Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
10. curhat


Suara ketikan keyboard milik Feri begitu mengganggu. Ia terlihat bersemangat sekali, sampai sampai suaranya menggangguku yang sedang memikirkan hal lain. Diskusi yang tak kunjung


"Fer ... Nulis apaan sih gak selesai- selesai?" gerutu ku sebal.


"Rahasia! Elu nggak usah bawel deh," katanya cuek, tanpa rasa bersalah sama sekali. Daripada aku menjadi naik pitam dan beradu mulut dengannya, lebih baik aku menyingkir ke teras depan.


Malam ini sinar bulan terlihat indah sekali. Bulan purnama sedang ada di langit sekarang. Dihiasi ribuan bintang di langit, tanpa awan hitam di sekitarnya, membuat pemandangan atas ku sangat indah.


"Nih, Aku bikinin kopi." Tiba tiba Indra keluar dengan 2 cangkir kopi di tangannya. Menyodorkan padaku lalu kuterima dengan senang dihiasi senyuman tipis milikku.


"Terima kasih." Kusesap kopi buatannya sambil kembali menatap barisan bintang di langit. Tersenyum, seakan akan ini adalah momen menyenangkan selama beberapa hari terakhir.


"Nis."


"Ya?"


"Mm ... Maaf, kalau aku boleh tau. Siapa Burhan?" tanya Indra ragu.


Dan pertanyaan nya itu membuatku diam dan berpaling dari langit yang indah itu. Lalu menatapnya.


Aku sempatkan menelan ludah karena rasanya apa yang akan kuceritakan padanya adalah hal yang paling menyakitkan untukku.


"Burhan itu teman aku sama Wicak sejak kecil. Kami bertetangga. Walau dia lebih tua dari aku dan Wicak. Tapi semua anak-anak kompleks dekat rumahku sering main bareng. Sejak kecil sampai kami besar." Kembali ku hirup aroma kopi di tanganku dan ku minum agak banyak.


Indra masih diam dan terus menatapku. Memperhatikan tiap detil raut wajahku yang sedang kubuat sedatar mungkin. Walau perlahan, trauma akan kejadian itu muncul dalam memori otakku. Tentu membuat hatiku sakit, tetapi kutahan sebisa mungkin agar air mataku tidak ikut keluar.


"Kejadian itu terjadi saat aku masih kelas 1 SMU. Sore menjelang maghrib, aku pengen banget beli jagung bakar yang memang selalu ada di jam jam segitu. Abang penjualnya memang agak jauh dari rumah. Dan aku ke sana sendirian. Tetapi, di jalan aku ketemu Burhan. Dia nawarin diri buat nemenin aku, karena dia juga urusan juga di sana. Dan akhirnya aku pergi sama Burhan beli jagung bakar itu. Kebetulan kami harus melewati tanah lapang yang memang cukup sepi dan horor." Aku menarik nafas panjang. Bagian ini adalah bagian tersulit dari kisahku dengan Burhan. Indra menggenggam tanganku erat, menatap mataku dalam, mungkin mencoba untuk menguatkan.


"Tiba - tiba, Burhan membekap mulut ku, dia menarik ku secara paksa sampai ke sebuah gubuk yang biasa dipakai buat istirahat orang yang menggembala sapi untuk makan rumput. Nggak perlu aku jelasin apa mau Burhan, kan, Ndra? Dia sampai ngancem aku pakai pisau yang udah dia bawa. Tapi aku tetep berontak dan aku serang dia balik, bahkan aku tusuk lehernya sampai berdarah darah. Untung Wicak sama Deni lewat dan denger aku teriak teriak. Mereka yang nolongin aku. Coba kalau mereka gak dateng.mungkin aku udah masuk penjara."


"Masya Allah. Sorry, Nis. Aku gak tau kalau ceritanya sampai begitu. Maaf...." katanya dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Nggak apa - apa kok, Ndra."


"Terus gimana selanjutnya, kamu gak apa - apa kan?"


"Alhamdulillah, aku gak apa - apa. Burhan belum sempet melakukan lebih jauh. Cuma rasanya ... entahlah. Itu pertama kalinya aku mengalami kejadian semengerikan itu dan hampir bunuh orang. Kalau Wicak nggak dateng ...." ucapku tak ku lanjutkan lagi.


Kutahan sebisa mungkin air mata yang sudah menggenangi mataku.


Indra menggenggam tanganku erat


"Jangan sedih, Nis. Maaf ya, kalau aku malah ngingetin kamu soal ini. Aku cuma penasaran aja, karena beberapa hari ini kamu sering teriak histeris sambil menyebut nama Burhan."


"Nggak apa - apa kok, Ndra. Aku juga nggak tau kenapa jadi sering ke inget Burhan. Apalagi kata Wicak, dia kuliah juga di kampus kami," kataku membuat mata Indra membulat sempurna.


"Apa? Semester berapa dia? kamu pernah ketemu dia belum?" tanyanya beruntun.


"Belum pernah. Wicak juga udah cari. Terus nanya juga ke kakak tingkat, nggak ada yang namanya Burhan. Entahlah ... mungkin salah informasi."


Suara langkah kaku mendekat pada kami, orang yang kami bicarakan muncul dari pintu. "Sorry ganggu, gaes." Wicak muncul dengan secangkir teh hangat, lalu duduk tak jauh dari kami.


"Santai aja kali, Cak. Ngobrol doang," sahut Indra.


"Hm ... pacaran juga gak apa - apa kali, Ndra. Nanti aku pindah aja ke kebon. Sambil ngopi dan nge-rokok," sindir nya.


"Ngaco kamu," elakku sambil menyeka air mata yang sudah jatuh.


"Eh, kok nangis?" tanya Wicak heran.


"...."


"Kalian lagi berantem, ya? Eum...


Duh aku masuk aja deh. Kalian selesaikan dulu aja masalah kalian," katanya lalu berdiri.


"Yang berantem siapa? Tadi aku habis cerita soal Burhan ke Indra."


Otomatis wicak kembali duduk dan memasang wajah serius.


"Kamu udah cerita ke Indra?"


"Udah."


"Kamu bilang, kalau Burhan kuliah di kampus kalian?" tanya Indra serius.


"Iya, menurut info yang kudenger gitu, Ndra. Cuma gak tau juga sih, soalnya sampai sekarang aku belum nemuin Burhan. Masa iya aku lupa sama mukanya yang mesum itu? Tapi temenku yakin Burhan kuliah di kampus kami."


Kami lalu diam dengan pikiran masing masing.


"Kamu gak punya fotonya, Cak?" tanya Indra lagi.


"Mm ... ada. Aku simpen di galeri. nih." Dibuka nya ponsel miliknya dan  mencari satu persatu foto di galeri benda pipih itu. Mungkin karena banyak, jadi agak lama untuk menemukan foto yang dimaksud Wicak.


"Nah ini!" seru Wicak dengan menunjukkan sebuah foto ke Indra. Indra mengamati dengan seksama foto itu.


"Mm ... kok gak asing, ya? Familiar gitu," ucap Indra masih sambil menatap foto itu.


"Pernah ketemu, Ndra?"


"Gak tau. Tapi aku ngerasa gak asing sama wajah ini. Aku kirim ke ponselku, ya. Siapa tau aku inget nanti."


Wicak mengangguk.


Pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang berdiri di belakang pohon tak jauh dari rumah posko kami.


Aku memicingkan mata agar dapat lebih jelas melihat nya. Sepertinya tidak asing.


"Yola?!" pekikku sambil berdiri.


"Hah?? yola? mana?" tanya Wicak celingukan.


Mereka pun ikut berdiri dan melihat ke tempat yang ku tatap sekarang.


"Eh iya, bener tuh. Ngapain dia di sana?" tanya Indra.


"Bukannya dia di dalem tadi? Aku aja barusan liat dia lagi tidur di kamarnya," kata Wicak ragu.


"Coba cek ke kamarnya, Cak!" pintaku.


Wicak lalu berlari masuk ke dalam dan menuju ke kamar Yola. Hal itu membuat beberapa teman kami yang sedang duduk di ruang tamu bingung melihat tingkah Wicak. Namun mereka hanya diam sambil mengamati saja, itu terlihat jelas dari kaca yang aku lihat sekarang.


"Elu kenapa, Cak?" tanya Feri heran. Kudengar dia menjerit memanggil Wicak lagi. Hingga akhirnya Wicak keluar ke teras lagi.


"Nggak ada!  Itu bener Yola!!" teriak Wicak.


Aku dan Indra saling melempar pandangan. Indra lalu menganggukkan kepalanya, dan kami berdua berlari mendekati Yola.


Beberapa teman yang ada di dalam keluar dari dari rumah karena melihat kehebohan di luar. Yola malah menjauh. Aku dan Indra berusaha mengejarnya lagi. Beberapa teman kami pun ikut menyusul.


"Gila! Cepet banget tuh anak lari?!"kata Feri sambil ngos ngosan. Kami berhenti sebentar untuk mengambil nafas, karena lari Yola benar benar kencang. Bahkan Indra saja yang jago lari bisa kalah oleh nya.


"Iya, lari apa terbang, ya?" tanya Lukman.


"Dia emang terbang!" pekik Acong sambil menujuk Yola di depan kami.


Ku amati lagi dengan seksama. Walau Yola sudah berlari menjauh namun masih dapat terlihat dari tempat kami berdiri dan memang dia seperti melayang jika diperhatikan dengan seksama, kakinya tidak menyentuh tanah.


"Wah... Nggak beres nih! Kok dia bisa keluar dari kamar sih?" Wicak terlihat frustasi sampai menjambak rambutnya sendiri.


"Iya, padahal pintu belakang di kunci lho," celetuk Agus.


"Lewat Jendela juga kagak mungkin kan?" timpal Faizal menambahkan. Karena jendela di tiap kamar hanya ukuran kecil, dan tidak bisa muat untuk orang dewasa seperti kami.


Saat mereka berdiskusi tentang bagaimana Yola bisa keluar dari rumah, aku tercekat dengan pemandangan di depanku.


Aku melihat ada segerombol orang orang yang berjalan sempoyongan dan banyak sekali. Mereka berjalan menuju kami, penuh luka, ada yang berjalan dengan kepala yang hampir putus, bahkan ada yang membawa kepalanya sendiri. Mirip film zombie yang selama ini ku tonton.


Mataku membulat, tanganku dingin dan bergetar. Hatiku berdesir karena ketakutan.


"Balik ke rumah!" jeritku.


"Eh gak jadi ngejar Yola?" tanya Wicak.


"Liat di depan." Aku langsung menarik Indra pergi.


"Gila! Apaan tuh!" pekik Feri.


Mereka semua kaget dengan apa yang ada di hadapan kami.


"Lari!!" perintah Wicak.


Aneh, kenapa mereka tidak hilang saat aku menyentuh Indra?


Teman teman yang lain mengikuti kami dari belakang.


Gerombolan orang tadi pun lari seolah mengejar kami.


Sampai di teras segera aku buka pintu dan menunggu yang lain masuk juga.


"Tutup! Kunci!" perintah Indra setelah mereka semua masuk.


Kami menutup semua korden, pintu dan jendela. Nadia, Ferli, Indah dan Nindi yang tidak tau apa apa, hanya memandang kami bingung.


"Ada apa sih?" tanya Ferli.


"Mending masuk kamar aja, Sayang. Bahaya," kata Feri mendekat ke Ferli.


Pintu di pukul pukul keras dari luar. Bahkan jendela juga. Ramai dan riuh


Kami mundur menjauh.


Indra menahan pintu dengan menarik kursi sehingga membuat pintu akan sulit dibuka.


"Ya ampun siapa sih itu? Mereka kenapa gedor gedor gitu?" tanya Indah.


"Mending gak usah diliat, sumpah," kata Faizal sambil bergidik ngeri.


Kami semua benar benar ketakutan malam ini, dan bingung harus berbuat apa.


Braaakkk!!!


Apa itu? Suaranya seperti dari dalam rumah kami.


Astaga ... ya Allah.