Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 27 Liburan


Pakde Yusuf turun dari mobil, membawa tasbih di tangan kanannya. Hujan yang awalnya turun deras mendadak berhenti saat tangan Pakde menengadah ke atas. Aku masih berusaha melepaskan diri dari makhluk di depanku ini.


"Lepaskan dia!" kata Pakde Yusuf menunjukku. Makhluk ini tidak menjawab apa pun malah makin mencengkeram erat tanganku. Aku menjerit kesakitan. Pakde mulai membaca taawudz, dan terus merapalkan doa - doa.


Suasana yang tadinya masih terang benderang karena masih dalam katagori pagi hari, mendadak menjadi gelap gulita. Pakde melirik ke sudut lain halaman rumah, aku lantas ikut menoleh karena suara langkah kaki terdengar jelas dari arah sana. Seekor macan putih berjalan mendekat, aku mengenalnya, sangat.


Arkana mendekat, dan terus mendekat sampai akhirnya dia menerkam makhluk ini. Tanganku terlepas darinya. Berusaha menjauh dari pergulatan antara dua makhluk itu, justru tubuhku terlempar kuat karena sebuah energi besar yang berasal dari tubuhku sendiri. Pergelangan tanganku memancarkan cahaya terang, membuat mataku silau, dan terpaksa menutupnya.


"Aretha!" panggil Kak Arden dan Radit bersamaan. Aku membuka mata dan akhirnya sadar, kalau aku sudah kembali ke dalam tubuhku yang terbaring di kamar. Aku langsung menoleh ke arah jendela. Tidak lagi melihat kondisi aneh seperti yang tadi terjadi di alam bawah sadar, justru di luar keadaan tetap sama seperti semula. Hujan masih mengguyur halaman rumah, tapi saat melihat dua pria di depanku ini, aku yakin kalau semua sudah kembali baik - baik saja.


"Dek, ada apa sebenarnya?" tanya Kak Arden, cemas. Begitu pula dengan Radit.


"Aku ... Aku juga nggak tau, Kak." Perlahan aku menceritakan semua yang kualami tadi sejak awal, mereka mendengarkan dengan sabar tanpa menganggapku gila. Gambar di pergelangan tangan, aku perhatikan lekat - lekat. Aku juga menyentuh bagian tengkuk. Mungkin ini efek rajah dari Pakde Yusuf. Aku pun segera menghubungi ponsel pakde Yusuf, namun sayangnya Telepon ku tidak mendapat respons.


"Mungkin Pakde masih ada urusan, Tha," kata Radit, masuk akal.


"Ya sudah kakak keluar dulu, Lu sini dulu aja, Dit. Temenin Aretha." Kak Arden keluar dari kamarku, sementara Radit hanya duduk diam di dekatku. Dia terus menatapku dengan senyum tipis di wajahnya. "Kamu mau aku ambilin minum atau makanan, atau apa?"


"Hm, nggak usah, Dit. Aku baik - baik saja kok." Rasanya masih ada yang mengganjal di dalam hati, tapi aku belum yakin apa yang aku khawatirkan itu. Mungkin sosok yang tadi mau membawaku, karena aku bahkan tidak yakin apakah dia masih ada atau sudah binasa. Arkana dan Pakde Yusuf yang telah membantuku tadi. Namun, Pakde belum juga dapat aku hubungi, sementara Arkana sudah lama tidak pernah datang lagi.


"Eh, sayang, besok libur, kan?" tanya Radit tiba - tiba. Aku justru mengerutkan dahi dan mengingat hari apa esok, karena seingatku ini hari minggu, dan tentu besok hari senin, saat nya kembali bekerja, bukan.


"Kan besok senin, kok libur?"


"Ya ampun, makanya kamu tengok kalender, besok kan tanggal merah. Cuti bersama selama tiga hari."


"Oh, ya? Ya ampun aku nggak sadar."


"Kamu mau nggak, jalan - jalan? Yah, sekalian refreshing."


"Ke mana?"


"Pasti kamu nggak lihat grup kita." Kami memang membuat sebuah grup WA bersama teman - teman satu SMA, ada Kak Arden, Kiki, Doni dan yang lainnya. Aku tentu menggeleng karena belum melihatnya sama sekali sejak bangun tidur tadi.


"Si Dion ngajak kita ke sebuah vila. Dia yang membuat proyek vila itu, dan baru selesai di bangun. Katanya Dion dapat jatah 1 vila untuk dirinya sendiri, jadi dia mau ajak kita semua ke sana."


"Memangnya di mana, Dit? Pantai?"


"Bukan, sayang. Katanya di tengah hutan, di dekat vila ada tebing yang langsung bisa melihat pemandangan pantai di bawahnya."


"Wow, kok bayanganku mirip di Bedugul, ya?"


"Sama. Aku juga bayanginnya begitu. Jadi bagaimana, mau nggak? Coba kamu cek grup dulu, biar lebih ngerti sama rencana mereka."


Aku segera meraih gawai yang ada di atas kasur, mulai membuka grup, dan membaca semua pesan - pesan mereka. Beberapa kali mereka memanggil namaku, dan akhirnya aku pun membalas pesan tersebut dengan satu kata.


[Oke.]


Peristiwa penarikan jiwa dari dalam tubuhku tadi pagi, memang diketahui Pakde Yusuf. Katanya, makhluk itu memang masih mengincarku, hanya saja sekarang dia sudah dikurung oleh Pakde Yusuf. Rajah yang sudah dibuat oleh Pakde dan Bang Ibrahim, cukup berguna jika suatu saat nanti ada makhluk halus yang hendak merasukiku. Setidaknya mereka tidak akan mudah mendapatkanku asal rajah ini masih ada di tubuh. Tato dari Bang Ibrahim belum juga aku hapus, rasanya sayang jika membuangnya. Walau berkali - kali Pakde menyuruhku segera menghapusnya.


"Santai, saja. Gue juga ada ini," kata Bang Ibrahim ketika aku menghubunginya melalui panggilan video. Dia justru menunjukkan koleksi tato yang ada di tubuhnya sendiri. Sungguh ajaran yang sangat bertentangan dengan Pakde, tapi entah kenapa aku malah merasa nyaman dengan ini semua. Aku tetap beribadah sesuai kewajibanku, urusan diterima atau tidak ibadahku, itu adalah hak Allah. Tapi aku tetap akan menghapus tato ini suatu saat nanti. Namun, bukan sekarang.


Kami berangkat ke vila tersebut saat sore hari. Cuaca sudah cerah sejak beberapa jam lalu. Karena hujan sudah berhenti mengguyur kota, menggantikan pemandangan langit yang biru. Kak Arden tidak bisa ikut karena mama Mba Alya belum keluar dari rumah sakit. Alhasil aku dan Radit pergi berdua ke rumah Dion, karena di sana tempat berkumpulnya kami sebelum pergi ke tempat itu.


"Kamu udah baikan?"


"Sudah, Radit sayang. Jangan khawatir gitu ah. Aku nggak apa - apa kok."


"Oke. Aku cuma jaga - jaga aja sayang. Kalau memang situasinya belum oke, kita nggak usah ikut liburan kali ini, mereka juga pasti ngerti kok." Radit menggenggam tanganku, dan menempatkan tangan kami pada pedal gigi mobil. Sesekali dia mengangkat tanganku tinggi lalu mengecupnya lembut.


"Kamu tau nggak, kalau hal yang buat aku kangen itu, kebersamaan kita. Kebersamaan kita semua. Aku, kamu, Kiki, Doni, Dedi, Kak Arden, Danu, Dion, Ari. Aku kangen masa - masa kita sekolah dan kuliah dulu. Kita masih bisa sama - sama, jadi sekarang kalau ada kesempatan bisa menghabiskan waktu bersama kalian semua, aku pasti mau, Dit."


"Hm,iya, sih. Aku pun sama. Apalagi jauh dari kamu, beda kantor, aku sering kepikiran tentang keadaan kamu di tempat kerja. Apalagi setelah ada insiden kemarin, kamu pingsan seharian, huft! Bikin aku frustrasi, Aretha!" Radit merajuk dan menatapku dalam.


"Tapi nyatanya aku baik - baik saja kan, Dit. Kita kan udah sering mengalami hal seperti itu, kan. Jadi jangan khawatirin aku lagi, ya."


"Iya, kita udah sering, Aretha. Kita semua, bersama - sama, bukan seperti sekarang, saat kamu menghadapi semua sendirian! Huh." Radit mulai kesal, dan terlihat tidak nyaman dengan diskusi ini.


"Hei, makasih, kamu selalu ada buat aku. Aku paham kamu cemas dan khawatir sama aku, keadaan udah nggak sama lagi seperti saat kita kuliah atau SMA. Tapi, inilah hidup, Dit. HArus kita jalani, kan. Nanti kalau misal di kantor kamu ada lowongan kerja, kamu rekomendasiin aku saja. Biar kita bisa sama - sama kerja di satu tempat, jadi kamu nggak perlu cemas lagi. Oke?" tanyaku sembari memeluk lengannya, manja. Radit melirik, lalu tersenyum. "Oke."


Kami sampai di rumah Dion, di sana semua sudah berkumpul dengan bawaan masing - masing. Kami akan memakai tiga mobil untuk perjalanan kali ini. Karena mobil yang satu merupakan mobil milik Dion dengan tambahan rak untuk sepeda di bagian belakang mobilnya, dan tentu sudah ada tiga buah sepeda di sana.


"Sepeda siapa saja itu?" tanya Radit menunjuk ke tiga sepeda yang sudah ditata rapi di mobil belakang Dion.


"Punya gue, Danu sama Dedi itu. Kalian mau bawa sepeda juga? Di sana ada track buat sepeda gunung begitu loh. Seru banget pokoknya," jelas Dion, menghampiri kami yang masih berada di dalam mobil. Radit hanya menurunkan kaca jendela untuk menyapa yang lain.


"Males ah. Di Gym gue sudah sering olahraga, di vila gue mau santai menikmati alam. Bukan mau sepedaan," elak Radit. Aku justru fokus pada seorang wanita yang bersama Ari di dekat mobilnya. Kiki juga ada di sana dengan Doni.


"Itu siapa, Yon?" tanyaku.


"Oh, ceweknya Ari. Teman kerjanya Kiki juga, jadi mereka akrab."


"Oh."


"Jadi berangkat kapan sih? nanti kemalaman loh!"


"Iya ini mau berangkat! Nungguin elu berdua, lama bener!" kata Dion lalu kembali ke mobilnya dan mengomando semua orang untuk segera berangkat.


"Gue sini, sama Radit!" jerit Dedi berusaha membuka pintu mobil belakang, namun segera mengomel pada Radit karena Radit tidak juga membuka kuncinya. Sementara Radit malah tertawa puas sekali karena berhasil mengerjainya.


Dion bersama Danu, sementara Ari dan kekasihnya naik mobil Doni dan Kiki. Agak tidak nyaman karena ada orang asing di tengah - tengah kami sekarang. Tapi aku tidak boleh bersikap egois, karena bisa saja kekasih Ari, akan menjadi bagian dari kami nanti, selamanya.


Kami meninggalkan halaman rumah Dion sudah cukup sore. Pukul 17.00 dan yakin kalau perjalanan ini akan memakan waktu yang cukup lama, dan kami akan tiba saat malam nanti.