkan tadi muncul di sana sambil menatap Bu Jum dengan tatapan sedih. Dia bahkan meraih tangan Bu Jum walau tidak sanggup dia sentuh.


" jadi kami mengakui kalau kamu membunuh Keisha?" tanya Pak Slamet.


"Yah! Aku memang membunuh anak itu. Aku juga membunuh Purno! Siapapun yang menghalangi tujuanku, akan segera ku habis!"


"Baiklah kalau begitu. Silakan, Pak, tangkap istri saya. Kejahatannya sudah sangat banyak!" kata Pak Slamet sambil mundur dan mempersilakan beberapa anggota kepolisian untuk membawa istrinya.